Kisah Bagian 4: Teror Masa Lalu

"

Sebenarnya, bab ini sudah mau dipotong. Tetapi, sampai detik terakhir bab ini hendak di-posting, saya masih belum bertemu dengan titik potong yang tepat. Mohon maaf, jika bab ini masih terlalu panjang. Mohon kritik dan sarannya.

"

Gaya menimang-nimang gelang multifungsi miliknya. Layarnya tidak lagi menampilkan sederet karakter berwarna hijau menyala. Ia dan Alisya sepakat untuk tidak mengaktifkan benda itu. Karena di dalamnya, turut tertanam pemancar sinyal agar pusat bisa melacak keberadaan mereka. Dan akhirnya, membawa mereka pulang karena didapati terluka.

Gaya sendiri merasa dirinya kurang begitu baik untuk pagi ini. Rasa remuk yang ia derita memang sedikit berkurang dari kemarin, tetapi tetap saja tidak enak untuk dibawa bergerak. Meskipun begitu, ia malah menyusun rencana untuk turun gunung mencari Astro.

Pelan-pelan, ia meninggalkan tempat tidur, keluar dari selimut dengan busana tidurnya. Ia mengucek mata di depan cermin dan menguap. Rasa kantuk masih bergelantungan, sehingga ia lebih memilih tidur usai melaksanakan salat Subuh sekitar satu setengah jam lalu.

“Ya, Allah.... Wajahku kenapa begini terus? Apa tidak bisa sedikit sangar?” Gaya terlihat menggelembungkan kedua pipinya. Bibirnya kini seperti bibir ikan. Justru, itu malah membuat ia semakin gemas dan hendak merenggut bibirnya sendiri.

Iseng, ia mengambil pose yang populer di kalangan model cilik. Ia menggenggam rambutnya sehingga terbentuk dua kunciran, mengacungkan telunjuknya ke arah lesung pipi, dan terakhir menjuling.

“Aku sadar, Kau membuatku seperti ini karena mungkin ini adalah yang terbaik bagiku.” Gaya tertunduk. “Aku sepertinya kurang bersyukur.”

Usai bermain dengan cermin, Gaya bermain dengan imajinasinya yang terkenal kuat. Ia berputar dan mengambil ruang kosong di kamar. Sedikit kuda-kuda dengan tangan mengepal di depan tubuh, memulai latihan bela dirinya dengan mengeluarkan seluruh yang ia ingat saat dilatih di pusat pelatihan personel DINA. Ia membayangkan dirinya kini tengah melawan sepuluh anggota yang lain.

Semua ayunan tangan dan besutan kaki meluncur dengan halus. Kecepatan yang menyertainya cukup untuk meremukkan tubuh lawan jika tidak pernah menggunakan fibernetik. Sejauh ini, ia sukses menumbangkan delapan rekan satu tim. Satu dari dua yang terakhir pun menyusul dengan tubuh terlempar ke dinding. Tetapi untuk yang ke sepuluh, mendadak Gaya merasakan perih di lengan kirinya, kemudian bertambah di pergelangan kaki kanan.

Jarak yang tidak begitu jauh, membuat Gaya dengan enteng menjatuhkan tubuh di ranjang. Napasnya turun naik.

“Masih sakit.... Apa aku masih bisa mencari Astro?”

Bayang-bayang ketika ia dilempar pada malam berhujan itu tertayang kembali di depan matanya. Bergegas ia menghilangkan proyeksi tersebut.

“Ah! Hanya mencari. Aku tidak perlu turun tangan untuk menghajar orang yang wajahnya dipenuhi rambut itu.” Seumur hidup, Gaya tidak memiliki masalah dengan orang yang berwajah dihiasi oleh jenggot, kumis, bahkan cambang. Kakeknya sendiri adalah keturunan Arab. Mungkin karena Astro adalah penjahat, ia menjadi pengecualian.

“Lebih baik aku mandi dan akan kuberitahukan rencanaku pada Alisya.”

***

“Ali...!” panggil Gaya seraya mengetuk pintu kamar Alisya. “Alisya...!”

Tak ada sahutan. Gaya membuka pintu dan masuk. Alisya ternyata masih tidur. Ia terlihat lelap dengan memeluk bantal guling. Karena ada yang ingin ia sampaikan, ia terpaksa mengganggu gadis itu.

“Maaf, aku membangunkanmu. Bagaimana keadaanmu sekarang?”

Alisya hanya menoleh dengan mata yang masih merah. Setidaknya, kini tidak begitu merah seperti kemarin.

“Lebih nyeri dari sebelumnya. Semalam, fibernetik benar-benar bereaksi. Aku tersiksa. Tubuhku sakit....”

“Kalau begitu, terpaksa kau hanya bisa beristirahat di sini.”

“Jika tidak begitu, mau bagaimana lagi? Dipaksakan juga akan membuat sakit diri sendiri. Astro pasti tertawa melihat keadaanku.”

“Dia tidak akan tertawa. Aku akan menyumpal mulutnya.”

“Maksudmu?”

“Aku akan mencarinya.”

“Kau? Kau sendiri?” Alisya berhasil duduk, meski dengan sedikit mengerang.

“Tentunya, aku dengan anggota yang lain.”

“Jangan. Kau hanya melukai dirimu,” larang Alisya pula. “Kau juga sebenarnya tidak begitu sehat, bukan?” Dengan gerakan cukup cepat, Alisya meluncurkan tangan kanannya. Ia menyambar lengan kiri Gaya. Gadis yang bertumpu pada lututnya di samping tempat tidur Alisya sontak meringis.

Alisya menyingkirkan tangannya.

“Hanya memar, Al. Bukan apa-apa.” Gaya mengembalikan lengannya pada posisi semula. Otot-otot di bahunya berderik begitu lengannya diangkat oleh Alisya.

“Aku harap, kau tidak pergi dengan kondisi seperti ini.”

“Resiko pekerjaan, Al. Aku harus. Lagi pula, kini aku tidak berniat untuk menghajar orang itu, kecuali memungkinkan. Aku hanya mencari.”

“Aku rasa, kau telah melupakan ucapanmu sendiri.”

“Aku? Yang mana?”

“Sekarang aku rasa, otakmu juga dikocok oleh Astro. Bukankah kau mengatakan sendiri bahwa kau merasakan sesuatu dalam kejadian malam itu? Astro lebih kuat, Aya. Meski kata Dokter Karim efek samping fibergen3 baru muncul setelah obat itu dilepas, rasanya itu tidak terjadi pada Astro. Sebelumnya, ia tidak pernah dapat melemparku sejauh itu.”

“Benar juga.... Bagaimana aku bisa melupakannya?” renung Gaya. “Kemampuan bertarung penjahat itu meningkat lima puluh persen dari sebelumnya. Hah.... Aku lupa bersyukur. Seharusnya, ia bisa membuat persendianku lebih banyak dari yang pernah ia lakukan enam bulan lalu.”

“Oleh karena itu, Ay. Aku tidak ingin kau pergi. Apalagi dengan keadaan yang sekarang. Tidak ada jaminan dua puluh orang polisi dengan fibergen2 dapat meringkus Astro. Penjahat itu licin, bahkan bisa meliuk di antara peluru. Aku hanya tinggal menunggu besok, Ay. Setelah itu, kita cari dia.”

Gaya mengolah pertimbangan beberapa saat. Meski Alisya berkomentar bahwa otaknya sudah dikocok oleh Astro hingga tidak sejernih sebelumnya, ia berharap masih dapat membuat keputusan.

“Oke, baiklah. Tapi.... Hei! Bilang saja kau melarangku pergi, supaya ada yang mengurusmu. Iya, kan?”

“Enak saja!”

***

Setelah memarkir mobil di tempat parkir sekolah, Sonia keluar. Disusul Ake dan Ikam. Tanpa banyak bicara, Sonia meninggalkan mereka.

“Kelihatannya, ada yang aneh dengan gadis itu,” komentar Ikam.

“He-e, ada yang aneh” timpal Ake. “Tapi, apa, ya?”

“Hu!” Ikam menggetok kepala Ake.

Sonia mendapati Ilyas sudah berada di dalam kelas. Wajahnya semakin ditekuk. Dengan gerakan kasar, ia menuju bangkunya yang bersebelahan dengan teman kecilnya itu.

“Kenapa kau tidak pergi bersamaku?” tanyanya kesal.

“M..., maaf! Aku... berangkat ke sekolah bersama Bang Edi. Dia mengajakku ketika aku mengantarkan pulang Andiev ke rumahnya.”

“Bohong...!” sanggah Sonia. Dan mendadak, ia kelihatan sedih. “Kau..., kau sudah tidak menyukaiku lagi, kan?”

Seketika itu, Ilyas menjadi serba salah.

***

Sudah hampir masuk. Bel akan berbunyi sebentar lagi. Ilyas mondar-mandir di depan kelas. Wajahnya terlihat tidak tenang. Sesekali ia menatap jam di tangannya dan jam dinding yang menempel tak jauh di atas papan tulis. Sebentar lagi masuk!

Tak henti Ilyas berharap, semoga kedua jam ini lebih cepat beberapa menit dari jam yang berdomisili di kantor guru. Sehingga ketika bel mulai menjerit, Sonia sudah puas menangis. Sahabat kecilnya di sana hampir seperempat jam ini tak henti mengurai air mata. Kepalanya tertunduk dan tubuhnya sesekali terlihat berguncang. Ilyas setidaknya masih dapat bersyukur, karena Sonia menangis terisak. Jika sampai anak itu menangis seperti bayi, keadaannya bisa lebih gawat.

“Yas, Sonia sudah cukup lama menangis. Mengapa tidak kau hibur? Jangan mondar-mandir saja di depan!” tegur teman-temannya.

“Kamu memang tega. Kamu membuat Sonia menangis.”

“Aku baru tahu. Ternyata, kamu suka membuat perempuan menangis.” Siswi lain menimpali.

Ilyas berhenti hilir mudik. Ia berdiri menatap semua. Sepertinya, giliran dia yang akan menangis. Semua menunggu tegang.

“Maaf...!” Akhirnya, itu yang terucap. Kepalanya jatuh tertunduk dan bel tanda masuk benar-benar menjerit histeris di lorong sekolah. Dengan air muka lusuh dan kusam, ia menghampiri mejanya. Semua mata mengikuti langkahnya yang begitu berat.

Ilyas duduk. Di sampingnya, Sonia tetap menangis dengan wajah menelungkup di meja.

“Nia, aku minta maaf.... Maaf jika sudah berbuat salah. Sekarang, kamu jangan menangis lagi.”

“Kamu sudah tidak sayang aku lagi!”

“Tidak! Itu tidak benar! Aku sayang kamu!”

Sonia mengangkat wajah dengan bola mata memerah. Ia menyeka air mata, lalu berkata, “Kalau begitu....” Ia menunjuk pipi kanannya. “Kiss!”

Jelas Ilyas kaget. Ia langsung ditodong dengan permintaan aneh.

“Jika tidak, ya, sudah. Kau memang benar-benar membenciku!”

“Tidak! Aku sama sekali tidak membencimu!”

“L – I – E. Bohong!”

“Tidak!”

“Kalau begitu....”

“Hanya sekali, ya?”

Sonia mengangguk.

Dengan gerakan yang sangat cepat, Ilyas lalu mengecup pipi kanannya. Senyum pun mengembang di bibir Sonia. Kelas menjadi riuh. Mendadak, ada suara deheman Bu Guru. Semua terdiam.

Bu Guru membuka rutinitas belajar mengajar di sekolah. Di sela-sela materi ilmu pengetahuan yang ia bimbing, sempat beberapa kali Ilyas mendapati Sonia menatapnya tak berkedip. Begitu ketahuan, Sonia hanya menyengir dan kembali ke haluan depan kelas.

Sepulang sekolah, Sonia akhirnya kembali berdampingan dengan Ilyas di deretan kursi depan. Semua telah duduk di kursi masing-masing. Kunci starter telah diputar dan mesin mobil mulai menyala. Tinggal memasukkan persneling serta menekan pedal gas, sedan hibah dari pamannya itu akan bergerak.

“Yas!” tegur Sonia sebelum menarik tuas persneling. Pemuda itu menoleh. “Lain kali, di saat kamu lengah, akan aku balas. Tapi bukan di pipi. Di sini....” Sonia menyentuh bibirnya.

Mendengar ancaman tersebut, mata Ilyas melebar. Terperanjat. Kursi yang ia duduki seakan berubah menjadi sebuah kompor dengan api menyala.

“Kalau begitu, aku pergi....” Ilyas hendak membuka pintu mobil.

“Bercanda!” Dan mobil pun bergerak.

Tertekan karena ulah Sonia, begitu matahari tergelincir agak jauh dari puncak kepala, Ilyas bertandang ke rumah Bang Edi. Ia merasa perlu untuk menemui Andiev dan sedikit bercerita. Berbeda dengan Ake dan Ikam, Ilyas lebih serasi dengan Andiev. Karena tidak ada kesibukan lain, Andiev menyempatkan diri untuk mengobrol di teras depan.

“Aku rasa, obatnya cuma satu, Bang,” jawab Andiev.

“Apa?”

“Terus dekat saja dengan Kak Sonia. Nanti, pasti terbiasa. Sudah tidak gugup dan gagap lagi jika dekat dengannya.”

“Tapi, aku takut.”

“Sebenarnya, apa yang membuat Bang Ilyas takut terhadap Kak Sonia? Orangnya cantik, kok!”

“Ia memang cantik, tapi agresif. Itu yang membuatku takut. Ditambah lagi..., ditambah lagi....”

“Abang sendiri tidak terbiasa didekati oleh gadis, kan?”

“Ya..., begitulah.”

“Tapi, kenapa Abang tidak takut denganku?”

“Tidak tahu.”

Seorang bocah laki-laki tergesa-gesa keluar dari rumah. Disusul temannya yang menenteng senapan air. Begitu ia hendak berlindung di balik Andiev, temannya menembak. Tembakan itu melenceng dan semprotan air pun menyiram wajah Andiev.

Andiev terpejam. Sesaat ia mematung.

“Maaf...!” Kedua anak itu langsung kabur.

Andiev terlihat menahan diri. Ia mencoba menyeka air di wajahnya dengan lengan baju. Ilyas segera mencegah seraya mengeluarkan saputangan. Bahkan, ia sendiri yang menyeka wajah Andiev.

Andiev hanya terkesima. Matanya tak lepas menatap wajah di hadapannya. Sampai sekarang, ia menganggap Ilyas adalah pemuda yang terlalu baik. Sewaktu menemukan dirinya di depan pintu dalam kondisi tubuh panas dan menggigil, Ilyas segera memberikannya selimut, mengobatinya hingga sembuh. Bahkan, ia memperbolehkan Andiev untuk menggunakan pakaiannya pada hari pertama. Selebihnya, Ilyas membelikannya pakaian, meskipun tidak begitu cocok. Kebaikan Ilyas yang ia terima, membuat Andiev tak sungkan mengaku sebagai adik angkat Ilyas pada para tetangga.

Seseorang berdehem. Andiev tersadar.

“Oh, dicari ke mana-mana, tidak tahunya sedang mesra-mesraan di sini,” tuduh Sonia. “Betul kata Ake dan Ikam. Kalian berdua ternyata diam-diam menjalin hubungan.”

“Dasar kedua orang itu! Membuat gosip seenaknya! Siapa yang mesra-mesraan?” Andiev terlihat marah.

“Itu..., tadi...?”

“Jangan diperpanjang lagi! Ada perlu dengan Bang Ilyas, kan? Tuh, dia ada di sini. Ambil saja!”

Ilyas menggeleng kencang. Tidak mau dibawa oleh Sonia. “Diev...!”

“Ingat yang kukatakan tadi? Cuma ini obatnya.”

“Tapi, efek sampingnya menyakitkan!”

“Tidak peduli efek samping, yang penting sembuh.”

“Kalian bicara apa, sih?” Sonia dibuat bingung.

“Tidak...,” balas Andiev.

***

Niken kembali ke LABTEK-DINA. Terlihat sepuluh pemuda tegap berseragam polisi, antri menerobos portal. Veren berbicara pada seseorang yang diduga Niken adalah pimpinan polisi-polisi muda itu.

“Bagaimana, Bili? Apakah kita perlu menambah personel lagi?” Veren tersandar di sebuah kursi. Orang yang berbicara dengannya telah memasuki lift.

“Tidak perlu, Pak. Kita sudah menurunkan yang terbaik.”

“Siapa maksudmu?”

“Alisya dan Gaya.”

“Hem! Dua gadis itulah yang paling bernafsu untuk menjebloskan Astro ke penjara. Sayangnya, kita perlu lebih dari sekedar dua orang.”

“Benar juga. Apalagi setelah mereka mengirim pesan bahwa mereka tidak ingin diganggu dan mematikan komunikator.”

“Oh iya, aku curiga. Jangan-jangan, mereka mendapat masalah.” Veren sedikit menjauh dari sandaran kursi.

“Setidaknya untuk kemarin, Dokter Karim berkata padaku bahwa mereka tidak apa-apa. Hanya pelipis kanan Alisya yang sedikit sobek, terkena pukulan Astro.”

“Dokter Karim ke sana? Mengapa kau tidak mengabariku?”

“Maaf, Pak. Waktu itu Bapak tidak di tempat. Dan setelahnya, aku lupa.”

Niken mendekat.

“Yang tadi personel tambahan dari polisi?” tanyanya.

“Iya,” sambut Veren.

“Kalau begitu, semoga saja mereka dapat menemukan giganium dalam tiga hari ini.” Ia merebahkan tubuhnya di sebuah kursi.

“Tiga hari? Ada batas waktu konkretnya? Setahuku, dari DIVENN hanya menetapkan untuk secepat-cepatnya.”

“Sekarang berubah. Jika dalam tiga hari ini tidak bisa ditemukan, keadaan bisa sangat gawat.”

“Memang sangat gawat.”

“Akan kutunjukkan apa yang kumaksud.” Niken memutar kursi ke sebuah komputer. “Bili, kuharap kau mengizinkanku untuk menggunakan komputer ini.”

“Silakan saja, Bu.”

Niken langsung bermain dengan papan ketik.

“Apa yang ingin kau tunjukkan?” sela Veren.

“Ini....” Ia memencet tombol Enter. Sebuah gambar tertayang di monitor besar. Sebuah benda angkasa terlihat terus mendekat. “Tepat pada waktunya.”

“Apa itu? Batu besar?” komentar Bili.

“Asteroid. Tepatnya, pecahan asteroid. Ini adalah kontak visual dari satelit DIVENN, ZONE. Meski telah dipecah menjadi bagian-bagian kecil oleh Pilar, atmosfer Bumi tetap tidak akan mampu menghadapi bagian yang satu ini. Dan sekarang, ia sebentar lagi akan memasuki atmosfer.”

Usai berbicara, asteroid tersebut sudah menghantam ZONE tepat pada kamera. Hingga layar besar itu hanya menampilkan gambar hitam.

Asteroid terus meluncur meninggalkan ZONE, menyisakan kerusakan yang cukup parah. Ia melesat terus, menerobos atmosfer Bumi, dan berpijar. Gesekannya antara lapisan udara Bumi tidak terlalu berpengaruh. Ia terus meluncur dan akhirnya menghantam sebuah gedung di tengah kota. Dan tak lama, kabarnya sudah sampai di hadapan Bili.

“Ada korban jiwa?” tanya Veren.

“Masih belum diketahui, Pak.”

“Ini baru permulaan,” sela Niken. “Kita harus melihat ini.”

Tombol Enter kembali ditekan. Layar besar yang gelap itu kembali menampilkan gambar. Semua mata tertuju ke sana.

“Apa lagi ini?”

“Gambar ini diambil dari satelit kami yang lain, DEX-3. Yang sedang kita lihat adalah rombongan asteroid dan puing-puing Cincin Zeus. Mereka terus menuju Bumi. Tersebar di mana-mana. Diperkirakan akan meneror Bumi selama lima hari dalam banyak kelompok, terhitung mulai saat ini. Beberapa kelompok akan jatuh di wilayah Indonesia. Dan yang mengerikan adalah kelompok terakhir di hari terakhir. Begitu banyak.”

Niken menghela.

“Kita tidak mungkin menganggap remeh masalah ini. Hingga hari keempat, kita mungkin masih selamat. Namun kelima, aku tidak yakin. Atmosfer Bumi terlalu lemah untuk mereka. Kita memerlukan Pilar jika kita tidak ingin negara ini menghilang dari peta dunia. Sementara Pilar, memerlukan giganium. Sementara giganium, yang kita miliki sekarang hanyalah versi lama. Daya hancurnya sangat-sangat minimal. Generasi baru dari giganium yang telah kami produksi, kini malah ada di tangan Astro.”

“Apakah ini akhir dari Indonesia?” Veren menerawang.

“Negara-negara tetangga sudah kami hubungi. Mereka bersedia membantu. Tapi, meriam pelindung mereka tidak akan meninggalkan negara masing-masing.”

“Kita tidak bisa mengandalkan meriam pelindung negara tetangga. Mereka juga memerlukan benda itu.”

Veren dan Niken terdengar menghela. Bili dan Ayu saling tatap. Mereka mulai menyadari, akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Begitu LABTEK-DINA hanya dipenuhi dengung mesin, sebuah nada peringatan memutar leher Ayu ke sebuah monitor komputer.

“LABTEK, ada sebuah kiriman untuk kalian. Berikan akses masuk.” Seorang petugas DINA mengontak dari permukaan.

“Sebentar, aku akan membuka pintu lift barang.” Ayu segera mengetikkan kata sandi. Ia mendapatkan semua akses kunci dan segera mengeksekusi perintah membuka pintu lift barang.

Ayu berputar. Bili menyambutnya dengan bertanya, “Siapa? Apa yang dikirim?”

“Mungkin, pesanan Polisi atau DINA. Untuk ikut serta dalam misi menangkap Astro. Mereka mengirim sebuah mesin.” Ayu sempat melihat sekilas proses bongkar muat di permukaan. Kesibukan yang diamati oleh kamera pengawas sepertinya tidak begitu menarik, sehingga Ayu lebih berputar menghadap pintu sebuah koridor.

Jawaban Ayu terlalu buram. Bili akhirnya menghampiri komputer. Ia memutuskan untuk mengecek sendiri melalui beberapa kamera pengawas. Begitu desktop komputer dipenuhi sembilan petak, kelopak mata Bili seakan tak mau menutup.

“Sampai seperti ini...?” Bili kembali memasang kacamata usai mengucek mata.

Pintu koridor yang menjadi jembatan antara LABTEK dan lift barang membuka. Dentuman kaki sebuah benda logam setinggi dua meter, sedikit menggetar isi LABTEK. Bili terperangah, Veren menatap penasaran, sementara Niken menyambut dengan senyum.

Robot itu terparkir di tengah-tengah LABTEK. Dua wanita berseragam jas putih panjang menyusul keluar dari koridor. Logo sebuah perusahaan terkemuka juga tampak di salah satu sudut jas yang mereka kenakan.

“Selamat berjumpa kembali, Komandan Veren,” tegur Profesor Irene. Kali ini, penampilannya sedikit berbeda, karena dibalut pakaian kerja dari perusahaannya sendiri. Sewaktu ia bekerja di LABTEK-DINA, mereka dianjurkan untuk mengenakan baju kerja dari laboratorium divisi tersebut.

Veren berdiri dan menyambut tamunya. “Senang berjumpa kembali dengan Anda, Profesor.”

“Terima kasih.”

“Digta? Akhirnya, kau kembali!” Bili dengan rambut jabriknya seolah gembira dengan kehadiran gadis setingkat Alisya tersebut. Setingkat dalam kerasnya isi hati dan kepala mereka.

“Kau menantiku? Apa hubungan kita?” Insiden terakhir benar-benar meninggalkan kesan mendalam di hati Digta. Seumur hidup, tampaknya Bili akan menduduki peringkat teratas orang yang akan ia bunuh, jika membunuh diperbolehkan.

“Kalau boleh tahu, angin apa yang membuat Anda kembali kemari? Ada sesuatu yang tertinggal atau... mereka?” Bergantian, Veren menoleh Bili dan Digta. Gadis itu berdiri agak di belakang Profesor Irene. “Dan robot itu...?”

“Aku berharap, mereka dapat hidup dalam satu dunia.” Profesor Irene sedikit menyinggung perihal Digta dan Bili. Digta terlihat menoleh.

Profesor Irene berputar. Ia menghadap ke tengah LABTEK. “Tentang robot itu..., ia bernama MIGEN, Miniature of Generation Force. Ia adalah hasil adopsi terhadap teknologi mesin tempur pada masa koloni.”

“Jin...?” tebak Veren.

“Ya. Hanya saja, seperti namanya. Kami membuatnya lebih kecil, tanpa pilot, dan tanpa sistem persenjataan lengkap. Kami mempereteli beberapa bagian, sehingga ia tidak begitu mirip dengan Generation Force yang asli. Atau, biasa kita sebut jin.”

“Tidak lengkap, tetapi masih memiliki sistem persenjataan,” rangkum Veren.

“Begitulah. Kami masih memerlukan sifat penghancurnya. Meskipun, hanya sekedar penunjang riset. Dan mengenai kedatangan kami, kami ingin membuka portal paralel.”

Profesor Irene kembali menghadap Veren.

“Portal paralel?”

“Fitur ini dapat membuka satu portal lagi ketika portal lain masih terbuka. Kami memerlukan ini atas permintaan langsung dari DIVENN. Ini ada hubungannya dengan masalah baru yang tengah kita hadapi.” Kacamata Profesor Irene menangkap proyeksi monitor di hadapannya. Monitor besar di ruang operator masih setia dengan siaran langsung dari satelit DEX-3.

“Ya. Seharusnya, mereka berada dalam posisi stasioner,” komentar Niken.

“Dan Cincin Zeus memberikan kami firasat buruk,” sambung Profesor Irene. “Kami akan memeriksanya.”

Segera ia kembali pada Veren. “Dengan seizin Anda, kami akan mulai bekerja. Kami berjanji bahwa kegiatan kami tidak akan mengganggu portal yang terbuka.”

“Kalau begitu, silakan.”

“Terima kasih.”

Selain kepada Veren, Profesor Irene juga meminta izin kepada Bili. Dalam misi yang ia emban sekarang, Profesor Irene akan kembali memanfaatkan fasilitas LABTEK. Begitu Bili mengangguk, ia segera mempersilakan Digta menghampiri konsol yang mengatur mesin waktu. Digta bertugas memberikan beberapa parameter untuk sebuah misi yang telah mereka persiapkan.

Ayu mendekat. “Ada yang bisa kubantu?”

Digta menggeleng. Begitu Ayu hendak beranjak, Profesor Irene menghampirinya.

“Kau mungkin bisa membantuku. Aku baru saja menghubungkan kontroler MIGEN ke konsol. Tetapi, aku perlu akses administrator untuk dapat mengaksesnya.”

“Kalau begitu, tunggu sebentar.”

Ayu mendekati komputer di sisi Bili. Sebuah pesan menyambut. Sistem mendeteksi adanya modul baru yang terhubung.

“Apakah hendak diakuisisi?”

Ayu menekan tombol “Ya”. Baris kata sandi muncul di bawah jendela pesan. Jemari Ayu bergerak lincah mengisi sandi diakhiri menekan Enter. Selanjutnya, sebuah batangan proses mulai terisi menuju angka seratus persen.

Berbeda dengan Ayu yang berinisiatif membantu. Bili malah asyik memandangi wajah Digta yang bergelombang datar.

“Sepertinya, ia masih membenciku,” ratap Bili. Ayu berbalik. “Semoga Alisya pulang dalam keadaan masih bernyawa. Sehingga Lebaran nanti, aku tidak perlu meminta maaf lagi kepada Digta.”

Ayu menghampirinya. Ia sedikit menggoda dengan nada bicara yang cukup datar. Nada bicara yang sudah mendarah daging di bibir Ayu.

“Dari tadi kuperhatikan, kau hanya melirik pada Digta. Kau menyesali perbuatanmu dan mengharapkan maaf, atau sekaligus naksir padanya?”

Mata Bili melebar. Segera ia membekap rekan satu timnya. Ia memperingatkan dengan sedikit berbisik, “Jika ia mendengarnya, aku bisa dihajar habis-habisan!”

Ayu dilepas.

“Aku mohon maaf. Aku hanya ingin, kau jangan sampai kehilangan fokus dalam pekerjaan ini.”

“Terima kasih....”

“Oh iya, negara ini dalam ambang kehancuran. Aku belum menikah. Kau mau menjadi suamiku?”

“Ha?”

“Lupakan. Tidak ada pria yang suka terhadap gadis dingin sepertiku.”

Profesor Irene mendekat.

“Bagaimana prosesnya?”

Ayu melirik ke monitor. Batangan proses telah terisi penuh.

“Sudah selesai. Kontroler sudah dapat diakses melalui konsol LABTEK.”

“Terima kasih.”

Profesor Irene menghampiri sebuah komputer. Setelah beberapa saat mengutak-atik, MIGEN yang terparkir tenang mendadak bereaksi. Matanya bercahaya. Ia maju selangkah dan berputar satu lingkaran penuh. Kedua tangan kemudian teracung dan beberapa perlengkapan berderet keluar dari tangannya.

Profesor Irene menekan Enter. MIGEN kembali tenang.

“Kau sudah selesai, Digta?”

Digta mengacungkan jempol.

“Buka portalnya!”

Digta mengaktifkan parameter yang telah ia persiapkan. Menara melengkung kini bergerak saling menjauh. Lingkaran bagai hawa panas yang semula berdiam diri di tengah-tengah gap menara, akhirnya berpindah ke sisi kiri. Sebuah lingkaran serupa perlahan muncul dari sisi kanan.

“Portal kedua berhasil dibuka. Ujung portal adalah kubah utama Distrik Aphrodite, koloni Cincin Zeus seratus dua puluh hari yang lalu.”

Profesor Irene berbalik ke konsol. Ia mengeset sesuatu dan segera menghadap ke arah MIGEN. Sang robot mendadak bergerak mendekati mesin waktu. Ia menaiki empat buah anak tangga dan berdiri kokoh di depan portal.

“Pemeriksaan ulang sistem....” Digta mengawasi batang-batang proses yang terus bergerak di monitor. Beberapa data statistik juga tak luput dari matanya. “Mempersiapkan sistem untuk kehilangan kontak komunikasi. Mempersiapkan sistem untuk lingkungan gravitasi nol. Suplai energi normal. HIS online.”

“HIS?” potong Veren.

“Hyper Injection System. Hebat, bukan? Padahal, kami baru menjalankan riset selama tiga bulan. Dan kami telah mengadopsi sistem robotika canggih tersebut. Ya..., walaupun masih kalah dibandingkan sistem lain. HIM dan HER.”

“MIGEN dipastikan stabil, Prof. Bisa kita lepas,” ingat Digta.

“Ya. Lepas MIGEN.”

MIGEN mengayunkan kakinya. Tubuhnya menyentuh portal yang muncul di sisi kanan gap antara dua menara lengkung. Beberapa detik setelahnya, MIGEN benar-benar lenyap.

“Pengembalian jalur komunikasi sedang dalam proses. Menunggu kontak audio dan visual.” Digta memperlihatkan sebuah batang proses yang terus diisi di layar besar. Angka seratus persen pun dicapai. Layar berganti dengan cepat menampilkan atmosfir temaram di sebuah ruangan yang cukup luas.

Profesor Irene menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi. “Kita memiliki waktu sekitar lima jam untuk melakukan eksplorasi. Luncurkan DORGIBA terlebih dahulu sebelum kita meneruskan penelitian. Aku serahkan satelit itu padamu.”

“Baik!” Digta kembali bekerja dengan komputer.

Bagian dada MIGEN sepertinya terbuka. Sebuah benda metal perlahan keluar dan melesat.

Veren mendekati monitor. “Benda yang barusan itu apa?”

Profesor Irene menoleh. “Yang keluar dari dada MIGEN?”

“Ya.”

“Itu DORGIBA. Satelit penjelajah Borneolab. Ia bisa melakukan pemindaian terhadap benda tiga dimensi dan menyimpan datanya. Pengembangan lebih lanjut dari DEX-3 milik DIVENN.”

“ Lalu, apa itu Cincin Zeus? Apa benar, Cincin Zeus adalah koloni?”

“Iya.” Profesor Irene membenamkan punggungnya di sandaran kursi. “Cincin Zeus adalah koloni terbesar kedua setelah Sapphire. Kami baru mengetahui keberadaan Cincin Zeus usai meneliti catatan pada Koloni Sapphire. Berbeda dengan koloni-koloni lain dengan pusat pemerintahan yang mengorbit planet inang, Cincin Zeus satu-satunya koloni yang tidak memiliki planet jajahan dan membangun kekuatan di sabuk asteroid.”

Profesor Irene menoleh Veren. “Untuk sementara, kami hanya memiliki sedikit informasi. Sebelum meneliti lebih lanjut, insiden dua minggu lalu telah mengacaukan segalanya.”

“Sudah ada dugaan mengapa koloni tersebut begerak ke arah Bumi?”

“Ledakan nuklir. Perang Kosmik memang memusnahkan seluruh penduduk koloni itu, tetapi tidak dengan bunker-bunker penyimpan nuklir mereka. Setelah koloni mati, kontrol terhadap orbit asteroid-asteroid di sekeliling koloni otomatis lenyap. Tumbukan asteroid kami duga sebagai pemicu ledakan. Cincin Zeus memiliki puluhan bunker dan reaktor nuklir.”

“Ini ada hubungannya dengan cahaya terang yang ditangkap oleh DEX-3 di arah Mars tiga bulan lalu.” Niken mengambil giliran. “Sejak awal, kami menaruh curiga bahwa cahaya terang tersebut adalah ledakan nuklir. Karena sebelumnya, kami sudah mendapat informasi dari Borneolab. Kami juga berpikir, ledakan itu akan menghancurkan semua koloni dan tidak berpengaruh apa-apa terhadap kita. Tapi berbeda dengan kenyataan, puing-puing koloni malah bergerak bahkan bersama ratusan asteroid di sekitarnya.”

“Dan kami menduga, akan ada yang lebih gawat dari serbuan asteroid.”

55
Average: 5.5 (4 votes)
dikirim dirgita 29 weeks 6 days yang lalu
Tag: