Si Cepi

“Selamat pagi anak-anak”, suara bu Ida menyapa kelasku.

“Pagi juga bu Ida”, jawab aku dan teman-teman sekelasku.

Suasana kelas yang tadinya gaduh, kini menjadi tenang dan sedikit teratur karena kedatangan bu Ida. “Ayo ... anak-anak keluarkan buku gambar dan pinsil warna kalian”, perintah bu Ida kepada aku dan temen-teman sekelas. “Tapi bu gulu kan, buku gambalnya macih sama bu gulu, kan disimpan di dalam lemali itu”, jawab Aan temanku dengan suranya yang masih sedikit cadel.

“Oh .. iya ibu Ida lupa, buku gambarnya masih sama ibu ya ?”. aku dan teman-teman tertawa melihat gayanya ibu Ida bila ia sedang lupa. “sebentar ibu ambil dulu ya”, sambil menunggu bu Ida mengambil buku gambar, aku menyiapkan pinsil warnaku. Lalu tak lama bu Ida membagikan buku gambar kami masing-masing.

“Anak-anak, hari ini kita menggambar binatang ya, terserah kalian mau gambar apa. Mau bikin gambar Ayam boleh, gambar Bebek boleh, Kambing juga boleh”. Lalu Bombom nyeletuk, “bu gulu kalau bikin gambal Macan boleh gak?”. Bu Ida tersenyum, “iya Bombom, terserah apa aja boleh, yang penting gambar binatang, karena tema kita hari ini adalah, menggambar binatang” kembali bu Ida menegaskan.

Teman-teman sudah asik sibuk berimajinasi, memekirkan gambar apa yang hendak mereka buat, sambil tak lupa sibuk menanyakan kawan di sebelah mau gambar apa. Sementara aku masih kebingungan sendiri, gambar apa yang hendak aku buat. “Menggambarnya jangan ribut ya, tenang sedikit jangan berisik” bu Ida berusaha menenagkan suasana kelas yang gaduh dikarenakan kehebohan kami.

“Cepi, kamu mau gambal apa ?”, tanya Aan.
“Aduh ... aku gak tau neh, bingung mau gambar apa”, padahal aku samasekali tidak bisa menggabar binatang. Lama juga aku sibuk celingak-celinguk melihat gambar temanku. “Cepi ... kamu sedang apa, gambar mu sudah selesai ?”, aku tersentak suara bu Ida mengagetkanku, lalu sambil nyengir aku jawab “belum bu ... gambar Cepi belum selesai”. Aduh bagaimana ini, aku tidak bisa menggambar binatang, lalu aku mencoba mencari akal, dan ... yup selesai juga gambarku.

“Bu Ida, aku dah selesai” teriak beberapa kawanku yang sudah menyelesaikan gambarnya. “Iya ... yang sudah selesai gambarnya di kumpulakn kedepan ya”, perintah bu Ida. Lalu kami dengan sigap menggumpulan hasil karya kami masing-masing.

“Cepi ... coba kesini, ibu mau tanya sama kamu sayang”. Waduuuh ibu Ida memanggilku, pasti ini karena gambarku. “Iya bu .. “ akupun maju kedepan kelas “ada apa bu Ida”, tanya ku pura-pura tak mengerti kenapa aku di panggil. “Cepi, hari ini kan tema kita menggambar binatang”, bu Ida dengan sabarnya menejelskan kepadaku “Iya bu .. “ jawabku lagi masih dengan gaya cuekku. “Terus, kenapa Cepi malah membuat gambar pohon besar?”, lalu aku nyengir sambil memamerkan gigiku yang baru kemarin dicabut pak dokter, dan dengan gaya yang santai aku jawab pertanyaan bu Ida “ ye ... bu Ida gimana sih, Cepi juga buat gambar binatang ko” lalu dengan bingung bu Ida bertanya kembali “tapi, yang ibu lihat digambar kamu, hanya ada gambar pohon besar saja, lalu gambar binatangnya mana?” aku tersenyum dan dengan malu-malu ku jawab “binatangnya, ada di balik pohon besar itu bu”. Bu Ida tertawa, dan teman sekesalsku juga ikut ketawa, tanpa merasa besalah akupun ikut tertawa.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer hendi
hendi at Si Cepi (11 years 38 weeks ago)
50

ga ada yang bisa dipahami/diresapi

Writer airy raylight
airy raylight at Si Cepi (11 years 42 weeks ago)
40

biasa banget... coba deh dikemas dengan cara yang berbeda, pasti alebih seru

Writer v1vald1
v1vald1 at Si Cepi (11 years 50 weeks ago)
40

Ananda, aku tidak melihat gaya bertutur anak-anak dalam tehnik penceritaan kamu. Padahal sudut pandang anak usia TK yang coba kamu angkat. Tidak harus dari "cadel"nya kekhasan itu tampak. Tapi gaya bahasa dan daya pikir bisa mencerminkannya. Ending memang tertebak. Plot terbangun kurang rapi. Cerita ini meletakkan klimaks di akhir, dengan seolah berlama-lama tidak penting pada pengantar. Sayangnya pun, karena plot yang tidak rapi ini, ending yang diharapkan sebagai gebrakan tidak terasa menggebrak.

MENULIS LAGI!

Writer Super x
Super x at Si Cepi (12 years 18 hours ago)
70

kurang ekspresif.
trus di ending ada kesan terburu-buru.
trus agar lebih keren maunya pake gaya bercerita di awal.
trus... trus coba trus...

Writer pikanisa
pikanisa at Si Cepi (12 years 1 day ago)
60

bener kata Ima, trus dari tekhnik penulisan hampir sama kayak gaya penulisan cerita kolom komedi di majalah atau koran2.

kalo contentnya
sama kayak pengalamanku, aku dulu waktu disuruh gambar pemandangan cuman gambar topi pak tani. topinya aja... dengan background Ijo

aku bilang sama Bu Iji guru TK ku, kalo Pak Taninya ngaso, trus topinya dilepas di taruh di pematang sawah yang ditumbuhi rumput.

kekekkekek... cerita ini mengingatkanku akan masa TK ku dulu

Writer ima_29
ima_29 at Si Cepi (12 years 2 days ago)
60

Ibu gulu vivi..celitanya sih segal, tapi kok telakhirnya udah bisa ketebak yah! aku jadi kecewa...

btw, harusnya kalimat ini lebih di deskripsikan lagi gmana muka ibu guru pada saat lupa sampai muridnya menertawakan dia>>> “Oh .. iya ibu Ida lupa, buku gambarnya masih sama ibu ya ?”. aku dan teman-teman tertawa melihat gayanya ibu Ida bila ia sedang lupa.

Yakin deh bakal lebih lucu bu gulu vivi