Akhirnya, novel yang ingin kurilis sebagai novel komersial, kupublikasi cuma-cuma untuk teman-teman yang mengunjungi K.com. Novel ini kuanggap tidak akan dapat terbit sebagai novel komersial karena ada beberapa unsur yang sulit untuk aku penuhi. Salah satunya adalah lokasi atau wilayah kejadian. Saya masih bingung, apakah akan di Pontianak atau Jakarta. Oleh karena itu, terserah teman-teman saja untuk membayangkan cerita ini di kota apa.Terlalu panjang memang, karena ini novel. Baca yang pelan, jangan terburu-buru. Teman-teman kuizinkan untuk menyalinnya ke komputer lokal. Jangan lupa berkomentar. Usul untuk ending juga boleh. Karena aku masih perlu dua bab lagi untuk sampai tamat.
"“Kau ingin aku kirim ke mana?” Bili terlihat mengatur sesuatu di komputer. Jemarinya bermain lincah di papan ketik.
“Dua ratus tahun sebelum Perang Dunia Ketiga.” Digta memastikan semuanya telah siap. Beberapa monitor yang ia pantau, menampilkan status hijau. Merasa semuanya beres, ia meninggalkan kursi dan menghimpun rambutnya. Seraya kemudian menanamkan sebuah penjepit yang lancip. Bagi Bili, tatanan rambut Digta bagai air mancur yang berputar di belakang kepala.
“Aku ingin melihat keadaan Bumi pada waktu itu.” Digta meninggalkan ruang operator. Langkahnya lurus menuju sebuah mesin cukup besar.
Bili berhenti pada sebuah tombol. Ia menutup mulutnya yang membuka lebar. “Huaaaaah!” Dan ia pun mengeluh. Hampir sepekan ini, ia kurang tidur. Sebagian besar waktunya ia habiskan di Laboratorium Teknik milik Divisi Gerakan Cepat. Divisi ini adalah divisi yang dinaungi oleh Kepolisian Republik Indonesia.
Jemarinya kembali bekerja dan berakhir pada tombol Enter. Ia berbalik pada Digta. Gadis itu telah mendaki empat anak tangga. Dan sekarang, kakinya berpijak pada sebuah lempeng logam cukup lebar. Di hadapannya, dua menara lengkung setinggi hampir tiga meter mulai bekerja. Udara di antara dua menara itu terlihat bergelombang, bagai hawa panas yang membentuk lingkaran selebar dua meter.
Bili turun dari kursi dan menyusul hingga di depan anak tangga. “Kau yakin?” tanyanya.
Digta malah mencopot jas laboratorium yang ia kenakan dan melempar ke arah Bili. Jas berwarna putih tersebut jatuh sempurna di dekapan pemuda berambut jabrik itu.
Bili terheran.
“Simpan jas itu untukku. Aku pasti kembali untuk mengambilnya.”
Sontak, Bili merasa kaos berwarna pink yang membalut tubuh Digta tidaklah cocok. Mungkin, lebih sesuai dengan warna merah. Seperti sifat Digta yang berapi-api. Profesor Irene yang telah lama satu tim dengan Digta pun hanya tersenyum.
“Terserah....” Bili berputar. Ia tak mau ambil pusing. Ia telah capek beradu mulut dengan gadis yang satu itu. Baru lima hari mereka kenal, namun sudah lebih sepuluh kali mereka berselisih. Bandingkan dengan Ayu, rekan kerja Bili semenjak tiga tahun terakhir. Satu kali pun mereka tidak pernah terlibat perang argumen.
Bili dan Digta. Keduanya dipertemukan sebagai tim. Bili dan seorang staf berasal dari Divisi Gerakan Cepat. Sementara Digta dan tiga staf sisa termasuk Profesor Irene, berasal dari Borneolab Technology Corp.
Tim ini memperbaiki mesin waktu milik Borneolab yang telah rusak dalam sebuah insiden sabotase. Sebelum dipindah ke LABTEK-DINA, mesin ini sempat mengirim seorang penjahat beserta barang rampasan dan sanderanya ke masa lalu. Tim berusaha keras memperbaiki mesin ini, untuk menyeret sang penjahat pulang ke masa sekarang.
Bili kembali ke ruang operator. Ia menarik kursi dan duduk santai. Digta terlihat menghela napas cukup panjang, kemudian melangkah menuju lingkaran yang terbentuk. Gadis itu memang benar-benar nekad, pikir Bili. Ia tidak mencalonkan siapa-siapa untuk tahap uji coba. Ia sendiri yang langsung mencalonkan diri.
Lingkaran bagai hawa panas kontan berubah bagai cermin begitu tubuh Digta menyentuhnya. Sedikit demi sedikit, tubuh karyawati Borneolab tersebut semakin tertelan oleh portal waktu. Hingga akhirnya, lingkaran bagai cermin kembali bagai hawa panas. Dan tubuh Digta benar-benar telah menghilang.
Bili kembali ke komputer. Sederet angka tiba-tiba saja membuat matanya menjerit.
“Aku harus mengeluarkannya!” Sekali sentak, tubuh Bili berputar. Ia melejit hendak menjemput Digta. Namun serentetan benda berpijar yang melesat dari portal, menahan langkahnya sebelum mencapai mesin waktu. Ia dan empat staf lain tercekat.
“Ada apa, Bili?” tanya Profesor Irene.
“Aku..., aku salah....”
“Tutup portalnya!” Tiba-tiba, tubuh Digta menerobos portal. Bili nyaris tersungkur karena berputar dan memacu lari begitu mendadak. Ia mencapai komputer dan jemarinya kembali bermain lincah. Lingkaran bagai hawa panas itu segera menghilang.
Digta turun dari mesin waktu. Sesampai di ruang operator, sebuah tamparan keras ia daratkan di wajah Bili. Nyaris, kacamata Bili terlempar.
“Kau ingin membunuhku, ya?” Digta setengah berteriak. “Aku ingin kau mengirimku dua ratus tahun sebelum Perang Dunia Ketiga, tapi kau malah mengirimku....”
Tatapan Digta tersorot pada sederet angka di layar komputer.
“Dua ratus tahun sebelum masa ini...? Kau benar-benar ingin membunuhku!”
Digta melangkah cepat meninggalkan Bili yang hanya mematung.
***
Daun pintu Laboratorium Medis di Pusat Kesehatan DINA bergeser saling menjauh. Tiga orang bertubuh tegap melangkah keluar. Mereka mengambil jalan ke kanan di koridor, arah yang juga diambil oleh Veren. Hanya saja, ia berada cukup jauh untuk dapat bergabung dengan mereka.
Lagi pula, ia tidak tertarik untuk bergabung. Ia lebih memilih untuk berbelok ke Laboratorium Medis. Isi kepalanya baru saja dipenuhi tanda tanya. Warna dominan biru gelap dan beberapa atribut lain yang cukup Veren kenal dari seragam ketiga pria itu, memancing ia untuk mencari tahu.
“Selamat pagi, Dokter...!” sapa Veren pada seorang pria di pojok laboratorium. Jas putihnya seperti memantulkan cahaya dari lampu-lampu di ruang yang tak ubahnya seperti laboratorium teknik di lantai bawah tanah.
“Oh, pagi, Veren!” balas Dokter Karim. Usai menyahut, ia kembali tertumpu pada layar raksasa yang menempel di dinding. Grafik yang tampak seperti ikatan-ikatan kimia dan beberapa rumus. Veren tidak begitu mengerti.
“Sedang sibuk, Dokter?”
“Tidak juga. Aku hanya sedang memeriksa sesuatu pada rumus molekul ini. Memangnya, kenapa?”
“Aku tadi melihat tiga orang polisi keluar dari laboratorium. Tumben. Ada apa?” Veren langsung pada masalah. Baginya, jika polisi bertandang ke Divisi Gerakan Cepat, itu berarti ada sebuah kasus yang cukup besar. Atau, ada sedikit ketidakberesan yang terjadi di dalam DINA.
“Satu hal yang membuatku heran,” sahut Dokter Karim. “Mengapa anggota DINA merasa aneh terhadap polisi? Padahal, kalian dan mereka satu darah.”
“DINA memang bagian dari Kepolisian Republik Indonesia, Dokter. Tapi entah kenapa, lama-kelamaan, kami lebih merasa berbeda dari mereka. Kami lebih senang memanggil diri kami DINA daripada sebutan polisi.”
“Mungkin, ini gara-gara kalian memiliki seragam yang berbeda, fasilitas yang cukup lengkap mulai dari laboratorium hingga pusat medis, dan kinerja kalian di atas polisi rata-rata. Padahal, boleh dibilang, mereka lebih mengkhususkan diri hanya pada kasus-kasus di atas level kalian. Mereka kelas kakap.”
Veren tersenyum. Ia sempat juga melirik seragamnya, yang berwarna krem dengan garis-garis biru langit. Sangat kontras dengan tiga orang polisi yang tadi. Sebelum akhirnya, ia merasa pembicaraan mereka telah kehilangan arah. “Aku ingin tahu kenapa tiga orang tadi datang kemari. Masalah minggu lalu?”
Dokter Karim tak lantas segera menjawab. Jemarinya asyik berlompatan dari satu tombol ke tombol lain di komputer besar di hadapannya.
“Iya..., lagi-lagi masalah minggu lalu.”
“Sudah beres?” Kini, Veren tertarik pada sebuah model DNA. Rangkaian asam nukleat tersebut terproyeksi dari sebuah meja sepanjang dua meter. Veren memanfaatkan sebuah sarung tangan khusus dan mulai bertingkah. Dengan cekatan, ia melepas dan menukar posisi beberapa protein. Alhasil, sebuah peringatan turut terproyeksi dari meja.
“Belum.”
“Belum?”
Dokter Karim terlihat berpikir. “Oh iya, kebetulan kau ada di sini. Sepertinya, aku harus curhat kepadamu.”
Veren menoleh. “Curhat?” Model DNA terlepas dan kembali ke ukuran semula. Veren baru saja memelintir model itu, hingga nyaris bercerai-berai.
Dokter Karim menggiring Veren menjauh dari meja proyeksi. Alat iu sudah dianggap Veren sebagai mainan apabila berada di Laboratorium Medis. Mereka mendekati salah satu sisi laboratorium. Dua buah lempeng logam segera bergeser saling menjauh. Sebuah ruangan langsung terpampang rapi. Sebuah dinding berupa lapisan kaca tebal, menjadi pemisah dari laboratorium.
“Masalah minggu lalu benar-benar membuat kepolisian pusat seperti kebakaran jenggot. Mereka merasa kecolongan, karena Astro berhasil menerobos DINA dan membawa lari fibernetik generasi ketiga. Bayangkan, Veren. Divisi khusus milik Polri dimasuki oleh seorang penjahat wahid tanpa perlawanan berarti.”
Dokter Karim menyandarkan tubuh di kursinya. Veren berusaha menjadi pendengar yang manis. Ia berada di deret kursi tamu yang hanya diisi olehnya.
Dokter Karim melanjutkan, “Itulah alasan utama mereka untuk menggunakan fibergen3. Bagaimanapun, mereka harus mendapatkan Astro. Dan mereka beranggapan, Astro sekarang pasti lebih kuat dari sebelumnya, karena menggunakan fibernetik generasi terbaru itu. Dua puluh anggota polisi dengan fibergen2 dirasa tidak ampuh. Terbukti, di saat sehari kemudian, Astro dan seorang penjahat lain berhasil membobol DIVENN.”
Veren memutar ulang ingatannya. Kejadian yang Dokter Karim ceritakan telah berlalu sekitar enam hari. Dan hari itu, adalah hari yang sungguh berat bagi orang-orang yang mengejar Astro. Setidaknya, memang tidak ada hari yang ringan jika berurusan dengan pria tersebut. Apalagi, ia memiliki latar belakang militer dan bersifat belut. Hanya berselang kurang lebih dua puluh empat jam usai membobol DINA, penjahat itu lagi-lagi berhasil menerobos pertahanan ketat laboratorium milik DIVENN. Kali ini, ia membawa teman dan seorang sandera.
Astro dan rekan seprofesinya terlibat aksi kejar mobil dengan pihak berwenang. Polisi dan DINA terpaksa beradu cepat dengan mereka selama hampir tiga jam. Hingga akhirnya, mereka terpojok dan memilih menerobos Borneolab. Bukan tanpa alasan. Perusahaan laboratorium besar tersebut memiliki mesin waktu. Astro pun berhasil melarikan diri beserta seorang gadis sebagai sandera. Rekan Astro juga menghilang.
Kejadian ini bukan hanya membuat polisi naik darah. Astro merupakan buruan paling dicari. Laboratorium Borneolab sempat kocar-kacir karena dititipi bom. Ledakan yang tercipta memang tidak begitu dahsyat, tetapi berhasil merusak mesin waktu dan melukai belasan anggota polisi dan DINA.
