“Entahlah…,” sebuah kata yang tidak begitu bijak bagi May, apalagi untuk diucapkan di hadapan Medya. Ia tahu bagaimana perasaan gadis tiga belas tahun tersebut bila mendengar kata itu darinya. Sedih? Sudah pasti. Kecewa? Jelas. Putus asa? Itu yang ditakutkan May selaku orang satu-satunya yang dekat dengan gadis itu. Seperti saat ini, tanpa sengaja ia telah mengucapkan sesuatu yang membuat Medya kecewa dan semakin putus asa. Dan ia langsung bisa mengetahui dari perubahan raut wajah Medya yang tercipta. Ia mengerti, gadis itu telah semakin bosan terhadap semua yang ia alami di Dexedia.
“Maafkan aku…,” May hanya bisa mengucapkan itu. Ia sudah terlanjur mengecewakan Medya dengan ucapan yang tak sengaja tadi. “Aku tak bermaksud….”
“Sudahlah. Aku juga yang nggak bisa ngerti-ngerti. Bertanya tentang hal tadi berkali-kali pun tetap aja nggak ada jawabnya,” Medya masih mencoba tersenyum ketika mengatakannya. “Aku nggak akan pernah keluar dari sini. Iya, kan?”
May tak menjawab. Ia merenung. Merenungkan sesuatu yang terus membuatnya memikirkan Medya. Apakah gadis itu nantinya akan bisa keluar dari program pengembangan kemampuan otak tersebut? Dexedia Mind Brain Program telah membuat gadis itu merasa bukan manusia lagi. Semakin hari, perasaan itu semakin kentara.
Karena May terus diam, Medya pun berujar, “Dokter May…, aku ingin tidur. Kita lanjutkan pembicaraan kita besok saja. Aku sudah capek. Dokter juga, kan?”
Gadis itu semakin erat merangkul bantalnya dan tersenyum lebar, khas anak-anak. Dengan ragu-ragu pula, May beranjak dari sisi tempat tidur Medya.
“Kalau begitu…, selamat malam, Medya,” ucapnya.
“Selamat malam, Dokter May…,” balas Medya.
May mematikan lampu kamar. Lalu pergi meninggalkan gadis itu sendiri di kamarnya.
Hanya sesaat suasana menjadi hening. Karena lampu itu segera kembali menyala, dengan sendirinya. Medya menghidupkannya dengan kekuatan pikiran hasil tempaan Dexedia. Ia tidak berbaring, melainkan masih duduk memeluk bantalnya dengan air mata yang mengalir. Semakin kencang dan semakin kencang. Hingga akhirnya, lampu dan bantal itu meledak bersamaan. Kembali gelap dan heninglah kamar itu.
Sementara di luar, May terhenti. Ia yang sudah agak jauh meninggalkan kamar Medya mendadak merasakan sesuatu. Segera ia berbalik hendak kembali, namun tertahan. Seorang pria tegap berjas dan berkacamata hitam mendadak sudah ada di hadapannya. Berdiri bagaikan patung. Mengagetkan dirinya.
*
Pria itu menggiringnya ke sebuah ruangan dan meninggalkannya sendiri di sana. Tak lama, datang seorang pria lain. Di kepalanya tak sehelai pun rambut yang tumbuh. Namun, kumis dan jenggot tetap dibiarkan menghiasi wajahnya, walaupun tidak begitu lebat. Namanya Dexedia. Ia sengaja menjadikan namanya sebagai salah satu bagian nama program ambisius tersebut. Karena, dialah yang telah membangkitkan kembali Mind Brain Project dari kubur menjadi Dexedia Mind Brain Program. Proyek rahasia negara yang dihentikan dengan alasan dana setelah berjalan selama tiga bulan.
“Kebetulan…,” ujar May ketika melihat pria itu. “Kapan kau akan berhenti mengungkung ketiga bocah itu? Kau telah memperlakukan mereka selayaknya bukan manusia lagi!”
“Aku masih memperlakukan mereka seperti manusia, Dokter,” balas pria itu. Tenang menghadapi May yang kelihatannya sedang marah.
“Menurutmu…,” balas May. “Sekarang, aku ingin bertanya. Kapan program ini berakhir?”
“Sampai kita berhasil.”
“Berhasil apa? Berhasil menciptakan monster? Kau seharusnya sadar, program ini akan berpengaruh buruk terhadap kehidupan mereka, kita, dan semuanya! Aku mohon, program ini segera dihentikan.”
“Alasan itu juga yang membuat Proyek Mind Brain dihentikan, selain dana. Tapi sekarang, tidak. Program Dexedia akan terus berlanjut sampai semuanya tercapai.”
“Aku harus mengatakan apa lagi agar program ini dihentikan?”
“Tidak perlu mengatakan apa-apa lagi, Dokter. Program ini takkan pernah dihentikan. Sungguh percuma membiarkan fasilitas ini terbengkalai begitu saja. Kita harus memanfaatkannya.”
“Dengan menyelewengkannya….”
“Terserah bagaimana pendapatmu, Dokter. Tapi aku menyebutnya ‘menggunakan sesuatu yang sudah tak terpakai lagi’.”
“Menggunakan fasilitas negara…,” ucap May pelan. “Kau menggelapkannya. Kau membuat laporan palsu yang menyatakan kalau laboratorium raksasa ini mengalami kebakaran hingga menghancurkan semua.”
“Tapi semua percaya,” Dexedia kembali menyahut tenang. Tampak May melengos kesal mendengarnya. Memang, Dexedia menggelapkan semua fasilitas tersebut setelah proyek rahasia itu baru seminggu dihentikan. Ia berhasil meyakinkan semua orang kalau fasilitas itu hancur hanya dengan meluluhlantakkan bagian atas bangunan yang berada di permukaan tanah. Sementara sisanya, delapan lantai bangunan di dalam tanah yang menguasai daerah seluas lapangan sepak bola, tetap dibiarkan utuh.
“Percuma bicara denganmu,” ujar May pula kesal. Semakin kesal. Hanya saja….
Sebuah kursi beroda mendadak mendekati May. Mula-mula, May heran. Tapi ia segera tahu kalau itu adalah ulah Dexedia. Pria itu dulunya pernah menjadi objek Proyek Mind Brain. Wajar ia bisa menggerakkan kursi itu, kini hingga berada di belakang May. Dan May hanya tinggal duduk di sana, tanpa perlu repot-repot lagi menariknya.
Sebuah kursi lainnya mendekat. Yang ini khusus untuk Dexedia sendiri.
“Silakan duduk, Dokter…,” ucap pria itu. “Tenangkan dulu dirimu. Aku membawamu kemari karena ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu.”
May duduk, disusul Dexedia.
“Apa yang ingin kau sampaikan?” tanya May langsung ke pokok permasalahan. Sudah cukup bertele-telenya tadi.
“Kau pasti sudah melihat bagaimana perkembangan Medya, bukan?”
“Ya. Dia lebih cepat berkembang dibanding dua bocah laki-laki lainnya.”
“Mungkin, satu-satunya kesalahanku, dan yang terbesar, adalah memilihnya.”
“Maksudmu?”
“Kau seharusnya sendiri tahu, Dokter. Karena kau yang pernah menangani Min Brain sebelumnya. Kenapa sampai wanita tidak diikutsertakan dalam proyek tersebut sebagai objek.”
“Kami tidak pernah mengujikannya kepada objek seusia Medya sebelumnya. Jadi, kami tidak tahu.”
“Yang dewasa sudah ada contohnya. Seorang wanita cantik yang kini sedang duduk di hadapanku. Dan yang remaja, juga sudah ada contohnya. Medya.”
“Gombal…!” ujar May pelan. Suaranya nyaris tak kedengaran.
“Lalu, apa?” tanyanya pula.
“Apa?” balas Dexedia.
“Yang ingin kau sampaikan selanjutnya. Atau… hanya itu?”
“Dexedia mengindikasikan kalau perkembangan dirinya mengarah ke perkembangan yang sangat merusak dan sulit dikendalikan. Maka sebelum itu terjadi, aku memiliki dua pilihan rencana untuknya dan aku memerlukanmu untuk melaksanakannya. Pertama, aku akan mengembalikannya hingga ke kondisi yang semula, di saat dia kita temukan dengan kekuatan telekinetis tersembunyi sedang mengamen di jalanan, dan menggunakan kemampuan kalkulasinya yang sangat cepat dan akurat di sekolah. Pilihan kedua, sekaligus pilihan terakhir jika pilihan pertama tidak berhasil, Program Dexedia akan benar-benar langsung berakhir, khusus untuknya.”
“Maksudmu?”
“Kau tahu maksudku, Dokter. Aku takkan pernah membiarkan dia keluar begitu saja dari program ini dalam keadaan hidup. Singkat kata, rencana satu maupun dua, akhirnya sama saja. Selamat malam.”
Dexedia pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah tenang. Sementara May yang ditinggalkan, hanya bisa memasang tampak tak percaya.
“Apa?” ujarnya.
***
Medya tak mengerti kenapa ia berada di tempat itu dan diperlakukan secara kasar. Ketika pintu kamarnya ia buka, dua orang berjas hitam telah menunggu di depan. Ia pun digiring ke ruangan itu. Ruangan luas seperti kaleng kornet raksasa dengan kursi besar berwarna hitam, seperti kursi di ruang dokter gigi, yang berada di tengah-tengahnya. Di kursi itulah ia dipaksa duduk oleh dua orang lainnya yang berpakaian seperti astronot. Bukan hanya diseret dan dipaksa duduk, tubuhnya juga disabuk serta tangan dan kakinya diborgol hingga ia tidak bisa bergerak banyak. Dan sekarang, ia dipaksa lagi untuk meletakkan kedua telapak tangannya di pegangan kursi. Tentu saja ia menolak dan berontak sekuat tenaga. Di bagian pegangan kursi, di mana telapak tangannya hendak ditempatkan, telah menunggu jarum-jarum kecil yang masing-masing akan menusuk ujung jarinya. Ia takkan mau!
“Jangan sampai aku turun tangan, Medya…,” ujar Dexedia pelan. Ia dan beberapa staf sekuriti berjas hitam hanya melihat diam dengan berdiri melalui kaca lebar sebagai dinding ruangan itu. Dinding ruangan yang terpampang tepat di hadapan Medya. Sementara staf inti Program Dexedia, yang mengenakan jas putih selayaknya dokter, tengah mempersiapkan sesuatu melalui komputer-komputer mereka.
Medya langsung menatap ke arah Dexedia. Dengan amarahnya yang mendadak memuncak, ia membuat kedua orang itu terlempar ke belakang. Membentur dinding dengan keras dan jatuh tersungkur tak berdaya. Sabuk yang mengekang tubuhnya putus dengan sekali tarik, dan borgol yang melingkari tangan dan kakinya rusak hanya dengan sekali sentak. Ia berdiri. Menatap Dexedia dengan penuh benci.
Melihat keadaan yang sudah begitu, Dexedia pun berniat turun tangan. Namun tak terlaksana. Pintu ruangan itu mendadak terbuka. Sontak, semua orang yang ada di sana menoleh. Seorang petugas wanita berjas putih kini berada di depan pintu ruangan tersebut. May.
May membalas menatap ke arah Dexedia.
“Inikah yang kau maksud masih memperlakukan mereka selayaknya manusia? Jangan harap aku akan pernah setuju dengan jalan pikiranmu yang gila itu. Medya akan tetap selamat sekalipun ia keluar dari program ini,” ujarnya lalu masuk.
Kedua orang yang terlempar oleh ulah Medya perlahan bangkit berdiri. May lalu menyuruh mereka untuk segera keluar.
Pintu tertutup kembali. Kini, hanya ada May dan Medya di sana.
“Halo, Medya…,” sapanya pula. Didekatinya perlahan gadis itu.
Medya melangkah mundur menghindar. Menjaga jarak dari May.
“Medya…, ini aku. May…. Jangan takut!”
Medya menggeleng. Tetap menjaga jarak.
“Medya…, aku takkan menyakitimu. Kita teman. Kita sudah seperti saudara.”
Medya masih menggeleng, bahkan semakin kencang.
“Medya…?”
“Kenapa aku dibawa kemari?” tanya gadis itu. “Kenapaaaaa?” pekiknya pula, sehingga membuat May tersentak dan menghentikan langkah. Medya telah mencapai puncak kekesalannya. Kekesalan yang timbul akibat tekanan batin yang begitu berat yang telah dipendamnya selama hampir satu tahun.
May hanya memperhatikannya dari jauh. Tak berani mendekat. Gadis itu dilihatnya mulai mengeluarkan air mata.
“Kalian ingin membuatku seperti apa lagi? Belum puas setelah membuatku kehilangan kodrat sebagai manusia? Belum puas?”
Mata gadis itu kembali menatap ke arah Dexedia, dengan cepat. Pria itu masih berdiri tenang. Segera saja, ia melangkah setengah berlari ke arah dinding kaca dan menghantamkan kedua kepalan tangannya di sana. Sebuah hantaman yang sangat keras. Membuat kaca yang sangat tebal tersebut retak menjalar hampir mencapai tepi. Tetap, Dexedia tak bergeming.
“Keluarkan aku dari siniiiii!” pekiknya seraya hendak mengayunkan tangannya kembali.
“Medya, hentikan! Kau hanya akan mempercepat dirimu berubah menjadi monster!”
Kepalan tangan Medya mendadak berhenti. Hanya tinggal beberapa senti saja untuk mencapai kaca dan menghancurkannya bercerai-berai.
“Aku mohon…, hentikan…! Kendalikan dirimu. Jika kau tak dapat mengendalikan dirimu, kau semakin jauh…, kau semakin jauh….”
Medya membuka kepalan tangannya, lalu meletakkan telapak tangannya di dinding kaca yang retak. Perlahan, ia kemudian jatuh bersimpuh. Telapak tangannya yang terseret di kaca terluka, meninggalkan jejak darah. Namun, sama sekali ia tak meringis. Ia hanya menangis setelah benar-benar jatuh bersimpuh.
“Aku harap, kau bisa menerima ini,” ujar May. “Program Dexedia yang kami jalankan terhadapmu mengindikasikan kalau kau telah berkembang dengan pesat. Bakatmu telah berkembang melebihi apa yang kami bayangkan sebelumnya.”
Medya memperhatikan telapak tangan kanannya yang terluka. Air matanya yang jatuh di luka berhasil membuatnya meringis. Dan tak disangka, luka itu mendadak berangsur sembuh dengan begitu cepat. Ia lalu memperhatikan telapak tangan kirinya. Juga sama. Luka akibat tergores retakan kaca menghilang.
“Selain daya telekinetismu yang sangat tinggi, sampai sekarang tidak ada yang seperti itu, regenerasi seluruh sel di tubuhmu juga sangat cepat. Sel-sel saraf, tulang, dan otot, semuanya berubah. Efek Program Dexedia mungkin saja telah mengubah seluruh apa yang ada di tubuhmu. Dan mungkin benar apa yang barusan kau katakan, kami telah membuatmu kehilangan kodrat sebagai manusia.”
May mulai berjalan perlahan mendekati Medya.
“Kau tentu saja tak ingin kekuatanmu itu merubahmu menjadi monster, kan?”
May semakin dekat. Hingga akhirnya, ia berhenti dan membungkuk di hadapan Medya.
“Oleh karena itu, Medya. Kami ingin mengembalikan keadaanmu seperti semula.”
Perlahan, Medya mengangkat wajahnya. Ia menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya.
“Bisa?”
“Aku yakin bisa. Ayo….”
Medya mengulurkan tangan, meminta bantuan untuk berdiri kepada May. Menanggapinya, May hanya tersenyum, lalu menariknya berdiri.
“Sekarang, kau hanya tinggal duduk di kursi itu dan menunggu.”
Medya menatap kursi yang dimaksud. Kursi di mana ia tadi disabuk dan diborgol.
“Di sana?”
“Ya.”
“Tapi, tangan kursi itu….”
“Jarumnya hanya kecil. Selain itu, juga akan ada zat anestesi. Kau takkan merasa sakit setelah beberapa saat.”
Medya kelihatannya ragu-ragu. Namun, May segera menuntunnya untuk duduk di sana. Ia kemudian menunggunya di sisi kiri kursi.
Medya telah duduk. Matanya menatap lekat ke arah jarum-jarum itu.
“Letakkan saja telapak tanganmu di sana. Hanya sakit sedikit. Setelah itu, tidak akan terasa.”
Medya akhirnya meletakkan telapaknya di sana. Ia meringis untuk pertama kali. Tapi setelah itu, ia kehilangan rasa sakitnya dan bisa tersenyum ke arah May. Dan dengan tenang, ia kemudian menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Di sandaran itu, ada bagian yang terbuka seukuran kotak korek api, tepat di belakang kepalanya.
“Tenangkan dirimu, kita akan segera mulai.”
May memberikan tanda. Proses itu pun dijalankan.
“Bagaimanapun kerasnya usahamu, dia takkan pernah selamat dari program ini…,” ujar Dexedia bergumam. Sampai sekarang, ia masih berdiri tenang di sana.
May mengalihkan pandangannya ke Dexedia. Ia membalas dengan berucap di hatinya, “Takkan kubiarkan kau mengambilnya. Dia satu-satunya sahabat yang kupunya di sini….”
Sesuatu kemudian bergerak naik dari lantai. Berada di belakang kursi yang diduduki Medya. Benda serupa lengan robot itu berhenti naik setelah sejajar dengan lubang yang ada di sandaran kepala Medya. Perlahan, benda itu bergerak mundur. Setelah berhenti, keluar jarum kecil di ujungnya. May segera berpaling, tak sanggup melihat apa yang akan terjadi nantinya. Dan mendadak, lengan itu melesat, menghunjamkan jarum yang ada di ujungnya ke kepala Medya.
dikirim dirgita 35 minggu 5 hari yang laluTag:







