Di Kaki Kyai Slamet

Yen ing tawang ono lintang
Cah ayu…aku ngenteni tekamu
Marang mega ing angkasa…nimas
…………………………………………

Larik demi larik lagu itu terdendangkan mengiringi setiap kemesraan soreku bersama sebuah sapu lidi di halaman rumah. Dialah pakdhe Karjo yang senantiasa mendendangkan lagu itu. Bersama istrinya, budhe Iyem, telah bertahun-tahun tinggal di sebelah rumahku. Sebuah rumah yang sederhana, sesederhana kehidupan mereka.
Pakdhe Karjo adalah seorang tukang becak yang ceria, sedangkan budhe Iyem adalah seorang penjual nasi pecel keliling yang ramah dan murah hati. Tuntutan kebutuhan ekonomi yang kian hari kian melonjak membuat mereka tetap mencari penghasilan dimalam hari dengan sebuah warung hik di dekat alun-alun kota Solo.

Seperti sore-sore sebelumnya, kembali kunikmati dendang lagu campursari khas pakdhe Karjo saat aku mulai keluar rumah dengan sapu lidi di tangan. Kuperhatikan sejenak pakdhe Karjo yang tengah mengusap-usap becaknya dengan kain lap. Seraut wajah ceria senantiasa terpancar menutupi kesepiannya dihari tua. Kadang aku berpikir, apa pakdhe Karjo dan budhe Iyem ini tak punya masalah dalam hidupnya? Saat iseng-iseng aku bermain ke rumahnya, tak pernah aku dengar mereka mengeluh tentang kehidupan.

“Nduk, jangan ngalamun nanti kesurupan lho!!!” sapa pakdhe Karjo menyadarkanku.
“Ndak kok pakdhe, saya ndak ngelamun,” aku jadi pekewuh sama pakdhe.
masih bingung nanti malam mau dolan kemana?” goda pakdhe Karjo.
“Ndak bingung kok pakdhe, kan sudah jelas mau dolan ke alun-alun.” jawabku sambil berdansa dengan sapu lidiku.

Nanti adalah malam Suran pasti alun-alun ramai. Ada kirab dari Puro Mangkunegaran yang biasa dimulai pada ba’da isya dan kirab dari Keraton Surakarta yang dimulai pada tengah malam dan selesai pada sekitar pukul tiga dini hari. Dalam iring-iringan kirab Keraton Surakarta ada beberapa ekor kebo bule yang konon kabarnya adalah keturunan Kyai Slamet. Kebo Kyai Slamet ini biasa mengembara di sekitar Solo dan pada malam Suran akan datang ke Kemandungan Lor tanpa ada yang mengarahkan, begitu pula saat memimpin kirab. Ada mitos yang menceritakan bahwa setiap jejak yang ditinggalkan kebo ini membawa berkah. Tapi mitos tetaplah mitos, ada yang percaya ada pula yang tidak percaya.

@@@

Iring-iringan Kirab Pusaka Puro Mangkunegaran baru saja berlalu. Orang-orang yang tadinya berdesakan di sekitar Puro Mangkunegaran mulai membubarkan diri. Dalam kirab pusaka tahun ini, putra Mangkunegara (MN) IX GPH Paundra Karna bertindak sebagai "cucuk lampah". Kirab dilakukan denga cara berjalan kaki mengelilingi tembok Puro dengan tapa bisu. Kirab diikuti oleh abdi dalem, sentana, narapraja, dan kerabat Mangkunegaran lainnya. Selain itu, Mangkunegaran juga membuka diri untuk masyarakat Solo yang ingin ikut dalam kirab tersebut. Hanya saja, busana harus menyesuaikan, yakni busana Jawa beskap. Hal itu sebagai bukti kalau Mangkunegaran milik semua warga Solo yang peduli pada budaya. Rute yang ditempuh tidak terlalu jauh. Hanya mengelilingi tembok Puro Mangkunegaran dan hanya dibutuhkan waktu selama 45 menit. Hal itu karena seringkali rombongan kirab berhenti untuk menunggu peserta yang di barisan belakang. Jika berjalan normal, rute itu bisa ditempuh sekitar 20 menit saja.

Di balik deklit biru pakdhe Karjo, aku bersama temanku duduk ditemani tiga gelas wedang jahe anget. Untung warung hik pakdhe Karjo ini berada hanya sekitar 200 meter dari pintu gerbang Keraton, jadi aku tak perlu kemana-mana lagi untuk menyaksikan Kirab Pusaka dan Kebo Kyai Slamet.

