Kabar Setangkai Bunga

43
points

Aku sudah menunggu di balkon. Dalam selimut udara yang dingin, dan pagi yang masih belum begitu terang, Esa membuka pintu kamarnya di balkon. Ia merentangkan tangan dan menghirup dalam-dalam udara segar di pagi hari. Ia lalu melempar senyum kepadaku.

“Selamat pagi, Cantik...!” Ia menyapaku lembut dengan senyumnya yang manis. Membuatku hangat, meskipun matahari belum begitu tampak.

Ia menyempatkan dirinya untuk mengagumi pemandangan yang telah bertahun-tahun ia lihat. Sebelum akhirnya, ia kemudian kembali ke dalam kamar. Ketika pagi beranjak terang, dapat kulihat ia dengan seragam sekolah yang rapi.

Aku dapat melihat ia dari balkon. Pagi ini, ia berangkat ke sekolah diantar oleh ayahnya, seperti pagi-pagi yang lain. Setiap pulang, ia juga terlihat keluar dari mobil ayahnya. Sesekali jika ia terlihat pulang berjalan kaki, dengan pakaian yang basah oleh keringat, ibunya pasti mengomel. Ia tidak ingin melihat putrinya pulang dalam keadaan lelah, karena lelah adalah musuh bagi Esa.

Telah berkali-kali Esa jatuh sakit karena sifat bandelnya yang kadang-kadang muncul. Ia pulang dengan berlari-lari kecil, kemeja dan wajahnya basah seperti habis mandi, matanya redup namun ia tersenyum. Ia memeluk ibunya tanpa peduli tubuhnya yang bau keringat dan mencium pipi ibunya berkali-kali. Aku tahu itu, karena ia bercerita kepadaku. Dan ia selalu cemberut ketika menceritakan bahwa ibunya pun tidak peduli meski ia merasa senang dengan keringat yang mengucur deras dari tubuhnya, karena ia bisa seperti anak-anak yang lain, meskipun sesaat. Selama ini, Esa terbatas sebagai dirinya yang lemah dan ia benci jika diingatkan bahwa dirinya itu lemah.

Kemudian di keesokan hari, ia muncul dengan wajah yang pucat. Ia masih bisa tersenyum kepadaku. Tetapi, ia tidak dapat bertemu teman-temannya di sekolah seperti biasa. Setidaknya, untuk satu hari penuh ia harus berada di kamar, hanya di kamar, tanpa melakukan banyak hal.

Aku selalu mengawasi gerak-geriknya. Dan aku dapat merasakan bahwa ia juga tahu kalau aku sedang mengawasinya. Ia selalu melemparkan senyum ketika menoleh ke arahku. Ia selalu tersipu ketika tahu bahwa ia kepergok ketika sedang menari-nari kecil di kamarnya. Ia mengajak boneka panda besar berputar-putar, berdansa ria, lalu terhenti ketika melihatku berada di balkon. Aku melihatnya dan ia melihatku. Tatapan kami beradu dan ia tersipu. Ia tertunduk dengan senyum dihiasi lesung pipit yang indah. Sementara aku, tertunduk oleh tiupan angin, yang juga mengayunkan lengan lemahku.

Aku bisa melihatnya dari balkon. Ketika ia bercerita dengan begitu antusias kepada penghuni-penghuni kamarnya yang ramai. Kepada boneka panda yang besar itu, dua ekor lumba-lumba di tempat tidur, dan yang lain. Aku kenal semua karena aku dapat melihat mereka dari balkon. Dan jika ia menatapku ketika bercerita, ia pasti menghampiriku untuk juga membagi ceritanya. Ia menceritakan segala yang menarik bagi hatinya dan juga yang sedang menjadi masalah.

Siang ini, ia bercerita tentang siswi baru, yang minggu kemarin pernah juga ia ceritakan. Siswi yang cantik. Dalam satu hari saja, sudah menjadi rebutan siswa satu sekolah. Namun rupanya, gadis itu seorang mata-mata polisi. Telah lama ia mengintai seorang siswa yang dicurigai mengedarkan narkoba di sekolah dan siswa itu kini telah tertangkap.

***

Semalaman hujan turun begitu deras. Angin kencang yang menyertainya mengotori balkon. Ada genangan air, ada dedaunan, dan juga ada setangkai bungaku. Ya. Setangkai bunga milikku. Ia tergeletak tak berdaya, sementara aku menggigil kedinginan di sini, di dalam pot. Hingga pagi hari, hujan tidak mereda. Hanya berubah menjadi rintik-rintik. Dan angin yang sesekali menyertainya begitu menusuk. Aku merasa membeku, padahal ini adalah daerah tropis.

Meski hujan dan dingin, Esa tetap membuka pintu kamarnya di balkon. Tapi kali ini, ia tidak merentangkan tangannya, tidak pula menghirup dalam-dalam udara di pagi yang dingin itu. Ia hanya merangkul tubuhnya. Matanya terlihat sayu dan bibirnya tampak pucat. Ia sakit. Kemarin, ia kembali membandel.

Esa kulihat menggeleng-geleng menemukan balkonnya berantakan.

“Angin yang nakal. Berani sekali ia membuang sampah di depan kamarku. Balkon ini, kan, bukan tong sampah....” Meski demikian, ia tetap menarik garis indah di bibirnya.

Ia mengambil sapu dan mulai bersih-bersih. Ia berhenti ketika menemukan setangkai bunga di antara daun-daun yang hendak ia buang. Bunga milikku itu ternyata masih terlihat cukup segar. Esa memasukkannya ke dalam vas berisi air agar bisa bertahan lama.

Aku dapat melihat Esa dari balkon. Ketika lagi-lagi hari ini ia harus berdiam diri di kamar. Hanya diam tanpa melakukan apa pun. Ia dilarang untuk pergi dari kamarnya, termasuk ke balkon. Ia sendiri. Aku juga sendiri. Tetapi tidak apa. Ada bungaku bersamanya, berada di dalam vas, di atas meja belajarnya, di dekat ia kini merenung.

Beranjak siang, hujan pun berhenti turun. Di sorenya, semilir angin yang singgah di balkon melenakanku dan membuat terkantuk-kantuk. Aku kaget, ketika terdengar suara pekikan Ibu yang terdengar histeris tepat dari kamar Esa. Dari balkon, aku melihat Ayah datang tergopoh-gopoh. Ibu terlihat panik.

“Esa tidak bangun-bangun dari tidurnya, Yah! Padahal, sudah berkali-kali kucoba bangunkan.”

Ayah yang tampak tak percaya hanya menanggapi tenang, mungkin Esa hanya bercanda. “Bukankah, Esa suka bercanda?” tambah Ayah. Namun ia kaget, ketika jemarinya menyentuh wajah anak tunggalnya tersebut. Entah apa yang ia rasakan. Namun itu cukup untuk membuatnya juga ikut panik.

***

Aku sendiri di balkon. Tubuh lemahku dipermainkan angin dingin, yang menyertai hujan semenjak malam hingga pagi ini. Jika aku tidak salah, sudah sepekan aku tidak melihat Esa dari balkon di kamarnya, tidak pula mendengar suaranya di mana-mana di rumah ini. Aku merindukannya. Apakah ia juga merindukanku, meski berada di rumah sakit?

Menurut pria berjas putih yang telah sering memeriksa Esa, kondisi Esa kembali memburuk. Semenjak itu, kami tidak berjumpa, tidak lagi saling cerita. Kami kembali terpisah. Aku merasakan rindu boneka-boneka di kamarnya, sama seperti yang aku rasakan.

Tapi, setidaknya aku sedikit tenang dan bangga. Setangkai bungaku di dalam vas, juga ikut ke rumah sakit. Hari kedua di rumah sakit, Esa agak baikan, dan ia meminta ibunya untuk mengambil bungaku yang ia pajang di dalam sebuah vas mungil di atas meja belajar.

Siangnya, hujan benar-benar reda. Dari balkon, aku melihat dua mobil mendekati rumah. Mobil bercat hitam mengkilap itu kukenal sebagai mobil Ayah. Namun mobil baru yang sedikit besar dan berwarna putih menyusul di belakang, sama sekali tidak aku kenal. Mobil itu pergi setelah mengantarkan sesuatu ke dalam rumah.

Aku merasa ada yang aneh. Karena tak lama, rumah yang telah lama sepi, mendadak ramai dikunjungi orang-orang. Juga, terdengar sayup lantunan syair dalam bahasa yang tidak kumengerti. Aku hanya tahu, syair itu hampir sama dengan sesuatu yang dibaca Esa setiap sore.

“Kita semua akan pergi, bagai mentari yang akan tenggelam. Aku selalu meminta kepada Tuhan, agar aku pergi dalam akhir yang baik. Bagai setangkai bunga yang terus menebarkan harum dan memamerkan keindahannya, hingga tiba waktu baginya untuk layu.” Aku masih ingat. Suatu sore usai membaca sebuah buku tebal dengan syair yang serupa, ia menyempatkan diri untuk bertandang ke atas balkon. Matanya menyorot ke arah gurat merah di ujung barat.

“Tapi sepertinya, aku tidak dapat menjadi yang aku impikan....”

Keesokan pagi, Ibu datang menangis di balkon. Ia meletakkan bungaku yang telah layu di samping potku. Ibu pergi dengan isaknya yang masih berlanjut.

“Ada apa gerangan, Bungaku?”

Kelopaknya yang tertunduk, terangkat perlahan. “Gadis manis yang setia menemani kita telah pergi. Dan aku tak lama juga akan menyusulnya. Suatu kebanggaan, aku dapat menemaninya sebelum ia menutup mata untuk selama-lamanya.”

Aku hanya tercenung. Begitu sadar, kutahu, bungaku juga telah tertidur untuk selama-lamanya.

Your rating: None Average: 6.1 (7 votes)
dikirim dirgita 34 minggu 4 hari yang lalu
Tag: