Lukisan

sebuah cerpen...

Disapunya kembali lukisan itu dengan kuas sedikit basah oleh minyak. Menjadikan lukisan kanvas itu lebih berkilat dan berkilauan. Terutama danau yang baru saja dilukisnya itu. Warna biru semakin memperjelas kelamnya permukaan danau tersebut. Belum puas ia mengusapkan warna putih sedemikian rupa sehingga permukaan danau menjadi lebih berkilau seolah-olah memantulkan cahaya matahari dari atasnya. Senyumnya tersungging memancarkan rasa puas berlipat ganda. Lalu pelan ia berjalan mundur menjauhi lukisan itu agar jarak pandangnya begitu tepat untuk memandang lukisan keseluruhan. Kuas masih ada di genggaman tangan kanan. Sementara tangan kirinya memegang dagu seperti mengagumi lukisan itu.

Ruangan itu tidaklah luas. Hanya berukuran 4 x 3 meter. Dan keadaannya cukup berantakan karena di sana-sini berceceran kertas. Ada ranjang tidur untuk satu orang dekat jendela kaca. Tak terawat. Pakaian seperti baju dan celana, bahkan celana dalam sepertinya dicampakkan saja dari jemuran ke atas tempat tidur papan itu. Lemari pakaian dua pintu terbuka sebelah. Dan perabotan di atasnya tersusun acak seperti lukisan abstrak mencerminkan jiwa pemilik kamar. Jam dinding menunjukkan angka sepuluh.

Keadaan kamar itu tak jauh berbeda dengan si pemilik. Rambutnya yang hitam panjang sebahu bukan menjadikannya tampak seperti pelukis melainkan seperti buronan. Badannya yang kurus dibalut baju kemeja hitam yang tak terkancing semuanya. Celana pendek berwarna coklat tua dengan bercak-bercak cat membuat celana itu seperti kain lap. Kumal. Namun, sepertinya keadaan itu tidak terlalu mengganggu si pelukis. Lalu ia duduk di bibir ranjang dan mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya. Disulutnya dengan korek api lalu dihisap dalam-dalam. Sedetik ruangan itu diselimuti asap rokok. Tentu saja bagi mereka yang tak suka merokok ruangan itu ibarat neraka. Yang pasti tidak menyehatkan pernafasan.

Kemudian, terdengar suara pintu diketuk. Si pelukis menoleh ke arah pintu tanpa beranjak dari duduknya. Suara ketukan terdengar lagi. Kali ini diiringi suara seorang perempuan.

“Christ!”

“Siapa?”

“Buka! Aku Pipie. Berapa lama aku harus jadi temanmu kalau suaraku aja ngga bisa kau kenal!” teriak tamu itu agak kesal.

“Santailah, Pie. Segitu aja kau sewot,” kata Christ sambil membuka pintu.

“Wuih! Kok kaya’ kapal uap kamarmu?” keluh Pipie begitu melihat keadaan dalam kamar itu. Sambil mengibas-ibaskan asap rokok dari hadapannya. Dia urung masuk ke dalam kamar temannya itu.

“Ah, baru sebatang aja pun.” Christ menghembuskan asap rokoknya ke muka temannya itu. Tentu saja ia terbatuk-batuk.

“Sialan! Kalau mau cepat mati ngga usah ngajak-ngajak teman dong. Mati aja sendiri!” kata Pipie lalu masuk ke ruangan dan membuka jendela. Christ duduk lagi di ranjangnya dan memperhatikan lukisan itu lagi sambil merokok.

“Waduh, kok berantakan amat sih? Ngga malu pula kalau ada tamu?” kata Pipie sambil berkacak pinggang memperhatikan sekelilingnya. Ia tak habis pikir dengan keadaan kamar itu. Sementara Christ asyik saja dengan rokoknya.

“Gimana, Pie?” katanya sambil melihat ke karyanya itu. Pipie ikut melihat lukisan itu. Lalu ia duduk di kursi tepat di depan lukisan. Cahaya matahari menyinari lukisan kanvas itu. Ia diam seolah-olah menyelami arti lukisan itu.

“Ah, menurutku lukisannya biasa-biasa aja. Malah banyak yang ngga proporsional. Kaya’ pohon itu. Kan terlalu besar kelihatannya. Pantulan tebing di danaunya ngga mirip. Malah ngga sama. Terlalu tinggi juga tebingnya. Yah, lukisanmu ini sama kaya lukisanmu yang lain. Ngga bertambah bagus. Norak dan terlalu kontras,” komentar Pipie menanggapi lukisan temannya itu. Seolah-olah dia tahu banyak tentang lukisan. Tentu saja komentar seperti itu tidak cukup menyenangkan buat Christ sebagai pelukisnya. Namun, ia tidak langsung memberi tanggapan atau setidaknya menentang komentar temannya itu. Christ hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil terus menghisap teman putih berasapnya. Lalu ia berjalan mendekat ke lukisan itu sambil bicara begitu kalemnya.

“Kau tak ubahnya sama orang lain, Pie. Ngga mengerti tentang nyawa sebuah lukisan. Biar kujelaskan samamu! Lukisan ini mencerminkan keadaan pagi hari di danau. Saat matahari bersinar di balik awan dan penghuni hutan masih malas untuk keluar dari sarangnya. Maka, kau takkan menemukan seekor hewan pun di hutan itu kecuali burung-burung yang terbang di atas permukaan danau. Bisa disebut pemalas walaupun keadaan di luar begitu indahnya, ”jelas Christ.

“Itu kalau kau menceritakan keadaan lukisan saat itu. Yang aku komentari kan bukan ceritanya, tapi struktur dan komposisi lukisanmu. Masa di sana-sini terjadi kesalahan ukuran. Kau kan pelukis naturalis. Jadi, menurutku ukuran suatu objek mesti seimbang dengan objek lain,” Pipie memperjelas komentarnya.

“Yah, temen-temen yang lain juga bilang gitu kok. Jadi ngga baru buatku.”

“Itu jelas terjadi juga samamu. Maksudku dalam kehidupanmu,” Pipie mengatakannya dengan senyum. Christ melihatnya seperti menerka-nerka arti ucapan Pipie barusan. Hening sejenak.

“Udah, ah. Ngga usah dipikirkan!” Kata Pipie sambil beranjak dari duduknya. Ia berjalan ke lemari pakaian temannya itu. Lalu ia terdiam sejenak seperti ada yang hendak dikatakannya.

“Kenapa kau tak menghargai pemberian orang lain?” tanyanya tanpa menoleh ke arah Christ. Ia berdiri terpatung di depan lemari itu sambil memperhatikan sesuatu.

“Ada apa rupanya?” sahut Christ dengan nada tak peduli. Mendengar jawaban itu, Pie hanya menggelengkan kepalanya.

“Kalau saja aku tak kenal kau, Christ...” Ucapannya terputus, “Sudahlah!” lanjutnya tanpa meneruskan apa yang hendak dikatakannya semula.

“Oh, gitu ya? Terserah deh,” sambut Christ. Pipie diam saja lalu membereskan pakaian Christ yang berantakan di atas tempat tidur.

Hening. Christ melanjutkan melukis dan Pipie sendiri sibuk merapikan pakaian-pakaian Christ, temannya itu. Sesaat hanya terdengar suara gesekan kuas di kanvas serta detik jam di dinding.

“Aku masih nunggu kok,” ujar Pipie tiba-tiba. Christ seperti tidak mendengar kata-kata Pie barusan. Ia masih saja asyik melukis. Pie mengeluh. Suara kesahnya terdengar berat dan seolah-olah putus asa.

“Christ! Aku ngomong samamu! Bisa berhenti ngga sih? Sebentar aja!” Pie mulai kesal. Tapi, suaranya itu malah terdengar manja. Christ meletakkan kuasnya dan mencuci tangannya dengan minyak lampu. Kemudian pergi ke kamar mandi di luar. Sejurus kemudian ia datang lagi dengan tangan yang sudah bersih walaupun masih bau minyak lampu.

Dan duduklah ia di kursi tempat Pie duduk sebelumnya. Dinyalakannya lagi sebatang rokok, dihisapnya dalam-dalam seakan rokok itu sangat nikmat rasanya. Lalu dihembuskannya asap rokok itu ke langit-langit kamar dan mulai berbicara.

“Kita udah ngomongin ini sejak lama. Aku ngga suka kalau kau terus-terusan kaya’ gini,” katanya dingin.

“Christ. Apa sih yang ngga ku buat samamu? Aku lakuin semua buatmu. Kenapa kau ngga ngasih aku kesempatan jadi seorang yang lebih di hidupmu?”

“Jangan bilang-bilang itu lagi, ya! Aku ngga suka. Yah, Aku memang kaya’ gini. Kenapa kau malah merepotkan diri untuk mengurusku? Aku sudah cukup senang kok dengan keadaanku. Dari dulu sampai sekarang. Jadi aku ngga bisa jadi pacarmu. Maaf, ya? Kan masih ada yang lain. Teman-teman di kampus kita. Sama Roy, Jeffri, atau yang lain kek. Ngga mesti aku kan?” tolak Christ.

“Aku kan ngga suka sama mereka. Aku sukanya samamu.”

“Iya. Tapi, aku kan ngga suka samamu,” balas Christ jujur saja. Mendengar itu Pipie diam dan tertunduk. “ Lagian apa yang kau harapkan dariku coba? Ngga ada kan? Kalau sama yang lain kau bisa senang-senang, nonton bioskop, jalan-jalan, makan malam. Semua itu ngga kan bisa kau dapat kalau kau pacaran samaku. Dan tentu saja, mereka terang-terangan bilang kalau suka sama kau kan? Ngga usah repot-repot lagi,” lanjutnya.

“Tapi, aku udah memahamimu. Aku coba selalu ada untukmu. Saat kau di opname karena kecelakaan itu. Siapa yang jagain kau di rumah sakit? Saat kau butuh uang untuk kuliah lalu uang kirimanmu belum datang, siapa yang bantu? Aku kan?” Lalu, kenapa kau ngga ngasih aku kesempatan buat jadi pacarmu. Setidaknya satu kesempatan. Aku bisa menjagamu, Christ.”

“Oh, kau mau jadi pacarku karena alasan itu ya? Kau mau jadi pacarku hanya untuk berkorban buatku? Kok aneh? Apa aku harus membayar semua kebaikanmu selama ini dengan jadi pacarmu? Kau gila rupanya? Buat apa kalau aku ngga suka samamu sedikitpun.”

“Kau jahat. Aku tak tahu lagi harus bilang apa samamu. Aku udah pernah bilang dan selalu bilang kalau aku sayang kau! Tapi, alasan tulus itu ngga kau acuhkan. Apa yang harus kubuat untukmu? Sebagai alasannya? Lukisan itu? Itu yang terus mempengaruhimu!” Pipie mulai terisak. Bahunya tergetar pedih karena ditolak lagi. Ya, ditolak untuk kesekian kali.

Christ merokok lagi. Diambilnya lagi sebatang dari bungkus rokoknya. Kemudian ia bersandar sambil meluruskan kakinya, menghembuskan asap rokok itu ke langit-langit kamar. Hening lagi.

“Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan hobiku. Aku kenal melukis jauh sebelum aku kenal kau. Jadi jangan kau bawa-bawa lukisanku. Tolong.”

“Oh, ya? Apa lukisan ini membantumu?” kata Pie membentak sambil menunjuk lukisan yang baru dilukis Christ. Christ diam saja.

“Ayo jawab? Apa yang kau dapat rupanya? Kau jadi aneh karena lukisan ini. Perlakuanmu sama lukisan jadi dasar perlakuanmu sama semua orang. Coba kau jawab! Kau sama sekali tak menghargai orang lain. Melukis juga kan? Semua orang menganggap kau pelukis tak berperasaan. Jiwa seni apanya? Kau hanya melukis untuk dirimu sendiri. Melihat sesuatu dengan mata. Membuat sesuatu seperti yang kau inginkan. Seperti maumu saja. Gitu kan?”

“Kau benar. Aku melukis untukku. Aku melukis untuk kesenanganku. Untuk apa aku melukis untuk dilihat orang? Membuat orang lain senang dan puas?! Aku melukis seindah apa yang kuanggap indah. Bukan untukmu atau untuk orang lain yang aku ngga kenal sama sekali!”

“Itulah yang kau lakukan juga buatku. Kau memperlakukanku seperti maumu. Dekat denganku tapi, tak mengerti perasaanku. Seperti lukisan itu, Christ. Kalau saja dia punya hati dan mampu bicara. Dia pasti bilang kalau dia tak suka kau perlakukan sesuka hatimu. Tentu saja lukisan juga ingin dilihat orang lain. Dikagumi orang lain yang memandang. Ngga hanya dibuat. Apalagi orang seperti kau ini. Menumpuk lukisan di kamar. Selesai dibuat, disimpan saja di bawah tempat tidur. Tak kau rawat sama sekali. Mereka pasti nangis, Christ kalau mereka bisa.”

Tapi, Christ diam saja menikmati rokoknya. Kata-kata Pie itu tak juga menggugah hatinya. Walau itu memang benar adanya.

“Tolong hargai sedikit saja perhatianku samamu! Kau membuatku iba tapi, aku ngga mau dianggap kasihan samamu. Aku selalu ada buatmu, Christ. Seperti kuasmu atau kanvasmu itu. Selalu ada untukmu. Membantumu membuat lukisan, tempatmu mengadu, menunjukkan keadaan hatimu setiap saat kau mau. Tapi, bukannya kau hargai. Malah kau campakkan ke bawah tempat tidur. Tertumpuk, berdebu. Ngga pernah sekalipun kau rawat. Dan gitu jugalah, Christ kau perlakukan aku.”

“Aku juga ngga mau maksain kok! Buat apa? Aku cuma mau nyadarin aja, kalau sikapmu sama semua lukisanmu itu, sama halnya perlakuanmu samaku. Ngga berperasaan. Sedikitpun ngga.” Pipie berusaha tegar dan melawan hatinya. Ia menangis tersedu-sedu. Mungkin tak mampu melawan rasa cinta untuk Christ itu.

“Kalau saja aku bisa menyadarkanmu, betapa aku sayang samamu. Saat kau senang atau sedih sekalipun. Tapi, kau tak menghargaiku. Aku juga benci kenapa aku sayang kaya’ ini samamu, Christ. Kalau saja bisa, aku ngga mau terus-terusan menunggumu. Hanya menunggumu.” Pipie beranjak dari tempat tidur itu seraya menghapus air matanya. Ia masih berdiri di hadapan Christ seperti menunggu Christ mengatakan sesuatu. Tapi, Christ diam saja. Ia malah memandang ke luar jendela.

“Aku lelah, Christ. Aku mesti jalani hidupku kan? Ngga semestinya aku mengerti kalau nyatanya hanya aku yang berusaha tapi ngga kau pedulikan. Aku juga sadar kalau aku salah mengharapkanmu selama ini. Tapi, kita masih teman kok. Tapi, ngga kaya’ dulu lagi. Aku ngga bisa selalu ada buatmu. Aku pulang dulu ya! Jam 2 siang aku harus masuk kampus. Maaf, tadi aku membentakmu. Aku khilaf. Permisi.” Pipie beranjak dari kamar itu. Mengenakan sepatunya dan berangkat ke kampus. Tinggallah Christ sendiri di kamarnya seperti sebelum Pipie datang.

Ia merenungkan sesuatu. Mungkin tentang lukisannya itu yang teronggok di bawah tempat tidur. Lama ia terlarut dalam khayalnya sendiri. Sambil terus merokok sampai-sampai abu rokok bertaburan di lantai kamar. Christ dengan lukisannya. Lalu ia mengambil semua lukisan kanvas yang dibiarkannya sejak lama itu. Ada sekitar 20 buah lukisan kanvas dan beberapa lembar lukisan kertas. Di lihatnya satu per satu. Sudah usang dan penuh debu. Kotor karena tak pernah dibersihkan. Hening. Hanya terdengar suara detik jam di dinding. Christ terlarut dalam kesedihan. Lukisan-lukisan itu seperti menangis karena tak pernah diperhatikan. Christ ikut meneteskan air mata. Mungkin sadar betapa ia menyia-nyiakan jerih payahnya. Ia terisak-isak memeluk lukisan itu sehingga air mata menetes ke atasnya. Menjadi bercak-bercak kepedihan. Lalu ia tertidur untuk beberapa saat lamanya.

Sebulan kemudian ada pameran lukisan di kampus tempat Christ kuliah. Itu pameran lukisan karya-karya Christ. Pameran pertamanya setelah 9 tahun melukis. Banyak mahasiswa maupun dosen yang menghadiri pameran yang diselenggarakan di aula fakultas seni rupa itu. Dari bantuan teman-temannya, Christ mengadakan pameran tunggal. Unik karena dia bukanlah mahasiswa seni rupa, melainkan mahasiswa ilmu komputer. Di suatu sudut Christ berdiri terdiam menatap salah satu lukisannya. Menerawang jauh pikirnya. Lalu tersenyum bangga karena tak sedikit orang yang menyempatkan diri untuk melihat karya-karyanya itu. Lalu ia melemparkan pandang ke seluruh ruangan. Betapa hal itu sangat membuat hatinya riang. Bangga.

Media cetak memberitakan pameran itu. Banyak yang berkomentar. Tapi satu hal yang yang paling menarik adalah tentang komentar seorang mahasiswi sastra. Ia mengatakan kalau kebanyakan lukisan itu menggambarkan sifat atau karakter pelukisnya yaitu ; egoisme dan mementingkan diri sendiri. Walau ada juga beberapa buah lukisan yang tidaklah demikian.
Christ tertawa kecil ketika tahu bahwa sang mahasiswi itu adalah Pipie yang kini telah menjadi pacarnya

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
fhydha099imutzz at Lukisan (3 years 51 weeks ago)
100

karya pertama nieh. ...^^

Writer Whieldy_mirza
Whieldy_mirza at Lukisan (4 years 8 weeks ago)
100

Wah! Memang asyik baca karya pertama >.<

Writer dewi pujangga
dewi pujangga at Lukisan (5 years 35 weeks ago)
90

Meski tak bisa melukis, Wie suka dengan cerita yang ada soal lukisan2nya kayak gini.

Yang bikin beda sama yang lain, mungkin karena dialog khas Medan kaya' kata Boby itu, kali...

Endingnya bikin hati adem...

:)

Writer samsth7
samsth7 at Lukisan (5 years 38 weeks ago)
90

hahahha

Writer bob1985
bob1985 at Lukisan (5 years 46 weeks ago)
70

Bro, aku suka gaya "medan' mu. bahka aku sendiri sebagai orang medan, masih mencari cari bagaimana memunculkan "khas sendiri" seperti para "the Javaners". Well, deskripsi ok, tapi aku masih belum merasa ada emosi ...but I am proud of you..oh ya, please accpet as ur friend.aku uda add km. hemm..aku juga dari medan, di dekat simpang simalingkar....

Writer yunieta
yunieta at Lukisan (6 years 27 weeks ago)
50

kalau deskripsi chris waktu menulis diperjels, maka akan menjadi kekuatan tersendiri dari cerita ini

Writer k4cruterz
k4cruterz at Lukisan (6 years 27 weeks ago)
90

saya suka dengan cerita ini karena, mungkin seperti saya, cerita ini mengandalkan deskripsi untuk membangun keseluruhan/keutuhan ceritanya ... salut buat Shinichi

tapi saya juga setuju dengan erross .. deskripsi pada saat Christ melukis di kanvas belum terasa membentuk gambaran seseorang yang sedang melukis .. coba digali lebih dalam tentang kebiasaan saat seseorang menulis, seperti cara memegang kuas, cara melakukan sapuan kuas, dll.

saya juga perhatikan bahwa cerita ini sangat sedikit kali menggunakan kata "Kamu" sebagai penunjuk .. sehingga dialognya terasa agak janggal dan kurang akrab atau kaku

maaf bila komentar saya belum tepat, pun saya masih belajar ...

mari terus menulis cerita dan belajar

-marimenarikata-

Writer Shinichi
Shinichi at Lukisan (6 years 27 weeks ago)
50

rasanya kurang greget pada penggambaran cara si Christ melukis dikanvas.
trus agak tersengal gw pada bagian pertengkaran christ dan pipie. ngga tahu kenapa.....

mungkin wawasaan saya yang kurang...
terima kasih atas komentarnya

Writer erross
erross at Lukisan (6 years 27 weeks ago)
80

apa ya...
rasanya kurang greget pada penggambaran cara si Christ melukis dikanvas.
trus agak tersengal gw pada bagian pertengkaran christ dan pipie. ngga tahu kenapa.....
cuma bisa komentar aja nih bro...hehehe

Writer bounce
bounce at Lukisan (6 years 27 weeks ago)
80

endingnya melegakan......