Ini adalah salah satu bab panjang di Kisah. Berhati-hati membaca, karena bisa membuat mata iritasi. Sekadar menyimpan di komputer lokal karena tidak sempat membaca online, dipersilakan. Saya menunggu komentar dari teman-teman.
"“Bagaimana tidurmu? Nyenyak? Ingin teh?” Sonia hanya berpaling sekilas ketika seorang gadis tiba di dapur dan menyapa orang-orang di tempat itu dengan ucapan selamat pagi. Selanjutnya, Sonia menuang teh ke dalam dua buah cangkir.
“Agak baikan...,” sahut Gaya. Ia merangkul dirinya sendiri. Hingga pagi ini, tubuhnya yang dibalut setelan tidur milik Sonia itu masih terasa remuk. Masih agak sakit apabila digerakkan. Setidaknya, masih lebih baik daripada semalam. Ia harus bergerak dengan tubuh bagai kerangka besi kekurangan pelumas. “Apakah itu teh hangat? Bolehlah....”
“Oke....” Sonia menarik satu cangkir dan mengisi hampir penuh dengan air teh dari sebuah teko.
“Aku ingin berterima kasih atas pertolongan kalian. Maaf, jika membuat kalian repot,” lanjut Gaya.
“Tidak.... kami tidak merasa repot. Hanya saja, kami ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Cangkir itu Sonia sodorkan pada Gaya. Sementara satu cangkir lain, ia unjukkan pada Ilyas dan sisanya untuk ia nikmati sendiri. Ake dan Ikam yang juga ada di dapur tidak mendapat jatah, karena mereka sibuk sebagai juru masak. Ilyas dan kedua temannya tersebut terlanjur menginap di rumah Sonia. Semalaman hujan turun begitu lebat disertai angin kencang.
“Dan tulisan DINA yang tercantum di tiap pakaian kalian. Ada maknanya?”
“Mm....” Gaya berusaha berhati-hati dalam menjawab. Namun, ia tergolong gadis yang ceplas-ceplos. Ia katakan saja bahwa DINA adalah akronim dari Divisi Gerakan Cepat. Ia dan Alisya adalah anggotanya. Sementara orang yang mereka lawan semalam, adalah penjahat yang telah lama mereka incar.
DINA sendiri adalah sebuah divisi dari Kepolisian Republik Indonesia. Divisi ini dibentuk untuk menangani masalah keamanan bersifat riskan begitu masalah tersebut muncul.
Selain itu, ada divisi lain yang sifat kerjanya lebih memasyarakat. Divisi Pelayanan atau DIAN. Divisi inilah yang paling sering mengadu kepada DINA jika mendapatkan kasus yang agak besar. Dan jika kasus itu juga tidak dapat ditangani oleh DINA, maka polisilah yang akhirnya turun tangan.
“Wow...! Aku baru dengar bahwa ada yang seperti itu,” komentar Ikam. “Yang kami tahu selama ini, hanyalah keberadaan reserse, unit gerakan cepat, atau unit buru sergap.”
“Yah..., itu, kan, di masaku. Tidak di masa kalian,” sahut Gaya lancar.
“Masamu?”
“Ah..., maksudku..., masa kerjaku. Sekarang, kinerja polisi diplot sedemikian rupa. Dan karena sedemikian rupa itu, dua divisi bentukan polisi telah merasa agak berbeda bahkan tidak menganggap diri mereka sebagai anggota polisi lagi. Tragis, bukan?”
“Pantas..., aku tidak melihat ciri-ciri polisi pada dirimu.” Ikam lagi-lagi berkomentar. Ake mengangguk-angguk mengiyakan. “Maaf, jika terdengar lancang, tapi untuk memanggil dengan sebutan 'Ibu', rasanya terlalu janggal.”
Gaya menjeling.
“Ya, sampai sekarang kami belum percaya bahwa kau adalah polisi. Bahkan, aku sempat menganggapmu sebagai anak SMA seumuran kami.” Ake menimpali.
Gaya tersenyum. “Tidak masalah. Toh, bukankah sudah kukatakan bahwa kami tidak lagi menganggap kami adalah polisi. Tentu, kami perlu wibawa. Tapi wibawa yang kami maksud adalah bukan karena kami polisi, melainkan karena kinerja yang kami ciptakan.”
Ake membentuk huruf O dengan mulutnya. Terkagum. Sementara Gaya, serasa ingin menampar mulutnya sendiri. Andai tak terlalu banyak bicara....
“Benar kata orang-orang. Aku tidak pantas menjadi polisi....” Gadis itu mengeluh di dalam hati. Dan memang, jika bukan karena kasus Astro, Gaya pasti masih bersama Alisya di Pusat Kesehatan DINA. Awalnya, mereka adalah asisten Dokter Karim. Mereka dimasukkan dalam Unit Pemburu Astro karena terlanjur diinjeksi fibernetik. Mereka terluka dalam insiden yang diciptakan Astro sekitar dua tahun lalu. Karena selanjutnya penggunaan fibernetik dibatasi, juga pihak-pihak terkait memerlukan orang-orang di atas normal untuk membantu dalam menangkap Astro, jadilah mereka direkrut. Hanya diberi pelatihan bela diri ala kadarnya. Tapi mereka berhasil berkembang lebih dari yang dibayangkan.
Gaya khawatir akan terjebak lebih jauh dan menceritakan segalanya. Ia pun membelokkan arah pembicaraan.
“Oh iya, terima kasih pinjaman pakaiannya. Bagus. Dan soal mobilmu itu..., kami minta maaf. Akan kami perbaiki. Kalau perlu, kami ganti.”
“Tidak perlu. Kalian, kan, tidak sengaja.” Sonia menuang teh ke dalam cangkirnya yang telah kosong. “Mungkin, pamanku yang memiliki usaha jual beli mobil bekas pakai bisa diajak tukar tambah. Karena aku yakin, sasis mobil yang hancur sedemikian rupa sangat memakan waktu untuk diperbaiki.” Sonia meneguk habis teh yang baru ia tuang.
“Aku akui, ayahku memang aneh. Ia membelikanku rumah mewah sementara hanya aku yang tinggal. Dan lokasi yang ia pilih, untuk mencapai sekolah aku perlu satu jam berjalan kaki.”
Sonia hendak menghabisi lagi teh yang baru ia tuang. Gaya menatapnya tak berkedip.
“Apa?”
“Ah, tidak...! Aku permisi dulu. Terima kasih tehnya.” Gaya meletakkan cangkirnya yang nyaris kosong dan melejit meninggalkan dapur. Ia hendak menjenguk Alisya di kamar lantai atas.
***
Begitu masuk, Gaya langsung mengomel. “Aduh, Alisya...! Matahari sudah tersenyum, sementara kau masih belum bangun? Malas banget, sih!”
Gaya berkacak pinggang usai membuka jendela di kamar itu. Pelan-pelan, selimut yang menutupi seluruh tubuh rekannya tersingkap hanya menampakkan wajah. Gaya semakin melotot.
“Aku bukannya tidak ingin bangun....” Alisya mencoba duduk dengan wajah yang lusuh. Bibirnya sedikit kehilangan rona merah. “Tubuhku sukar digerakkan...,” lanjutnya.
“Aku juga merasakan hal yang sama, tetapi aku berusaha. Meski sakit....”
“Aku rasa, aku lebih parah darimu. Sebelumnya, aku belum pernah merasakan sakit hingga sukar untuk bergerak seperti ini.”
“Kau bercanda?”
“Sama sekali tidak....”
“Ini pasti karena pertarungan semalam. Lebih baik kita pulang.”
“Jangan! Panggil Dokter Karim saja.”
***
“Sudah kuduga akan begini.” Dokter Karim beralih pada Alisya. Sebuah diagram di monitor laptop sudah cukup memberikan informasi mengenai kondisi gadis tersebut.
Alisya sedikit menoleh. Wajahnya semakin pucat. Namun, ia bertahan untuk tidak membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Ia merasa mual dan lebih memilih bersandar di dinding.
“Maksud Dokter?”
“Efek fibernetik memang hebat. Bisa membuat pemakai maupun mantan pemakainya bisa menjadi lebih kuat. Tetapi, itu tidak menutup kemungkinan untuk kembali terluka. Apalagi, lawanmu sendiri adalah orang yang masih menggunakan fibernetik.”
“Aku juga sudah tahu tentang hal itu. Tapi, rasa sakit ini tidak pernah aku alami.” Alisya merasakan sesuatu merambat di sela-sela ototnya yang terasa terik. Bagai kesemutan, tetapi yang ini lebih menyiksa.
“Tenang, tiga hari lagi juga akan sembuh.” Dokter Karim menutup koper yang telah ia bereskan isinya. “Tapi, akan terasa sedikit atau lebih sakit dari yang kau rasakan sekarang.”
“Tiga hari?” sambut Alisya. “Dokter hanya memeriksaku dan mengatakan bahwa aku akan sembuh dalam tiga hari?”
“Aku sudah mengenal tubuhmu sejak lama. Jadi, aku dapat memprediksi kondisi tubuhmu lebih akurat.”
“Oh..., begitu. Aku pikir, Dokter akan memberiku obat yang dapat menyembuhkanku dalam waktu tiga hari, seperti ketika aku terluka karena insiden itu....” Alisya membuat Dokter Karim mendongak. “Sebenarnya, obat apa yang Dokter berikan? Sebelum pingsan, aku sempat mengetahui bahwa tubuhku penuh luka. Dan tentu luka itu cukup parah, sehingga aku koma selama tiga hari. Jangan pikir aku tidak tahu tentang hal itu. Dan setelah terbangun dari tidurku yang cukup panjang, tubuhku tidak apa-apa. Ajaib, bukan? Seperti masih bermimpi.”
Sebuah setruman serasa menjelar secepat kilat di urat leher. Alisya mendapati indra visualnya terganggu untuk beberapa detik. Seisi kamar seperti penuh oleh kabut.
Dokter Karim mencoba tersenyum. “Sudahlah, jangan dipikirkan. Bukankah lebih cepat sembuh lebih baik? Sekarang, lebih baik kau beristirahat saja.”
“Tapi aku penasaran, Dokter. Obat apa yang Dokter berikan?”
“Hanya obat biasa.”
“Hanya obat biasa, sementara empat rekanku yang lukanya lebih ringan masih terbaring di Unit Perawatan, bahkan Gaya masih memiliki sedikit memar di beberapa bagian tubuhnya. Tidak mungkin.”
“Baiklah, ini adalah obat penemuanku.”
“Fibernetik generasi ketiga...?” urai Alisya hati-hati.
“Ng..., bukan.”
“Mau diberi nama apa lagi, Dokter? Bukankah obat yang Dokter kembangkan untuk menyembuhkan luka dalam waktu relatif singkat diberi nama fibernetik? Atau, ini adalah fibernetik generasi keempat, karena generasi ketiga telah habis dirampas Astro?”
“Setidaknya sekarang, aku tidak berminat untuk mengembangkan generasi keempat.”
“Jadi...?”
“Lebih baik kau beristirahat saja. Kulihat, wajahmu semakin pucat, tetapi matamu semakin merah.”
“Dokter!” bentak Alisya tak sengaja. Rasa sakit yang terasa menjalar ke seluruh tubuh telah menekan hatinya. “Baiklah.... Tidak perlu menjawab, aku juga sudah dapat menyimpulkan. Aku sudah cukup mengenal Dokter selama masih menjadi asisten. Obat itu ada di tubuhku. Dan aku ingin tahu, seberapa besar efek sampingnya. Yang pasti, lebih besar dari fibergen2, bukan?”
“Lima kali...,” sambut Dokter Karim langsung.
“Lima kali...?” Alisya menerawang. Ia mencoba menghitung, tetapi isi kepalanya tidak begitu jernih untuk menyusun angka-angka. Bahkan, matanya semakin memerah dan nyaris terlihat seperti hendak menangis. Ia sudah terlalu lama menahan sakit.
“Efek samping fibernetik itu bisa membuatmu dua ribu kali lebih kuat dari dirimu sebelumnya tanpa fibernetik.”
“Sekuat itu...?” Kedua tangan Alisya mengepal, meremas selimut yang menutup separuh tubuhnya.
“Maaf, Alisya.... Aku tidak punya pilihan. Tapi, tenang saja. Selama obat itu masih di dalam tubuhmu, efek sampingnya tidak akan timbul. Kau terpaksa mengambil pilihan, untuk menyimpannya lebih lama di dalam tubuhmu, meski kau sama sekali tidak ingin seperti Astro yang selalu menyimpan fibernetik di dalam tubuhnya. Hanya saja, pilihan itu akan selalu membuatmu menderita seperti ini ketika mengalami cidera.”
“Begitu, ya...?” Alisya mulai tak fokus. Ia mencerna apa yang dikatakan Dokter Karim, namun terus memaksa saraf di sekujur tubuhnya untuk membendung rasa sakit. Sebisa mungkin, ia ingin mencabut sesuatu yang menjalar di tubuhnya. Mereka menyebar tak terkendali.
Mendadak, Alisya tersurung. Tubuhnya serasa didorong ke depan. Serta-merta saat itu, rasa sakit menusuk-nusuk sekujur tubuhnya lebih kuat. Dokter Karim menjadi cemas.
“Aku berubah pikiran.... Lebih baik, kau kembali ke unit. Tinggal di sini, tampaknya beresiko. Bertahanlah, aku akan memanggil Gaya.”
“Tidak, Dokter...!” Alisya menghentikan Dokter Karim tepat ketika baru saja berbalik. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, dan membuka matanya yang benar-benar memerah dan basah.
“Tidak bagaimana? Yang membuatmu koma selama tiga hari adalah obat itu!” Dokter Karim kemudian meminta Gaya untuk segera ke atas. Mantan asistennya yang tengah asyik berbincang di lantai dasar, segera bergegas meninggalkan sofa.
“Tidak, Dokter....” Alisya masih berkeras dengan wajahnya yang telah basah oleh keringat. “Jika aku kembali ke unit, Veren pasti tidak akan mengizinkanku lagi untuk mengikuti misi ini. Lagi pula..., hanya tiga hari. Tiga hari dan aku pun sembuh.”
“Kondisinya berbeda, Alisya.... Kau sedang tidak berada di Unit Perawatan. Aku tidak bisa mengontrolmu.”
“Setidaknya, aku tidak mengalami luka parah. Hanya luka dalam biasa.”
Gaya datang bersama Sonia dan teman-teman. Mereka berjubel di depan pintu.
“Tiga hari lagi, Dokter. Jika kau ingin, kau bisa menjengukku di sini. Jika belum ajalku, aku pasti sudah sehat. Percaya padaku, Dokter.”
Dokter Karim terlihat berpikir. “Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu padamu.”
“Aku berjanji. Dokter tenang saja.”
Meski Alisya terlihat yakin dengan keputusannya, Dokter Karim tetap ragu untuk meninggalkan kamar itu. Ia pun berpesan pada Gaya dengan suara agak berbisik sebelum benar-benar pergi. “Hubungi aku jika sesuatu terjadi pada Alisya. Tiga hari ini adalah tiga hari yang paling menyakitkan baginya.”
Gaya mengangguk paham. Matanya menyorot langkah Dokter Karim yang kemudian menghilang menuruni tangga. Setelah itu, ia masuk kamar menjenguk Alisya. Sahabatnya itu menunduk menyembunyikan matanya yang berair. Warna merahnya tadi sempat mengagetkan anak-anak itu dan juga Gaya.
“Kakak... sebenarnya sakit apa?” Sonia memberanikan diri untuk bertanya.
“Hanya kelelahan, Nia,” sambut Gaya. Ia pelan-pelan membantu Alisya berbaring.
“Semoga cepat sembuh....”
“Terima kasih....” Alisya membalas terbata.
“Ng..., Kak Gaya. Kami pergi dulu. Aku akan mengantar mereka pulang.” Sonia undur diri.
“Iya. Maaf, kami merepotkanmu.”
“Tidak apa....”
Sonia pun berangkat dengan mobilnya yang ringsek. Beruntung hanya bagian bagasi yang rusak parah, sehingga mesin mobil tidak terpengaruh. Tapi meski begitu, rasanya tidak mungkin ia esok ke sekolah dengan kondisi mobil seperti habis diseruduk banteng. Makanya, sebelum benar-benar beranjak, ia juga sempat memberi tahu bahwa ia akan pulang agak sore. Ia akan ke kota menemui sang paman. Ada urusan mengenai mobil.
Gaya kembali pada Alisya. Ia melihat sahabatnya itu bernapas tersengal-sengal. Keringat seakan mengucur deras dari pori-pori tubuhnya.
“Alisya..., kau sebenarnya kenapa?”
“Tidak apa-apa, Gaya. Kau tidak usah khawatir.”
“Bagaimana aku tidak khawatir melihat kondisimu yang begini? Matamu tadi terlihat begitu merah. Kau demam, sakit mata, atau kenapa?”
“Betul katamu, hanya sakit karena pertarungan semalam. Tiga hari lagi juga akan sembuh.”
“Tiga hari lagi? Dokter memberimu obat apa?”
Mendadak, Alisya kejang-kejang. Kedua tangannya meremas selimut erat-erat. Selama beberapa detik, tubuhnya tersentak hebat. Matanya melebar dengan warna merah membara.
Gaya menjadi kalut. Ia hendak menghubungi Dokter Karim ketika begitu saja Alisya kembali tenang. Kini, Alisya mencoba menata irama nafasnya.
“Rasanya..., seperti ada yang menarik urat-uratku....” Mulut Alisya melontarkan kata-kata, menahan Gaya menekan tombol komunikator.
“Alisya..., kau sebenarnya kenapa? Sakitmu parah kenapa tidak kembali ke unit?”
Alisya tidak menjawab. Ia hanya membiarkan paru-parunya menarik dan menghela napas panjang berkali-kali. Matanya perlahan terbuka dengan warna yang masih menyala. Pelan-pelan, ia mencoba duduk di tempat tidur. Tubuhnya pun semakin basah seakan setengah mandi dengan keringat.
“Kau tidak usah khawatir. Ini hanyalah proses penyembuhan.”
“Jangan main-main, Alisya.”
“Aku tidak main-main. Aku kini mengenakan fibergen3. Obat ini dapat menyembuhkanku dalam tiga hari, obat yang sama ketika aku menjadi korban ledakan waktu itu. Hanya saja, proses penyembuhan dengan obat ini memang sangat menyakitkan.”
“Tiga, Alisya? Jadi, kau sudah menggunakannya? Sejak waktu itu?”
Alisya mengangguk. “Sebenarnya bukan keinginanku, tapi Dokter Karim yang mengambil keputusan. Ia merasa, fibernetik itu adalah satu-satunya cara yang dapat menyelamatkan nyawaku, sekaligus membuatku menjadi mesin penghancur. Bayangkan, Gaya. Fibergen3 efek sampingnya lima kali lebih kuat dari fibergen2. Dengan efek samping sebesar itu, aku sama saja sudah bukan manusia lagi, tapi sebuah mesin!”
“Wow, aku akan lebih berhati-hati jika berada bersamamu.”
Alisya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya tersebut.
“Ah, tapi itu bisa digunakan untuk meringkus Astro, kan? Lima kali. Itu berarti, kau sekarang dua ribu seratus enam puluh kali lebih cepat dan kuat dari dirimu yang dulu.” Gaya memang handal dalam menghitung. Alisya lagi-lagi tersenyum, namun sebentar.
“Ya. Tapi..., selama obat itu ada di tubuhku, efek samping tersebut tidak akan muncul. Dan aku kali ini tidak ingin obat itu keluar dari tubuhku. Kau bisa membayangkan sendiri jika aku sekuat itu. Yang pasti, aku tidak siap dan kau tidak perlu khawatir. Obat itu sudah merenggut beberapa sisi kemanusiaanku. Dan aku tidak ingin kehilangan lebih banyak lagi?”
“Apa yang kau bicarakan?”
“Bertambah kuat, bahkan melebihi manusia normal, apakah masih bisa dikatakan manusia? Secara fisik, kita memang masih manusia. Tetapi secara kemampuan, kita telah berubah menjadi mesin penghancur. Kita monster.”
“Tapi, bagaimana dengan Astro? Aku yakin kalau ia tidak akan mengeluarkan obat itu dari tubuhnya, seperti kebiasaan yang sudah-sudah. Tapi, malam itu ia lebih kuat dari sebelumnya. Aku terlempar lebih jauh dan kau.... Kau juga merasakan perubahan itu?”
Alisya mengangguk pelan. “Tapi, jika obat itu benar-benar sudah keluar, kita mungkin sudah mati.”
“Iya, ya?”
“Ah, sudahlah. Aku ingin ambil minum. Terlalu banyak berkeringat, membuatku haus.” Bagai tak pernah terjadi sesuatu, Alisya melompat turun dari tempat tidur. Langkahnya meski agak goyang, terus ia ayun ke luar kamar. Gaya hanya dapat melongo hingga akhirnya tersadar dan mengejar.
“Hei, kau masih sakit!”
***
Ilyas dan teman-teman telah sampai. Mereka bergegas berlompatan dari mobil. Usai menerima ucapan terima kasih, Sonia segera pamit dan memutar mobilnya. Dalam beberapa detik, ia dan mobil ringseknya segera menghilang.
Baru saja Ilyas dan teman-teman berputar, terdengar klakson mobil dua kali. Bersamaan, ketiganya kembali berbalik menghadap jalan. Sebuah mobil kijang meluncur tenang mendekati mereka. Kendaraan roda empat tersebut pun berhenti tepat di tempat Sonia memarkir mobil sebelumnya.
“Mobil Bang Edi, kan?” bisik Ake. Ia kenal betul mobil berwarna biru di hadapannya. Bahkan, ia juga hapal nomor plat kendaraan bermotornya. Maklum, sudah berkali-kali ia mendapat pekerjaan untuk mencuci mobil itu.
Pintu penumpang terbuka. Seorang gadis mengulurkan kakinya dan turun dari mobil. Ilyas dan kedua temannya serentak memindai dari kaki hingga kepala. Hingga akhirnya, mereka sadar. Gadis yang kini berdiri di hadapan mereka adalah sosok yang mereka kenal. Balutan celana panjang dan t-shirt, telah mengubah sosok Andiev lebih bersifat wanita. Berbeda jauh ketika terakhir kali mereka ingat. Gadis itu selalu mengenakan pakaian dari Ilyas, yang kesemuanya adalah pakaian laki-laki.
“Terima kasih, Bang!”
“Sama-sama....” Bang Edi berlalu.
Andiev berbalik. Dua pasang mata yang sepertinya tidak senang jika ia kembali sudah menyambut. Dapat dipastikan, pasangan mata itu adalah milik Ake dan Ikam. Meski Andiev telah tampil lebih kemayu, bagi kedua pemuda itu, Andiev tetaplah Andiev. Gadis yang galak.
Bukan Andiev namanya, jika ia sendiri tidak bisa cuek. Dengan langkah tenang, ia mendekati mereka dan menarik Ilyas menjauh.
“Kau..., kok..., pulang?” tanya Ilyas hati-hati.
“Ada sesuatu di rumah ini yang tidak bisa aku tinggalkan. Setidaknya, untuk sementara. Aku mohon, Abang mau mengizinkanku lagi untuk tinggal di rumah Abang. Malam iniiiii saja. Ya? Besok, aku berjanji akan segera kembali ke rumah Bang Edi. Tapi..., Bang Ilyas yang harus mengantarkanku. Ya?”
Setelah sesaat berpikir, Ilyas mengangguk.
“Terima kasih!”
***
“Elboria mulai menampakkan taringnya....” Sebuah tajuk berita di televisi memaku tatapan Hein. Proyeksinya ditampilkan dalam ukuran lebih besar daripada ratusan siaran televisi lain di layar raksasa. Ia menemukan layar itu terpajang menghiasi sebuah ruangan diisi penuh orang-orang sibuk berjas putih.
Siaran berita singkat yang tayang tiap satu jam itu, kali ini menyorot pertikaian di ujung utara Benua Eropa. Elboria mengklaim dirinya sebagai sebuah negara. Mereka menguasai separuh daratan Rusia dan tidak ingin Rusia meminta kembali wilayahnya. Sementara bagi Rusia, Elboria hanyalah sekumpulan organisasi yang berkembang di salah satu wilayahnya selama masa penjajahan koloni.
Permasalahan ini mulai mencuat, ketika masing-masing negara mulai menata kehidupan masing-masing. Di bawah kendali sebuah koloni raksasa – Sapphire – selama hampir setengah milenium, rupanya membuat beberapa negara di planet ini mengalami masalah. Terjadi bentrokan yang timbul dari perkembangan di wilayah tertentu selama negara asli kehilangan kuasa. Awalnya, mereka hanyalah kelompok-kelompok kecil yang terbentuk di salah satu wilayah negara bersangkutan. Seiring berjalannya waktu, mereka pun menghimpun kekuatan sekaligus anggota lebih banyak, dari para pelarian serta tahanan buangan. Ketika pola administrasi mulai terbentuk, mereka pun lebih terlihat seperti sebuah negara.
Tak tanggung-tanggung, beberapa di antara mereka juga berani memproklamirkan diri sebagai negara baru. Bahkan, beberapa sengaja diciptakan oleh koloni untuk mempermudah jalur administrasi. Setelah Bumi merdeka usai Perang Kosmik, negara-negara yang terpecah berusaha untuk kembali utuh.
Khusus Elboria, pertentangan itu tampaknya semakin memanas, sementara konflik di daerah lain hanya bergerak di tempat, bahkan terkesan mendingin. Masing-masing pihak mulai berani mengancam dengan kekuatan senjata. Unit jin yang pernah berjaya di masa keemasan koloni sebagai kendaraan tempur paling ampuh, juga akan diseret kembali ke medan perang. Itu artinya, jika perang kembali berkobar, ledakan-ledakan dahsyat dan aliran darah di mana-mana, pasti kembali akan mengisi sejarah kelam kehidupan manusia.
Hein hanya tersenyum simpul menonton berita itu. Seorang pria berjas hitam menjemputnya. Ia kemudian dibawa menyusuri sebuah lorong yang cukup lengang. Hanya beberapa orang, yang lagi-lagi berjas putih, terlihat mondar-mandir. Beberapa mendorong troli, sisanya menenteng papan klip berisi berbagai catatan.
“Ini pesan dari Bos. Setelah kau dapatkan giganium, singkirkan Astro jauh-jauh.” Pria itu melangkah seperti terburu-buru. Hein mencoba mengimbangi.
“Mengapa? Astro adalah orang yang hebat. Ia bisa diandalkan dalam bisnis kita.”
“Astro terlalu hebat. Ia adalah tipe orang yang tidak suka bekerja di bawah kuasa orang lain. Tidak ada yang dapat menebak tindak tanduknya, karena semua kembali pada apa yang ia suka. Oleh karena itu, ia berbahaya.”
“Maksudmu?”
“Bos tidak ingin Astro membantu pesaing bisnisnya. Atau, melabrak kita hanya karena hatinya tidak senang.”
Hein mengangguk kecil. “Tapi, Astro terlalu hebat untuk kusingkirkan. Jangan-jangan, malah aku yang tidak bisa pulang.”
“Kau masih menganggapnya hebat setelah menjalani Program HERCULES?”
“Entahlah, Josh. Kejadian itu membuatku trauma.”
“Aku baru mendengar ada penjahat yang mengaku trauma.” Nada bicara Josh memang seperti mengejek. Hein menyambut dengan senyum.
Pintu sebuah ruang terbuka ketika mereka sudah tepat di depannya. Kembali beberapa orang berjas putih terlihat mengisi ruangan itu. Sebuah benda berukuran besar yang tertatak di tengah-tengah ruangan, segera mengambil perhatian Hein. Benda logam tersebut persis seperti sebuah mesin di LABTEK-DINA, mesin yang diperbaiki oleh Bili bersama staf dari Borneolab. Hanya saja, mesin waktu yang terpajang kali ini, didominasi warna-warna gelap.
“Bagaimana dengan lokasi Astro?” tanya Josh pada beberapa orang. Mereka tampak sibuk memeriksa sesuatu di komputer.
“Tetap. Seharian ini, tampaknya ia tidak pergi ke mana-mana,” sahut seorang di antara mereka.
“Bagus...,” tanggap Josh.
“Tunggu. Kalian tahu di mana Astro? Bagaimana caranya?” sela Hein.
“Hanya untuk berjaga-jaga apabila ia melarikan giganium. Bos meminta kami untuk memasang pelacak. Jadi, kami memasang pelacak di lehernya tanpa ia ketahui. Yang ia tahu pada waktu itu, ia hanya digigit oleh seekor nyamuk.”
“Jadi, Bos sudah menaruh curiga sejak awal?” Hein mengikuti langkah Josh mendekati mesin. Josh memberi perintah untuk membuka portal. “Lalu, mengapa masih memintanya untuk bekerja sama?”
“Kita memerlukannya karena kita memang perlu waktu itu. Sangat sulit menerobos pertahanan DIVENN, kecuali bagi Astro. Dan tanpa dia, kau mungkin tidak selamat hari itu.”
Hein kembali mengangguk-angguk. Di hadapannya, lingkaran bagai hawa panas mulai terbentuk di antara dua menara lengkung.
“Kau berhutang nyawa pada Astro. Tapi sayang, kini kau harus mencabut nyawanya.” Josh menyerahkan benda sejenis pistol. “Mungkin dapat membantu jika kau tidak ingin beradu fisik dengannya.”
Hein naik di atas lempengan. Ia bersiap menerobos portal yang terbentuk. Beberapa detik ia berdiam, lalu berbalik dan dengan setengah bercanda ia berujar, “Kalian yakin, benda yang kalian curi cetak birunya dari Borneolab ini cukup aman?”
“Baru kau yang pertama kali menggunakannya sejak dirakit di laboratorium ini. Berdoalah agar tubuhmu tetap utuh.” Josh sepertinya juga membalas dengan maksud bercanda. Hanya, ia terlihat lebih serius.
Hein menanggapi tersenyum.
“Astro ada di pelabuhan. Setelah keluar dari kargo, kau hanya perlu melewati lima blok tumpukan kargo. Di lorong sebelah kiri, di sanalah sinyal pelacak Astro menyala. Kami tidak ingin ambil resiko dengan memunculkan portal ini tepat di depan hidungnya. Aku belum menyelesaikan Program HERCULES. Bisa-bisa, kami habis dibantai, seperti ia memusnahkan Ebonite.”
Hein tahu betul apa itu Ebonite. Organisasi tersebut bermain di pasar gelap senjata dan merupakan salah satu yang paling tua. Astro yang tidak peduli, malah bertandang ke gudang mereka. Ia membawa lari benda-benda militer yang hendak dijual ke daerah-daerah konflik. Pihak yang memburu Astro pun bertambah. Oleh Ebonite, kepala Astro juga dihargai senilai tiga juta dolar. Marah kepalanya dianggap sebagai hadiah, Astro bertandang ke pusat Ebonite dan mengobrak-abrik organisasi itu, hingga ke penerus-penerusnya. Bagi organisasi hitam lokal dan internasional, Kepolisian Republik Indonesia lebih nekad dan lebih beruntung, karena tetap hidup meski terus berhadapan dengan Astro.
“Satu lagi. Jangan kembali sebelum kau bisa membawa pulang giganium. Jam tanganmu adalah alat komunikasimu.”
“Oke....” Hein menyelipkan plistol di pinggang dan ditutupi dengan baju. Pelan-pelan, tubuhnya pun menyentuh udara di portal. Lingkaran bagai hawa panas sontak berubah rata bagai cermin. Tak sampai setengah menit, Hein benar-benar sudah tidak terlihat.
Pintu sebuah kargo kosong yang terkunci rapat terpental diterjang kaki Hein. Beberapa petugas di pelabuhan bongkar muat terusik oleh gaduh yang timbul. Namun, mereka hanya menoleh. Selanjutnya, kembali sibuk dengan pekerjaan yang mereka geluti.
Sesuai petunjuk Josh, Hein menyusuri lima blok tumpukan kargo. Setelahnya, ia berbelok ke arah kiri. Lorong itu cukup lengang. Namun baru beberapa langkah, Hein sudah merasakan sesuatu mengintainya dari belakang. Begitu waktu yang ia rasa cukup tepat, ia berbalik dan langsung menepis kepalan tangan yang meluncur tepat ke arah hidungnya.
“Astro...?” Siku Hein nyaris meremuk leher Astro. Itu pun andai saja, Astro masih seorang manusia biasa.
“Hein.... Kau rupanya. Aku pikir preman.”
“Enak saja...!” Mereka saling melepas cengkeraman. Hein membetulkan bajunya yang sedikit kusut.
“Bagaimana kau bisa ada di sini? Bukankah, kau tidak ikut melompat ke dalam portal?”
“Aku menggunakan mesin waktu milik Tuan Morgan.”
“Bosmu....”
“Ya, dan aku kemari untuk mengambil titipannya.”
Astro diam sejenak, lalu menjawab, “Kau ingin aku ceritakan sesuatu?”
***
Ya, Astro kehilangan giganium. Ia tak menyangka, ledakan yang ia buat dapat menerobos portal serta membuatnya tak sadarkan diri. Entah berapa lama, tapi ketika sadar, ia sudah berada di rumah sakit. Naluri penjahatnya membuat ia pergi begitu saja dari rumah sakit tersebut.
Setelah berhari-hari mencari, Astro akhirnya menemukan titik terang. Kemarin, ia berhasil melacak keberadaan orang yang membawa giganium. Namun sayang, ketika malam harinya ia berencana untuk membawanya pergi, ia malah bersua dengan Alisya. Rencana penculikan pun terpaksa batal.
“Pantas..., kau seperti ini.” Hein disodorkan beberapa memar di wajah Astro. Langkahnya juga agak pincang.
“Padahal, aku hanya menerima sedikit pukulan dari Alisya. Dan rasanya, tidak begitu keras. Tapi....”
“Tapi kenapa?”
“Egh...!” Astro mendadak menahan sebuah rasa sakit. Isi kepalanya serasa dikocok, membuat dunia serasa bergetar hebat. Ia masih mencoba fokus untuk tetap berdiri di atas kedua kakinya. Hingga dengan perlahan, rasa sakit itu mulai mereda.
Napasnya turun naik.
“Hah.... Sakit sekali.”
“Tubuhmu mungkin sudah rentan. Sudah sampai titik jenuh. Kau tidak memikirkan untuk pensiun?” Tangan kanan Hein mulai menyelinap ke balik baju. Ia menyentuh gagang pistol yang terselip di pinggangnya.
“Pensiun...? Hah!”
“Oh iya, Astro. Terima kasih atas ceritamu. Alamat yang kau berikan begitu lengkap. Otakku yang bagus ini telah merekamnya dengan akurat. Tapi maaf, untuk sekarang sampai di sini. Selamat tinggal.”
Dalam sekejap, laras pistol telah terarah pada dada kiri Astro. Letupannya yang halus melesatkan segaris benda berpijar. Namun, kepala timah panas itu gagal mengenai sasarannya. Astro mendadak sudah ada di sisi kiri Hein. Pistol untuk melubangi dadanya berhasil dilontarkan lurus ke atas. Tubuh Hein juga dibuat meluncur beberapa meter ke belakang. Pistol yang melayang jatuh disambut kibasan tangan Astro. Benda itu pun jatuh dalam kondisi rusak setelah menghantam sisi sebuah kargo.
“Kau ingin membunuhku?”
Hein perlahan berdiri. “Maaf, Astro. Tapi ini adalah perintah dari Tuan Morgan.”
“Orang yang suka perang itu? Akan kubunuh dia.”
Lagi-lagi, kini tanpa diduga, seperti ada yang mencekik jantung Astro. Paru-parunya mengejang. Astro terbungkuk. Hein malah tersenyum.
“Tampaknya, kau yang akan mati lebih dulu.”
Hein bergegas ke arah Astro. Satu kali tendangan dan tiga kali pukulan, berhasil merobohkan pria yang terkenal licin tersebut. Ia tergeletak seraya meringis menahan sakit.
Sebuah hantaman kaki di kepala tampaknya bagus untuk menutup cerita Astro. Namun, Astro tidak ingin hidupnya berakhir dengan mudah. Sakit yang mendera lenyap mendadak dan ia berhasil memelintir pergelangan kaki Hein, hingga seluruh tubuh Hein ikut berputar di udara bak gasing.
Hein mencoba bangkit. Astro menantinya seraya berdiri tegap. Napasnya menderu. Bola matanya yang hitam tampak asing dengan warna baru berupa ungu, dan dibasahi air mata yang terus mengalir. Ia tidak menangis, tetapi kelenjar air matanyalah yang bekerja tanpa kendali.
“Akan kuhancurkan kalian semua, Morganred....” Astro menggeram dengan suara parau. Kedua tangannya mengepal, hingga memperlihatkan urat-urat yang menonjol.
Tanpa gentar, Hein membalas, “Aku adalah orang pertama yang mengikuti Program HERCULES milik Tuan Morgan. Dan kemampuanku sudah setara dengan dirimu. Layaknya mengenakan tiga generasi fibernetik. Seharusnya, kau takut!”
Serangan bertubi-tubi dari Hein tidak membuat Astro mundur. Hanya sesekali ia terpukul atau tertendang. Tetapi, sama sekali tidak sampai membuatnya rubuh. Dan ketika Astro membalas hanya dengan beberapa pukulan, Hein malah terpental. Bahkan, sebuah kargo nyaris melumat tubuh pria itu.
Astro berhasil merengkuh batang leher Hein. Tubuhnya diangkat tinggi-tinggi.
“Katakan pada bosmu. Datang sendiri jika ia ingin membunuhku. Tapi jika ia malas untuk datang, aku sendiri yang akan dengan senang hati menyambanginya.”
Dan Hein dilempar bagai membuang barang bekas. Tubuhnya melesat bebas hingga keluar dari wilayah pelabuhan.
Seluruh penumpang bis, dan juga supir serta kondekturnya terperanjat kaget. Sesuatu menghantam atap bis dengan kencang. Mereka tidak tahu bahwa itu adalah Hein. Setelah menghantam atap bis, Hein jatuh berguling-guling di jalan raya dan nyaris ditabraki mobil.
Beberapa mobil berhasil dibuat berputar oleh kepalan tangan Hein. Sayang, kepalan tangan itu tidak berhasil membunuh Astro. Dengan langkah pincang, ia meninggalkan jalan raya.
***
Sore hari, Andiev berada di halaman belakang rumah. Ia memperhatikan sekelompok tanaman bunga yang tumbuh subur. Usianya yang belum sampai dua minggu, sedikit mengecewakan bagi Andiev. Ia takut, ketika ia pulang ke rumah nanti, bunga itu belum juga memperlihatkan mahkotanya. Meskipun sebagai bunga mawar, bunga-bunga yang tumbuh sehat di hadapannya itu telah cukup besar.
Ia sedikit terhibur setelah teringat ketika pertama kali ia menemukan bunga-bunga itu. Tidak begitu jauh dari sini, di pekarangan rumah tetangga. Begitu pertama dilihat, langsung tertarik. Dan tanpa perlu mengenal si pemilik terlebih dahulu, ia langsung meminta beberapa tangkai.
“Orang itu baik sekali...,” gumam Andiev. Ia bersyukur, tetangga Ilyas bukan tergolong tetangga yang cerewet dan pelit. Buktinya, beberapa tangkai bunga yang berasal dari tanah pekarangan sang tetangga, kini tampak bugar di tanah halaman belakang rumah Ilyas. Bahkan, kesemuanya hasil membawa lari sekaligus dengan tanah-tanahnya, untuk menghindari kematian bunga-bunganya.
Andiev tersenyum nakal.
Ilyas datang. Ia hendak mengambil air dari sumur.
“Bang...,” sapa Andiev.
“Ada apa?” Ilyas memasukkan air ke dalam sebuah ember yang telah ia persiapkan. Air ia tuang dari ember yang diikat pada tali katrol di sumur.
“Abang mau berjanji tidak?”
“Janji apa?” Ilyas kembali menjatuhkan ember ke dalam sumur.
“Aku, kan, nanti tinggal di rumah Bang Edi. Aku tidak mungkin sering-sering kembali ke sini.”
“Lalu?” Ilyas memasukkan air ke dalam ember kedua.
“Aku hanya ingin Abang menjaga bunga ini untuk Andiev.”
Ilyas tertahan. Ia urung untuk membawa kedua ember yang telah diisinya dengan air. Ia mendekati Andiev dan menjongkok di sampingnya, menemaninya memperhatikan bunga-bunga.
“Kamu ini seperti mau pergi jauh saja.”
“Tidak. Aku hanya merasa.... Ah, susah untuk mengungkapkannya.”
“Memangnya, ada apa? Kau masih memikirkan masalah orang tuamu?”
“Bukan. Sebenarnya.... Ah! Aku hanya ingin Abang berjanji untuk merawat bunga ini. Kalau misalnya aku sudah pulang ke rumah, karena masalah orang tuaku sudah selesai, aku pasti sudah tidak bisa ke sini lagi. Ingat. Rumahku jauh, Bang.”
“Baiklah. Abang janji.”
“Terima kasih. Tapi, ada satu lagi, Bang.”
“Apa?”
Andiev berbisik, “Jangan sampai kedua pengacau itu menyentuh bungaku. Mereka pasti akan mengacak-acaknya.”
“Maksudmu, Ake dan Ikam?” Ilyas balas berbisik.
Andiev mengangguk mantap seraya tersenyum. “He-e!”
“Hah! Kau bisa saja!”
Ake dan Ikam datang. Mereka membawa ember-ember yang sudah Ilyas isi dengan air dari sumur.
“Didekati gadis sebaya yang cantik, malah ketakutan. Tidak tahunya, lebih suka dengan adik kelas, ya?” Ikam menyentil telinga Ilyas dan Andiev.
“He-e!” timpal Ake.
Gara-gara ucapan itu, Ake dan Ikam mendapat bogem mentah di ubun-ubun. Andiev telah berbaik hati untuk memberikannya.
“Sadis banget, sih, jadi cewek...!” Mulut Ikam membuntal. Tangannya maupun tangan Ake berada di kepala, memegang benjol yang takut membesar. Ember yang mereka bawa, kini dibawa lari oleh Ilyas. Pemuda ini berjalan bak sedang tidak terjadi sesuatu di sana, dan memasuki rumah dengan langkah yang enteng.
“He-e!” timpal Ake lagi.
“Situ mulai duluan!”
***
Malam hari, di rumah Sonia. Sang tuan rumah sibuk memilah-milah pakaian. Ia mencari-cari setelan mana saja yang cocok dengan kedua tamunya tersebut. Gaya yang mudah bergaul, sangat cepat akrab dengan Sonia. Apalagi, keduanya tergolong ceplas-ceplos. Malah, Gaya sendiri yang memilih langsung dari lemari pakaian.
Walau masih sakit, Alisya tetap bergabung. Ia hanya duduk memperhatikan dari tempat tidur Sonia.
“Aku senang sekali Kakak-kakak ada di sini. Ada yang menemani!” Wajah Sonia benar-benar terlihat ceria.
“Jadi, selama ini kau tinggal sendiri di sini?” tanggap Alisya.
“Selama seminggu ini? Begitulah.”
“Tidak takut sendirian?” tanya Gaya.
“Ya..., takut, sih. Oleh karena itu, Kakak mau tidak tinggal di sini?”
“Tinggal di rumahmu?”
“Iya. Setidaknya, sampai tahanan Kakak dapat ditangkap kembali atau sampai Kak Alisya sembuh.”
Alisya dan Gaya saling pandang.
“Oke,” jawab Alisya pula. “Tapi, apakah kami tidak merepotkan?”
“Tidak. Sama sekali tidak!”
“Baiklah.”
“Yes!”
Mendadak, Alisya merasakan sesuatu menjalar di tubuhnya. Otot-otot terasa ditarik dan ia hanya dapat menahan rasa sakit yang terasa. Ia memang tidak melanjutkan erangan sakitnya dengan berteriak. Tapi dari garis-garis wajah yang terbentuk, semua tahu ia sedang kesakitan.
“Ada apa, Al? Fibernetik bereaksi lagi?” tanya Gaya.
“I..., iya....” Alisya berusaha menjawab dengan leher yang masih kaku.
“Ayo, aku antarkan ke kamarmu.”
Alisya menarik napas. “Tidak. Tidak usah. Sakitnya hilang.”
“Tapi..., nanti bisa kembali lagi.”
“Ada apa?” sela Sonia.
“Obat yang diberikan Dokter Karim bereaksi kembali,” jawab Gaya.
“Fiber, ya, namanya?”
“Fibernetik.”
“Aku belum pernah mendengar nama obat seperti itu. Obat yang bagaimana? Serbuk?”
“Cair. Disuntikkan di tengkuk, dengan alat khusus yang bisa menembakkannya hingga menembus tulang belakang. Terakumulasi di dalam tubuh dan hanya bisa dikeluarkan dengan menyuntikkan antifibernetik dengan cara yang sama. Bereaksi pada urat saraf, tulang, otot, dan menyembuhkan cidera.”
“Jelas sekali kau menerangkannya,” komentar Alisya.
“Hehe....” Gaya menyeringai.
“Oh iya, tanganku keselo gara-gara kejadian malam itu. Bisa aku menggunakannya?”
“Aku sarankan jangan.”
“Ya. Aku rasa, caranya sangat mengerikan.”
***
“Jadi, giganium masih belum ditemukan?” Pintu lift terbuka. Niken mendapat giliran pertama untuk masuk.
“Ya. Astro masih belum tertangkap.” Veren menyusul. Lift pun bergerak turun.
“Apakah itu berarti anak sepasang ilmuwan kami juga masih belum diketahui keberadaannya?”
“Ya, begitulah. Tapi kami baru saja mendapat laporan tadi pagi. Putri ilmuwan kalian tidak lagi bersama Astro. Ada kemungkinan ia berhasil melarikan diri dengan membawa giganium, karena Astro juga tengah mencarinya.”
“Yang penting, ia tidak bersama Astro, kan?”
“Tidak bersama Astro adalah hal yang baik, tetapi kita tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Kita tidak tahu ia berada di mana dan Astro masih mengejarnya. Oleh karena itu, kami membentuk dua tim. Satu tim mencari putri ilmuwan kalian dan tim lain mencari Astro. Sayangnya, dua orang anak buahku tidak dapat dihubungi. Komunikator mereka sengaja dimatikan. Mereka sepertinya tidak ingin diganggu ketika mencari Astro. Sebenarnya, aku ingin mereka pindah fokus. Mencari putri ilmuwan kalian.”
“Semoga saja mereka berhasil.”
“Iya..., harus. Kasus ini sudah menyangkut pertahanan dan keamanan nasional, selain nasib dari seorang gadis remaja. Giganium dapat menjelma sebagai senjata yang sangat mengerikan, apabila berada pada tangan yang salah.”
“Tepat sekali. Oh iya. Aku jadi ingin tahu. Mengapa kita tidak menggunakan mesin waktu itu untuk menangkap Astro sebelum ia melarikan diri? Mengapa kita justru mengambil jalan tersulit dengan menyesuaikan jumlah waktu Astro meninggalkan masa ini?”
“Kata Profesor Irene dari Borneolab, ini menyangkut beberapa mitos. Kita menangkap Astro untuk memenjarakannya dalam waktu yang lama. Jika kami menggunakan cara seperti yang baru saja Anda tanyakan, itu berarti, kita menangkap Astro dengan usia lebih muda dari yang seharusnya. Mungkin, akan ada pengaruh dengan lingkungan sekitar. Dispersi waktu misalnya.”
“Kedengarannya membingungkan.”
Veren mengangguk kecil.
Lift berhenti bergerak. Pintu terbuka dan mereka melangkah memasuki LABTEK-DINA. Mulai malam ini, Niken dengan seragam berlabel Divisi Pengaman Angkasa Nasional akan bertugas di laboratorium ini. Divisi di bawah Departemen Pertahanan RI tersebut merasa perlu menempatkan salah satu orangnya di Divisi Gerakan Cepat. Mereka ingin mengetahui langsung proses pencarian dan penangkapan Astro.
Sementara menerobos portal, di pelabuhan yang temaram. Astro berniat meninggalkan pelabuhan meski dengan tubuh tidak stabil. Ia tersungkur setelah beberapa langkah. Rasa sakit pelan-pelan kembali menjalar. Dan pupil matanya, kini berganti dengan warna hijau.
Tak jauh berbeda dengan Astro, Alisya juga merasa tersiksa oleh reaksi fibernetik yang tertanam di tubuhnya. Dengan tertatih, ia meletakkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menarik selimut hingga batas leher. Mendadak, otot-otot di seluruh tubuh mengencang. Alisya terhenyak oleh rasa sakit yang kembali menusuk tak kenal ampun.
Ia hendak menjerit, tapi rahangnya kaku. Lama didera sakit, keringat dingin mulai mengucur. Beberapa detik kemudian, ia tak sadarkan diri.
---
Penjelasan untuk beberapa istilah dalam cerita ini ada di Kisah Bagian Glosari.
dikirim dirgita 32 minggu 6 hari yang laluTag:







