Kemudian membuat aku ketagihan menulis... sampai-sampai ga tidur malam ini.
"Hidup di penjara delapan bulan bukanlah waktu yang singkat. Memang jika dibandingkan teman-temannya yang lain, waktu yang dia dapatkan adalah yang paling kecil. Waktu yang lama itu menumbuhkan keberanian dalam diri Sukirno. Selepasnya dari penjara, ia akan pergi ke lokasi Pohon Beringin Tua.
"Aku mendukung rencanamu itu Kir!" Ucap salah seorang temannya.
"Terima kasih."
"Tapi apa kau siap diusir untuk kedua kalinya jika mereka tau engkau adalah Sukirno yang membawa penyakit kutukan menular?"
Itulah yang ditakutkan Sukirno.
"Aku ada ide Kir!"
Malam itu, Sukirno sekali lagi ditolong oleh teman-temannya merencanakan strategi agar dapat selamat sampai ke tujuan.
*** *** ***
"Dung, Aku kok rada-rada ga enak nih meronda malam ini?"
"Hahaha, Aku heran melihat kalian semua. Tiap malam jum'at kliwon kok pada takut meronda semua. Takut sama siapa? Hantu?"
"Hush! Jangan sombong gitu Dung. N'tar kualat kau!"
"Hei Wandi, Ribut. Selama ada Dadung di sini, kalian ga perlu takut sama sesiapapun itu, hahaha!"
Walaupun lampu-lampu jalan sudah terpasang, tetap saja Kampung Belanak terlihat angker. Hutan lebat yang mengelilingi Kampung itulah penyebab keangkeran itu. Apalagi semenjak peristiwa empat belas tahun lalu, seorang pemuda bernama Sukirno berani mengencingi Pohon Beringin Tertua di dalam hutan.
Terdengar desas-desus, semenjak peristiwa itu arwah penunggu Sang Pohon bergentayangan. Penampakannya persis seperti wujud Sukirno yang terkena kutukan. Sampai-sampai mereka memberi hantu itu sebutan Hantu Kirbok, yang tak lain berasal dari singkatan 'Sukirno Goblok'.
"Gimana kalo Hantu Kirbok datang ya?" Ucap Ribut/
"Hei Bodoh! Sukirno sudah kita usir. Jadi tak ada lagi alasan Hantu itu untuk menghantui Kampung kita!"
Si Ribut terdiam.
Hingga sampailah mereka ke bagian terujung kampung itu, yang berbatasan dengan hutan dimana Pohon Beringin Tua tumbuh tegar di tengah-tengahnya. Mereka bergegas pulang menuju Pos Ronda. Bulu kuduk Dadung berdiri tegang. Di mulut ia mengaku berani, namun sebenarnya iapun menyesal menerima tantangan ronda jum'at kliwon.
**Pukul 12 malam......
"Dung, ada yang sembunyi di balik Pos Ronda Dung!"
"Mana But? Tak ada nampakku ada orang."
"Itu Dung, pake sarung kotak-kotak warna ijo!"
Dadung memperhatikan lebih seksama. Ternyata Ribut tidak mengada-ngada. Memang nampak seseorang seolah bersembunyi berjongkok di balik Pos. Sarung warna hijau daun diselimuti menutupi sampai ke kepala.
"Kita pukul aja kentongan ta Dung?"
"Sssst, goblok kamu. Bisa kena maki kita kalo sembarangan mukul kentongan. Kita teliti dulu, apa dia maling atau bukan!"
Bukan maling yang sebenarnya Ribut takutkan. Dia takut kalau ternyata sosok itu adalah mahluk jadi-jadian. Wandi sudah terdiam sedari tadi. Sudah lebih dulu lemas tak mampu bergerak.
"Hoi! Situ Siapa? Orang kampung sini atau bukan?"
Dadung berbisik namun lantang. Tak terdengar jawaban apa-apa dari sosok itu.
"Oooi! Si... si... situ manusia atau ha... ha... hantu?" Sambung Ribut gemetar. Sosok itu tetap saja diam tak menjawab.
"Gimana nih Dung? Kita pukul aja kentongannya ya?"
"Hush! Kau pukul kentongan, kupukul mukamu! Sana, Kau periksa dia lebih dekat!"
"Kok Aku Dung? Kau sajalah! Badanmu yang paling tegap."
"Aaah ribut kalipun Kau, cepet ke sana atau kutonjok kau!"
Ribut tak diberi pilihan lain. Pelan-pelan ia mendekati sosok yang sedari tadi tak mau merespon mereka itu. Masih mencoba menjaga jarak, Ia bertanya.
"Situ manusia kan? Manusia aja lah ya... Okay?"
"Bukan pula tuh Akang!"
"Krakkk!" Terdengar sesuatu yang seolah dipatahkan oleh sosok itu. Ribut, Dadung, dan Wandi terkejut karena suara itu. Tak jelas mereka mendengar kata 'bukan' yang tadi diucapkan.
"Kamu tadi bilang bu.. bu.. bukan ya?" si Ribut mencoba memastikan sambil berharap pendengarannya tadi itu salah.
Sosok itu berdiri sekarang. Tercium bau busuk luar biasa. Dan ketika sosok itu berbalik dan melepaskan sarungnya,
"Waaaaaaaaaa!!"
Ketiga pemuda itu lari tunggang-langgang. Di balik sarung itu terlihat sosok yang penuh benjolan-benjolan di sekujur tubuh yang mengeluarkan cairan putih berbau busuk. Satu-persatu ulat-belatung berjatuhan dari situ. Benarlah bahwa sosok itu adalah Hantu Kirbok.
**Pukul 01 pagi......
Sukirno sudah siap dengan peralatan-peralatannya. Ulat-belatung satu kaleng besar, mayat ayam yang telah mati tiga hari, dan tak lupa obat merah. Dia berencana akan menyamar menjadi hantu jadi-jadian untuk menakut-nakuti para Peronda Malam. Sebenarnya dia terlambat satu jam dari rencananya.
Namun tak didapatinya seorangpun meronda pada malam itu. Hanya seorang pemuda yang dikenalnya bernama Dadung, kini tergeletak pingsan di dekat Pos ronda.
dikirim Naruto_sama 36 minggu 1 hari yang laluTag:









