Cinta Segitiga Bermuda (@draft novel number 2)

Seorang gadis muda berkaca mata dengan lensa tipis dan gagang berwarna hitam pekat terduduk di sudut ruangan. Di hadapannya terdapat ratusan kepala berbaris memegang sebuah buku tebal dan pulpen warna-warni. Sudah sejam gadis itu duduk di situ, menandatangani tiap novel setebal 567 halaman yang disodorkan tiap orang kepadanya. Dengan sabar dia membubuhkan tanda tangan beserta identitasnya di tiap novel ataupun buku yang disodorkan orang-orang yang berdiri di hadapannya. Kadang dia akan tersenyum kepada gadis kecil berusia sepuluh tahun yang berbaris di hadapannya, menanyakan nama gadis itu dan kemudian dia membubuhkan dengan penuh kasih sayang, ”especially for..” atau ”with love for..” di depan nama gadis kecil itu. Atau dia akan tersenyum prihatin kepada seorang bapak yang dengan sabar berbaris untuk meminta tanda tangannya teruntuk anak kesayangannya yang berdiri di sudut ruangan.

Penulis muda dengan talenta penulisan yang memikat, demikian tiap headline majalah remaja memperkenalkan gadis itu pada penjuru hadirin siang itu. Gadis itu baru berusia duapuluh tahun, belum genap menyelesaikan studi kuliahnya, dengan status single yang melekat di dirinya. Siang itu, di sebuah toko buku terkenal di kawasan Dewi Sartika, Denpasar, dia mengenakan cardigan merah jambu dengan tank top putih dan rok gelembung berwarna biru langit, terduduk di sudut sebelah selatan ruangan yang khusus disediakan untuknya. Dia menghadiri acara talk show tentang novel terbarunya tanpa seorang pun menemani.

Memang dia seperti pulang ke rumah, dia kembali ke kota tempat dia lahir dan tumbuh besar, sehingga tak menjadi masalah apakah dia sendiri atau ditemani seseorang, tapi itu sudah bertahun-tahun silam, sudah sepuluh tahun yang lalu. Dulu Denpasar tidak sehiruk pikuk seperti saat dia datang. Ketika dia hadir di toko buku yang menggelar acara talk show tentang novelnya yang best seller, dia bahkan tak sanggup untuk menutup kegundahannya menghadiri acara yang ditujukan untuknya itu. Begitu penuh pengunjung, ketika dia melangkahkan kakinya di mall yang memuat toko buku dan tempat acara talk show-nya berlangsung, perutnya bahkan terasa mual.

Pertama kalinya dia menghadiri sebuah acara yang dikhususkan untuk dirinya. Acara temu muka dengan ramuan yang akan disajikan adalah mengenai asam garam yang dilaluinya di pentas seni penulisan Indonesia sehingga dia bisa sukses seperti hari itu. Dia akan menemui banyak orang yang kesemuanya pernah membaca tulisan-tulisannya, dia akan menjumpai orang-orang yang akan berbaris selama berpuluh-puluh menit hanya untuk meminta tanda tangannya. Sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya bahwa dia akan melakukan hal itu.

Awalnya, para juru foto dan pemburu berita berlarian mendekatinya, mereka menjepretkan kamera – yang sebagian kamera digital, separuh lagi kamera analog – ke arahnya, beberapa berteriak histeris menyambutnya, “Penulis itu!”

Dia hanya tersenyum ketika sebagian orang berpakaian seragam berwarna hitam menghampirinya dan menariknya ke sudut ruangan, dan kini dia terduduk di kursi kayu di sudut ruangan itu selama sejam penuh, cukup fantastis sang waktu bermain-main dengannya.

Ketika barisan menipis, namanya dipanggil oleh petugas toko buku untuk menuju ke atas panggung berkarpet merah yang disediakan untuknya. Dia tersenyum dan beberapa menit kemudian melengos ke tempat tujuan. Dia duduk di atas panggung dengan seorang pemandu acara yang terlihat menggila-gilai karya pertamanya itu. Pemandu acara dengan wajah tirus nampak seperti kurang tidur namun ditutupi oleh polesan make up yang cukup tebal, lipstick-nya merah pekat, pakaian rapi dengan tubuh langsing menggoda. Berkali-kali wanita itu mengucapkan kata, “fantastis!” kemudian dengan berapi-api menghadap ke arah hadirin untuk meminta anggukan setuju.

Novel pertamanya, dikagumi setengah mati. Hanya sebuah novel cinta dengan bumbu yang diraciknya sendiri dan diramu oleh kegemarannya akan dunia tulis menulis, namun menuai pujian sedemikian rupa. Dia tersenyum dalam hati, entah untuk siapa dia menulis, kegetiran menyelimuti batinnya kala itu.

Dia, Rosemary Dewi Agustin, gadis single yang memiliki rangkaian nama indah dengan arti “kenangan seorang Dewi di bulan Agustus”, merasa hidupnya biasa-biasa saja terlebih karena dia sama sekali tidak pernah mengalami pengalaman cinta. Bangku sekolah dilaluinya tanpa kisah cinta yang mendebarkan, beberapa cinta monyet mungkin pernah dialaminya, tapi kisah cinta yang berlabelkan fantastis rasanya terlalu jauh dari kenyataan hidupnya. Yang menjadi dilema baginya, orang-orang selalu mengaitkannya dengan kisah cinta mahadramatis seperti yang dituliskannya dalam novel pertamanya yang entah mengapa langsung menjadi sebuah bestseller. Hatinya meronta mencari-cari sang pangeran.

Seorang pria mengacungkan tangan di akhir acara, begitu tampan dengan kulitnya yang putih bersinar begitu terawat. Ini adalah akhir dari rincian acara yang disediakan untuknya, acara pemberian tanda tangan novelnya sudah dilaluinya dengan sukses, wawancara sudah berhasil dijalaninya dengan penuh bumbu-bumbu kehidupan orang lain yang dibacanya di buku mengenai orang-orang yang sukses menjadi novelis, dan kini adalah acara tanya jawab hadirin langsung padanya, ini yang terakhir, tegasnya dalam hati.

Pria itu adalah penanya pertama, pria itu langsung berdiri dengan sigap, dia tersenyum sebentar. Dia merasa mengenali pria itu, ingatannya memang buruk untuk mengingat nama, tapi dia benar-benar seperti sudah mengenal pria itu, sangat dekat.

Pria itu tersenyum lebar, kemudian berkata lantang di microphone yang diberikan padanya, “Aku cinta kamu!” cetusnya. Penonton terhenyak di bangkunya masing-masing, “Maaf?” tanya pemandu acara.

“Judul novel Mbak Dewi..” lanjut pria itu, dia menarik nafas lega, dalam situasi seperti ini, dia bahkan hampir melupakan judul novelnya sendiri.

“Iya?” tanya pemandu acara pada pria itu, sedikit tersenyum malu.

“Karya yang memukau. Adegan cinta bagai kisah klasik Romeo and Juliet ataupun Rama dan Sintha. Darimana ya Mbak dapet ide seperti itu? Judulnya pun seperti sebuah pernyataan..” lanjut pria itu.

“Boleh dijawab langsung? Maaf, panggil saya Dewi saja. Tidak usah pakai mbak-mbak segala. Ide? Cinta itu universal ‘kan? Saya menyukai tema itu sejak saya memulai karir kepenulisan saya. Mengenai judul, itu memang sebuah pernyataan kepada seseorang.” Jawab gadis itu ringan, senyumnya mengembang misterius bagai lukisan Monalisa.

“Jujur saja, saya sangat menyukainya.” Jawab Pria itu.

“Boleh saya tahu siapa nama anda?” tanya gadis itu tenang, sekedar basa-basi sebenarnya.

“Bayu. Bayu Anantayoga Mahardika.” Ucap pria itu tenang.

Gadis itu terhenyak, dia menyeruput gelas berisi air minum milliknya yang sedari tadi tak disentuhnya.

“Saya Bayu, saya sangat menyukai novel Dewi.” Lanjut pria itu.

Gelas yang dipegangnya terjatuh, pecahannya tak beraturan, air menggenang di mata kakinya. Dia menatap ke arah pria itu yang kemudian berubah menjadi bayangan, sedikit demi sedikit udara dipenuhi kabut putih tipis.

“Bayu!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak gadis itu, “Bayu!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

***

Dewi terbangun dari tidurnya, dinyalakannya lampu meja di sebelahnya, berwarna keoranyean dengan cahayanya yang temaram. Keringat memenuhi pelipisnya, nafasnya terengah-engah. Mimpi lagi, mimpi kesekian tentang pria yang sama.

Dia tidak tahu mengapa akhir-akhir ini tiap mimpinya selalu dipenuhi tentang pria yang sama, seorang pria bernama Bayu Anantayoga Mahardika. Dimulai dari saat dia terbangun dari koma karena kecelakaan pesawat penerbangannya dari Australia menuju Indonesia, hingga saat ini, ketika umurnya sudah duapuluh tahun dan esok paginya dia akan me-launching novelnya, sebuah novel berjudul Aku cinta kamu seperti dalam mimpinya, novel science fiction berbumbu cinta dengan sedikit fantasi di dalamnya.

Dia terbangun, ditekannya dinding sebelah kanannya untuk menghidupkan lampu kamar hotelnya. Kemudian dia melangkah menuju kamar mandi yang hanya dibatasi sekat pintu yang terletak di dalam suite-nya, dia membilas wajahnya dan menggosok giginya. Kemudian dia kembali menuju ke bed-nya, menyalakan laptopnya, diliriknya jam digital yang terpampang di sudut kanan bawah monitornya, 4:30 AM, masih ada waktu selama tiga jam untuknya menghadapi talk show mengenai novelnya nanti. Dia kemudian menggunakan google sebagai search engine untuk mencari sebuah nama yang diketikannya, “Bayu Anantayoga Mahardika”, dan kemudian akan ditemukannya sebuah kalimat dengan akhir bertuliskan, “no result”. Di dunia nyata, nama itu tidak ada, berarti orang itu juga tidak ada. Sudah berkali-kali dia mengetikkan nama yang sama, tidak ditemukannya juga sebuah entry pun tentang nama itu. Kegilaan ini harus diakhirinya.

Dia kemudian menyalakan yahoo messenger-nya dengan status invisible. Tigapuluh tiga teman chatting¬-nya online. Tidak ada satu namapun ingin disapanya pagi-pagi buta seperti itu. Dia membaca offline message yang ditujukan padanya. Danu Mulawarman.

Semoga sukses talk show-nya. Memikirkan talk show novelmu itu membuatku nggak bisa tidur malam ini :p

Dia tersenyum simpul, kemudian dilihatnya status yang dipampang orang bersangkutan, offline. Sedikit kesal, namun tetap dibalasnya message teman SMA-nya itu.

Thanks. Dan, ngomong-ngomong, aku mimpi tentang itu lagi.

Setelah itu dialihkannya pikirannya kepada artikel-artikel pujian yang menggelimangi internet mengenai novelnya, sudah berkali-kali dibacanya.

Layarnya berkedip-kedip, message-nya dibalas.

Danu Mulawarman : Mimpi apa? Cowok itu lagi? Peradaban Atlantis itu?
Panah Hujan : Iya. Semuanya. Aku mimpiin semuanya, Dan. Aku takut itu nyata.
Danu Mulawarman : Itu semua nggak mungkin, Wi. It’s very big impossible.
Panah Hujan : Aku takut… Help me…
Danu Mulawarman : Semuanya akan baik-baik aja, Dewi. Tenang dong.. Gimana nih talk show-nya?
Panah Hujan : Gugup berat, nervous setengah mati!
Danu Mulawarman : Hahaha.. Kamu takut? Aku jauh lebih takut. Aku menggilai novelmu, sayang.
Danu Mulawarman : Kalau ada satu orang aja menghinanya, rasanya aku akan mencekik leher orang itu. Khusus untukmu.. :P
Panah Hujan : Gombal! Tapi serius, ini menakutkan. Aku mimpi cowok itu hadir dalam acaraku. Dia.... lagi-lagi... dia.
Danu Mulawarman : Dia hanya halusinasimu. Sosok yang kamu inginkan.. Itu hanya tokoh-tokoh fiktif alam bawah sadarmu.. Sadar dong, say.?
Panah Hujan : Kerasa nyata banget, Dan. Nggak bisa kutolak... Aku takut..
Danu Mulawarman : ....
Danu Mulawarman : Sudah bertahun-tahun, Wi. Sudah empat tahun. Kamu harus cepet-cepet ngelupain itu semua. Itu nggak nyata, Wi. Aku nggak mau kamu kenapa-napa. Aku nggak mau kamu dianggep yang nggak-nggak lagi. Kembalilah..
Panah Hujan : Dan, aku mau.. aku mau jadi cewek normal. Nggak usah ngalamin mimpi-mimpi aneh dan menakutkan. Semua hal serasa nggak nyata. Kejadian-kejadian aneh.. aku mau hidup normal, Dan. But, you know I can’t.. Nggak ada seorangpun membantuku lepas..
Danu Mulawarman : Ada aku, Wi. Aku temanmu. Kamu anggap apa aku?
Panah Hujan : Ini nyata, Dan... Dia seperti memintaku kembali.. entah kemana.
Danu Mulawarman : Well, kurasa sebaiknya kamu tidur sekarang. Lebih baik tanpa mimpi.
Panah Hujan : Sudah setengah enam nih. Ngobrol gini aja dua jam. Gara-gara nge-lag. Thanks ya, Dan.. Bye.
Panah Hujan : Harus siap-siap nih. Sejam lagi harus udah standby.. bakal dijemput pihak penyelenggara. Wish me good luck ya, Dan.
Danu Mulawarman : I will. Udah buruan gih mandi.. Bau tahu! Walau boring juga nih jaga warnet tanpa kamu.. Jakarta sumpek tanpamu, Wi.. Cepetan balik..

Sign Out

Sepuluh menit kemudian, ketika Dewi selesai mandi, pihak penyelenggara acara talk show menghubunginya, diangkatnya dengan sigap handphone mini berwarna pink-nya itu. Suara serak seorang pria, suara yang belakangan menjadi favoritnya.

Puluhan menit dia melakukan hal tak penting, pakaiannya berantakan di atas tempat tidurnya, beragam kosmetik berhamburan di meja rias. Dia ingin tampil istimewa pagi ini, dia harus memberikan yang terbaik untuk penggemar novelnya.

Cardigan beragam warna dengan beraneka corak dihamburkannya, orange, kuning, merah tua, ungu muda, biru laut, biru langit, hijau muda, hijau tua, putih, abu, tak ada satupun cardigan-nya menyangkut di hatinya. Jeans beraneka merek, dari merek kelas atas walrus, polo, hingga jeans bermerek murah yang nyaman digunakannya diletakkannya acak di atas tempat tidurnya. Tak ada satupun yang disukainya. T-shirt pun disortirnya dengan tanpa pandang bulu, tapi tak ada satupun dipilihnya. Demikian banyak jenis pakaian dimasukkannya ke dalam kopernya yang berjumlah tiga buah itu, namun tak ada satupun yang memenuhi keinginannya pagi itu.

Dibukanya kopernya yang terakhir, cardigan pemberian Ayahnya ketika ulang tahunnya yang ke-17 yang diberikan melalui Danu sebagai perantara Ayahnya. Cardigan pink yang begitu disukainya, nampak mahal. Langsung disambarnya. Kemudian dia melihat tank top berwarna putih yang baru kemarin dibelinya di salah satu distro yang dikunjunginya, dia ingat apa kata penjaga distro ketika dia mencoba tank top itu, ”cantik!”, diambilnya tank top itu secepat menjentikkan jari. Tank top itu menarik hatinya karena terdapat tulisan kenangan cinta dengan tulisan kanji Jepang di bagian dada sampai ke bagian perut. Dia menyukai keunikan ukiran tulisan kanji itu. Kemudian ditemukannya rimpel rok yang menarik hatinya, rok bergelembung berwarna biru langit, kesukaannya! Dipadukannya ketika jenis sandang itu menjadi begitu klasik dengan untaian kalung etnik Bali yang menggelantung indah di leher jenjangnya. Sebuah kalung dengan batu-batuan berwarna-warni bagai warna pelangi. Kemudian dikenakannya gelang emas putih bertahtakan permata ruby berwarna merah tua yang begitu disukainya, yang terakhir, dipasangkannya cincin emas putih berukiran bunga mawar di jari manis tangan kanannya. Dipasangnya kaca mata dengan lensa tipis dan gagang berwarna hitam pekat kesukaannya, membuatnya tampak cerdas. Perfect!

Dia kemudian menuju ke arah lift hotel ***** tempat dia menginap selama seminggu terakhir. Dia menuju ke arah lobby, seorang satpam memberikannya senyum menggoda, dibalasnya dengan senyum simpul. Seorang pengantar koran yang duduk di pintu depan hotel menyapanya, “Pagi, Mbak Dewi!” dibalasnya dengan senyum tipisnya.

Sebuah mobil berwarna hitam kelam melaju ke arahnya dan kemudian berhenti di hadapannya. Seorang pria turun, dilepaskannya kaca mata hitamnya. Kemudian pria itu berjalan ke arahnya, “Pagi, Dewi. Sudah siap?” tanya pria itu.

Suara itu, suara yang selama sebulan ini terus meneleponnya untuk menanyai kesediaannya menghadiri acara temu muka dengan pembaca setia novelnya. Suara serak basah itu.. Dia mengangguk, tersenyum dan kemudian menjabat tangan pria itu, “Dewi”

“Maaf, saya lupa memperkenalkan diri. Saya Gede Adi.” Ucap pria itu sedikit malu, tangannya begitu hangat.

“Silahkan masuk..” ucap Adi kemudian seraya membukakan pintu depan mobil hitam tadi. Kemudian mobil pun melaju dari Sanur menuju kawasan Dewi Sartika.

Mobil itu melalui jalanan Renon tempat beragam jenis bunga dan tumbuh-tumbuhan dijual, taman-taman yang indah. Beberapa hari yang lalu Dewi pernah berada di dalam salah satu taman itu, menanyakan jenis-jenis anggrek yang merupakan kultur baru jenis anggrek, campuran beragam jenis anggrek kata sang penjual. Di Bali dia mendapatkan banyak sekali ide untuk novel terbarunya. Di angan-angannya, dia sudah memimpikan sebuah tempat indah seperti di Bali. Pantainya dengan pasirnya yang begitu lembut, ombak lautnya yang mendebarkan hati, keramahan warganya, semuanya.

“Suka di Bali?” suara serak itu mengusik angan-angannya, Adi tersenyum di sebelahnya sambil tetap memegang kemudi.

“Yep, I love Bali.” Jawab Dewi, senyumnya mengembang, pipinya memerah.

“Sudah pernah kemana aja nih?” tanya Adi penasaran, Dewi menyadari betul arti dari tatapan pria itu padanya, sebuah ketertarikan antara dua orang berlainan jenis.

“Kuta, Ubud, Gianyar, nggak jauh-jauh sih.” Jawab Dewi, sekilas dia tersenyum geli dengan pertanyaan Adi, dia sudah pernah mengitari seluruh kabupaten di Bali, dia pernah tinggal di pulau seluas *** ini, sepuluh tahun yang lalu.

“Wah, tempatmu keren-keren banget. Semua tempat itu memang tempat wisata di Bali. Ada guide ya yang menemanimu selama di sini?” tanya Adi lagi, dia benar-benar ingin memancing suasana.

“Nggak. Nggak ada yang menemaniku. Aku memang sudah mengenal Bali, bertahun-tahun yang lalu. Kamu bukan salah satu pembaca novelku, ya?” tanya Dewi kemudian, pertanyaan yang sulit.

Dengan malu, Adi mengakui, “Sorry.” Ucapnya, senyumnya merekah, pipinya memerah. “Aku memang nggak baca novelmu.”

“Tunggu, lalu apa hubungannya aku membaca novelmu dengan...?”

“Aku lahir dan besar di Bali.” Jawab Dewi cepat. Dia kemudian bercerita tentang tiap kenangannya di pusat kota Denpasar, hanya yang indah-indah saja, cerita tentang Ibunya, Ayahnya, dan juga kehidupan kelamnya tak dia ungkapkan sedikitpun.

“Wah, tumben-tumbennya ada seorang gadis Bali menjadi penulis novel..” ucap Adi kemudian, sedikit bernada pujian dan setengahnya bernada merayu. Hanya dibalas Dewi dengan senyuman.

Ketika itu mobil mereka tiba di Jalan Dewi Sartika, tempat acara talk show dilangsungkan. “Ceritain tentang Jakarta ya nanti..” ucap Adi ketika itu, Dewi hanya mengangguk sekenanya. Dia benar-benar gugup.

Berjam-jam dia dibiarkan menunggu. Pihak penyelenggara memperkenalkannya dengan seorang gadis cantik yang katanya akan menjadi pemandu acaranya. Dia berbincang-bincang banyak dengan gadis itu, di akhir pembicaraan dia berani menyimpulkan bahwa gadis itu adalah pemandu acara yang cukup cerdas untuk mengerti tiap hal yang dia cantumkan di novelnya, dia mengerti tiap detil yang dirinci Dewi di tiap bab novelnya. Namun semua setelahnya terjadi dengan tiba-tiba.

“Maaf, saya permisi ke belakang sebentar.” Dewi kemudian menuju ke arah toilet.

Kepalanya berputar-putar, pusing sekali. Pembuluh darahnya berdenyut tak karuan, jantungnya berdebar kencang, nafasnya tersendat-sendat. Entah apa yang sedang terjadi dengan tubuhnya. Dia ingin menghubungi seseorang. Pusing di kepalanya memuncak. Dia kemudian muntah, roti tawar dan susu sarapannya pagi tadi menggenangi lantai toilet. Tatanan rambutnya berantakan karena tarikan ganas kesakitan dari tangannya yang mencabik-cabik kepalanya dengan semakin liar. Gerakan di kepalanya, denyut tak karuan itu pernah dia alami. Dia benar-benar ingin mati saja.

“Ini Pusat Kota Atlantis..” seorang pria kecil menarik tangannya, di belakangnya berdiri dua belas orang yang tidak dia kenali. “Kriia akan ajak kalian ke Perguruan Putri Arendrafa. Di situ tempat Kriia sekolah.” Ucap pria kecil itu, wajahnya berbinar bangga.

Ayunan pedang memenuhi tiap sudut ruangan seluas 50 are itu. “Ini kelas tarung bebas. Di sini kami biasa belajar mengenai perang. Murid-murid yang memiliki bakat dalam bidang ini akan langsung diangkat menjadi pengawal istana.” Ucap pria kecil itu tanpa ditanya.

“Itu bintangnya, Ayah! Itu!” tunjuk pria itu ke arah bintang ****, seorang pria tua yang mendayung nampannya tersenyum bijak, “Itu pertanda arah timur!” ucap pria tua itu kemudian. Dua orang pria tinggi besar hanya mengangguk sekenanya.

“Wah, sayur-sayurnya sudah bisa dipanen!” teriak seorang wanita paruh baya dengan girang, gadis-gadis di tempat itu menimpali, “Mari kita panen.” Mereka melakukan semuanya dengan penuh kebahagiaan.

Semua bayangan itu seolah mampu memecahkan kepalanya. Kenangan-kenangan itu, entahlah, mimpi-mimpi itu... menyakitkannya.

“Tuhan.. bantu aku.” Segera setelahnya, kepalanya berhenti berdenyut. Rasa pusing di kepalanya dengan tiba-tiba menghilang. Tubuhnya kembali normal. Kemudian dia menyirami bekas muntahannya sebelumnya. Dia berkaca dan kemudian merapikan tatanan rambutnya, menghapus make up-nya dan kemudian memoles bedak lagi di wajahnya.

Dia berjalan keluar toilet. Sudah berpuluh-puluh menit dia berada di dalam toilet, sehingga ketika dia keluar dan berjalan menuju ke arah tempat acara berlangsung, para juru foto dan pemburu berita sudah mendekatinya, mereka menjepretkan kamera ke arahnya, blitz kamera itu membutakannya untuk sepersekian detik, beberapa berteriak histeris menyambutnya.

Dia hanya tersenyum ketika sebagian orang berpakaian seragam berwarna hitam menghampirinya dan menariknya ke sudut ruangan, dan kini dia terduduk di kursi kayu di sudut ruangan selama sejam penuh, cukup fantastis sang waktu bermain-main dengannya.

Seorang gadis kecil yang pertama kali menghampirinya, gadis kecil itu terlihat berlonjak-lonjak kegirangan. Dibubuhkannya tanda tangannya pada novel yang diajukan gadis itu padanya, dengan ukiran tulisan “for my little princess, Ami” di bawah tanda tangannya.

Belasan bocah-bocah kecil berbaris di belakang gadis itu, “Aku suka cerita tentang pangeran itu.. aku ingin seperti mereka.” ucap seorang pria kecil berumur sepuluh tahun kepadanya, wajah bocah kecil itu bersemu merah saking bersemangatnya. Dewi tersenyum dan kemudian memberikan tanda tangannya, “Kakak adalah sumber inspirasiku.” Ucap bocah kecil itu.

Gadis kecil kelima, Dewi tersenyum lagi.

“Namaku Rosemary. Artinya kenangan juga ‘kan?” tanya gadis kecil itu, Dewi tersenyum, “Iya Rosemary.. Artinya kenangan..”, “kenapa Rosemary kecil menyukai novel kakak? Bukannya ceritanya tanpa gambar, tidak seperti komik?” tanya Dewi penasaran. Dia mengajak tiap pembaca novelnya untuk berdialog supaya mereka terasa lebih akrab dengannya. Gadis itu menggeleng, “Aku suka cerita kakak. Penuh fantasi. Lagian umurku sudah dua belas tahun. Jadi aku wajar ‘kan ikut suka sama novelnya kakak? Ibuku, kakakku, semua suka novel kakak.” tanya gadis itu, Dewi hanya mengangguk tersenyum dan kemudian membubuhkan tanda tangannya lagi di novelnya.

Novel cinta klasik, itu yang keluar dari bibir Danu ketika dia dimintai pendapatnya oleh Dewi bertahun-tahun silam. Danu Mulawarman, sahabat SMA-nya, adalah pembaca pertama naskah novelnya. Ketika itu ditungguinya saja pria itu membaca sampai selesai kesemua bab naskahnya waktu itu. Dari jam satu siang ketika pulang sekolah sampai jam enam sore. Di taman sekolah, Dewi melihat forum wajah Danu terus berubah, kadang tawanya meledak, dan tak sungkan-sungkan tangis mengalir di pipi pria tampan itu.

Tiga tahun yang lalu.. tepat pukul 18.00, Danu berteriak nyaring, “Kirim!!!” ketika dia selesai membaca seluruh naskah Dewi. Danu menyemangatinya. Wajahnya persis dengan semua gadis kecil dan bocah-bocah pria itu, begitu bersemangat dan nampak seperti melonjak-lonjak kegirangan.

Dewi menggeleng, “Nggak akan ada yang suka.” Ucap Dewi singkat kala itu,

“Bodoh!” ucap Danu terang-terangan, wajanya garang.

“Kamu menyuruhku membaca naskah yang nggak akan terbit?” tanya Danu kala itu, begitu berapi-api, nampak marah.

Dewi mengangguk, “Dan, aku takut isi novel ini menjadi kenyataan.” Ucap Dewi kemudian.

Danu menggeleng, “Itu hanya halusinasimu dan itu bagus untuk membangun imajinasimu. Aku suka naskah ceritamu. Terserahmulah. Aku sudah suruh kamu ngirim ini ke penerbit. Ah lagian, kamu ‘kan nggak pernah menuruti kata-kataku.. Lupakanlah.” Ucap Danu kemudian, menyalakan mesin motor balapnya, melaju pergi meninggalkan Dewi sendiri terduduk di belakang sekolah.

Kisah cinta klasik. Dahulu itu yang terus direnungkannya ketika Danu pergi. Kisah cinta tentang pangeran berkuda putih dalam dunia modern. Kisah cinta tentang kerajaan, putri, dan pangeran. Kisah yang terus menerus memenuhi ruang mimpinya, tiap malam.

Ketika barisan menipis, namanya dipanggil oleh Adi untuk menuju ke atas panggung berkarpet merah yang disediakan untuknya, “Dewi...” suara serak itu memenuhi gendang telinganya.

Dia tersenyum dan beberapa menit kemudian berjalan dengan penuh semangat ke arah panggung. Dia duduk di atas panggung dengan seorang pemandu acara yang diajaknya berbincang tadi. Kini wajah gadis itu ditutupi oleh polesan make up yang cukup tebal, lipstick-nya merah pekat, pakaian rapi berwarna coklat muda, nuansa yang serasi dengan keadaan kala itu. Semua skenario yang sudah mereka perbincangkan tadi diulang oleh gadis itu, berkali-kali dia memuji karya novel Dewi kemudian dengan berapi-api dia menghadap ke arah hadirin untuk meminta anggukan setuju.

Novel yang tiga tahun lalu hampir tidak terkirim jika tidak ada Danu yang menyemangatinya. Dia tersenyum dalam hati, entah untuk siapa dia menulis, kegetiran menyelimuti batinnya.

Beragam pertanyaan diajukan oleh sang pemandu acara, dia hampir kewalahan menjawab semuanya. Dia disuruh bercerita tentang kehidupannya, tentang masa kecilnya dan hal-hal yang membuatnya meniti karir di dunia kepenulisan. Dia menyibakkan rambutnya, dengan secepat kilat dihapusnya keringatnya yang sejak tadi memenuhi pelipisnya. Kemudian dia bercerita, sangat lancar. Irama pembicaraan mereka begitu menghanyutkan penonton, Dewi menyadari semua itu.

“Kehidupan masa kecil saya sangat bahagia. Tiap malam Ayah menceritakan dongeng di sebelah saya, Mama saya akan memeluk saya dengan sayang. Dia akan membelai rambut saya. Kami mendengarkan dongeng-dongeng Ayah. Saya paling menyukai kisah cinta yang diceritakan Ayah. Ayah akan bercerita tentang pangeran berkuda putih ataupun Putri yang cantik jelita. Saya menyukai semuanya. Kebetulan Ayah adalah guru besar di universitas tempat Beliau mengajar, tulis menulis adalah hal yang wajib dimengerti oleh Beliau. Sedang Ibu memberi saya kisah-kisah dan kenangan yang tidak mungkin saya lupakan. Sedikit banyak saya belajar dari mereka berdua.” Begitu banyak kepalsuan, perasaan yang ditutup-tutupi, hanya kebohongan belaka, dia menyadari itu. Tepuk tangan dan obrolan penonton riuh menggema di tiap sudut ruangan. Mereka semua kemudian memberikan standing applause kepada kisah mengharukan itu. Hati Dewi tersayat, itu mimpinya dan bukan sebuah kenyataan. Mimpi-mimpinya tiap malam, ketika dia sendiri di tempat tidurnya dan hanya ditemani sebuah buku dongeng yang dipinjamnya di perpustakaan sekolah. Dia benci karena sudah berbohong kepada penggemar novelnya yang hadir siang itu. Tapi paling tidak, dia memang benar-benar menyukai kisah dongeng.

“Kami dengar kamu pernah tinggal di Bali?” tanya pemandu acara itu kemudian.

Dewi tersenyum, ulah Adi. “Iya, saya pernah tinggal di Bali.” Jawabnya sabar, kembali mengulas senyumnya yang memikat seluruh hadirin.

“Ceritakanlah.” Perintah pemandu acara padanya.

Dia terhenti sejenak, mencoba mengingat-ingat.

Proteksi Ibunya terhadap hal apapun yang harus dia lakukan, sekolah yang begitu keras mendidiknya, privat-privat mengerikan, kekangan yang diberikan kepadanya ketika dia masih berumur di bawah sepuluh tahun. Hingga kecelakaan tragis Ibunya, tangisnya ketika Ayahnya ternyata tidak datang dan hanya mengirimkan karangan bunga dari Jakarta, yang didengarnya ketika itu Ayahnya sedang sibuk berorasi, entahlah. Kemudian tiba pada masa dia harus meninggalkan tempat tinggalnya dan semua kenangan, terjerat di sebuah rumah sakit jiwa selama seminggu, pertemuan yang tidak sengaja dengan Danu, liburan di Yogyakarta, kepindahan ke Australia, kecelakaan yang dialaminya sekembalinya dia dari Australia, kemudian mimpi-mimpinya yang begitu mengerikan dan menyiksanya tiap malam.

“Saya lahir dan tumbuh besar di Bali. Semuanya begitu menyenangkan. Mama dan Ayah selalu mengajak saya mengelilingi Bali, ke berbagai tempat. Kami bahkan pernah iseng mengunjungi hampir semua tempat keramat yang ditumbuhi Pohon Beringin. Kami selalu menghabiskan waktu bersama-sama, mereka memberikan saya kasih sayang yang berlebihan. Mereka sempat melarang saya sekolah ketika saya bosan, mereka tidak memaksakan saya untuk melakukan hal-hal yang tidak saya sukai. Hingga tiba saatnya Mama saya harus pergi. Saya dan Ayah menangis sejadi-jadinya. Namun Ayah memberikan saya ketegaran, dia tidak ingin saya mengingat semua kenangan yang menyakitkan itu dan kemudian saya disuruh pindah bersekolah ke Australia karena kebetulan saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah di sana. Saya belajar banyak hal, saya menyukai seni.” Dia berhenti sebentar. Beasiswa? Beasiswanya terkubur begitu saja ketika dia harus mendekam di rumah sakit jiwa selama seminggu penuh.

“Di Australia, saya belajar tentang kebebasan. Saya menyukai segala tempat di sana. Mereka sering menceritakan tentang tempat-tempat menakjubkan, mereka membanggakan ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Mereka menyukai peradaban-peradaban. Saya juga mendalami musik, piano, harpa, semua privat yang pernah saya ikuti ketika di Bali. Privat-privat Bahasa yang dianjurkan Ibu untuk saya ikuti ternyata sangat berguna. Saya memang benar-benar beruntung.” Gelegar tepuk tangan penonton memenuhi ruangan itu sekali lagi. Lagi-lagi, dia memberikan kepalsuan, tapi memang itulah tugasnya, memberikan mimpi-mimpi dan kisah fiktif.

“Wah, wah, wah.. ternyata sangat sulit ya mendidik seorang anak yang akan menjadi novelis bestseller..” lanjut pemandu acara itu, “sepertinya para penonton juga sangat tertarik dengan kehidupan anda.”

“Begitu fantastis. Oh ya, yang kami dengar, anda menolak Fakultas Kedokteran Universitas di Australia hanya untuk mengambil jurusan yang Anda sukai? Jurusan apa itu? Bisakah anda ceritakan kepada kami?” tanya pemandu acara itu kemudian.

Dia tersenyum, mengingat-ingat lagi, sebuah mimpi dari Einstein.

Tiga rentetan peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi, serentak. Bagi dunia seperti ini, waktu memiliki tiga dimensi, seperti ruang.

Bukan, ada yang lebih menguatkan minatnya.

Di satu dunia, waktu berbentuk lingkaran, orang-orang di dalamnya tak henti mengulang takdirnya tanpa perubahan sedikitpun. Di tempat lain, orang-orang mencoba menangkap waktu – yang berwujud burung bul-bul – ke dalam sebuah guci. Di tempat lain lagi tak ada waktu, yang ada hanyalah peristiwa-peristiwa membeku.

Bukan, bukan mimpi Einstein yang itu.

“Kita bisa kembali ke masa lampau. Kita juga bisa menjumpai orang-orang di masa depan. Jika kita mempelajarinya, sedikit lagi.” Iya, ucapan guru fisikanya itu.

Dia menjawab pertanyaan pemandu acara itu dengan tiga buah kalimat sederhana penjelasan mengenai salah satu teori Einstein itu.

“Saya ingin sekali kembali mengulang masa lalu, lebih banyak lagi membangun kenangan bersama kedua orang tua saya.” Tangisnya tertahan di pelupuk matanya.

Tepuk tangan kembali menggema. Kali ini yang diucapkannya bukanlah kepalsuan, jauh di dalam hati sanubarinya, inilah kejujuran yang sebenarnya.

“Baiklah. Terima kasih atas jawaban-jawaban melegakan yang sudah Anda berikan. Tiba saatnya waktu tanya jawab pengunjung.”

Segera setelahnya, kejadian dalam mimpinya berulang.

Seorang pria mengacungkan tangan di akhir acara, begitu tampan dengan kulitnya yang putih bersinar begitu terawat. Pria itu adalah penanya pertama, pria itu langsung berdiri dengan sigap, dia tersenyum sebentar. Dia merasa mengenali pria itu, ingatannya memang buruk untuk mengingat nama, tapi dia benar-benar seperti sudah mengenal pria itu, sangat dekat.

Pria itu tersenyum lebar, kemudian berkata lantang di microphone yang diberikan padanya, “Aku cinta kamu!” cetusnya begitu bersemangat. Penonton terhenyak di bangkunya masing-masing, “Maaf?” tanya pemandu acara.

“Judul novel Mbak Dewi..” lanjut pria itu, pemandu acara itu menarik nafas lega, dalam situasi seperti ini, dia bahkan hampir melupakan judul novelnya sendiri. Tunggu, dia seperti pernah mengalami kejadian ini. Dia pernah mengalaminya!

Dia mengingat-ingat, kepalanya pusing.

“Iya?” tanya pemandu acara pada pria itu, sedikit tersenyum malu.

“Karya yang memukau. Adegan cinta bagai kisah klasik Romeo and Juliet ataupun Rama dan Sintha. Darimana ya Mbak dapet ide seperti itu? Judulnya pun seperti sebuah pernyataan..” lanjut pria itu.

Tubuhnya merinding hebat, kejadian persis seperti yang ada di mimpinya! Jantungnya berdegup kencang, keringat mengalir di seluruh tubuhnya, pandangannya kabur.

“Mbak Dewi!!!!!!!!!!!!!” teriak pemandu acara dan seluruh hadirin, dia tidak mempedulikannya, kepalanya serasa pecah, dia pingsan.

***

Read previous post:  
53
points
(2591 words) posted by panah hujan 6 years 41 weeks ago
75.7143
Tags: Cerita | cinta | masih seperti kemarin
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

Keren...
Cuman agak belibet aja...
tapi Oke kok...

Keep working guys...

90

michel, aku telah meremehkanmu sebelum ini... setelah kubaca ini, kuyakin kamu bakal jadi penulis yang kuat.
terutama, aku suka narasi dan dialognya.

memang perlu beberapa editan di bagian ini, juga pemisahan paragraf seharusnya bisa lebih banyak supaya pembaca gak pusing, tapi itu gampang kok.

semoga sukses dengan semua kesibukanmu ya... kamu punya energi yang hebat.

70

mungkin editan EYD penggunaan tanda baca dapat mempercantik tulisan ini. oya, 567 halaman tidak sebaiknya menggunakan tulisan saja? heuheu.. ini hanya komen lho!^^ aku suka idenya.. :)

---------------
----
Mampir ke website dan blogku ya, klik aja:
SEFRYANA KHAIRIL OFFICIAL WEBSITE
Tentang Kita

80

wah penggunaan titik dan koma harus lebih dimanfaatkan ya, agar aq dan pembaca lain gak kehabisan napas sewaktu membaca ceritamu ini...
Seharusnya kata Sign Out dicetak miring, sebab belum diserap ke dalam bahasa indonesia.
but anyway bagus... tapi aq bosan cerita tentang cinta
ini cuma komentar lho jangan dimasukin ke hati