Sekarang, dengan alasan investigasi dan kelengkapan fasilitas, mesin waktu itu diboyong ke LABTEK-DINA untuk diperbaiki.
“Jujur, aku katakan bahwa aku enggan menuruti perintah dari pusat. Tujuan utamaku mengembangkan fibernetik adalah sebagai obat penyembuh, bukan sebagai peningkat kemampuan tubuh. Tapi, sebagian pihak ternyata berpikiran lain. Mereka lebih mengutamakan efek samping fibernetik daripada efek utamanya, seperti yang dilakukan Astro dan... mereka.” Dokter Karim memainkan dua jemarinya pada kata terakhir. Ia bermaksud memberi tanda kutip.
“Aku tidak sudi apabila mereka menggunakan fibernetik dengan cara demikian. Apalagi, kini fibernetik generasi ketiga memiliki efek samping lumayan besar. Aku tidak ingin obatku disalahgunakan atau melahirkan Astro-Astro yang baru. Oleh karena itu, aku menolak permintaan dari pusat.”
Lagi-lagi, Dokter Karim terpaku pada grafik molekul yang cukup rumit. Kini, gambar itu tertayang dari monitor transparan sepanjang setengah kali meja kerjanya.
“Dokter menolak permintaan mereka?” tanggap Veren. “Dokter bisa mendapat masalah.”
“Aku tidak cukup bodoh untuk mengatakan tidak dengan lantang. Aku katakan saja bahwa kali ini adalah fibergen3. Fibernetik ini berbeda dengan generasi sebelumnya yang dapat diproduksi massal dalam waktu kurang lebih satu minggu. Tetapi rupanya, mereka tidak begitu percaya, sehingga mereka hari ini kembali datang. Aku katakan lagi bahwa aku perlu satu bulan. Padahal, aku sama sekali tidak memproduksi fibernetik yang mereka maksud. Aku hanya berkonsentrasi pada pengembangan penawar. Aku harap, penawar ini mampu menekan efek fibernetik yang terlanjur muncul.”
“Satu bulan? Bukankah itu waktu yang cukup lama? Astro dengan fibergen3 rampasannya pasti semakin sulit untuk dilumpuhkan. Kita tidak bisa ambil resiko dengan membiarkannya terus,” komentar Veren lagi.
“Hal itu juga yang dipermasalahkan kepolisian pusat. Tapi, kau tenang saja. Astro masih akan seperti dulu. Efek samping baru terlihat ketika fibergen3 dicabut.”
“Jika memang seperti itu, syukurlah. Tapi bicara soal efek samping, sebenarnya seberapa besar efek samping fibernetik kali ini?”
“Sekitar lima kali fibergen2.”
“Kedengarannya tidak begitu buruk.”
“Tidak begitu buruk jika ia baru pertama kali menggunakan fibernetik. Namun efek samping sedemikian, sama saja dengan melipatgandakan kemampuan normal manusia sebesar enam puluh kali. Dan jika ia pernah menggunakan fibergen1 dan 2 sebelumnya, seperti Astro, sekarang kemampuan tubuhnya dua ribu kali lebih besar.”
“Dua ribu kali...?” Veren tercengang. Kalkulasi kotor otaknya kemudian bekerja. Jika dalam keadaan normal seorang manusia mampu menangani beban 10 kg, itu berarti ia kini mampu mengangkat beban 20 ton.
“Aku khawatir. Selain dapat disalahgunakan, efek sampingnya yang terlalu besar bisa saja merusak jaringan tubuh.”
Veren tersandar. Di benaknya, terbayang adegan Astro bermain lempar mobil. Astro akan lebih ringan untuk mendobrak apa saja. Anggota DINA di bawah pimpinan Veren pun akan lebih banyak yang cidera. Bukan tidak mungkin ini akan terwujud. Jika fibernetik generasi baru itu terlepas dari tubuh Astro, bencana akan segera datang.
“Oh iya, terima kasih telah mendengar isi hatiku.” Dokter Karim berdiri. Monitor transparan serentak menampilkan logo divisi tempat ia bekerja. “Aku ada pekerjaan lain. Aku harus memeriksa kondisi lima anggota DINA di Unit Perawatan. Mau ikut?”
Lagi, Veren terperanjat. “Ya, Tuhan! Aku juga baru ingat. Aku juga akan pergi ke sana. Aku ikut!”
***
Digta yang melarikan diri, ternyata bertandang ke Unit Penanganan Medis Pusat Kesehatan DINA. Ia sudah tidak tahan lagi. Seluruh lengan kanannya sudah mulai mati rasa. Telapak tangan kirinya juga sudah diselimuti oleh darah. Cairan itu terus merembes, seakan tidak mau berhenti mengalir dari luka gores di bahu kanannya. Ia diserempet peluru saat ia disalahkirimkan oleh Bili.
Dua dari tiga perawat yang berjaga di Unit Penanganan Medis, langsung menangani Digta.
“Dari mana kau mendapat luka ini?” Seorang perawat menyobek lengan kaos Digta dengan gunting. Rekannya mempersiapkan antiseptik dan beberapa gumpal kapas.
“Rekan satu timku yang memberikannya.”
“Apa benar ini adalah luka tembak?” Perawat itu terlihat sangsi.
“Apa harus lukanya berbentuk lingkaran, baru itu dinamakan luka tembak?”
Perawat yang menanganinya menggeleng. “Hanya saja, kami belum pernah menemukan luka gores tertembak seperti ini.”
“Wajar. Karena aku tertembak senjata api yang sudah antik.”
Meski tidak begitu paham, kedua perawat yang menangani Digta terus bekerja. Mereka fokus untuk menetralisir zat yang menyebabkan sel darah merah Digta tidak membentuk benang-benang fibrin. Tanpa benang-benang fibrin, darah akan sangat sukar untuk berhenti mengalir. Sepertinya, peluru yang melukai Digta memang dirancang khusus untuk mengisap habis darah orang-orang yang tertembak.
Di lain tempat, rekan mereka yang menunggu di meja jaga, mendapati Dokter Karim dan Veren melintas di depan Unit Penanganan Medis. Unit Perawatan yang mereka tuju berada tidak jauh setelah unit yang dihampiri oleh Digta. Teringat sesuatu, perawat itu pun menghentikan Dokter Karim.
“Dokter! Dokter Karim!” panggilnya. Kedua orang itu menoleh. “Dokter Karim dari mana saja? Kami hubungi tidak pernah dijawab.”
Dokter Karim memasang wajah bingung. Namun secepat kilat, ia teringat sesuatu. “Ya, Tuhan! Gelang komunikasiku sengaja kulepas dan kutinggal di laboratorium. Aku minta maaf.”
“Pantas saja...,” keluh perawat yang menghentikannya.
“Memangnya, ada urusan serius? Kulihat, kalian menangani pasien itu dengan cukup baik.” Dokter Karim melongok ke ruang Unit Penanganan Medis, UGD milik Pusat Kesehatan DINA.
“Bukan..., bukan yang itu. Tapi pasien di kamar nomor dua. Satu jam yang lalu, ia kami dapati hendak meninggalkan Unit Perawatan. Ia mengaku sudah sembuh, tetapi kami tidak berani memberikan izin untuk keluar. Terlebih, tanpa persetujuan Dokter. Makanya, kami mencoba menghubungi Dokter, tetapi ternyata tidak dijawab. Lalu, kami diberi tahu bahwa Dokter ada di laboratorium. Tapi di sana, Dokter kedatangan tamu dari petinggi polisi. Kami sungkan.”
“Kamar nomor dua, berarti Alisya,” simpul Dokter Karim. “Lalu?”
“Pasien itu keras kepala, Dokter. Kami tidak bisa menahannya untuk tidak pergi.”
“Alisya..., kenapa ia sama sekali tidak bisa berubah?” Dokter Karim malah tersenyum.
“Dokter....” Veren menyela. Ia baru saja keluar dari renungan seusai mendengar kabar dari perawat itu. “Setahuku, Alisya adalah satu-satunya anggota DINA yang terluka parah. Dalam insiden itu, ia yang paling dekat dengan ledakan. Meski bukan seorang dokter, aku menaruh sebuah analisa. Ia memerlukan waktu beberapa bulan untuk sembuh. Dan rasanya aneh jika ia dapat meninggalkan Unit Perawatan dalam waktu kurang dari tujuh hari. Aku khawatir tentang satu hal. Dokter mengenakan fibergen3 pada Alisya. Apakah itu benar?”
Setelah lirik kanan lirik kiri, Dokter Karim menyeret Veren ke Unit Penanganan Medis. Mereka berbicara di pojok ruangan yang kebetulan pagi ini cukup lengang. Perawat yang memnghampiri Dokter Karim dipinta untuk kembali ke belakang meja jaga.
“Dokter pernah sesumbar, kecepatan maksimum penyembuhan fibernetik generasi ketiga adalah tiga hari. Itu yang membuatku curiga. Dokter menggunakannya, bukan?”
“Ng.... Jujur, aku menggunakannya pada Alisya.”
Veren menghela kecewa. Terlihat benar-benar kecewa.
“Dokter menggunakan fibergen3 pada anggotaku? Kenapa? Padahal, aku sudah berencana untuk mengistirahatkannya beberapa waktu dari unit. Ia bekerja terlalu memaksa diri. Jika ia sembuh dengan cepat, tidak ada alasan bagiku untuk menolak keikutsertaannya di dalam misi.”
“Maaf, Veren. Aku tidak punya pilihan lain. Melihat luka yang dialami Alisya, kecil kemungkinan baginya untuk selamat. Satu-satunya jalan adalah dengan injeksi fibernetik. Dan satu-satunya yang terpikirkan olehku pada waktu itu, adalah fibergen3.”
“Haaah...! Tapi, Dokter belum mencabut obat itu, kan?”
“Bahkan, ia sama sekali tidak tahu obat itu ada di tubuhnya. Aku berencana untuk tidak mencabut obat itu, hingga akhirnya aku bisa menemukan penawar efek samping fibernetik.”
“Baguslah.... Jika tidak, ia akan menjadi monster.” Veren mengeluh. Kepalanya terasa pening. Ia membayangkan Alisya dan Astro saling lempar mobil. Akan sangat gawat.
“Sekali lagi, aku minta maaf....” Dokter Karim menepuk pundak Veren. Ia menghampiri dua perawat yang mengurusi Digta.
***
“Digta? Kau ada di sini?”
Semua menoleh. Bili memasuki ruang Unit Penanganan Medis. Ia terengah-engah usai berlari sepanjang koridor menyusul Digta. Setelah bertanya pada orang-orang, ia pun sampai di unit itu.
“Syukurlah. Aku ingin mengembalikan jasmu.”
Digta memasang sorot mata yang tajam. “Aku sudah tidak memerlukannya. Mesin itu telah diperbaiki. Itu berarti, tugasku di tempat ini telah selesai. Mesin itu menjadi milik kalian, dan aku kembali bekerja di laboratoriumku di Borneo.”
“Bagaimana kalau jas ini kuberikan sebagai tanda maaf?”
“Terima kasih. Tidak perlu.”
“Bili, ada apa? Kalian bertengkar lagi?” sela Veren.
“Seperti yang terlihat....”
“Sampai-sampai, kau ingin menembak rekan kerjamu sendiri?” Dokter Karim ikut menyela.
“Mana aku sanggup, Dokter!” Secepat kilat, Bili membalas. Ia merasa telah menjadi sasaran tuduhan yang tidak benar. Dan melihat Dokter Karim, ia menyadari sesuatu.
“Eh, Dokter? Mengapa Dokter ada di sini?”
“Kau berkata demikian seolah aku tidak pantas berada di Unit Penanganan Medis. Ini adalah satu dari tempatku bekerja sehari-hari, Jabrik!” Dokter Karim bertelekan pinggang. Tampak Bili serba salah.
“Unit Penanganan Medis? Ini Unit Penanganan Medis Pusat Kesehatan DINA?” Dan Bili semakin sadar. Ia sekarang berada di tempat yang biasa anggota DINA sambangi apabila bermasalah dengan kesehatan. Ada ranjang pasien dengan warna putih polos, dihiasi selimut bergaris hitam. Ada para perawat dengan seragam mereka, terlihat anggun dengan warna biru langit. Dan juga dokter dengan jasnya yang berwarna putih hampir sama dengan jas personil LABTEK. Lalu, kenapa ia bisa sampai di tempat ini? Siapa yang tidak sehat?
Lingkaran hitam di balik kacamata bening itu tertuju pada lengan Digta. Ada bercak merah membaur di sekitar lengan baju yang disobek. Di meja di dekatnya, juga tergeletak kapas-kapas dengan noda yang dikenal Bili sebagai darah.
“Digta? Kau terluka? Mengapa tidak memberitahuku?”
“Untuk apa memberi tahu orang yang hendak membunuhku?” Digta membuat Veren semakin terhenyak.
“Kalian benar-benar ingin saling bunuh? Aku menyesal telah menyatukan kalian dalam satu tim!”
“Aku tidak ingin membunuh siapa pun!” bela Bili untuk dirinya. “Aku..., aku hanya melakukan sebuah kesalahan kecil.”
“Kesalahan kecil? Bila peluru itu melesat tiga puluh sentimeter ke kiri dari bahu kananku, apakah itu masih kesalahan kecil?” sambar Digta.
“Maaf, Digta. Aku..., aku mengantuk.”
“Mengantuk? Hah! Jadi, itu alasanmu?”
Bili kehabisan kalimat untuk membalas. Mulutnya terkunci rapat.
“Tunggu, aku ingin meluruskan ini.” Veren kembali menyela. “Bili memegang senjata api, sementara ia sendiri sedang mengantuk. Karena kalian suka bertengkar, Bili yang mengantuk tidak dapat menahan dirinya kemudian menembak Digta.”
Veren bertelekan pinggang dan menoleh Bili. “Hei..., Bili. Dari mana kau bisa memiliki senjata api? Meski anggota DINA, kau masih belum mengurus izin kepemilikan senjata api, bukan?”
“Bukan! Bukan itu....”
“Lalu?”
Digta mengambil alih, “Untuk mengecek mesin waktu apakah telah siap digunakan, aku meminta Bili untuk mengirimku ke masa dua ratus tahun sebelum Perang Dunia Ketiga. Namun karena keteledorannya, ia malah mengirimku dua ratus tahun sebelum masa sekarang. Itu berarti, lima puluh tahun sebelum Perang Kosmik terjadi. Bayangkan, ia mengirimku ke masa di mana konflik bersenjata mulai kembali memanas. Beberapa tentara menembakiku.”
“Jadi..., mesin waktu itu telah selesai diperbaiki?”
“Ya....” Bili tertunduk.
“Haaah.... Aku sebenarnya gembira mendengar kabar ini. Tapi karena situasinya seperti ini, lebih baik kalian menyelesaikan masalah kalian terlebih dahulu. Padahal, aku sempat berharap. Meskipun kalian selalu bertengkar karena berselisih paham, berada dalam satu tim membuat kalian dapat semakin memahami karakter masing-masing dan akhirnya bersatu.”
Veren menepuk pundak Bili sebelum meninggalkan Unit Penanganan Medis. “Dokter, aku menjenguk anak buahku dulu,” pamitnya pada Dokter Karim.
“Silakan. Aku mungkin nanti. Aku ingin memastikan luka yang dialami gadis ini tidak perlu dikhawatirkan.”
Bili menghampiri sebuah ranjang dengan langkah diseret. Ia duduk dan masih mendekap jas laboratorium milik Digta.
“Maafkan aku....”
“Jangan banyak bicara....” Digta tersandar. Wajahnya masih tergambar rasa marah.
Usai membersihkan luka gores yang terbilang parah dengan antiseptik, perawat menutupi lukanya dengan plester obat. Bukannya meninggalkan Unit Penanganan Medis, Bili malah berbaring di ranjang pasien, memperhatikan kerja dua orang perawat hingga akhirnya tertidur.
Sekitar lima jam ia terlelap. Ia terbangun ketika satu jam sebelumnya, Digta telah meninggalkan divisi. Hanya ada Ayu di LABTEK, satu-satunya rekan kerja orisinal Bili di tempat tersebut.
***
“Maaf terlambat, Pak.” Dua orang gadis terlihat memasuki Laboaratorium Teknik. Salah satunya langsung bergabung dengan operator mesin waktu, sementara seorangnya lagi menghampiri Veren. “Kami baru saja dari Pusat Kesehatan untuk memeriksa kondisi Gaya.”
“Aku pikir, kau tidak akan datang,” sambut Veren.
“Ini menyangkut Astro, Pak. Aku akan selalu memburunya. Lagi pula, aku juga termasuk dalam tim ini, bukan?”
Veren menghadap portal mesin waktu. Tiga prajurit sedang bersiap untuk menembus portal.
“Tapi kuharap, kali ini kau menjaga jarak dari Astro.”
“Maksud Bapak?”
“Sudah berkali-kali kau ikut dalam misi ini. Sudah berkali-kali pula tubuhmu remuk dalam misi serupa. Aku tidak ingin hal ini terulang. Kau terlalu memaksakan dirimu. Ingat, kasus ini telah diambil alih oleh polisi. Kita hanya sebagai pasukan pendamping. Keberadaan kita hanya untuk hal-hal yang lebih bersifat teknis. Meski kita juga ikut dalam investigasi, tetapi kita tidak dapat terlibat secara menyeluruh.”
“Aku tidak bisa membiarkan Astro begitu saja, Pak.”
Veren berputar menghadap Alisya. Tampak tekad sungguh-sungguh dari mata gadis itu.
“Setelah diketahui efek samping dari fibergen1, penggunaan fibergen2 menjadi sangat dibatasi. Astro yang tidak mendapat jatah karena telah dicurigai berkomplot dengan pihak kriminal, akhirnya nekad merampas beberapa dosis fibergen2. Aku seharusnya dapat menghentikan hal itu. Tapi aku terlalu lengah, sehingga tidak dapat menjaga Dokter Karim dengan baik.”
“Itu sudah lebih dari satu tahun lalu, Al. Dan kau juga harus tahu, hingga kini tidak ada yang menyalahkanmu atas kejadian itu. Kau cidera dan Dokter Karim merawatmu. Tiba-tiba Astro datang dan semua terjadi.”
Veren menghela.
“Yang aku sesalkan adalah... ia selalu dapat lepas dari pengejaran kita dan polisi. Bakat belutnya sangat mengesankan. Tapi kuharap, petualangannya itu akan segera berakhir dan kita segera mendapatkan giganium. Tanpa benda itu, negara kita bisa hancur diserbu benda angkasa.”
“Kalau begitu, boleh kami pergi sekarang?”
Veren mengangguk. “Berhati-hatilah.”
Alisya menuju portal. Gaya segera melejit menjadi ekor. Selama Alisya dan Veren asyik berbincang, ia asyik meneliti peralatan yang ada di Laboratorium Teknik. Sebelum benar-benar bergabung dengan Alisya, ia dihentikan oleh Veren. Gadis berpembawaan kanak-kanak tersebut segera menoleh.
“Kau masih mau ikut misi ini?” Kalimat yang seharusnya ia berikan kepada Alisya. Namun akhirnya, hanya dapat ia hibahkan kepada Gaya. Isi kepala Alisya terlalu keras untuk kalimat tersebut.
Dengan menggemaskan, Gaya menjawab, “Tentu...!”
“Tapi, bukankah kau juga mengalami cidera saat penangkapan Astro minggu lalu?”
“Aku sudah sangat baik, Pak. Jika ingin bukti, aku bisa melempar Bili keluar dari ruangan ini.”
“Kok, aku?” Bili merasa tersentil.
Ayu mendadak menepuk pundaknya. “Alat itu!” ingatnya.
“Oh iya!” Bili bergegas turun dari kursi dan menghentikan keduanya sebelum menembus portal.
“Gelang multifungsi kalian telah kumodifikasi. Fitur komunikasinya telah diperkuat. Kalian bisa menghubungi kami dari alam lain di seberang sana.” Bili mengunjukkan dua buah benda berwarna perak serupa jam tangan digital. Berkesan minimalis karena minim ornamen. Kedua benda itu dengan cepat berpindah ke pergelangan tangan si pemilik masing-masing. Layar kecil yang berwarna hitam segera aktif menampilkan grafik berwarna hijau menyala.
Sebelum benar-benar mencapai portal, kini giliran Alisya yang berbalik.
“Hei, Bili. Doakan agar kami selamat. Karena jika kami selamat, ada kemungkinan kau dapat berdamai dengan sepupuku. Aku akan menjadi penengah bagi kalian.”
“Sepupu?” Bili terlihat bingung.
“Ingat dengan gadis beraroma stroberi, meski ia tidak berasal dari kebun stroberi?”
Perlu beberapa detik bagi Bili untuk menerjemahkan kata-kata itu. Begitu ia paham maksudnya, sebuah tamparan yang ia terima kemarin pagi kembali terasa di pagi ini. Belum sempat ia menanyakan perihal gadis itu lebih lanjut, Alisya dan Gaya telah lenyap ditelan portal waktu.
---
Penjelasan untuk beberapa istilah dalam cerita ini ada di Kisah Bagian Glosari.









