dalam kegelapan malam ini, aku sendiri menatap bintang di langit sana. mencari sesuatu yang berarti dalam hidupku. tapi tak ku temui disana. yang kucari bukan bintang, tapi...
aku tak sanggup menyebutnya, karena semakin ku sebut semakin besar kerinduanku padanya. dilorong ini aku meratapi semua yang terjadi. aku ingin lari dari kehidupan yang selalu membayangiku
****
" asal kamu tahu ya, aku paling ga suka kamu atur-atur. aku ingin bebas menjalani hidup ini tanpa ada yang melarang. aku dah besar, dan aku tahu mana yang baikbuatku".
"iya, aku tahu, tapi semua yang aku lakukan ini adalah yang terbaik buat kamu. kamu harus menjauhinya, dia ga baik buat kamu".
" kanu tahu apa? toh selama ini kamu ga pernah mengenalnya, karena kamu baru kkenal hari ini. aku yang telah lama mengenalnya. kenapa kamu ga mau ngerti! aku ingatkan sekali lagi, jangan pernah melarangku untuk melakukan apapun."
"aku tidak akan melarang apapun. tapi jangan pernah kamu pergi dengannya, kamuakan menyesal...
kata-kata itu adalah ucapan terakhirnya untukku karena aku pergisaat itu. aku tak tahu apakah dia mengejarku atau senang melihatku pergi. yang terakhir ku dengar hanyalah suara decit rem mobil dan teriakan orang-orang. tapi aku tak peduli, toh hanya bising dari lalu lalangmobil.
aku langsung naik mobil yang sudah satu jam menungguku.
****
tiga tahun kemudian
kini hidupku semakin berarti, aku hidup bersama suamiku yang dulu "dia"tentang untuk jadi suamiku. dia bilang aku pasti menyesal.tapi buktinya aku bahagia bersamanya. paling tidak hingga saat ini. hingga akhirnya akumenyadari hal yang sangt membuat aku terkejut. saat aku sedang merapikan gudang, aku menemukan surat dengan amplop biru yang sudah lusuh berdebu.perlahan ku buka surat itu dan ku baca
maaf aku menggangumu. ini adalah surat pertama dan terakhir dariku. aku tak akan pernah memohon padamu untuk kembali padaku.aku hanya ingin kau tahu bahwa kini aku bahagia dengan anak kita. jangan pernah kamu mencari kami, karena bagi kami kau telah mati. berbahagialah kamu dengan harta istri barumu." ayudiah prameswaritak akan pernah tahu siapa kau.”
Aku mengernyitkan dahi tak mengerti.
Kulihat lagi isi amplop itu, ternyata masih ada sebuah foto yang sangat aku kenal. ya itu adalah foto si"dia" bersama seorang anak perempuan berusia 2 tahun. Tanpa terasa airmataku menetes...
Sasat aku tanyakan ini pada suamiku, ia menceritakan semua. Hingga membuat akumenangis dan saat itu juga aku pergi tak tentu tujuan.
Sudah dua jam aku duduk di lorong yang tak berpenghuni ini. Sepi dan hampa hingg akhirnya aku ingin kembali ke tempat dimana terakhir kali aku meninggalkan dia. Aku mulai berjalan dengan tatapan penuh harap bertemu dengan orang yang selama tiga tahun ini tidak ingin aku temui.
Tapi harapan itu sirna aku tak menemukannya. Ku jelajahi seluruh ruangan yang kecil itu. Tapi tetap tak kutemukan. Aku bingung. Apakah ia begitu marah padaku sehinggaia pergi dari rumah yang penuh kenangn indah ( sebelum aku bertemu dengan suamiku)? Aku menangis dan hany menangis...
” maaf, ini teh mba ari ya? Ya ampun mba ari tambah cantik saja.”
“ iya… kamu pipin kan? Bu ayu kemana ya? Kok ga ada dirumah?’
” ih, mba ari gimana sich, setelah mba ari pergi malam itu, bu ayu... bu ayu...”
:ada apa? B ayu kenapa?pindah?”
” bukan mba. Bu ayu... meninggal karena kecelakaan”
”tIIIIDAAAAAAAAAKKKKKKKKK.......”
Bunda maafkan ari bunda... ari sudah menyakiti hati bunda...
Setelah hari itu, aku mengutk diriku. Aku bukan anak yang berbakti pada seorang ibu. Malah aku menyakiti perasaan ibu. Seminggu kemudian aku memutuskan untuk bercerai dari suamiku Prambudi raharja.setelah aku resmi bercerai aku pergi tak tentu arah... sambil membawa sebuah amplop biru yang lusuh berdebu. Foto seorang bibu bersama anak perempuan. AYU DIAH PRAMESWARI.ya itu adalah aku adn ”dia” ibuku. Sebuah nama yang baru aku sadari bahwa ”AYU” diambil dari nama ibuku dan ”pram” dari prambudi raharja ( ayahku.
Maafkan aku ibu....
Tag:








