Bakteri Berkayuh

19
points
"

Ini adalah cerpen yang dibuat sewaktu saya dan teman-teman di kelas 2 SMA mendapat tugas mengarang cerpen. Cerpen ini terinspirasi dari salah satu teman yang menceritakan sebuah cerita dengan alur yang sama, berasal dari neneknya. Saya masih khawatir, apakah cerita tersebut adalah cerita anonim, atau mungkin cerita yang benar-benar resmi? Tolong informasikan hal tersebut kepada saya. Saya akan mencabut cerita ini jika kekhawatiran saya terbukti.
Terima kasih.

"

Prof. Zanuar baru saja meraih hadiah nobel atas hasil temuannya yang baru. Ia berhasil memutasi kutu kepala menjadi pembersih ketombe yang sangat efektif.

Hasil temuannya itu tak terlepas dari keyakinannya bahwa semua makhluk ciptaan Tuhan itu pasti mempunyai manfaat, terlepas dari semua sisi negatif yang dimiliki makhluk tersebut. Dan sekarang, tinggal bagaimana kerasnya usaha kita mencarinya.

Oleh karena itu, Prof. Zanuar selalu rajin mencari dengan meneliti apa saja, mulai dari makhluk dan benda terkecil hingga terbesar. Di laboratoriumnya saja tertatak tak beraturan macam-macam alat dan bahan penelitian.

Sama acak-acakannya dengan laboratorium mininya itu, diri Prof. Zanuar sendiri tidak terurus. Model rambutnya yang semula seperti Vic Zhou F4 akhirnya kini berubah menjadi model rambut Edy Brokoli. Jadwal mandinya pun berubah, dari lima kali sehari menjadi satu bulan sekali saking sibuknya. Itu pun mandi bebek. Ceplok! Ceplok!

Alhasil, istrinya tak tahan lagi dengan sikapnya itu. Cukup sudah pernikahan yang sudah bertahan selama seperempat abad ini.

“Kita cerai!” ucap istrinya suatu hari dengan tegas, selepas mendobrak pintu laboratorium suaminya hingga lepas.

Prof. Zanuar yang tengah serius meneliti sesuatu di mikroskopnya, sontak membalas, “Cerai?”

“Bagaimana?”

“Boleh,” jawab Prof. Zanuar enteng. Ia kembali sibuk dengan bahan penelitiannya.

Istrinya sempat tercengang. Tak menyangka mendapat jawaban seperti itu. Karena sudah tidak ada pintu untuk dibanting, ia pun menghentakkan kakinya dengan keras. Berguncang laboratorium itu, membuat beberapa cairan kimia terjatuh dari rak paling atas tepat di kepala Prof. Zanuar. Mengebullah asap dari rambutnya yang brekele.

Tapi Prof. Zanuar tenang-tenang saja. Malah ia berkata, “Mau memberi cerai, kok, pakai acara menghentakkan kaki?”

Tapi mendadak, Prof. Zanuar teringat sesuatu. Ia bergegas mengejar istrinya.

“Mama! Yang kamu maksud cerai itu cerai untuk roti, kan?”

“Itu selai!” sambar istrinya yang kini sudah ada di mobil, di belakang setir. Istrinya ingin minggat.

Prof. Zanuar tergopoh-gopoh menghampiri istrinya di garasi. Mobil yang mulai bergerak, ia hadang. Nyaris kedua kakinya patah digigit bumper mobil BMW warna hitam mengkilap itu.

“Lalu, cerai yang kamu maksud?”

“Kita pisah!” jawab istrinya dengan mata berapi-api. “Forever….”

“Apa?” seru Prof. Zanuar kaget. “Kita pisah? Kenapa?”

“Karena sikapmu. Sekarang, aku ingin kau minggir. Atau kau ingin mobil kesayanganmu ini menjadi pembunuh?”

“Tapi….”

“Minggir!” bentak istrinya mendadak.

***

Semenjak kepergian istrinya pada hari menyedihkan itu, Prof. Zanuar kehilangan semangat untuk meneliti. Pekerjaan pokoknya itu kini berganti dengan melamun dan melamun setiap hari. Ia memikirkan perceraian dengan istrinya. Bagaimana jika itu terjadi? Bagaimana caranya agar itu tidak terjadi? Hanya itu yang terus dipikirkannya. Hingga satu hari, ia memberanikan diri untuk menelepon.

“Sikapmu. Sikapmu banyak berubah. Sewaktu kita pacaran, kau tidak pernah seperti ini. Sewaktu pernikahan kita mencapai usia sepuluh tahun juga kau tidak pernah seperti ini. Tapi kenapa? Setelah itu kau berubah. Dalam masa lima belas tahun ini, aku bagaikan hidup dengan orang lain. Zanuar yang kukenal tidak seperti ini. Acak-acakan, semraut, dan dingin. Aku masih berharap kau akan berubah, tapi nyatanya tidak.”

“Kalau begitu, maafkan aku. Aku akan berubah.”

“Kau seharusnya tahu untuk berubah itu sulit. Lima belas tahun kau hidup dengan gaya seperti itu. Sudah kebiasaanmu dan sekarang menjadi budaya. Lebih baik kita berpisah.”

Telepon ditutup, dan Prof. Zanuar hanya bisa terdiam. Ia mematung di depan telepon hingga besok pagi.

***

Prof. Zanuar pun punya ide. Ia kemudian melarikan sepeda roda tiganya ke pantai. Di mana dulu, ketika ia dan istrinya masih berpacaran. Mereka saling mengucap janji setia di pantai yang memiliki gelombang setinggi gelombang tsunami itu.

Maksud Prof. Zanuar ke pantai adalah untuk memperdengarkan deru ombak di sana kepada istrinya, berharap istrinya akan berpikir kembali untuk cerai. Dan kalau perlu, keputusan itu dicabut. Ia mempersiapkan ponsel dan… tercengang. Lalu terbungkuk lesu. Pulsa ponselnya sudah habis lima tahun lalu. Coba pakai talktime, tidak perlu memikirkan pulsa.

“Dasar!” ucapnya geram hendak melempar ponselnya ke tengah laut. Tapi mendadak tidak jadi. Ia melihat sesuatu terombang-ambing tak jauh dari pantai.

“Apa itu?” pikirnya. Dan mata jelinya itu mulai mengamati. Dan mendadak, ia tersentak.

“Itu kotoran!” serunya kencang. “Ups, feses…,” ujarnya pula pelan.

Bukan karena melihat benda itu yang membuat Prof. Zanuar kaget nyaris mati. Tapi lantaran benda kuning nan lembut itu bisa menanjaki ombak. Sungguh aneh bin ajaib!

Mulailah hasrat terpendam Prof. Zanuar untuk meneliti kembali muncul. Tanpa melepas pakaian lagi, ia berenang ke arah benda itu tanpa menghiraukan besarnya ombak. Dan…, ia berhasil mendapatkannya, walaupun harus terdampar kembali ke pantai semula.

Bukankah itu bagus?

Bergegas, dengan semangat 1945, Prof. Zanuar mengayuh pedal sepeda roda tiganya ke rumah. Bergegas ia ke laboratorium dan meletakkan sampel benda itu di bawah mikroskop. Dan…, waw!

“Ini penemuan baru! Mengagumkan!” serunya mendadak. “Zanuarium pedalipus! Bakteri pembusuk pada kotoran yang berkayuh!”

Itulah alasan kotoran itu dapat melawan ombak. Ada bakteri yang berkayuh. Dan Prof. Zanuar kembali sibuk dengan penelitiannya. Ia lupa akan istrinya dan perceraian itu.

“Zanuar.... Hik!”

Your rating: None Average: 3.8 (5 votes)
dikirim dirgita 32 minggu 1 hari yang lalu
Tag: