Belok Kiri

Belok kiri, kata seorang yang sangat dekat denganku.
Ke arah mana? Aku bertanya tanpa curiga
Ke arah kematian katanya dengan tenang.
OH! Kematian yang sebenarnya, atau hanya absurditas? Aku masih bertanya dengan tanpa curiga.
Semua absurd di dunia. Tapi kematian adalah pengecualian.
Lalu, haruskah tetap kuambil jalan kiri.
Ya! Karena semua absurd. Kematian adalah jawaban.
Karena dengan kematian absurditas menjadi keniscayaan?
Ya! Dan nyata akan terasa nyata.

Aku berhenti sejenak. Haruskah tetap kuambil jalan kiri? Tanyaku sekali lagi, kali ini penuh curiga.
Ya! Karena kamu bosan dengan absurditas, bukan?
Absurditas tidak akan pernah memberi jawaban atas semua pertanyaanmu. Ia hanya akan menambah jumlah pekerjaan rumah di kepalamu, yang telah bergelayut puluhan tahun tanpa jawaban berarti. Kematian akan memberimu penerangan. Dan ketenangan adalah buah dari kematian yang akan kau dapatkan.

Tapi! Jeritku seketika!
Dengan kematian, kesenanganku untuk bermain dengan absurditas yang membawa pada banyak pengalaman mengasyikkan yang memang hanya baik untuk dinikmati saat ini tanpa banyak pertanyaan menjadi sirna. Dan fatamorgana kenikmatan menjadi sia-sia. Bukankah tidak masalah bagi segenap dagingku yang kelak akan digerayapi unggas, untuk berfantasi bagai nyata, walau tidak nyata, asal otakku selalu memprogram diri untuk mengakui bahwa itu nyata, tak peduli meski tak nyata?
Dan keasyikan, tanpa harus mematikan dapat terus aku nikmati?

Ya! Tapi perlahan, kau akan terpuruk kembali pada pertanyaan tempat kembali, pada keinginan untuk tahu yang sebenarnya, pada impian untuk menginjak realita. Itu fitrah! Itu takdir dirimu sebagai manusia. Dan jalan ke kiri menuju kematian yang aku tunjuk ini, adalah akhir perjalananmu.

Hitam, kelam, aku tidak mau, walau yang kau katakan benar. Aku mau berhenti. Dan akan kuambil jalan kanan yang absurd.
Tidakkah kau lihat? Aku terlalu lemah untuk menghadapi ujung hidup yang tidak jelas hitam atau putih, senang atau sedih, sehat atau sakit. Absurditas memberikan tubuh dan jiwaku apa yang aku mau dari semua yang aku maui.
Berhenti memberiku petunjuk. Kematian hanyalah kecelakaan! Dan jalan kiri tidak aku pilih.

Ambillah! Pilihlah. Hiduplah dalam absurditas wahai manusia. Walau akhirnya, mau atau tidak mau, ingin atau tidak ingin, terniat atau tidak terniat, kau akan berakhir pada akhir jalan ini juga.
Aku pergi! Menghilang saja! Karena kau sudah tidak memerlukan lagi penunjuk jalan!

- dan ia teman dekatku menghilang! –

- aku kembali pada absurditasku -

- walau sadar titik akhir tetap kematian, yang teman dekatku telah tunjukkan -

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Ratih
Ratih at Belok Kiri (7 years 19 weeks ago)
100

Elo emang piawai kalo udah berfilsafat. Dalem dan mengena banget. Salut!

Writer Chatarou
Chatarou at Belok Kiri (7 years 20 weeks ago)
90

Kalau sudah di atas ambang, ya dengan mudah terbang..
Dan V1vald1 yang semakin lebar sayapnya, meninggalkan aku yang terpana sendiran.

Chatarou

Writer fOo_yani
fOo_yani at Belok Kiri (7 years 31 weeks ago)
70

sama kayak yg sibuat splinter ya?? apa namanya... siliokui..??

Writer splinters
splinters at Belok Kiri (7 years 32 weeks ago)
80

wah ternyata si kakak eksis juga ya di jagad perpuisian kemudian. hebattt euy. adik semakin kagum pada kakak. kamu lebih produktif nulis puisi yah, kak? hehehehe

Writer julie
julie at Belok Kiri (7 years 32 weeks ago)
70

Nuke, kalo buat gw sih nih cerita ketinggian, jadi agak2 nggak ngerti. gini nih, kalo cuma suka baca cerita yang pesannya gamblang. kalo filsafat sih gw rada2 ndeso hehehe. tapi kalo nggak salah ini dialog antara seseorang dengan suara hatinya ya? (bener nggak Nuke?)

Writer w1tch
w1tch at Belok Kiri (7 years 32 weeks ago)
80

ya...ya... tumben kali ini aku ngerti tulisan Nuke.
belok aja if that what takes you to find yourself.
nggak bisa maksain pengalaman emosional maupun spiritual satu orang ke orang lain.
keren.
kata-kata seperti ini pernah bergema di kepalaku, tapi nggak pernah kepikiran untuk ditulis.
kalo Nuke sempat ikut tes otak kiri-kanan, kurasa hasilnya berkisar 54-59% otak kanan lebih dominan.
bener, nggak?

Writer diye_wima
diye_wima at Belok Kiri (7 years 32 weeks ago)
80

puisi taw cerpen??

feel aku dapet bgt tapi coba lebih kompleks
dan ......

Writer Super x
Super x at Belok Kiri (7 years 33 weeks ago)
70

puisi sebenarnya sangat subjektif... kita dapat menilai puisi itu bagus atau tidak dari feel-nya... jadi nilai ini adalah nilai dari feel yang kudapat dari puisi ini...

Writer KD
KD at Belok Kiri (7 years 33 weeks ago)
100

inilah Nuke Febriana

Writer anty
anty at Belok Kiri (7 years 33 weeks ago)
70

boleh nanya ? apa ini puisi, cerpen, sajak atau ....? tapi bagus kok

Writer pikanisa
pikanisa at Belok Kiri (7 years 33 weeks ago)
80

Nggak tahu nih anologi "kiri" apa yang ada di benak Mbak yu satu ini.

fuyeng.......!!!!

Mengapa kiri yang selalu dipersalahkan ?
nama paham yang menyimpang ekstrim "kiri"
tangan yang dikatakan jelek, tangan "kiri"
kalau mati dianggap "kiri" berarti yang "kanan" apaan ?