Nostalgia Cinta Kakek

Di depan teras rumah yang sederhana tampak seorang kakek yang dikenal dengan nama Aki Gohm sedang bersantai di kursi goyangnya sambil membaca majalah game. Maklum saja, dia adalah mantan creator game di sebuah perusahaan game.

“Kena lo…!” teriak seorang gadis sambil menodongkan senapan angin ke kepala kakek tersebut yang sedang asyik baca-baca.

Seolah sudah terbiasa dengan hal tersebut, Aki Gohm lantas menurunkan majalah game yang sedang dibacanya dari pandangannya dan balik menodongkan senapan mesin ke arah gadis tersebut.

“Wah! Kita seri, nih,” kata gadis tersebut.

“Kata siapa? Aku yang menang. Lihat saja senapanku ini! Sekali tembak hilang kamu!” kata Aki Gohm.

“Alah! Kayak anak SD aja Aki ini. Kita seri karena ini mainan semua,” terang sang gadis.

Aki Gohm hanya cenge-ngesan. “Aduh, malu Aku!” timpalnya pula.

“Makanya! Kalau nggak mau dikatain anak SD cari pendamping hidup. Jangan nge-jomblo, Ki,” saran sang gadis.

“Memangnya apa hubungannya dikatain anak SD sama pendamping hidup? Lagipula, kalau Aki mau cari istri, usia Aki kan udah masuk kepala empat, Sus!”

“Memangnya kepala Aki udah tumbuh tiga lagi?” tanya gadis itu yang ternyata bernama Susi.

“Bahlul kamu! Bukan itu maksudnya,”

“Susi tau kok apa maksudnya. Mana mungkin seorang Gohmatus Kardy, sang maestro game di Indonesia kepalanya tumbuh tiga lagi,” kata Susi dengan nada seorang penyair.

“Tidak sopan! Menyebutkan nama lengkap seorang tua yang renta ini, oh!” balas Aki Gohm dengan gaya seorang pelakon teater super gagal.

“Puuuk…!” sebuah pukulan kecil mendarat di kepala Aki Gohm.

“Aduh! Apa-apaan sih kamu ini? Kalau Aki jadi pikun gimana?” kata Aki Gohm protes.

“Tadi ada laba-laba lagi bikin sarang di rambut Aki,” kata Susi beralasan. “Tapi Aki sendirikan pikunnya juga udah lama, jadi dibuat pikun aja lagi. Sekalian menolong Aki,” timpalnya lagi.

“Emangnya siapa yang pikun? Aki masih ingat ini tahun 2039. Bahkan Aki masih ingat masa-masa indah Aki waktu SMP,” kata Aki Gohm.

“Yang bener? Susi agak ragu, nih!”

“Eits! Yang satu ini jangan diragukan kwalitasnya. Aki akan memberitahukanmu cerita cinta Aki waktu SMP,”

“Apa? Jadi dulu Aki pernah punya pacar?”

“Bukan pacar sih. Tetapi…, udah ah! Lebih baik kamu dengerin aja cerita Aki ini,”

*_*

Setting-nya kira-kira tahun 2004. Waktu itu, umurku sekitar 12-an. Sudah mulai mempunyai perasaan “cinta” kepada lawan jenis. Entah kenapa aku bisa kecantol sama dia. Tapi yang penting dia itu cantik, langsing, pokoknya idaman aku deh.

Pada suatu hari aku melihatnya di kantin sekolah. Pertama kali aku nggak tahu siapa namanya. Sambil pura-pura lewat Aku membaca namanya yang tertempel dibajunya. Namanya…, tak kasih bocoran! Inisialnya “D”

“Dengkul?” tebak Susi.

“Bukan!” bantah Aki Gohm.

“Doraemon?” tebak Susi lagi.

“BUKAN!” bantah Aki Gohm lagi.

“Atau…, drakula?” kata Susi iseng.

“Dewiii..! Bukan dengkul, bukan doraemon, bukan darahmu…!” teriak Aki Gohm.

“Wah, bukan sebuah bocoran lagi, nih!”

“Sudah, diem! Walaupun kamu tahu namanya sudah tak berguna lagi, paling-paling umurnya sekarang sudah sama kayak Aki. Sekarang dengarkan!”

Tengah malam aku diam-diam merencanakan “penembakan”. Aku menulis sebuah surat kaleng yang dimasukkan di dalam ikan kaleng tiruan yang isinya lumayan keren namun terlalu sangat tak biasa untuk masuk di akal. Kugunakan nama samaran yang keren. Kop surat-nya kutulis nama perusahaan konsol game buatanku. Isi suratnya begini: ”Kami sedang membuat konsol game tercanggih yang dapat merealisasikan setiap gerakan yang ada di game. Kami memilihmu untuk mengujicoba alat ini karena pimpinan kami sangat tertarik kepada Anda. Mohon hal ini jangan diberitahukan kepada siapapun. Karena aku bisa berada di sampingmu. Kapan pun”.

