Cerita dari Belantara Kalimantan (2)

Menebar Lamunan

Sebagai kepala puskesmas yang ditempatkan di sebuah ibukota kecamatan, setiap minggu suamiku harus melakukan Puskesmas Keliling ke seluruh desa yang ada di kecamatan. Dalam jadual penugasan mestinya dia mengunjungi beberapa desa dalam sehari. Tapi kenyataannya, lokasi desa satu dan lainnya ditempuh dalam setengah hari perjalanan. Jadi, Puskesmas Keliling hanya bisa dilakukan di satu desa dalam satu hari. Hampir musykil melakukan Puskesmas Keliling di dua desa dalam sehari sebagaimana penugasan yang dibuat di Jakarta.

Dengan kondisi yang ada di lapangan, seorang dokter di belantara Kalimantan, jangan bermimpi bisa melakukan kunjungan lebih dari satu desa dalam sehari. Jarak antardesa mungkin hanya dalam puluhan kilometer yang di kota bisa ditempuh dalam setengah jam perjalanan. Tapi di belantara Kalimantan, seorang dokter yang mengungjungi satu desa menghabiskan waktu sehari penuh dalam perjalanan yang melelahkan. Dokter benar-benar butuh perjuangan lahir dan batin untuk itu.

Suamiku memiliki tiga orang staf: dua orang perawat dan seorang supir. Semua staf suamiku laki-laki. Kehadiran staf Puskesmas sangat membantu. Bukan hanya membantu pekerjaan suamiku tapi juga mereka membantuku melakukan pekerjaanku di rumah terutama merawat rumah dinas.

Ketiga staf suamiku semua masih bujangan. Ketiganya tinggal di kamat di tersedia di Puskesmas. Sedangkan rumah dinas suamiku berada sekitar 500 meter dari Puskesmas. Kalau suamiku melakukan perjalanan keluar desa, salah seorang perawat menunggui Puskesmas. Hanya saja, kalau tidak ada suamiku di Puskesmas, pasien tidak mau ditolong perawat. Pasien segera mendatangi rumah dinas suamiku. Rumah dinas inilah yang menjadi kantor kedua setelah seharian bertugas di Puskesmas.

Desa di Kalimantan yang kebanyakan dihuni oleh para transmigran asal Jawa dan Bali. Lokasi desa transmigran kebanyakan berada beberapa kilometer dari sisi sungai besar. Sedangkan desa di tepi sungai dihuni oleh masyarakat Dayak. Sehingga untuk menemui masyarakat desa binaannya, suamiku selalu melewati dulu lokasi masyarakat Dayak.

Meski pemukiman masyarakat Dayak tidak menjadi tanggung jawab suamiku sebagai kepala puskesmas, tapi dia selalu menyempatkan memberikan layanan kesehatan kepada mereka. Lagi pula, dengan berhubungan baik dengan masyarakat Dayak di sana, suamiku mendapatkan banyak bantuan.

Perjalanan ke desa tempat Puskesmas Keliling lebih efektif menggunakan jukung ketimbang perjalanan darat dengan mobil atau motor. Setelah itu, berjalan kaki menuju desa yang dimaksud. Meski suamiku dilengkapi kendaraan dinas berupa ambulans. Namun ambulans itu lebih banyak digunakan untuk keperluan ke kota.

Aku akan selalu merindukan perjalanan ke kota ini. Perjalanan ke kota inilah menjadi satu-satunya hiburan buatku. Sebulan sekali suamiku ke kota terutama untuk mengambil berbagai keperluan puskesmas seperti obat-obatan dan lainnya. Nah, aku pun punya kesempatan cuci mata.

Sebagai istri yang menemani suami yang mengabdi sebagai dokter yang ditempatkan sebagai kepala puskesmas di desa terpencil, aku mestinya harus siap mendampingi suamiku. Aku harus siap menerima suamiku dalam keadaan apa pun. Aku pun mesti siap menerima suamiku dalam senang atau susah, kaya atau miskin, ketawa dan sedih, dan lainnya. Persis janji kebanyakan pasangan pengantin di film yang suka aku tonton itu. Tapi, apa iya begitu?

Misalkan, ketika aku dikabari suamiku ditempatkan sebagai Dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) dari Departemen Kesehatan di Desa Haruai yang terletak 150 kilometer dari Kota Banjar, Kalimantan Selatan, aku sempat panik. Bahkan aku pernah mengusulkan kepada suamiku untuk mencari jalan agar penempatan yang dekat-dekat kota besar saja. Jangan di desa antah-berantah.

"Dik," kata suamiku ketika itu membesarkan hatiku, "coba lihat sisi baiknya."
"Sisi baik apanya?" sungutku, "Kakak kan belum pernah ke sana. Kok tahu-tahunya kita pasti baik-baik saja di sana."
"Maksudnya, kita kan bisa habiskan bulan madu kita di desa. Kita kan bisa berduaan terus," kata suamiku.
"Iya, sih, kita bisa dua-duaan terus sepanjang hari," kataku, "tapi, kita kan jauh dari mana-mana. Apa yang aku lakukan di sana?"

Ada beberapa hal yang membuatku panik setelah mengetahui suamiku ditempatkan di desa terpencil. Pertama, aku belum pernah sama sekali meninggalkan kota besar untuk jangka waktu lama dan hidup di desa. Aku tahu desa hanya dari balik jendela kereta api ataupun mobil yang kutumpangi ketika berwisata ke luar kota. Selebihnya aku cuma tahu desa dari cerita teman atau saudaraku.

Terlebih aku benar-benar buta soal Kalimantan. Jangankan membayangkan sebuah desa di Kalimantan, kehidupan desa di Jawa saja aku benar-benar tak tahu. Kedua, aku terpaksa harus meninggalkan pekerjaanku. Kerap aku bertanya dalam hati kecilku: Apakah semua ini aku lakukan sebagai bukti cintaku keopada suamiku?

Meski aku tidak pernah mengambil kursus atau pendidikan kedokteran ataupun perawat, suamiku selalu mengajarkan aku untuk melakukan beberapa hal sederhana yang dapat membantu dia melaksanakan tugas. Aku pun suka membantu pekerjaan suamiku misalkan memeriksa dan mencatat tekanan darah dan denyut nadi pasien, membungkus luka, dan mencatat administrasi terutama pengeluaran obat di rumah dinas di luar jam kerja di Puskesmas.

Suamiku menetapkan disiplin dalam pemberian obat kepada pasien. Dia selalu memilah antara obat-obatan yang diberikan Pemerintah untuk digunakan di Puskesmas dan obat-obatan yang dibeli sendiri untuk diberikan kepada pasien di rumah di luar Puskesmas. Suamiku tidak mau mencampur aduk keduanya. Obat-obatan untuk Puskesmas tidak mau digunakan di luar keperluan pasien di luar Puskesmas.

Tapi, pada kenyataannya, obat-obatan yang tersedia di puskesmas tidak selalu mencukupi dan selengkap yang kami beli. Seringkali suamiku memberikan persediaan obat yang kami beli dengan uang kami sendiri untuk pasien yang seharusnya mendapat obat-obatan puskesmas.

Perkara persediaan obat-obatan dan keperluan lain yang menunjang pekerjaan suamiku ini selalu menjadi masalah buat aku dan suamiku. Karena ini menyangkut keuangan kami berdua. Kalau berobat di Puskesmas dan menerima obat-obatan yang disediakan Pemerintah, pasien bisa mendapatkan pelayanan murah atau bahkan gratis. Tapi, jika suamiku menerima pasien di luar jam kerja dan memberikan obat-obatan yang kami beli di kota dengan uang kami sendiri, apa pasien juga mau tahu? Padahal untuk mendapatkan obat-obatan tersebut cukup banyak uang yang digunakan. Aku dan suamiku benar-benar melakukan akrobatik dalam mengelola keuangan di rumah dan di puskesmas.

Aku kadang tidak habis pikir dengan kelakuan sejumlah pasien. Seperti peristiwa ketika sedang menyapu halaman rumah sore itu. Seorang lelaki separuh baya dengan entengnya menitipkan bungkusan koreng istrinya kepadaku agar diberikan ke suamiku. Entah apa maksud Bapak itu menitipkan bungkusan koreng. Aku pun tidak mau banyak tanya. Tapi, suamiku selalu mewanti-wanti agar kalau ada orang Dayak yang mau berobat selalu diterima. Itu alasanku kenapa bungkusan koreng itu aku letakkan di dekat meja kerja suamiku.

Dari pakaian dan logat bicara, aku taksir dia orang Dayak. Mestinya laki-laki paruh baya itu sudah kenal dan pernah berobat pada suamiku. Karena kalau belum kenal dan tidak pernah, agak sukar meyakinkan orang Dayak berobat ke dokter. Suku Dayak memiliki cara pengobatan dan obat tradisional yang kadang harus diakui lebih mujarab ketimbang obat modern.

Seusai menyapu halaman depan rumah dinas, aku sempat membuang pikiran sekadar melamunkan kembali perjalananku ke sebuah desa di belantara Kalimantan. Lagi pula, di sore seperti ini apa yang bisa aku kerjakan? Kecuali melamun menunggu suamiku pulang dari perjalanan dinas. Subuh tadi suamiku bergegas melakukan perjalanan Puskesmas Keliling ke desa tetangga. Sore ini suamiku kembali ke rumah. Makanan kesukaan suamiku telah terhidang di meja makan. Dan, air pun telah kujerang buat mandi suamkiku.

Kudengar deru mobil memasuki halaman rumah. Aku matikan kompor dan menuangkan air panas ke dalam ember. Setelah meletakkan ember berisi air panas sdi kamar mandi, aku begegas menyambut suamiku di ruang tamu. Di beranda, sekilas aku mendengar perawat dan supir mohon pamit kepada suamiku. Belum sempat aku buka pintu rumah, suamkiku sudah membukanya terlebih dulu. Tampak benar raut mukanya, suamiku keletihan.

"Kak, segera mandi saja. Air panasnya baru aku letakkan di kamar mandi," tawarku sembari mengambil tas kerja dan meletakkan di meja kerja yang terletak bersebelahan dengan ruang tamu. Dan, seperti kuduga, suamiku pasti menolak tawaranku.
"Nanti dulu. Aku capek banget nih," katanya.
"Justru itu kalau Kakak segera mandi air hangat hilang capeknya," kataku sambil memberikan secangkir teh jahe hangat ke tangan suamiku.
"Ayolah," kataku.
"Ayo apa?" Jawab suamiku sehabis menyeruput tandas secangkir teh jahe hangat.
"Kakak mandi dulu biar hilang capeknya," kataku.
"Ah, enggaklah kalau mandi sendiri," jawabnya.
"Lha, aku kan sudah mandi, Kak," jawabku.
"Kan gak apa-apa mandi lagi bareng aku," jawabnya.
"Mandi apa mandi," godaku, "apa masih punya tenaga?""

Seusai mandi berdua, kami masih sempat shalat maghrib berjamaah berdua. Aku dan suamiku selalu menyempatkan diri shalat berjamaah ketika di rumah. Tapi, kalau ada kegiatan yang cukup jauh di luar rumah kami kerap lalai mengerjakan shalat. Mudah-mudahan saja Allah memaafkan kelalaian kami berdua.

Ritual senja kami berdua akan dilanjutkan dengan makan malam. Kami menyebutnya sebagai candle light dinner. Karena makan malam hanya diterangi lampu teplok. Meski di rumah tersedia generator pembangkit listrik yang menggunakan solar. Tapi, kalau setiap malam menyalakan generator tentu biaya solar tinggi, kata suamkiku beralasan. Kami sengaja mematikan generator pembangkit listrik untuk menghemat. Untuk dapat bertahan hidup memang perlu banyak bersiasat.

Menu makan malam kami masih sama dengan yang kemarin. Tapi inilah menu kesukaan suamiku: Ayam bakar disertai sambal pedas dan daun singkong rebus. Di desa ini mendapatkan uang sangat sulit. Pasien yang datang ke tempat praktek suamiku lebih banyak membayar dengan buah-buahan, sayur-mayur atau hewan. Hewan yang kerap diberikan ayam kampung atau ayam hutan. Kedua jenis hewan itulah yang diberikan hampir oleh kebanyakan pasien sebagai pembayaran atas jasa yang diberikan suamiku.

Kalau sudah cukup banyak ayam kampung atau ayam hutan di rumah dan kalau kalau ada keperluan ke kota, kami membawa ayam tersebut dan menjualnya di kota. Uang hasil penjualan ayam kami belikan obat-obatan dan berbagai keperluan, Ternyata selain menjadi dokter, suamiku pun berbakat menjadi pedagang ayam.

"Ini apa?" Tanya suamiku melihat bungkus pisang tergeletak di dekat meja kerjanya.
"Oh, itu tadi ada pasienmu menitipkan," balasku. Segera suamiku membuka bungkusan itu.
"Hei, apa ini?" suamiku tersentak melihat isi bungkusan.
"Tadi aku dititipi oleh pasienmu yang katanya kupasan koreng dari kaki istrinya," jawabku.
"Buat apa koreng ini?" kata suamiku sambil membuang bungkusan itu ke tempat sampah, "Adik kok mau-maunya terima."
"Kalau aku tolak orang itu marah. Dia bisa-bisa tidak mau lagi berobat ke dokter. Terpaksalah aku terima," ujarku.

Malam itu kami segera beringsut ke peraduan. Suamiku tidak bisa lagi menyembunyikan keletihannya. Dalam hati kami berharap semoga malam ini tidak ada seorang pun yang datang menggedor pintu rumah: meminta pertolongan medis suamiku.

(bersambung)

Catatan:
Jukung = sampan tradisional Dayak Kalimantan yang terbuat dari batang pohon utuh yang dilubangi tengahnya. Panjang jukung sekitar 7-9 meter dengan lebar 70-90 cm.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

memang harus pandai menggambarkan suasana, agar tidak monoton. Ada baiknya diselingi hal yang tak terduga..

selamat terus mengolah lanjutannya

70

Penggambaran settingnya jelas banget....

Seperti penulis tahu kondisi sebenarnya pedalaman kalimantan.

Lanjutt...yah...

Writer cat
cat at Cerita dari Belantara Kalimantan (2) (6 years 32 weeks ago)
70

penjelasan yg pjg dan berputar2.
tp g tetep menantikan kelanjutannya