Sekre Sore

Smart, sporty and sooo nice! Itulah 3S ttg Arvin. Seorang kakak, sahabat, dan… pengennya sih… Segera saja Hesa menghapus pemikirannya.
‘Dia kan udah punya pacar!’ Hesa membatin pahit.
“Huoi, Vin! Gimana test-nya?” tanya Hesa.
Sebuah senyum yakin serta dua jari berbentuk “V” menjawab.
Ingin rasanya Hesa melonjak girang dan berseru, “GREAT!”, tapi tentu saja hal itu diurungkannya.
“Wah, selamet yah!”
Sore itu indah. Bukan hanya kerena sinar kejam Sang mentari telah usai mendera, melainkan sebuah senyum yang datang menyapa.
“Rame bener, Hes…”
“Maksudnya?? Jelas2 cuma gue yang dijadiin tumbal buat ngeberasin sekre!”
“Yee… dia belom tau! Sekre ini di bangun di atas kuburan Belanda, tiap sore ada aja yang denger suara2 aneh. ‘Oka-san…Oka-san…’”
“Vin, sejak kapan anak Belanda manggil ibunya pake bahasa Jepang?”
“He3… Ketauan ngibulnya, yah? Abis gue nggak tau bahasa Belandanya ‘Ibu’”
Lagi2 Hesa membatin pahit, bagaimana kalau ini terakhir kalinya ia mendengar cerita horor Arvin yang sebenarnya ber-genre komedi?
“Hes…”
“Apa?”
“Nggak, cuma manggil doang…”
“Hes…”
“Apa?!”
“Tes pendengaran aja, koq…”
“Hes…”
Hesa tidak menjawab. Ia tidak kesal, malah senang. Sambil merapikan arsip terakhirnya, Hesa mencoba sedikit mencuri padang ke arah sosok di depannya.
“Keputusan dari pengajuan proposal besok, yah?” tanya Arvin tiba2.
“Iya”
“Nggak usah takut. Gue tau kep-sek yang sekarang nyebelin lahir batin, tapi gue percaya anak2 nggak salah milih lo jadi ketua JAYAPA. Walaupun lo cewek pertama yang jadi ketua JAYAPA, lo pasti bisa ngadepin dia.”
“Maksudnya apa tuh bawa2 gender? Udah ah! Jangan bikin gue grogi, dong!”
“Gue serius, koq.”Arvin menegaskan.”Gimana juga ini program kerja masa bakti gue yang nggak bisa gue jalanin.”
“Bukan nggak bisa tapi nggak sempet”
Hesa berjalan pelan menuju pintu.
“Oi, Vin, lo nggak mau gue konci’in di sini kan? Gue mau nutup sekre nih!”
Arvin pun bangkit dan melangkah keluar dalam bimbang. Paling tidak itu yang dapat Hesa baca dari wajah Arvin.
“Vin… Mm… Good luck yah buat psikotest besok, Moga2 aja lo nggak jadi psikopat. Sori gue cuma bisa nyumbang do’a”

Dengan langkah gamang, Hesa memasuki ruang kepala sekolah dan setelah di persilahkan, duduk di kursi panas legendaris itu.
“Saya Hesa dari JAYAPA, Pak. Mengenai proposal itu…”
“Ya… ya… Proposal pendakian kalian sudah saya baca” Potong Pak Kep-sek. “Kalau tidak salah kegiatan ini pernah diajukan tahun lalu. Sewaktu Arvin, seniormu, masih menjabat.”
Tok-tok-tok.
“Masuk”
Arvin?! Ya, itu Arvin! Hesa tercengang. Bingung sekaligus panik bercampur. Ia hanya bisa terdiam sewaktu Arvin duduk di sebelahnya dan mulai ikut menjelaskan tentang proposal itu. Hesa terus menatap jam tangannya, berharap waktu bersedia berhenti sejenak. Sebuah harapan yang jelas2 maya. Jarum detik terus berputar memaksa jarum menit bergerak perlahan. Selama itu, Arvin terus berbicara. Kepala sekolah pun mulai terlihat melunak. Berhasil! Entah ilmu apa yang tadi digunakan Arvin, yang jelas proposal itu berhasil di setujui. Arvin dan Hesa keluar dari ruangan Kep-sek dengan perasaan masing2 yang kontras.
“Vin, cepetan lo pergi! Psikotest itu nggak bakal nunggu lo! Lo bisa telat!”
“Iya-iya! Do’ain gue yah!”

Hesa menatap proposal di depannya dengan muram.
“Oka-san…Oka-san…”
“Setan Belandanya masih belom tau apa bahasa Belandanya ‘Ibu’ ya?”
Seperti sore kemarin, angin masih behembus sejuk. Seperti sore kemarin, sekre JAYAPA sepi. Dan seperti sore kemarin, Arvin muncul.
“Gimana psikotestnya?”
Sebuah senyum yakin dan dua jari berbentuk “V” tidak muncul.
“Gue telat, Hes.”
Hesa mendesah kecewa. Ia memejamkan matanya. Berharap ini hanya mimpi. Berharap yang dilihatnya sore ini bukan Arvin. Berharap kalimat yang didengarnya salah. Berharap ini hanya tipuan di tanggal satu April.
“Gue cuma mau bilang gue bangga kewajiban gue sama JAYAPA udah gue penuhi.”
“Dengan ngebuang kesempatan emas buat masa depan lo, Vin? Beasiswa yang udah lo kejar mati2an dari dulu, lo buang demi JAYAPA? Mana kepercayaan lo ama gue?! Kepercayaan lo bahwa anak2 nggak salah milih gue jadi ketua?! Mana omongan lo kemaren sore?!”
“Itu yang namanya pilihan, Hes!”
“Lo yakin pilihan lo bener?” Hesa menurunkan nada bicaranya.
“Nggak akan ada yang salah kalo lo ngeliat sisi baik dari sebuah konsekuensi pilihan. Gue bukannya nggak percaya ama lo tapi gue nggak bisa ngebiarin lo nanggung beban gue. Proposal gue yang gagal taun lalu nggak boleh jadi beban buat angkatan di bawah gue. Please, lo harus ngerti, Hes.”
Hesa hanya bisa terdiam. Seperti kemarin sore, ia berjalan pelan menuju pintu.
“Oi, Vin. Lo nggak mau gue kunci’in di sini kan?”
Kali ini Arvin bangkit dengan sebuah senyum.
“Gue tau lo udah ngunci’in gue di otak lo. Sori, kalo itu bener. Jangan lupa’in gue yah.”
Wajah Hesa bersemu merah.
“Huoi, tampang lo nggak usah dimerahin gitu dong! Jelek tau!”
Hesa mengunci pintu sekre sambil tertunduk. Entah darimana Arvin tau isi kepalanya.
“Hes…”
“Mau ngetes kuping gue?” Hesa mencoba bercanda.
“Sori yah, gue udah ngeraguin kemampuan lo sebagai ketua baru tadi pagi. Tapi gue janji gue nggak bakal ikut2an soal tekhnis pelaksanaan pendakian itu. Semua terserah anggota pengurus dari angkatan lo, dan khusunya lo sebagai ketua eskul pencinta alam. Satu lagi, Hes…”
“Dooh, udah mantan ketua masih cerewet aja!”
“He3… Maaph… Mm… Bikin gue bangga, ya. Gue mau event ini berhasil”
“Tentu aja, Vin. Kali ini lo boleh bahkan harus percaya ama gue.”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer trisun123
trisun123 at Sekre Sore (11 years 11 weeks ago)
100

sip...

Writer bunda_ery
bunda_ery at Sekre Sore (11 years 20 weeks ago)
60

kurang mengena dengan isi dari ceritanya...:) but keep writing ...

Writer fortherose
fortherose at Sekre Sore (12 years 15 weeks ago)
60

... setuju dengan K. David: endingnya gak berkesan.

Writer KD
KD at Sekre Sore (12 years 15 weeks ago)
100

endingnya kurang berkesan

Writer v1vald1
v1vald1 at Sekre Sore (12 years 15 weeks ago)
50

Hmm, sayang banget tulisan kamu belum bisa aku kategoriin bagus. Mungkin sekadar referensi, karena aku baru baca dua cerita lebih kurang bergenre sama, kamu bisa lihat tulisan 2 penulis lain: punk5: "Daddy I love u"; dan "Pengalaman, Pelajaran, Keledai"-nya June18; kedua penulis itu berhasil mengusung tulisan ringan berbahasa segar sehari-hari di kedua tulisan mereka tersebut.