Kisah Bagian 1: Fibernetik

“Kau ingin aku kirim ke mana?” Bili terlihat mengatur sesuatu di komputer. Jemarinya bermain lincah di papan ketik.

“Dua ratus tahun sebelum Perang Dunia Ketiga.” Digta memastikan semuanya telah siap. Beberapa monitor yang ia pantau, menampilkan status hijau. Merasa semuanya beres, ia meninggalkan kursi dan menghimpun rambutnya. Seraya kemudian menanamkan sebuah penjepit yang lancip. Bagi Bili, tatanan rambut Digta bagai air mancur yang berputar di belakang kepala.

Rating

49
points
Views: 315 reads
Comments: 6
Rating:
70

Favorites

You have to login to access this feature click here

Report this

You have to login to access this feature click here

Read next posts

Be the first person to continue this post
Writer maximillian
maximillian at Kisah Bagian 1: Fibernetik (2 years 22 weeks ago)
60

Sebagai bab pertama novel, bab ini masih kurang kuat. Bab pertama itu mesti nendang banget sehingga orang mau meneruskan baca novelnya.

Ada beberapa trik yang bisa dipakai. Kasih sedikit preview konflik di yang bakal buat orang penasaran untuk nerusin.

Kupikir yang membuat bab ini kurang kuat juga adalah penokohannya. Belum terlalu ada penonjolan atau penarik perhatian.

Bagian yang lumayan adalah eksplorasi konsep fibergen.

Usul aja, lebih seru kayaknya bab 1 itu isinya Astro yang nyusup masuk markas!

Writer addang13
addang13 at Kisah Bagian 1: Fibernetik (2 years 22 weeks ago)
90

Gak tahu harus bilang apa nih. Bagus...

...Moving on

Writer dhanang wibowo
dhanang wibowo at Kisah Bagian 1: Fibernetik (2 years 28 weeks ago)
80

ceritanya dah bagus, kekna km emg merencanakan utk bikin alur yg agak kompleks yah? pasti butuh riset banyak tuh, hehe

btw aku juga lagi nulis novel futuristik yg berbau scifi gini juga lho.. kpn2 share yahh.. ^^

Writer adrian.achyar
adrian.achyar at Kisah Bagian 1: Fibernetik (2 years 31 weeks ago)
80

He he he. Terisnpirasi oleh Timetrek ya, atau Timeline? ;P

Tulisannya dah rapih dan deskripsinya dah oke Menurut saya cuma kurang di deskripsi fisik tokoh-tokohnya; Veren dan Dokter Karim pasti beda secara fisik, kan? Menurut saya penggambaran fisik tokoh juga penting untuk membangun suasana. Yaah, menrurt saya aja siiih. Terus mungkin akan lebih membangun suasana kalo deskripsi setting ditambah. Perintilan-perintilan kecil yang biasaterlewat seperti bau, suhu, suara, dll bisa membuat suasana cerita jadi lebih hidup. Ini saran aja looh.

Guys, please read my poems & stories at K.com ^_^

Writer Villam
Villam at Kisah Bagian 1: Fibernetik (2 years 32 weeks ago)
90

ini cerita yang menarik, dan ditulis dengan baik pula.

adegan pembuka cukup menarik, tapi mungkin bisa diakhiri dengan lebih dahsyat. teriakan, jeritan atau apapun.

sementara adegan kedua, pembahasan yang cukup detil dan njelimet itu, kupikir karena ini masih bagian awal, bisa dibuat lebih sederhana. usulku, informasi2 detil itu bisa dijelaskan lebih banyak nanti di bagian2 berikutnya.

karena, untuk bagian awal, lebih baik fokuskan pada karakter2 tokohnya. gaet pembaca untuk mencintai tokoh2nya dulu, dan mereka akan dengan senang hati membaca terus petualangan mereka.

good work. salam kenal.

Writer Alfare
Alfare at Kisah Bagian 1: Fibernetik (2 years 32 weeks ago)
90

Kayaknya yang di awal itu bukan mengeluh, tapi menguap deh.

Kayaknya perlu sedikit pengeditan, tapi secara keseluruhan, udah betul2 bagus. Paling... um, adegan awalnya yang salah ngirim itu... menurutku agak terlalu sulit diterima, karena kesannya enggak profesional gitu. Mungkin perlu sedikit penjelasan lebih lanjut yang agak lebih bisa diterima?

Um, menurutku adegan2 percakapannya bisa dibuat lebih mengalir, tapi segini juga cukup deh. Masalahnya, bab ini ngikutin dua alur berbeda yang saling nyambung, dan banyaknya detil yang belum diketahui pembaca terus terang bikin orang jadi males.

Mungkin perlu semacam bab pendahuluan lagi buat memancing perhatian?

Oya, kenapa ngerasa enggak bisa diterbitin? Mau bagi2 cerita?

Terlepas dari itu, kirim lagi lanjutannya ya? Dan... uh, kalo bisa pertahankan di bawah 2500 kata tiap postingannya... Bukan cuma supaya enak bacanya, tapi juga enak ngasih komentarnya.