Menari Bersama Sepi

Lalu, kuceritakan pada kupu-kupu

Bulan dan simfoni malam

Aku tidak mengerti

Tentang hari

Dan juga

Sepi

Malam itu, untuk ke sekian kalinya, aku kembali tidur di sebuah alas kardus bekas tanpa bantal dan juga selimut. Malam-malam dingin yang telah biasa. Biasa kulalui tanpa aba-aba. Lalu, kembali kupikirkan. Dunia gelap. Langit ungu tua. Tuhan tak ada. Siapa aku? Kutanyakan pada bayang-bayang yang memantul di ujung hari. Kemudian, pada akhirnya, penghabisan, aku telanjang. Penuh luka. Cerca dan juga hina. Aku gila.

“Orang gila, orang gila!” gaungan suara anak-anak pagi itu masih terasa.

Apa itu gila? Siapa itu? Aku tak kenal. Sungguh-sungguh tak mengenalnya. Satu yang aku tahu adalah aku bebas. Aku sudah pergi dari dunia yang serba tidak merdeka dan kini, melenggang di antara kebebasan. Ketidaktahuan dan ketidaksesalan.

“Orang gila, orang gila!”

“Eh, awas ada orang gila!”

“Perempuan gila!”

Gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila, gila,”

Namaku adalah Tari. Aku masih saja ingat meski seolah sudah beratus-ratus tahun aku lalui. Aku tetap ingat. Ingat saat-saat sesosok wanita lembut, penuh kehangatan, membelai jemari-jemariku, dan mengecup pipiku seraya berucap, “Kau Tari… anakku satu-satunya…”

Malam telah kembali berlalu. Berganti pagi dan aku masih saja sendiri. Setelah disiram air comberan oleh empunya toko di mana di berandanya aku tidur. Aku berjalan. Masih bebas. Tanpa pakaian. Aku masih berpikir. Hanya saja aku terlalu terlepas dari beban sehingga pikiranku tak seperti biasanya. Hanya tidak biasa.

“Lihat matahari itu tidak bulat!” teriakku.

Entah mengapa orang-orang di sekitarku tak ada yang melihatnya. Mereka malahan menghindariku sambil menunjuk-nunjuk. Mengapa tak ada yang menyadari bahwa matahari tidak bulat? Melainkan segitiga! Aku dengan jelas melihatnya. Bebatuan juga bukannya diam, melainkan meloncat-loncat. Air tidak mengalir, tetapi berlomba bersama sampah, ikan-ikan kecil yang biasa disebut impun, dan kotoran-kotoran untuk sesegera mungkin mencapai lautan. Agar mereka bisa juga bebas. Sebebas aku. Tari.

Siang itu, perutku menendang-nendang. Ada sesuatu di dalam. Aku mulai mengoreh-ngoreh tong sampah, siapa tahu ada sisa-sisa makanan. Belum sempat aku memporak-porandakan tong sampah kelima, seorang ibu menghampiriku. Dengan sepiring nasi dan lauk-pauk di atasnya yang telah lama aku tidak saksikan. Aku menggapainya dan sekejap segalanya masuk ke dalam perutku.

“Kasihan kau!” bisik ibu itu. “Mana cantik… sebaiknya kau mengenakan ini!”

Mendadak tangan ibu itu kembali mengulur ke arah dadaku. Dada yang sudah lama tidak aku jaga sehingga berbagai macam penyakit kulit merayapinya. Tetapi aku senang, penyakit itu ingin punya tempat tinggal. Maka, dengan gaya seorang ibu kost, aku mengijinkannya menyewa dada, perut dan kedua kakiku. Suasana jadi sedikit tidak sepi. Namun, ibu memaksaku mengenakan sesuatu yang coklat. Kain. Baju atau apalah. Aku tidak senang. Tetapi aku hanya ingin tertawa. Tertawa adalah ibadah. Apa itu ibadah? Aku lupa. Sungguh-sungguh lupa. Hingga aku lupa bahwa tubuhku tidak lagi bebas. Tertutupi. Nanti saja aku melepasnya, aku terlalu senang makan nasi.

Tenang dan ingin terus tertawa. Betapa bebas hidupku. Hei! Tunggu dulu. Siapa dia? Lelaki itu, anak kecil itu, dan wanita itu. Aku melihatnya. Aku benar-benar melihatnya. Aku ingat mereka. Lalu, lupa. Aku berjalan, setengah berlari dan tetap tertawa. Jangan tertawa dulu! Tetapi tetap saja aku tertawa. Semuanya kembali jelas.

Lelaki setengah baya itu adalah Pram. Dia suamiku.

Pram, tunggu!

Tetapi, aku hanya tertawa. Entah mengapa semuanya menjadi semakin lucu.

Tak ada kata-kata yang keluar. Aneh. Aku lupa merangkai kata.

Anakku, anakku! Ini ibu nak!

Aku terus berlari. Sebentar lagi aku bisa menemui mereka.

“Ayah, ayah, ada orang gila!” seru anak itu.