Tak terasa sudah pukul 23.45, lima belas menit lagi kirab akan dimulai. Aku dan teman-temanku keluar warung untuk bergabung dengan warga lainnya di tepi jalan. Pintu gerbang keraton terbuka, rombongan kirab mulai berjalan keluar. Di barisan depan ada lima ekor kebo bule yang tiada lain adalah Kebo Kyai Slamet. Diikuti oleh abdi dalem dan sentana dalem yang terpercaya dan kuat secara fisik maupun spiritual karena pusaka tersebut dipercaya memiliki kekuatan spiritual yang besar. Sebelum prosesi kirab dilakukan, pusaka-pusaka yang akan dikirab akan di-jamasi terlebih dahulu. Selama pusaka dibawa keluar dari Dalem Ageng Probosuyoso, Susuhunan dan sentono dalem yang tidak ikut kirab akan melakukan sesi meditasi dan Tahajud di Kagungan Dalem Masjid Pudyosono. Kirab tersebut melalui jalur yang disebut Pradaksina, dengan selalu menjaga posisi kraton berada di sebelah kanan pusaka yang dikirab. Ketika tiba di depan warung hik milik pakdhe Karjo, salah satu kebo Kyai Slamet berhenti lalu berjalan ke arah belakang warung. Para abdi dalem yang menjadi pawang mengikuti kebo itu untuk mengajaknya kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa sentana dalem dan narapraja menggerutu karena kejadian tersebut. Tiba-tiba kebo itu melenguh keras sekali. Budhe Iyem yang terkejut berlari ke belakang warung.

“Duh Gusti…Masya Allah..pak mrenea disik…” teriak budhe Iyem
Ono opo tho, bu?? Kok ya teriak-teriak.” kata pakdhe Karjo seraya menyusul istrinya dan diikuti orang-orang termasuk aku.
”Iki lho pak…ono bayi neng njero kardus!!” teriak budhe Iyem

Saat aku tiba di tempat budhe Iyem berteriak, sebuah kardus berisi bayi yang masih merah tergolek di sela kaki kebo tadi. Seorang sentana mendekat dan menyuruh abdi dalem untuk mengambil si jabang bayi. Beliau juga mempertanyakan asal usul si jabang bayi, namun ternyata tak seorangpun mengaku ataupun mengetahuinya.

”Kanjeng, manawi dipunkeparengaken, kersanipun kula ingkang ngopeni jabang bayi punika..”ucap budhe Iyem memohon welas asih.
“Koe gelem ngopeni tenan?” tanya sang sentana memastikan.
“Inggih Kanjeng, saestu.” jawab budhe Iyem mantap.
“Ya wis, bayi iki tak pasrahke koe. Siji sing tak jaluk, anggonmu ngopeni sing temenan lan muga-muga bayi iki dadi berkahing awakmu sakeluarga.” pesan kanjeng.
“Maturnuwun Kanjeng,..” ucap pakdhe Karjo sambil membungkuk menghaturkan sembah.

Kebo bule yang tadi menemukan bayi di belakang warung pakdhe Karjo tiba-tiba melenguh dan pergi meninggalkan rombongan. Beberapa abdi dalem mengejarnya, diikuti oleh rombongan kirab lainnya.
Sepeninggalan rombongan kirab pusaka, tak hentinya pakdhe dan budhe mengucap syukur pada Gusti Allah SWT atas apa yang mereka terima malam ini. Derai air mata bahagia mengalir dari mata keduanya membuat semua yang menyaksikannya turut terharu. Kini kebahagian mereka telah dilengkapi oleh kehadiran seorang anak meskipun bukan darah dagingnya sendiri.

*pekewuh: sungkan
malam Suran : malam 1 Suro / 1 Muharram
cucuk lampah : pemimpin kirab
tapa bisu : menutup mulut (tidak berbicara)
abdi dalem : pembantu kerajaan
sentana dalem : keluarga keraton
narapraja : pejabat keraton
deklit : tenda dari plastik tebal
di-jamasi : dibersihkan
Pradaksina : rute searah jarum jam
“Duh Gusti…Masya Allah..pak mrenea disik.” : “Duh Gusti…Masya Allah..pak kemari sebentar”
”Kanjeng, manawi dipunkeparengaken, kersanipun kula ingkang ngopeni jabang bayi punika..” : “Kanjeng, kalau diijinkan, biarkan saya yang merawat bayi ini..”
“Koe gelem ngopeni tenan?” : “Sungguh kamu bersedia merawatnya?”
“Inggih Kanjeng, saestu.” : ”Iya Kanjeng, saya bersungguh-sungguh”
“Ya wis, bayi iki tak pasrahke koe. Siji sing tak jaluk, anggonmu ngopeni sing temenan lan muga-muga bayi iki dadi berkahing awakmu sakeluarga.” : “Ya sudah, bayi ini aku serahkan kepadamu. Satu pintaku, kamu rawat bayi ini dengan sungguh-sungguh, dan semoga bayi ini menjadi berkah bagimu sekeluarga.”
“Maturnuwun Kanjeng,..” : “terima kasih Kanjeng”

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer H.Lind
H.Lind at Di Kaki Kyai Slamet (7 years 36 weeks ago)
100

Wah, unsur budayanya kerasa banget. Menarik dan inspiratif. Biasanya model2 kayak gini yang keterima di koran. Hehe. :D

Writer just_hammam
just_hammam at Di Kaki Kyai Slamet (7 years 36 weeks ago)
80

Cerita recomended by Cat http://www.kners.com/showpost.php?p=22636&postcount=23
Menyenangkan membaca cerpen dengan setting lokal.
Selamat dhewy_re... cerita yang indah.

Writer cat
cat at Di Kaki Kyai Slamet (11 years 10 weeks ago)
90

maafkan daku yg terlambat kument
Cat terlalu sibuk sama imlek he5 n sama ... (Dewix tau kan)

nih cerita uda Ok banget.
Cat kan uda ngobok2 pas kelas prosa jd kyknya ndak perlu cat obok2 lagi deh.

Go lokalitas! Go Laspro Sel C

dadun at Di Kaki Kyai Slamet (11 years 11 weeks ago)
90

sussah, banget nih bikin tulisan begini-terutama buat saya yang... dudulz.
top deh.
tapi, iya yah, dialog jawanya radarada gak mudeng nih. hu uh, yah, kalo diganti pake bahasa indonesia, masi 'lokalitas' gak yah?

Writer senja_saujana
senja_saujana at Di Kaki Kyai Slamet (11 years 11 weeks ago)
80

wah wix sudah banyak diedit ya. udah berapa kali ganti judul tu

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Di Kaki Kyai Slamet (11 years 11 weeks ago)
90

Deskripsinya bagus, wi. Kebetulan saya juga suka banget lagu Yen ing tawang itu.. kekeke
Tapi menurut saya, dialog jawanya kok banyak sekali ya? Nggak papa sih. Ini memang lokalitas. Tapi kalau misalnya dialog-dialog jawa itu diganti bahasa Indonesia, bisa menghilangkan kesan lokalitasnya nggak ya?
Tapi sungguh, saya salut sama deskripsinya.
Bagus, sis.

Writer mas_dab
mas_dab at Di Kaki Kyai Slamet (11 years 12 weeks ago)
80

penggabungan antara budaya, moralitas..dan zaman moderen yang kebablasan.

Writer Suableng
Suableng at Di Kaki Kyai Slamet (11 years 12 weeks ago)
90

Judul gak usah dipikirin mas,..
Bagus kok,...

Writer masari
masari at Di Kaki Kyai Slamet (11 years 12 weeks ago)
80

Diganti judulnya yah? Dan udah dibuat jarak untuk paragrafnya.

Bagus ceritanya, Wi. Ga ada complain dari aku^^

Writer Nanasa
Nanasa at Di Kaki Kyai Slamet (11 years 12 weeks ago)
90

Wix, paragraphnya kok masih panjang2? Potong Wix, potooongggg.. pake enter, pake spasi, pake pisau, pake gergaji ato apa dah :o

Trus untuk judulnya, memang kurang nendang nih, coba tendangnya pake kaki kanan deh, biar lebih manteb. Halah!
Kalo judulnya BERKAH KEBO BULE ato KIRAB KEBO KYAI SLAMET gimana Wix? Ato apalah gitu (*ikut2an stress mikirin judulnya)

Trus apalagi ya?
Koe = kowe

Itu aja ahh, aq dah kebanyakan nih protesnya :p

Bagus kok Wix, sukses bikin lokalitasnya :)
Salut ma pengetahuanmu tentang itu :)

Semangat ya Sist :)

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Di Kaki Kyai Slamet (11 years 12 weeks ago)
90

Coba judulnya "Yen ing tawang ono lintang" pasti cerita ini langsung dibaca.
Ceritanya bgus lho, ada upacara sekaten segala.

Secara teknik, paragraf jangan terlalu rapat.

Cerita lokal kratonan sebenarnya oke banget. Untuk ide cerita 9.