Setelah ia membaca surat itu, ia malah menangis karena merasa diteror. Aku jadi bingung sendiri. Kebetulan, dia itu adalah teman akrab teman wanitaku waktu SD, Rheina namanya, entah darimana ia mengetahui kalau Aku yang menulis surat itu.

“Aki dihajar, dibanting, ditonjok, dijitak rame-rame sekampung?” tanya Susi.

“Ya nggaklah! Kok bisa sesadis itu sih. Mana mungkin,” bantah Aki Gohm.

“Terus, apa yang terjadi?” tanya Susi.

“Baiklah! Yang terjadi adalah…”

Rheina menyuruhku agar minta maaf. Aku ngikut saja. Sambil berjabat tangan aku mengatakan “Maaf” Itu doang. Tapi itu adalah hal yang sangat berarti bagiku. Baru kali itu aku dapat berjabat tangan dengan seorang gadis yang sangat aku dambakan walau hanya sesaat.

“Hanya sampai di situ saja?” tanya Susi.

“Nggak! Masih ada continue-nya,” jawab Aki Gohm.

Kelas 2 SMP merupakan masa-masa yang sangat sulit bagiku. Walaupun semuanya telah berlalu. Tapi, perasaan itu tetap terus menggebu. Terkadang, saat istirahat aku tanpa sengaja bertatapan mata dengannya dalam waktu yang lama. Bahkan kami sempat saling berpandangan tanpa berkedip. Dadaku bagaikan kuali yang panas, gunung berapi yang mau meletus, dan genderang yang dipukul pakai kepala gundul. Pokoknya panas dingin.

Akan tetapi, saat aku melihat ia duduk dengan seorang laki-laki lain. Rasanya hatiku mau meledak. Apalagi aku samar-samar, mendengar laki-laki itu berkata kepada Dewi. “Cowokmu yang itu sudah kamu putuskan belum?”

“Tidaaaaaaaaaaak…!” teriak Susi.

Karena kerasnya teriakan Susi tersebut, Aki Gohm melepaskan sandalnya dan memasukkannya ke mulut Susi. Langsung saja ia diam seribu kalimat namun tak lama kemudian ia terbatuk-batuk sambil mengepakkan tangannya sambil berusaha mengeluar-kan sandal itu dari mulutnya. Persis deh kayak anak ayam lagi makan mie.

“Idih! Aki kok gini sih?” kata Susi protes.

“Salah kamu sendiri main teriak saja. Rasanya telingaku mau pecah, tahu!” kata Aki Gohm.

Susi lalu bergegas ke dapur. Entah apa yang dilakukannya. Tetapi saat ia kembali ia telah membawa secangkir Tekocos (larutan teh, kopi, coklat, dan susu yang dicampur). Minuman kesenangan Aki Gohm walaupun kedengarannya cukup aneh.

“Tahu aja kamu,” kata Aki Gohm lalu mengambil “Tekocos” dan langsung meminumnya. “Tadi kamu ngapain sih?” katanya sambil menyeduh secangkir Tekocos.
“Cuma kumur-kumur mulut pake antiseptik dan sikat gigi pakai sikat baja. Tau-tau aja kalau sandal Aki habis nginjak eek ayam yang lagi pilek,” jawab Susi panjang lebar.

“Kata siapa Aki nginjek eek ayam? Paling-paling Aki habis nginjek eek-nya Ucup. Anak tetangga yang suka eek di tepi jalan tol,” jawab Aki Gohm.

“APA?”

^_*

“Sekarang apa kamu mau mendengar kelanjutan cerita Aki?” tanya Aki Gohm.
“Iya. Boleh kok dilanjutin,” kata Susi sambil membersihkan mulutnya dari sisa-sisa pasta gigi. Asal tau aja, ia telah menyikat giginya ke-200 kalinya. Alhasil giginya jadi putih namun agak semitransparan (jadi tipis giginya).

“Di kelas 3 SMP Aki punya masalah yang sangat sangat and very very rumiiit buangeeet! Dari masalah sekolah hingga soal cewek. Aki yang tadinya cuma kecantol sama Dewi kini mulai punya perasaan lain sama cewek lain. Celakanya, gadis itu adalah temannya Dewi! Namanya kalau nggak salah. Aduh lupa! Susah diejanya.,”

“Puuuk…!” sebuah pukulan keras melayang tepat di jempol Aki Gohm yang lagi bengkak. Alhasil, ia menjerit-jerit bagaikan penyanyi rock.

Rupanya Susi yang “menghajar” jempol Aki Gohm. Sambil senyum-senyum, Susi hanya garuk-garuk kepala sambil beralasan.

“Itu, tadi di jempol kaki Aki ada nyamuk gedeee… buanget! Susi khawatir aja kalau Aki kena penyakit kaki gajah. Diameter jempol Aki yang tadinya 5 cm mungkin melebar jadi 50 cm,” kata Susi bo’ong.

“Bilang aja mau balas dendam,” kata Aki Gohm.

Senyum Susi tambah melebar.

“Oke! Aki teruskan. Sampai dimana tadi ya?”

“Nama cewek barunya Aki,”

“Bukan cewek baru, tapi dambaan baru. Tak jelasin ya! Dia itu terlihat agak biasa-biasa aja dari yang pertama. Tapi ada hal yang membuat Aki begitu tertarik dengannya. Yaitu sifat keterbukaannya kepada orang lain. Bahkan sama Aki,”

“Ngomong-ngomong, siapa namanya, Ki?” tanya Susi.

“Anak kecil nggak boleh tau. Tak kasih inisialnya aja ya. Kalau nggak salah inisialnya “R” kalau nggak salah sih,”

“Rokok?” tebak Susi.

“Bukan,” bantah Aki Gohm.

“Rambutan yang rambutnya merah?” tebak Susi lagi.

“BUKAN!” bantah Aki Gohm lagi.

“Rambo versi cewek?” kata Susi jahil.

“BUKAN…!!! Bukan rokok, bukan mutan rambutan, bukan Rambo. Tetapiii…,” baru saja Aki ingin menjawabnya cepat-cepat ia menutup mulutnya.

Dia urung mengatakannya saat melihat Susi dengan wajah tersenyum lebar. “Aku tidak akan kejebak untuk kedua kalinya,” kata Aki Gohm.

Wajah Susi yang tadinya berbinar berubah redup kayak pelita kehabisan napas.
“Ya sudah! Mungkin namanya itu Ruhut Silancip,” kata Susi.

“Bukaaan…! Tetapi, Rishma…! Ups,” Aki Gohm dengan wajah bego menutup mulutnya. “Ya sudah, terlanjur berkata. Lagipula tiada gunanya,”

Wajah Susi kini kembali bersinar dengan cahaya secerah kunang-kunang.

“Aki akan lanjutkan ceritanya. Pada akhirnya Aki memilih untuk “menembak” Rishma. Saat pulang sekolah, setelah ia piket kelas, Aki datang lalu menarik tangannya dengan lembut dan membawanya ke kantin sekolah yang telah kosong. Di sana Aki mengutarakan seluruh perasaan Aki kepadanya. Pada awalnya ia tidak percaya. Karena Aki waktu itu terbakar emosi cinta yang panasnya nggak lebih dari 2 derajat celcius, Aki lalu memegang kedua bahunya lalu mendekatkannya ke tubuh Aki lalu ngomong kayak gini: “Tataplah mataku. Apakah aku berbohong?” gitu,” kata Aki Gohm.

“Wah! Nggak nyangka Aki pinter ngomong kayak gitu, ya!” puji Susi.

“Baru tahu ya? Kasian deh kamu. Seharusnya kamu mengetahui hal tersebut saat Aki nge-rilis game simulasi cinta yang berjudul “SMP: Sekolah Mencari Pacar” yang terjual 30 juta copy di seluruh Asia, Amerika, Eropa, dan sebagian Afrika. Nggak tau juga tuh berapa banyak yang dibajak,” kata Aki Gohm sambil membusungkan dadanya.
“Idih Aki bo’ong! Dosa itu” kata Susi.

“Memangnya siapa yang bohong?” tanya Aki Gohm.

“Aki yang bohong. Paling-paling hanya terjual 30 copy. Itupun harga per kasetnya Rp 10.000,-,” kata Susi. “Sudahlah ngaku saja. Akukan penggemar sejati Aki. Nggak mudah dibohongin karena Susi tahu semuanya tentang game-game yang dibuat Aki,”

“Sudah, sudah! Hal itu jangan diungkit lagi,” kata Aki Gohm.

“Oke bos! Tapi, kelanjutannya apaan tuh?” tanya Susi.

“Tak terusin ya! Setelah Aki ngomong kayak gitu dihadapannya. Ia terpaku tak berkutik. Aki lalu sadar tampaknya Aki terlalu menekan dirinya. Perlahan-lahan Aku melepaskan cengkramanku. Akan tetapi Dewi yang tak sengaja melihat kami langsung lari meninggalkan Rheina yang juga kebetulan bersamanya dan melihat hal tersebut. Aki juga nggak tau apa yang terjadi. Dengan sedikit rasa marah, Rheina menghampiriku lalu mengatakan hal ini: “Gohm! Dewi itu sebenarnya mencintai Kamu. Tapi ia masih ragu. Apalagi kamu tidak pernah berusaha pedekate sama dia. Sekarang, apa lagi?” itu katanya. Lalu Rishma yang telah mengetahui hal tersebut juga mengatakan hal yang bikin Aki patah hati. Dia ngomong: “Maaf, Aku tidak bisa mencintai orang yang dicintai oleh sahabatku” gitu katanya,” kata Aki Gohm panjang lebar.

“Akhirnya,” tanya Susi.

“Ya begini akhirnya. Tiada pendamping hidup. Hiks!” jawab Aki Gohm.

“Cukup memilukan, sih! Tapi tampaknya memang bukan lagi jodoh kali ya,” kata Susi sambil berusaha menenangkan Aki Gohm yang terlihat menitikkan air mata.

“Tapi, Aki jangan pasrah dalam keadaan. Toh Aki masih cakep juga, baru berumur 40 tahun,”

“Tapi kok saya dipanggil Aki sama orang-orang sih? Katanya saya masih cakep,”
“Mungkin karena kewibawaan Aki. Sudahlah, sekarang Aki cari pendamping hidup. Jangan pasrah! Jodohkan di tangan Tuhan, Ki. Siapa tahu besok Aki udah nikah. Who is known?”

Aki Gohm hanya manggut-manggut.

^_^

Dua hari kemudian Susi sekeluarga kaget berat saat melihat Aki Gohm bersama seorang gadis yang usianya 15 tahun lebih muda dari Aki datang ke rumah Susi sambil mengantarkan undangan pernikahan.

Susi hanya bisa geleng-geleng kepala. “Tampaknya ada yang aneh, deh!” katanya dalam hati.

Tamat

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer scarlet_dedek
scarlet_dedek at Nostalgia Cinta Kakek (4 years 21 weeks ago)
30

well, endingnya kurang greget, terlalu biasa banget menurutku. o ya, mohon kritik dan sarannya juga ya di: http://id.kemudian.com/node/241686

dan

http://id.kemudian.com/node/241687

thnx ^^

Writer Endy Tatsuke
Endy Tatsuke at Nostalgia Cinta Kakek (4 years 21 weeks ago)

hohohoh ^_^
sebenarnya ending yang dibuat memang terjadi beberapa kali perubahan dan akhirnya ini yang dipakai.

oke terima kasih buat sarannya ^_^

Writer sutidjah
sutidjah at Nostalgia Cinta Kakek (4 years 21 weeks ago)
100

Akankah terjadi yang kedua kalinya pada aki gohm? Semoga!!
Lanjutan nya?

Writer Endy Tatsuke
Endy Tatsuke at Nostalgia Cinta Kakek (4 years 21 weeks ago)

hm..., silakan bayangkan hahaha ^_^
terima kasih buat sarannya ane baru terpikir untuk buat lanjutannya nih hehehe ^_^ terima kasih ^_^

Writer vindra999
vindra999 at Nostalgia Cinta Kakek (6 years 28 weeks ago)
50

Kakek, kakek, makin tua makin jadi aja

Writer shafira
shafira at Nostalgia Cinta Kakek (6 years 29 weeks ago)
70

dasar si kakeeek!!!

Writer weha setyorini
weha setyorini at Nostalgia Cinta Kakek (6 years 33 weeks ago)
70

Lutchuuu abizz!!

Kreatif banget sie..?!
Ajari dunk.. hehe..

Gbu aLL

Writer kevin.fernando85
kevin.fernando85 at Nostalgia Cinta Kakek (6 years 34 weeks ago)

Writer vegna
vegna at Nostalgia Cinta Kakek (6 years 34 weeks ago)
80

makan sandwich isi eeq ayam n tetangga
hhehehe

lucu
refreshing...

Writer Matrix
Matrix at Nostalgia Cinta Kakek (6 years 34 weeks ago)
90

Ceritanya bikin gw ngakak

huauhuahea....:D

Writer Nanasa
Nanasa at Nostalgia Cinta Kakek (6 years 34 weeks ago)
80

Tapi sesuai dengan kalimat terakhir,
“Tampaknya ada yang aneh, deh!”

Hi hi.. si Aki ini kan baru berumur 40-an. berarti belum renta kan?

Yuk, yuk.. keep writting :p

Writer starof hope
starof hope at Nostalgia Cinta Kakek (6 years 34 weeks ago)
100

sukses bikin ketawa!