Anak perempuan mungil yang mengenakan pakaian merah putih.

“Masuk ke dalam mobil Tari!” suruh wanita cantik di sebelahnya.

Mereka buru-buru masuk ke dalam mobil dan menutup rapat-rapat semua pintunya. Kugedor-gedor kaca jendelanya. Sambil tertawa.

“Pram!”

Kali ini aku teriak. Pram! Berulang-ulang. Pram! Pram! Pram! Suamiku.

“K-kau o-orang g-gila!”

Kata laki-laki itu setengah bergetar. Aku tertawa. Mulai mengingat sesuatu dengan jelas.

Mobil melaju kencang. Aku masih bisa melihatnya dengan jelas sebelum mobil itu berbelok di persimpangan. Sangat jelas kulihat anak perempuan kecil itu ketakutan. Tari. Anakku.

***

Aku berlari mengejar mobil itu. Aku tidak berlari, tetapi terbang. Senang sekali. Matahari mendukungku. Juga awan-awan. Begitupun burung-burung merpati dengan cara mereka sendiri.

Entah bagaimana. Aku sudah bisa melihat bahwa suami dan anakku melalui jalan yang kini sedang kulalui. Anak-anak kecil seperti biasanya mengikuti sambil berteriak-teriak. Kata-kata yang sama. Dan berulang-ulang. Gila.

Namun, malam kembali datang. Merambat naik perlahan dan menyingkirkan matahari. Malam yang kini benar-benar pekat. Sepi. Sementara rintik-rintik gerimis sesaat turun satu persatu.

Itu dia. Aku tidak tahu mengapa aku tahu. Namun, aku mengerti itu benar-benar mereka. Keluargaku. Tak salah lagi. Ini adalah rumah kami dulu. Namun, mengapa aku tidak ada di sini. Malahan menjadi seperti ini. Aku tak berhenti tersenyum. Tak juga berhenti tersenyum. Kumohon. Jawablah pertanyaanku.

Pintu depan rumah terbuka. Aku masuk. Dan semuanya kembali buram. Aku mengingat. Segalanya terulang lagi. Aku melangkahi anak-anak tangga dan mengamati dari balik kaca jendela. Kaca jendela yang dulu sering aku bersihkan dari berbagai macam kotoran. Rumah besar ini menyimpan berbagai ilusi menyakitkan. Perlahan, air mata mulai meleleh dari kedua mataku. Aku ingin menangis. Hatiku sakit. Amat sakit.

Aku mengikuti alur jalan setapak yang di kedua sisinya ditumbuhi rerumputan. Aku terus mengingat.

Dulu, aku dan Pram, suamiku, begitu bahagia. Sesaat aku mengenang. Kami sedang menanti kelahiran anak pertama. Seorang perempuan. Begitu kata dokter kandungan pribadiku. Seorang bayi perempuan pun lahir. Perempuan cantik. Aku melahirkan di rumah besar ini. Tepat di kamar yang sedang aku amati ini. Aku tidak senang melahirkan di rumah sakit. Terlalu penuh kesedihan. Tak mungkin aku membiarkan anakku lahir di tempat yang penuh dengan kematian. Tetapi di rumah, segalanya begitu indah.

Pram juga begitu baik. Dia memberiku berbagai vitamin. Namun, hanya saja aku terlalu lemah sehingga tak kunjung sehat. Aku ingin tertawa. Aku begitu bodoh. Benar-benar bodoh. Aku terima saja segala yang dia berikan.

Ini obat demi kesembuhanmu

Aku tak ingin kau terus lemah begini

Anakmu, Tari, ingin segera berada digendonganmu

Ha ha ha ha ha ha. Aku tertawa. Keras. Keras sekali. Sungguh menggelikan ketika aku memakan obat-obatan yang diberikan Pram, aku mulai mengetahui dengan jelas bahwa matahari itu segitiga dan rembulan sebenarnya jelmaan wanita tua yang patah hati. Aku ceritakan semuanya pada Pram. Aku ingin membuktikannya. Membuktikan bahwa malam itu jahat. Jahat sekali.

Lalu, di suatu malam. Malam yang terlalu larut dan bergerimis. Seperti saat ini. Segalanya terungkap. Terungkap jelas. Aku mendengar Pram berbicara di telepon.

Aku sudah mendengar instruksimu, sayangku.

Aku sudah memberinya obat-obatan itu. Kulipatgandakan dosisnya agar segalanya berjalan lebih cepat.

Istriku memang bodoh. Tak setitik pun aku mencintainya. Aku hanya mengejar hartanya. Harta kedua orangtuanya yang sebulan lalu jatuh kepadanya. Sebentar lagi, kita akan bersama, sayangku.

Kalimat-kalimat itu selalu terngiang. Aku tak tahan, aku menangis. Lelehan air mataku membanjiri kedua rona pipi kotorku. Aku kembali tertawa.

Ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha.

Tertawa yang begitu keras sekali. Sangat keras sampai-sampai kegelapan pun tak bisa menelannya. Pintu menjeblak terbuka. Pram, diikuti wanita itu, dan kemudian Tari, mendadak keluar. Pram terkejut luar biasa. Wanita itu juga. Tari bersembunyi dibaliknya.

“K-kau…” Pram tak kuasa menahan getaran bibirnya. “Ka-kalian berdua.. masuklah..” suruhnya kepada wanita di sampingnya dan juga Tari.

Aku tertawa. Lalu berkata.

“Teganya kau!” teriakku diselingi tawa. “Penjahat busuk! Terkutuk!”

“Satpam! Satpam!” Pram berteriak murka.

“Bertahun-tahun aku mencintaimu… ha, ha, ha, ha!” aku lalu menangis.

Hatiku seolah diiris-iris. Aku menangis.

Seorang lelaki tegap menghampiri kami berdua dengan tergesa.

“Ke mana saja kau!” seru Pram. “Usir orang gila ini!”

Lelaki berseragam itu menjawab tergagap.

“M-maaf… b-baik Tuan,”

Kedua lengannya yang kuat mengapit kedua lenganku. Menyakitiku hingga ke ubun-ubun. Aku marah, tertawa, dan juga menangis. Pram masuk melangkah dengan gemetar luar biasa. Saat pintu perlahan menutupi bayangannya, aku masih bisa menatap kedua matanya. Kedua mata jahat yang tak kan pernah sanggup kulupakan.

Aku didorong keras-keras hingga jatuh terjerembap. Pagar tinggi itu tertutup dengan cepat. Aku menangis. Kedua mataku masih saja berair mata. Air mata yang selama ini keluar tiba-tiba telah kusadari alasannya. Alasan menyakitkan yang begitu ingin kulupakan.

Hanya satu masa yang kuingat. Masa di mana untuk pertama kalinya aku memeluk anakku. Aku tetap ingat. Ingat saat-saat sesosok wanita lembut, yang kuketahui adalah aku, penuh kehangatan, membelai jemari-jemari kecil tangannya, dan mengecup pipinya seraya berucap, “Kau Tari… anakku satu-satunya…”.

Hanya masa itu yang tak ingin aku lupa. Namun, aku terlanjur lupa. Lupa segalanya saat untuk terakhir kalinya menatap rumah besar itu. Biar saja segalanya seperti biasa. Biasa yang telah aku lalui. Aku kembali membuka pakaian yang untuk beberapa waktu menutupi tubuhku. Aku bebas. Lengkap. Telanjang.

Ya, lebih baik begini. Tak ada rasa sakit. Tak ada rasa amarah. Aku tertawa. Lepas. Meski sendiri dan sepi, aku telalu gembira. Aku ingin menari. Menari bersama sepi. Juga rembulan dan bintang gemintang. Rintik gerimis sebagai simfoninya. Aku tertawa, sekaligus menangis.

Ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha.

Sunyi

Menangis sendiri

Kembali ku tak mengerti

Tentang hari Aku menari kembali,

lagi, lagi

Bersama sepi kutanyakan

pada kunang-kunang

Read previous post:  
45
points
(1101 words) posted by bintangjatuh 12 years 10 weeks ago
64.2857
Tags: Cerita | drama | hiperbolis
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer h4ntura91
h4ntura91 at Menari Bersama Sepi (11 years 5 days ago)
80

Cerita yang menyenangkan tapi dibalik kesenangan ada kesedihan yang mendalam. ;;) ;;) ;;) ;;)

dadun at Menari Bersama Sepi (11 years 34 weeks ago)
80

sebuah eksperimenkah? benarbenar gila, gila, gila, gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...........

Writer fisk_82
at Menari Bersama Sepi (11 years 34 weeks ago)
60

Secara isi... Bagus... ga klise... :D
Secara tokoh... aku yang gila ini kok ga mirip orang gila pada umumnya :D

Writer _aR_
_aR_ at Menari Bersama Sepi (11 years 34 weeks ago)
80

udah nemu cerita sedih semua...

dalam cerpen ini banyak tawa...haha.haha.haha.haha.

tapi yg aR rasakan miris, sakit.
tawa yang sakit dan menyedihkan...

cerpennya hebad...
beda... ;)

tolong komen cerita PALING baru saya

Writer Samsurijal
Samsurijal at Menari Bersama Sepi (11 years 34 weeks ago)
90

good!!

Writer Arra
Arra at Menari Bersama Sepi (11 years 34 weeks ago)
90

keren!!!
ceritanya yang jarang banget...
idenya orisinil banget
suka deh alur nyeritainnya

Writer Sigilamonyobanulis
Sigilamonyobanulis at Menari Bersama Sepi (11 years 34 weeks ago)
60

Ide cerita yang tidak klise, kritis, cerdik, dan akan jadi bibit berkembang nantinya. biasakan manjakan para pembaca dengan momen yang tak terlupakan. sepahit dan semanis apapun alur cerita kamu, kamu harus tetap loyal pada komitmen kamu untuk membuat cerita.