dyah; tentang sebuah pertemuan

Aku berusaha menggali semua ingatan, entah karena memang ingatanku pendek, atau memang pertemuan itu tidak pernah terjadi.

Dyah, ya cuma itu yang aku ingat.

Tetapi entah kenapa, setelah itu penggalan-penggalan kisah tiba-tiba menyeruak, dan tetap saja aku tidak bisa tahu kapan dan bagaimana aku bertemu dengannya.

" Aku wanita yang tegar!" begitu kamu selalu berucap.

" Setelah berjuang selama sembilan jam, setelah semua tenaga habis, setelah kemudian terdengar tangis bayi, dan sampai tangisan itu hilang, aku tidak pernah bertemu dengan anakku sendiri", dengan terbata-bata kamu berujar.

" Bahkan, aku tidak pernah tahu, apakah dia seorang laki-laki atau perempuan, tetapi naluriku selalu mengatakan dia laki-laki", sambil menerawang dia meneruskan ceritanya.

Entah di mana, dan kapan aku berusaha mengingat pertemuan dengannya.

Dan aku sendiri, setelah sudah merasa hidup mapan, dalam artian bisa berdiri sendiri, aku keluar dari sebuah panti yang sudah membesarkan dan merawat aku dari mulai umur 3 tahun sampai sekarang.

Dyah, raut wajahnya menggambarkan dengan sempurna sebuah kerinduan.

Kerinduan yang sebetulnya sangat sederhana, kerinduan seorang Ibu pada anaknya yang dia sendiri tidak tahu bagaimana dan seperti apa raut wajahnya. Tapi kuyakin naluri Ibu seluas lautan, dengan butiran-butiran pasirnya yang putih. Ya kerinduan itu yang selaku kulihat di wajahnya.

Aku sendiri, selalu merindukan Ibu.

Aku tidak pernah tahu siapa orang tuaku, bahkan aku sudah lupa bahwa akupun sama seperti anak-anak lain yang mempunyai Ayah dan Ibu.

Tetapi terkadang, aku ingin tahu bagaimana rasanya mempunyai orang tua. Yang dengan riangnya mengajajak anak-anaknya ke taman, berenang, makan.

Ah, Dyah, mengapa wajahmu dan semua cerita-cerita yang singgah di benakku membuatku semakin rindu akan kehadiran Ibu.

" Aku wanita yang tegar", Dyah berujar.
" Bayangkan, tiga puluh tahun, dua bulan dan sebelas hari, sejak kudengar tangisannya, aku tidak pernah dan tidak akan pernah bertemu dengannya" kulihat genangan air mata di dua kelopak matanya.

Aku berusaha menggali semua ingatan, entah karena memang ingatanku pendek, atau memang pertemuan itu tidak pernah terjadi.

Tiba-tiba, ya dengan tiba-tiba pikiran aneh menjalar di benakku.

" Apakah Dyah Ibuku?"
" Apakah Dyah bisa kujadikan sosok Ibu?"
" Apakah Dyah ,,,,,,,?"

" Aku wanita yang tegar!" seperti terngiang-ngiang suara itu.

Rating

39
points
Views: 260 reads
Comments: 6
Rating:
65

Favorites

You have to login to access this feature click here

Flag

You have to login to access this feature click here

Read next posts

Be the first person to continue this post
Writer anty
anty at ehm (2 years 44 weeks yang lalu)
70

endingnya bikin pertanyaan di hati ?

Writer loushevaon7
loushevaon7 at singkat (3 years 6 hours yang lalu)
70

ya, idem. sptnya terlalu singkat deh.

Writer eagle2401
eagle2401 at Biasa aja (3 years 8 hours yang lalu)
50

Iya nih, kok endingnya cuma begini ...

Writer Khadijah
Khadijah at Great (3 years 14 hours yang lalu)
90

duh....,tanggung kisahnya malah jadi buat penasaran ingin menyambungnya....akhirnya hanya pertanyaan yang juga ikut muncul dibenak...,great.

Writer dhilwas
dhilwas at tanya kenapa (3 years 1 day yang lalu)
50

setuju sama za_hara... tanya kenapa? hehehe

Writer za_hara
za_hara at kayaknya (3 years 1 day yang lalu)
60

kayaknya kurang panjang deh, Mas. belum puas nih. masih banyak prtanyaan, seperti misalnya gimana si tokoh ketemu Dyah, dll.