Pohon Beringin Tua ( seri-4 )

Hutan ini telah jauh berubah. Empat belas tahun lalu, pohon-pohon tak semurung ini. Sukirno sedang melewati sisa-sisa penebangan sporadis di bagian hutan yang cukup dalam. Wajah hutan yang tampak hijau berkilau dari sisi kampung hanyalah karung beras yang ternyata menyimpan bangkai-bangkai penyiksaan.

Sukirno tersesat...

"Hmm, kelihatannya jalan tembus menuju Kampung Mujair tidak jadi dilanjutkan." Gumam Sukirno.
"Dan hutan ini sudah jauh berbeda sekarang. Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?"

Sukirno Duduk termangu di atas sebuah bangkai pohon setinggi lutut. Dia merasakan letih yang sangat-amat. Berjalan mencari sekitar dua jam lamanya dan ditambah sempat terjatuh di bagian hutan yang agak curam membuat seluruh badannya terasa mati rasa. Bahkan ia merasa sebagian memori dalam otaknya menghilang. Buktinya ia tersesat kini.

Ditatapnya langit...

Setiap ia menatap langit, ia teringat akan pesan seorang wanita muda ketika dulu ia terusir dari Kampung.

Langit menyimpan keabadian
Surga bersemayam di langit tertinggi
Keraguan adalah awan-awan
Percayakan harapan pada cahaya yang suci

"oh Yosi." Gumam Sukirno dalam hati.

Wanita itu menyimpan cinta pada dirinya yang tak pernah disambut. Sukirno tak dapat mencintai siapapun semenjak ia menyadari bahwa seluruh dirinya bahkan hatinya tak dapat lepas dari aturan kukuh Bapak.

"Untuk jadi orang terhormat, kau harus menikah dengan wanita terhormat."

Memalukan jika orang tahu bahwa ia hanyalah laki-laki yang tak dapat melepaskan diri dari kungkungan orang-tua. Materi, dan itu semua hanyalah persoalan materi, dan tak pernah mengenai hal lain.

Sukirno menatap langit yang kelam. Malam ini jum'at kliwon. Bulan menampakkan sabitnya. Angin lembut mengelus tubuh Sukirno yang keletihan. Benjolan-benjolan di sekujur tubuhnya merinding. Beberapa benjolan tampak menetas.

"Itu dia!" Jerit Sukirno. Ada sesuatu yang tiba-tiba muncul dalam ingatannya, Bulan itu!

"Kalau kau tersesat di tengah hutan, cobalah kejar Bulan dan berdirilah tepat di bawahnya."

Entah siapa yang mengucapkan itu kepadanya ia lupa. Mungkin karena benturan keras di kepalanya ketika terjatuh tadi.

Sebentar Sukirno mencoba n'tuk mengingat namun akhirnya ia tak peduli. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Sukirno melesat mengejar Bulan. Namun tiap ayunan yang ia langkahkan, setiap itu juga Bulan berlari, seberapa cepatpun itu. Sekilas seolah Bulan tersenyum sungging mengejek.

"Kejar daku, peluk daku, itupun kalau dikau mampu."
Dan Sukirnopun menjawab.
"Kata-kata Daku dan Dikau sudah ga jaman! Jadul kali pun kau Bulan!"

Sukirno terus mengejar. Ranting-ranting pohon yang berserakan diinjak patah. Alang-alang liar yang basah ditebas habis.

"Hh.. hh.. hh.. Kencang juga larimu rupanya Bulan!"
Sukirno keletihan.

Tangannya bertumpu pada lutut. Suara nafas yang keluar berupa sengal. Keringat asam membasahi sekujur tubuh.

"Tetap di situ Kau! Jangan bergerak, aku istirahat dulu, sebentar lagi kukejar lagi kau!" teriak Sukirno sambil menunjuk ke arah Bulan. Untunglah Bulan tak menjawab teriakan Sukirno. Hingga sekarang Sukirno dapat istirahat dengan tenang.

Matanya kini telah terpejam. Ia duduk seolah bermeditasi. Secara refleks ia mengucapkan mantra-mantra yang seolah-olah pernah diajarkan oleh seseorang.

“Rokok kretek diisepin, bau ketek dibersihin, cewek molek digodain, kalo nyontek dimarahin, muka jelek disambitin, kalo ngejek disumpahin, ada geledek disamberin!”
“BLAAARR!”

Sukirno terperanjat mendengar suara petir yang menggelegar. Meditasinya otomatis buyar. Jantungnya yang sudah sempat tenang menjadi berdebar-debar. Akhirnya ia menyadari satu hal, ada cahaya terang dari atas yang memancar.

Ia menengadah dan terperanjat. Bulan telah tepat berada di atasnya kini. Namun bukanlah itu yang membuatnya terperanjat. Bulan itu sudah berubah bentuk menjadi Purnama yang sinarnya luar biasa terang-benderang.

“Dimana bulan sabit tadi?”
Kebingungan tak sanggup ia tutupi.
“Sudah aku makan!” Jawab si Bulan Purnama.
“Hah! Ini mimpi atau betul?” dicubitinya benjolan pada tangan kiri.
"Awww! Sakit."

Bulan Purnama menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudahlah! Kau ikuti saja jalan terang di permukaan tanah, dan akan kau temukan apa yang kau cari di sini!"

Benar saja! Bulan itu sudah menyinari tanah hingga menyerupai jalan yang terbuat dari cahaya. Sinarnya menembus menuju ke dalam hutan yang masih utuh dari tangan-tangan liar manusia. Tapi Sukirno masih ragu, haruskah melangkah atau apa ?

dikirim Naruto_sama 33 weeks 4 days yang lalu
Tag: