KUTAKUT... benar-benar membuatku takut. Bulu kudukku merinding, seluruh tubuhku bergetar, dan tiap-tiap sendiku ngilu, tatkala salah satu tanganku mulai meraih gagang pintu kamarku. Aku takut melihat apa yang akan ada di baliknya. Sesuatu yang tak ingin kulihat. Bentuk makhluk itu seperti gagak raksasa, dengan tinggi dua meter dan lebarnya hampir semeter. Makhluk itu adalah lambang kekacauan dan anarki.
Mata dan paruhnya berwarna hitam, tajam bagai keris Empu Gandring. Cakar-cakarnya yang berkilat akan menghujam tubuhku bagai tombak prajurit perang, jika aku membuka pintu ini.
"Lihatlah perlakuannya dua hari yang lalu, ketika kukumpulkan keberanianku untuk mengusirnya," gumamku pelan. Mataku menapaki lenganku yang kurus kering. Ada tiga bekas goresan vertikal di sana, sementara gumpalan urat-uratku melintasinya seakan tak ada penghalang.
***
Dua hari yang lalu, saat pertama kali kutemukan makhluk itu sepulang kerja, berdiri di tengah ruang apartemenku. Makhluk itu berdiri persis di depanku, tak sampai enam meter dari posisiku.
Makhluk itu memelototiku. Matanya bulat, kecil, berwarna cokelat dengan bulatan hitam di tengahnya, sungguh membuat merinding. Tak ada lapisan lilin atau apa pun yang menyaput mata itu. Tidak memantulkan cahaya kemilau kehidupan. Sepertinya, semua cahaya yang menyinarinya tersedot ke dalam dan tak bisa keluar lagi.
Aku sangat takut. Langsung setelahnya, kubanting pintu dan lari di sepanjang lorong apartemenku. Tak peduli orang-orang menganggapku aneh atau gila. Tiba-tiba saja aku merasakan sakit di lenganku. Seperti tergores oleh sesuatu, tapi tak kulihat, kuacuhkan begitu saja, sebab aku terlalu sibuk dengan ketakutanku sendiri dan terus berlari. Sekitar lima puluh meter dari apartemenku, kusewa sebuah kamar motel kecil seharga delapan puluh ribu semalam. Langsung saja kuterima dan kubayar di muka.
Di kamar aku merenung, menatap ke luar jendela sebelah Barat. Langit bercampur dengan warna-warna yang indah, sementara matahari kunjung menghilang dan beranjak dari tempatnya semula.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa makhluk itu berada di kamarku? Buat apa dia ada di sana?" ketiga pertanyaan itu terus berulang di kepalaku secara bergantian, tanpa kutahu apa jawabannya.
***
Aku kembali ke kesadaranku semula, saat getaran tanganku makin bertambah kencang. Telingaku seperti mendengar suara berkoak dari dalam, layaknya suara jeritan kematian yang terus memanggil jiwa tiada henti. Kumantapkan tekadku, kujernihkan pikiranku, dan kusiagakan indera penglihatanku terus ke depan. Aku berusaha bersikap wajar.
"Buat apa kau takut. Toh, makhluk itu hanya seekor burung gagak," sebelah hatiku berkomentar.
"Tapi lihat ukurannya, besarnya bukan main. Dua kali lipat dari tubuh singa dewasa," sebelah hatiku yang lain menimpali. Tekadku langsung luntur setengah.
"Bagaimana kau hadapi hidup ini? Jika dengan makhluk itu saja kau takut setengah mati. Tenangkan dirimu... tenang saja. Tak akan terjadi apa-apa."
Sekali kumenelan ludah, hingga kurasakan ada sesuatu yang mengairi kerongkonganku. Kugerakkan dan kutekan gagang pintu itu. Kubuka setengah, hingga sebuah cahaya samar memantul di wajahku. Kupejamkan mataku sesaat, saat daun pintu sudah terbuka lebar. Tak ada apa-apa di ruangan itu. Tak ada makhluk besar mengerikan, seperti yang telah kulihat dua hari yang lalu. Semua tampak seperti biasa. Timbunan debu sudah memenuhi setiap perabotan di ruang itu. Lukisan berlatar laut masih mengantung di dinding. Fotoku yang sedang tersenyum masih ada di atas meja, di dekatnya ada cangkir kopi yang lupa untuk kucuci.
Aku puas menatap semua itu. Kuhembuskan napas perlahan, namun tiba-tiba napasku seakan tercekat kembali di kerongkongan. Sebuah suara koakan datang dari arah samping. Keringatku langsung mengucur dari pori-pori dahiku. Mataku melotot, melebar dari ukuran yang sebenarnya. Rasa takut mencengkram benakku seperti sekelompok burung bangkai yang sedang mengerubungi mayat. Perlahan kugerakkan bola mata, mengikuti gerakan kepala ke arah kanan. Adrenalinku terpacu begitu kencang. Jantung bekerja melewati batas maksimal, memompa darah ke seluruh tubuh, dan menyuplai darah ke seluruh sel-sel otakku.
"Pergi dari sini kau makhluk mengerikan," teriakku hingga menggema di ruangan itu. Tubuhku nyaris jatuh saat aku mengibaskan tangan ke arah makhluk itu.
Seekor burung gagak bertubuh kecil berkoak sekali, bertengger di atas kursi kayu, menatapku sebentar lalu terbang. Beberapa helai bulunya bertebaran di lantai. Burung itu terus terbang ke arah daun jendela yang terbuka, dekat sebuah lemari pajangan. Sosoknya lalu menghilang tertelan cahaya matahari dan bangunan tinggi di luar sana. Lama sekali aku terpaku dengan tatapan kosong ke arah dinding apartemenku yang dicat hijau. Pijakan kakiku berubah ketika angin berhembus melalui jendela yang terbuka itu. Kerai-kerainya ikut bergoyang terkena hembusan.
"Benar-benar bodoh," gumamku memaki diriku sendiri.
"Jadi, mahluk yang selama dua hari ini membuatku ketakutan adalah sosok burung gagak kecil, yang masuk melalui jendela yang lupa untuk kututup."
"Hahaha... bodoh sekali diriku ini. Imajinasi ternyata menakutkanku," kataku sambil tertawa sendiri seperti orang gila.
Dengan langkah gontai, aku berjalan ke arah sofa dan menjatuhkan tubuhku di atasnya. Kulonggarkan ikatan dasi dan kubuka satu kancing kemejaku pada bagian kerahnya. Dengan punggun telapak tanganku, kuseka keringat yang masih tersisa di wajah dan leherku.
“Benar-benar paranoid,” kataku pada akhirnya.









