Saya rasa, saya mengalami penurunan di bab ini. Silakan berkomentar.
"Indonesia, masa sekarang....
Ilyas mematung. Ia menjongkok dan mematung di depan jalan masuk pekarangan rumahnya. Beberapa waktu lalu, ia mendapat sepucuk surat dari Pak Pos. Nama pengirim yang tertera jelas di amplop surat langsung menggerogoti persendiannya. Belum lagi, ketika ia membaca isi surat itu. Ia pun seperti terkena serangan jantung.
“Aku akan pulang ke Indonesia tidak lama lagi. Tunggu aku, ya?”
Sepenggal isi surat itulah yang membuat dirinya semakin panas dingin. Sonia akan pulang dari Australia. Dan seketika itu juga, sebuah bayang-bayang mengerikan langsung menghantui isi kepala Ilyas. Bayang-bayang ketika ia dicekik dan diseret untuk menemani gadis agresif itu ke mana saja. Serta, satu sifat lainnya yang membuat Ilyas bergidik jika mengingat hal tersebut.
“Semoga berpisah delapan tahun, membuat Sonia berubah,” batin Ilyas.
Sementara di rumah, tiga orang temannya dibuat heran. Ake, Ikam, dan Andiev mengintip dari pintu yang terbuka lebar. Kepala Andiev muncul di paling bawah. Sementara Ake, berada paling atas.
“Sudah setengah jam lebih dia menjongkok di depan sana. Apa tidak pegal?” komentar Ikam.
“Mungkin, ada yang ia tunggu?” tebak Ake.
“Pemuda kurang pergaulan seperti dia punya janji dengan siapa?”
Ake garuk-garuk kepala.
“Biar aku yang tanya.” Andiev beranjak. Dengan kurang lebih sepuluh langkah, ia sudah berada tepat di samping kiri Ilyas. Segera ia menegur pemuda itu, “Abang sebenarnya sedang apa? Ada yang ditunggu? Kalau ada yang ditunggu, lebih baik Abang menunggu di dalam rumah, jangan menjongkok seperti pajangan di tepi jalan.”
“Haah...!” Gadis usia SMP itu hanya dibalas helaan napas. Ilyas terlalu sakit kepala untuk menjawab. Dan setelahnya, ia lebih memilih berdiri, kemudian meninggalkan Andiev yang masih menatap heran. Ia menuju kamar.
Hingga malam hari. Di kamar yang sederhana, Ilyas hanya duduk menyendiri di depan meja belajar. Suasana yang cukup hening, ternyata tidak dipergunakan untuk meneliti beberapa lembar isi sebuah buku, seperti malam-malam yang lain. Ia malah lebih menikmati untuk memutar ulang kenangan-kenangan pahit bersama pemilik kalung yang kini menggantung di tangannya. Bandul kalung yang membentuk kata “Si” itu sesekali terlihat memancarkan cahaya berwarna perak. Kerlipannya bagai menghipnotis Ilyas untuk kembali ke masa ketika ia masih mengenakan seragam putih merah, delapan tahun lalu.
Sonia mendatanginya di kelas. Ia membawa kabar bahwa ia akan segera pindah ke Australia. Sekeluarga. Namun ia berjanji, suatu waktu nanti akan pulang kembali ke tanah air.
Ia menarik sesuatu keluar dari bajunya. Gadis kecil itu mengenakan kalung, kalung yang berbandul “Si”. Ia lepaskan dan ia serahkan kepada Ilyas, seraya meminta untuk menjaga kalung berwarna perak tersebut. Ia ingin benda kesayangannya diserahkan kembali ketika ia suatu nanti pulang. Benda itu sebagai pengingat dirinya bagi Ilyas.
“Si? Bukankah ini lambang silikon?” komentar Ilyas kecil.
“Kata siapa?”
“Kataku dan kata buku Kimia anak SMA.”
“Kamu itu anak SD. Untuk apa baca buku anak SMA?”
“Iseng.”
“Sudah! Ini bukan lambang salmon....”
“Silikon....”
“Terserah. Yang pasti, ini adalah singkatan nama kita. S – I. Sonia dan Ilyas.”
“Kenapa hurufku kecil?”
“Terserah hatiku, dong. Bukankah aku yang memiliki kalung? Sudah! Lebih baik kita ke kantin. Yuk?” Diseretnya Ilyas keluar dari kelas.
Tersadar dari lamunan masa kecilnya, Ilyas menaruh kembali kalung itu ke dalam laci. Kemudian, ia mengambil surat Sonia yang tergeletak di atas meja. Kali ini, ia memikirkan bagaimana nasibnya jika gadis itu jadi pulang ke tanah air.
“Haaah...!”
“Sebenarnya, surat itu dari siapa? Mengapa dari tadi dipegang terus?” Suara Ikam mengagetkan Ilyas. Ilyas menoleh.
“Ka..., kalian?”
Andiev merebut surat itu. “Wow! Dari Australia. Pengirimnya bernama Sonia. Pacar Abang, ya?”
“Bukan!” Ilyas berhasil mengambil alih surat itu sebelum isinya diketahui oleh Andiev. Ia simpan di laci.
“Kalau begitu, siapa?” tanya Ikam.
“Cuma teman!”
“Cuma teman? Sejak kapan?”
“Sejak dulu.”
“Dulunya kapan?”
Ilyas diam sesaat, lalu menjawab, “Sejak kecil....”
“Ini orangnya, ya?” Andiev memperlihatkan selembar foto.
“Dari mana kamu dapat?” Ilyas hendak merebutnya kembali. Namun, terlebih dahulu berpindah ke tangan Ake.
“Dari laci....”
“Kamu punya teman kecil, kenapa tidak pernah memberi tahu?” Ake memperhatikan barang hasil rampasannya.
“Karena kalian tidak pernah bertanya. Lagi pula, kami sudah tidak bertemu lagi sejak delapan tahun lalu.” Tangan Ilyas meluncur bagai kilat.
“Lama sekali...,” simpul Ake. Foto itu bergerak lebih cepat ke tangan Ikam.
“Bagaimana kau bisa mendapatkan fotonya?” Pertanyaan dari Ikam semakin membuat Ilyas serasa diinterogasi.
Ilyas terpaksa menjawab, “Dia yang mengirimkan kepadaku. Katanya, agar aku tahu bahwa yang nanti datang adalah dia.” Tangan Ikam selalu lebih lincah menghindar dari tangan Ilyas.
“Jadi, dia mau pulang ke Indonesia?”
“Hem!”
“Dan sekolah di sini? Satu sekolah dengan kita?” Ake dan Andiev kepergok membaca surat dari Sonia. Buru-buru, Ilyas rebut dan disembunyikan ke tempat asal.
“Itu rencananya. Sudah! Jangan tanya-tanya lagi! Jika aku ingat dia, aku bisa merinding!”
“Masih belum hilang juga?” Kening Ikam berkerut. “Ngomong-ngomong, apa yang membuatmu takut terhadap gadis semanis ini?”
Foto itu berpindah ke tangan Andiev.
“Sifatnya.” Ilyas berhasil mengamankan benda itu ke dalam laci.
“Galak, ya?” Ake melirik Andiev yang sedang cemberut.
Andiev balik melotot. “Apa?”
“Bukan...,” jawab Ilyas.
“Lalu?”
“Dia suka menempel kepadaku. Aku takut sifatnya itu tidak berubah sampai sekarang.”
“Oh...!” Teman-temannya mulai mengerti.
“Kalau begitu, daripada membuatmu takut, lebih baik fotonya untuk kami!” Dengan cepat, Ikam membuka laci dan melarikan foto itu ke luar kamar.
“Eh, tunggu! Kami juga mau lihat!” Andiev dan Ake mengejar. Mereka meninggalkan Ilyas.
Sesaat, suasana hening. Ilyas yang kembali menyendiri hanya dapat tertunduk, hingga kepalanya menyentuh meja.
***
“Masih memikirkan surat itu, ya?” Ake dan Ikam lagi-lagi datang untuk membuat kaget. Ilyas yang merasakan kepalanya pening berat, segera mendongak.
“Ti..., tidak,” sangkalnya.
“Jangan bohong. Dari wajahmu saja sudah tergambar jelas bahwa kau sedang merasa bingung,” sambut Ikam.
Ilyas mendesah.
“Kami heran, bagaimana kau bisa seperti ini?” Ikam menemani Ilyas duduk. “Ah, sudahlah! Sekarang, kami punya kabar untukmu.”
“Kabar apa?”
“Ada murid baru di sekolah kita. Seorang siswi.”
“Iya, Yas,” timpal Ake. “Banyak murid di sekolah ini yang tadi mengerubungi jendela kantor kepala sekolah untuk melihat siswi itu. Aku dan Ikam juga ikut mengintip. Tapi sayang, kami tidak sempat melihat dengan jelas. Kami ketahuan oleh guru dan langsung dipinta untuk bubar,” tuturnya pula dengan nada sok serius.
“Lalu..., kenapa kalian cerita kepadaku?” Sedikit banyak, Ilyas merasa khawatir. Jangan-jangan, yang dimaksud adalah sahabat kecilnya yang pulang dari negeri kanguru.
“Sebenarnya, kami hanya ingin bercerita saja.” Ake terlihat kurang bersemangat. “Kami sangat kecewa ketika tahu bahwa siswi baru tersebut bukanlah Sonia. Dia berasal dari Bogor.”
Sekarang, Ilyas yang merasa lega. “Hei, tidak mungkin Sonia. Karena suratnya sendiri baru kuterima kemarin.”
Ikam beranjak. Ia dan Ake duduk di kursi belakang.
“Kenapa justru kalian yang lesu?” Tubuh Ilyas melintir mengikuti mereka.
“Jika bukan Sonia, itu berarti kami harus menunggu lebih lama lagi. Kami sangat ingin berteman dengan orang yang pernah tinggal lama di negeri bule.”
“Dan mengajari kami bahasa asing,” sambung Ake. Ilyas menggeleng-geleng. Sifat orang desa di kedua temannya ada waktunya terlihat kental.
Bel tanda masuk berbunyi, disusul Bu Guru yang segera memasuki kelas. Beberapa murid yang masih bergentayangan, sontak berpacu agar tidak mendapat sanksi dari wanita muda itu. Setelah dirasa kelas agak hening, ia pun menyampaikan kabar yang telah diketahui hampir semua anak didiknya.
“Pagi ini, kita kedatangan teman baru yang akan belajar bersama kita di kelas ini. Ibu akan memperkenalkannya kepada kalian.”
Dan siswi tersebut dipersilakan masuk. Sederet langkah ringan membelalakkan tiga pasang mata. Senyum itu, mata itu. Gadis dengan rambut tergerai itu persis seperti yang tergambar pada foto yang kini berada di tangan Ikam.
“Namaku Sonia Windya. Teman-teman bisa memanggilku Sonia atau Nia. Salam kenal.”
Ilyas benar-benar mematung.
“Nah, Sonia. Sekarang, kamu bisa duduk di samping Dimas.” Bu Guru menunjukkan satu-satunya tempat yang lowong. Letaknya di sebelah kanan baris meja Ake dan Ikam.
Sonia sudah beranjak, tetapi segera berhenti. Kedua pemuda tersebut mendadak bergerak menarik teman duduk Ilyas. Mereka menyuruh anak itu menggantikan Sonia.
Dimas sendiri setuju saja jika teman duduk Ilyas kini menjadi teman sebangkunya, tetapi anak itu tetap berkeras untuk tidak pindah. Baru setelah dengan acara berbisik-bisik, akhirnya teman duduk Ilyas bersedia juga untuk dipindah. Namun sebelum acara hijrahnya terlaksana, sempat terjadi pula acara tarik-menarik antara Ilyas dengan Ake dan Ikam. Mereka memperebutkan teman duduk. Ilyas keberatan temannya itu direlokasi.
Tapi, dua lawan satu. Ilyas kalah. Dia akhirnya harus bertetangga dekat dengan Sonia. Sementara itu, Ake dan Ikam senang karena usaha mereka berhasil. Dan berkat jasa mereka pula, mereka berdua dikomentari Bu Guru dengan ucapan, “Ibu rasa, kalian mengerjai Ilyas.”
Sepanjang jam pelajaran, Ilyas merasa tak nyaman di dekat siswi yang bernama Sonia tersebut. Isi kepalanya masih dihantui oleh pengalaman bersama orang yang bernama serupa. Namun ketika menatap ke arah wajahnya, rasa was-was yang ia rasakan menjadi sedikit berkurang. Tidak ada gelagat agresif yang tampak. Tetangganya hanya fokus kepada pelajaran yang diajarkan guru di depan. Cukuplah untuk membuat ia bersyukur dan menghela sedikit lega.
Begitu istirahat tiba, Ilyas semakin bahagia. Tetangganya sibuk menyambut warga seisi kelas yang ingin berkenalan. Ia pun diam-diam pergi dengan membawa sebuah pikiran. Anak itu mungkin hanya kebetulan saja memiliki nama dan wajah yang mirip dengan Sonia-nya. Toh, ia tidak berasal dari benua tetangga. Ia pindahan dari sebuah sekolah di daerah Jawa Barat.
***
Jam sekolah telah usai. Kelas telah sepi. Hanya beberapa murid yang tertinggal. Ilyas tinggal selangkah mencapai pintu untuk meninggalkan kelas. Sebuah panggilan dari seseorang membuatnya terhenti dan menoleh.
Ilyas merinding. Orang yang menyapa adalah Sonia. Gadis itu berjalan mendekat.
“Kau melupakanku?” tanyanya dan langsung menggiring Ilyas ke tempat parkir sekolah. Ia menghampiri sebuah mobil. “Aku harap, kau menerima suratku yang terakhir sekaligus fotoku.”
“Jadi, kau benar-benar Sonia?”
Gadis dengan bola mata berbinarnya ini menatap Ilyas. “Aku rasa, aku telah menyebutkan namaku dengan jelas sewaktu perkenalan tadi.”
“Tapi..., bukankah kau dari Bogor?”
Sonia tersenyum. Ia bersiap membuka pintu mobil. “Sebenarnya, aku sudah tiga bulan meninggalkan Australia dan bersekolah di Bogor. Aku tinggal bersama Nenek. Hitung-hitung, memperbaiki bahasa Indonesiaku. Bayangkan, delapan tahun aku harus hidup di luar negeri. Hidup di antara tetangga yang pandai memelintir lidah dengan bahasa Inggris versi Australia.”
“Bagaimana dengan suratmu? Aku baru menerimanya kemarin.”
“Sengaja aku kirim telat. Aku meminta Ayah yang mengirimkan.”
“Sa..., satu hal. Bagaimana kau bisa mengenaliku?”
Pintu mobil dibuka. “Terima kasih telah memberi tahu alamat sekolahmu. Jadi, aku hanya tinggal bertanya pada para guru. Aku jengkel karena kau tidak pernah mengirim fotomu.”
***
Sebuah mobil melintasi Ake dan Ikam yang berjalan pulang. Keduanya mengernyitkan dahi. Karena setelah agak jauh, mobil yang melintasi mereka malah berjalan mundur menghampiri.
“Mau ikut?” Sonia keluar dari mobil. Kedua pemuda yang ia ajak hanya saling toleh.
“Kalian teman Ilyas, kan?”
Keduanya mengangguk.
“Kalau begitu, ayo! Ilyas meminta kalian untuk ikut.”
“Yang benar?” Ake masih merasa sangsi.
“He-e!”
Setelah masuk mobil, suasana menjadi riuh. Sudah ada Ilyas yang duduk seperti pajangan. Kaku. Posisi duduknya tepat di samping Sonia.
“Eh, Ilyas. Selamat, ya? Maaf, kami meninggalkanmu.” Keduanya terkekeh. Mereka memang sengaja mengerjai Ilyas. Begitu bel pulang berbunyi dan Pak Guru melenggang keluar, mereka sudah melejit meninggalkan kelas.
Roda mobil bergerak. Sonia memutar setir ke sebuah jalan. Dan tak lama, mereka pun berhenti di depan pagar sebuah rumah. Ake dengan suka rela membuka gembok yang mengaitkan pagar. Ia juga yang menyeret anyaman batang dan lempeng besi itu, hingga memberi celah bagi mobil Sonia.
“Ini rumahku....” Sonia mengajak ketiga tamunya untuk masuk. Hawa dingin segera mengergap dari dalam rumah. Ruangan yang luas membentang memenuhi mata mereka.
“Besar sekali....” Ake dan Ikam mendongak. Mata mereka menerawangi seisi rumah.
“Dari luar memang terlihat sudah megah. Dilihat dari dalam, semakin wah...!” Mata mereka tersangkut pada beberapa untai lampu kristal. Benda serupa kaca itu menggantung tinggi di langit-langit. Beberapa ventilasi pendingin ruangan juga terlihat menempel di dinding.
“Lantainya porselen....” Bola mata Ake semakin berbinar. Ia dapat membandingkan rumah Ilyas – tempat ia tinggal – dengan rumah yang didiami Sonia. Tidak ada lantai kayu di sini.
“Kau... tinggal dengan siapa di sini?” Ilyas akhirnya bersuara.
“Tidak dengan siapa-siapa. Hanya aku dan dua malaikat yang ada di pundakku.” Sinar di mata Sonia sedikit berkurang. “Ayah terlanjur membeli rumah ini dan aku tidak dapat berbuat banyak. Ia hanya berpesan, 'Jika ingin keamanan, sewa saja satpam. Jika ingin kebersihan, gaji saja pembantu'. Huh...!”
Tak sampai sepuluh menit, Sonia sudah kembali duduk di belakang setir. Ilyas meminta pulang. Dan Sonia tidak tega jika Ilyas berjalan kaki. Kata Ilyas, ia harus memperbaiki plavon kamar yang bocor. Ia juga sempat mengingatkan Ake dan Ikam. Pintu dan bak kamar mandi yang rusak telah menanti mereka.
Dan esok hari. Warga seisi sekolah, mulai dari siswa-siswi sampai dewan guru, tercengang menyaksikan sesuatu yang mereka anggap langka. Ilyas yang memiliki ruang lingkup pergaulan terbatas, mendadak dekat dengan Sonia, si anak baru. Dan mulailah ada sapaan dan siulan yang bernada menggoda. Sementara Ilyas risih, Sonia cuek saja.
***
Sore itu, Sonia bertandang ke rumah Ilyas. Di halaman, tampak Ake dan Ikam sedang bermain lompat tali dengan Andiev. Mereka menggerutu soal tinggi badan. Andiev dengan tubuh agak mungil dari mereka, paling lama melompati tali. Gadis itu tidak mudah terjerat. Sedangkan mereka?
Nyaris, keduanya berkelahi dengan Anidev. Masing-masing hendak saling cekik. Keduanya berbuat curang. Putaran tali mereka percepat, hingga kaki Andiev tersangkut. Pada saat batang leher Andiev terancam, Sonia menyapa.
“Eh, Sonia...!” Keduanya sontak berwajah manis.
“Siapa, tuh?” Andiev malah bertampang curiga.
Maksud kedatangan Sonia sudah dapat ditebak. Ia mampir untuk menemui Ilyas. Ketiga orang yang ia jumpai di halaman depan segera menggiringnya ke halaman belakang rumah. Di sana, ada Ilyas yang sedang mengambil air dari sumur.
“Ilyas!” Sonia menyapa. Ilyas yang tengah membungkuk segera menoleh. Tangannya memegang tali ember, dan ember yang penuh air berada tepat di atas kepala.
Karena kaget melihat siapa yang datang, tali ember yang ia genggam terlepas. Ember yang sarat air pun menghantam kepalanya. Tak ayal lagi, Ilyas terjatuh ke dalam sumur.
***
Sonia mengetuk pintu kamar Ilyas. “Ilyaaas...!” panggilnya.
“I..., iyaaa!” balas Ilyas dari dalam kamar. Ia baru akan mengenakan baju. Gara-gara kaget mendengar panggilan Sonia, acara mengenakan baju yang seharusnya mudah, mendadak berubah menjadi sangat sulit.
“Maaf, ya?”
“Ti..., tidak apa-apa!”
“Yang benar?”
“I..., iya!”
“Yas!”
“A..., apa?”
“Jalan-jalan, yuk?”
“Ke..., ke mana?”
“Ya..., ke mana saja. Pokoknya ke luar.”
“Tidak!”
“Kenapa?”
“Ya..., tidak!”
“Yang lain ikut, lho.”
“Pergi saja.”
“Yas, kalau tidak ada kamu, jadinya tidak seru.”
“Tapi, di luar mendung, sepertinya akan hujan. Dan aku juga rasanya masih trauma gara-gara kejadian tadi. Kepalaku pusing.”
“Yas...!” Sonia membuka pintu kamar. Ilyas yang masih mencoba mengenakan baju kembali kaget, begitu pula Sonia yang segera menutup mata. Sementara gara-gara kaget itulah, Ilyas akhirnya berhasil mengenakan bajunya dengan benar. Sebelumnya, ia selalu memasukkan kepala ke lubang lengan baju.
“Maaf...!” lanjut Sonia.
“Ti..., tidak apa-apa.”
Sonia membuka mata dan kembali berbicara, “Bukankah kita akan menggunakan mobil?”
“Aku tidak berminat. Maaf....”
“Ayolah, Yas. Sekali iniiiii saja. Ini, kan, malam Minggu. Ya?”
“Bagaimana, ya...? Tidak bisa.” Ilyas menggeleng.
“Sebenarnya, apa, sih, yang membuatmu tidak bisa?”
“Ng....”
“Aku tahu anak itu. Dia tidak suka berkeliaran ke mana-mana.” Ake yang baru datang mengambil alih jawaban.
“Berkeliaran? Memangnya drakula?” Suara Sonia terdengar aneh dengan mulut sedikit membuntal.
“Oh iya, bagaimana kalau kita ke rumah Bang Edi?” susul Ikam.
“Rumah Bang Edi? Untuk apa?” tanya Ake.
“Masih ingat dengan masalah yang pernah kita diskusikan beberapa hari lalu?” Ikam melirik Ake. Sesaat, sorot mata kedua pemuda tersebut beradu, lalu masing-masing tersenyum penuh makna. “Bukankah hal ini sudah kita rencanakan semenjak seseorang datang ke rumah ini?”
Nyaris keduanya tertawa lebar, andai saja Sonia tidak menegur.
“Hal apa?”
“Rahasia.... Yang penting, kau mau mengantar kami. Jika Ilyas tetap tidak mau ikut, lebih baik ditinggal saja. Untuk apa repot?”
“Tidak!” Dengan gerak kilat, Sonia merangkul lengan Ilyas.
“Bagaimana denganku?” Semua menatap Andiev.
“Tentu, kau harus ikut!”
***
Ilyas benar soal langit yang mendung. Ketika mereka melewatkan kaki dari pintu rumah, langit malam menyambut dengan aura gelap yang berbeda dari langit malam yang cerah. Angin yang berhembus juga cukup membawa aroma air, menandakan bahwa hujan lebat akan turun jika awan-awan mendung itu sudah tidak mampu lagi membawa tubuh mereka yang gempal.
Tapi, toh, mereka menggunakan mobil. Tidak masalah selama yang turun bukanlah hujan batu atau puting beliung.
Dalam perjalanan, Sonia menyinggung perihal gadis remaja yang tinggal bersama mereka. Ia menanyakan kepada Ilyas apakah Andiev adalah adiknya. Selama ini, Ilyas tidak pernah bercerita kalau ia sudah memiliki adik. Kalaupun memang benar Andiev – seperti yang ia maksud – adalah adiknya, rasanya mustahil untuk sebesar sekarang.
“Iya, umurku sudah tiga belas tahun,” sela Andiev. “Mustahil Bang Ilyas sudah punya adik seumuranku. Padahal delapan tahun lalu, Kak Sonia meninggalkan Bang Ilyas tanpa adik.”
Sonia mengangguk-angguk.
“Lalu, kau anak siapa? Anak tetangga? Sudah minta izin dengan orang tuamu belum?” Mendadak, Sonia menginjak rem.
“Aku kabur dari rumah. Untuk apa aku minta izin dengan mereka? Lagi pula, rumahku sangat jauh dari sini.”
“Kabur dari rumah?”
Andiev mengangguk pelan. “Aku sudah tidak tahan dengan orang tuaku. Setiap hari, pekerjaan mereka hanya bertengkar. Tidak pernah damai.”
“Kami menemukan ia tertidur di teras rumah. Padahal, semalaman hujan turun begitu lebat. Kau memang anak yang malang....” Ake membelai rambut Andiev. Andiev hanya melirik dengan sorot mata curiga. “Oh iya, di mana kau menyimpan koper besarmu itu?”
“Apa pedulimu menanyakan hal itu?” Andiev mulai sewot.
“Oh....” Mobil mulai bergerak pelan. “Eh! Kalian masih belum memberi tahuku. Sebenarnya, apa tujuan kita pergi ke rumah orang yang.... Siapa namanya?”
“Bang Edi.”
“Ya. Mengapa kita ke sana?”
“Ini berkaitan dengan Andiev.”
Andiev menjeling. “Denganku?”
“Ya! Kami ingin menitipkan Andiev di rumah Bang Edi. Karena jika terus di rumah kami, kami takut orang tuanya nanti akan menuduh yang bukan-bukan. Jika di rumah Bang Edi, resiko tersebut setidaknya dapat dikurangi. Karena di rumahnya, ia mengasuh anak-anak seperti Andiev.”
“Rumah itu panti asuhan?”
“Dulunya iya, tapi sekarang tidak.”
“Memangnya, aku yatim piatu? Orang tuaku, kan, masih lengkap.” Andiev menggerutu.
“Bagaimana dengan kalian?”
“Kami?” balas Ikam ragu.
Sonia sedikit mengangguk. “Sudah lama kalian tinggal di rumah Ilyas? Aku baru tahu bahwa kalian satu rumah. Sebelumnya, kalian tidak pernah cerita. Beberapa kali aku mengantar kalian pulang, kalian hanya meminta turun jika sudah sampai di depan rumah Ilyas.”
“Kami minta maaf. Soal sudah berapa lama, mungkin sekitar dua tahunan. Kami tinggal bersama semenjak bersekolah di SMA. Kami berasal dari desa orang tua Ilyas. Orang tua kami bersahabat.”
“Orang tua Ilyas yang membiayai kami!” sambar Ake.
“Oh iya, orang tuamu di mana? Tadi, mereka tidak terlihat.” Giliran Ilyas yang mendapat pertanyaan.
“Ha? Apa?” Ilyas yang duduk di samping Sonia hanya membalas kaget.
“Sebaiknya, jangan tanya dia!” Ikam menganjurkan. “Orang tuanya sudah lama pindah ke desa. Mereka mengurus tanah warisan sang kakek.”
Sonia mengangguk-angguk. Setir kemudian ia putar begitu mencapai sebuah persimpangan. Dua sahabat Ilyas lebih berguna untuk membimbingnya sampai di pekarangan sebuah rumah. Kali ini, rumah yang mereka sambangi sedikit lebih kecil dari rumah Sonia.
***
“Nggaaaaak!” Andiev memekik. Ake dan Ikam mengangkatnya dari mobil dan menjejakkan kakinya di teras rumah Bang Edi. Gadis itu mereka perlakukan seperti bocah delapan tahun.
“Ini adalah rumah barumu.” Ikam mendapati wajah Andiev yang bertekuk-tekuk.
“Ya!” timpal Ake mantap.
Andiev marah berat. Ia merajuk. Ia ingin kembali ke dalam mobil. Tetapi, Ake dan Ikam lagi-lagi mengangkat tubuhnya dan kini menahannya. Takkan membiarkan ia lari ke mana pun.
“Bagaimanapun juga, kami akan tetap mengirimmu ke sana.”
“Kalian mengusirku...?”
Sang tuan rumah datang tanpa perlu dipanggil. Keributan kecil tersebut membuat ia ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
“Oh, kalian rupanya. Ada apa?” Bang Edi menyambut ramah. Ia telah cukup mengenal Ilyas, Ake, dan Ikam. Ketiganya sering bertandang untuk sekadar bermain dengan anak-anak yang ia asuh.
“Ah, tidak ada apa-apa. Ini, Andiev....!”
“Nggaaaaak!” Andiev langsung menyela ucapan Ikam dengan teriakannya.
***
Hujan turun begitu lebat. Di sebuah jalan, di bawah terpaan hujan di tengah temaramnya suasana malam, berdiri Alisya dan Gaya. Napas mereka memburu. Terengah-engah setelah meninggalkan mobil hanya untuk berlari beberapa ratus meter. Mereka mengejar sosok yang kini tengah berdiri tegap di hadapan mereka. Orang itulah yang selama ini mereka cari.
Astro menyeringai dengan senyumnya yang khas. Senyum yang timbul jika ia sangat yakin dapat melalui halangan yang ia temui. Setidaknya, ia telah berhasil kabur berkali-kali dalam percobaan penangkapan atas dirinya. Ia tersenyum dan begitu saja ia lepas. Kali ini pun, ia telah merasakan aura sukses untuk kembali menghilang.
“Hentikan senyum bodohmu itu!” ejek Alisya. “Malam ini, aku ingin kau bertanggung jawab atas semua tindak tanduk yang telah kau perbuat.”
Astro sepertinya tidak peduli dengan ancaman Alisya. Ia hanya tertawa kecil, kemudian membalas, “Sungguh disayangkan. Keadaan romantis seperti ini lagi-lagi harus ternoda oleh perseteruan di antara kita. Sudah terlalu sering kita merusak suasana seperti ini, bukan?”
“Ya. Dan sebelum yang terakhir waktu itu, enam bulan lalu, kau membuat Gaya harus menerima injeksi fibernetik generasi kedua.”
“Bukankah itu bagus? Ia menjadi lebih kuat. Aku sudah mendapat bogem mentahnya dua minggu lalu. Ia hampir sekuat dirimu,” puji Astro.
“Tapi setidaknya, aku tahu bahwa temanku tidak selicik dirimu. Memanfaatkan fibernetik untuk tindak kejahatan. Aku yakin, benda itu masih mengalir di tubuhmu.”
Dan adu fisik seperti biasa pun tak terelakkan. Alisya terlempar belasan meter, setelah gagal menahan sebuah serangan dari Astro. Gaya yang turut membantu, dibuat pula kewalahan dengan serangan tangannya yang begitu cepat, hingga akhirnya turut tersungkur.
“Ia telah banyak berubah. Fibergen3 membuatnya lebih kuat...!” Terdengar Alisya menggeram, sebelum akhirnya bangkit kembali dan menyerang.
Gaya mengaktifkan fitur komunikasi gelangnya. “Kalian ada di mana? Kami perlu bantuan!”
“Bertahanlah. Kami dalam perjalanan!”
“Kami tidak dapat menunggu lebih lama!”
Fibernetik yang masih tertanam di tubuh Astro, membuat pria itu lebih unggul dalam segala hal dalam pertarungan tersebut. Serangannya gesit dan bertenaga. Lagi-lagi, Gaya harus merasakan tubuhnya beberapa saat tidak menyentuh tanah. Ia berhasil dihajar hingga melambung di udara, kemudian disambut ayunan kaki dari Astro yang membuat ia menghempas sebatang pohon. Begitu kerasnya, hingga menggugurkan beberapa helai daun pohon beserta deru sesaat tetesan air.
Alisya juga berhasil dipukul hingga kembali terlempar. Kini, ia melesat jauh dan menghantam bagian belakang mobil Sonia yang melintas. Mobil sedan yang terobos sempat berputar.
Semua mata di dalam mobil, menyaksikan Alisya bangkit di bawah terpaan hujan. Belum tegak berdiri, ia sudah memacu langkahnya ke arah seseorang di depan sana. Mereka bertarung habis-habisan. Hingga akhirnya, Alisya terlempar jauh dan sempat membentur atap mobil Sonia cukup keras. Tubuhnya berguling-guling di jalan untuk beberapa meter, lalu berhenti.
Tahu bahwa lawannya sudah tidak berdaya, Astro kembali tersenyum dan beranjak dari arena pertarungan. Ia meninggalkan Alisya dengan tubuh tergeletak di jalanan. Gadis itu tidak mampu lagi untuk berdiri, bahkan sekadar untuk mengangkat kepala. Sementara Gaya yang terduduk lemas di bawah pohon, hanya dapat membiarkan orang itu kembali lepas dari kejaran mereka.
Bersusah payah. Gaya menggerakkan tangan kanannya untuk menggapai komunikator di pergelangan tangan kiri.
“Astro kabur.... Segera kejar dia sebelum terlambat....”
“Bagaimana kondisi kalian?”
“Aku pastikan, aku baik-baik saja. Cepat, kejar dia...! Sebar seluruh anggota! Aku sudah kehilangan jejak....”
---
Penjelasan untuk beberapa istilah dalam cerita ini ada di Kisah Bagian Glosari.
dikirim dirgita 37 minggu 4 hari yang laluTag:









