Jangan ngiler!
"Ya, bakso! Jika nama makanan yang satu itu disebut-sebut di hadapanku, aku pasti langsung ngiler. Tahu, kan, ngiler itu apa? Itu, lho, air liur yang menetes. Pokoknya, demi bakso, Abdul bisa melakukan apa saja. Lari mengelilingi Monas dua puluh kali pasti Abdul lakukan asal demi bakso, membabat berhektar-hektar rumput, dan sebagainya.
Entah kenapa, Abdul bisa seperti itu. Tapi menurut cerita Ibu, Ibu itu dulu pernah mengidam ingin makan bakso. Namun, keinginan itu tak pernah tercapai. Pasti ada saja halangannya. Inilah, itulah, tutuplah, habislah, kebakaranlah, dan macam-macam.
Dan keinginan itu terus bertahan hingga usia Abdul dalam kandungan adalah delapan bulan. Keinginan untuk makan bakso semakin kuat. Dan itu tak dapat ditahan. Tidak mau tahu bagaimana caranya, yang penting harus ada bakso.
Bergegaslah Bapak dengan vespa keluaran zaman Perang Dunia Kedua itu ke pasar. Misinya adalah mencari bakso. Akhirnya, bakso yang diinginkan pun didapat. Bapak bersiap pulang.
Bunyi ponsel di saku membuat Bapak tidak jadi nangkring di vespa. Nenek menelepon. “Halo?”
“Nak, istrimu mau melahirkan. Cepat! Pulang! Dia perlu kamu untuk menemaninya!”
Bapak pun buru-buru pergi. Ia memacu vespanya yang sudah uzur bagaikan di sirkuit balap. Mobil-mobil yang berlari di atas rata-rata berhasil Bapak lampaui dengan sukses. Dan mendadak, seekor kucing hitam melintas di depan Bapak. Bapak mencoba mengerem agar tidak menabrak kucing itu. Tapi, naas. Motor Bapak jadi oleng dan tumbang di jalan. Sebuah truk dengan kecepatan penuh kemudian lewat dan…. Bapak dan Ibu bertemu di rumah sakit. Bapak berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Sambil berjuang hidup mati melahirkanku, ibu sempat-sempatnya makan bakso. Dan lahirlah aku, pada malam tahun baru. Dengan tega, Bapak yang kepalanya dibalut perban saat itu memberiku nama Abdul Baksogi.
Kata Ibu, aku ini sebenarnya pintar. Kata Bapak, aku ini anaknya pandai. Dan kata Pak Guru dan Bu Guru, aku ini anaknya tidak bodoh. Aku hanya malas saja hingga rankingku selalu di buntut.
Dan demi memperbaiki prestasiku, mereka mengeluarkan ide yang brilian. Katanya, jika aku bisa naik kelas dengan nilai tinggi, aku boleh makan bakso sepuasnya. Dan demi bakso, aku rela melakukan apa saja. Memecahkan rekor untuk nilai tertinggi pun aku bisa. Ini demi bakso yang aku suka!
Tekadku sebulat bakso!
Tag:











