Hygia Sophia (Chap. 2 : Pulau Misterius)

43
points

Sudah sekitar lima belas menit ia duduk di kursinya. Pesawat sudah meninggalkan landasan sejak tadi. Pemandangan di luar sudah tidak lagi berlatar pohon, sawah, atau padang rumput kecil. Kini yang ada hanya hamparan awan yang menggantung di langit bak kapas-kapas yang bertebaran di angkasa. Matanya kembali mengembara. Dua orang pria duduk di deretan kursi lain. Salah satunya sedang membaca sebuah buku tebal mirip ensiklopedi. Lampu baca dengan sinar redup menyinari buku yang tengah dibacanya. Seorang pria lagi, yang duduk di sampingnya sedang tertidur pulas.

Sekali Adam mencuri pandang pada salah satu pria tersebut―pria yang sedang membaca. Laki-laki itu berpostur tinggi, lumayan gemuk serta kacamata yang bertengger di hidungnya yang mancung membenarkan anggapan bahwa ia mempunyai masalah dengan penglihatannya.

Beberapa pramugari hilir mudik di lorong pesawat yang sempit, melewati tiap bangku penumpang lain dengan gerakan senada. Baik secara postur dan kualifikasi menjadi seorang pramugari menurutnya sama saja. Tinggi, berpenampilan menarik, tubuh dan berat badan harus proporsional (ideal dan enak dipandang).

Mungkin karena pengaruh udara dingin atau keheningan yang merasuk, ia menguap. Rasa kantuknya tiba-tiba menerjang. Kedua kelopak matanya berat, seolah-olah berton-ton besi menggantung pada tiap helai bulu matanya―mencoba menutupnya. Ia pasrah karena tak ada gunanya melawan. Kalaupun sebaliknya, ia pasti kalah. Ia memperbaiki posisi duduknya dan bersiap tidur.

“Mau sekolah di Jakarta ya?” pertanyaan itu membuyarkan konsentrasinya yang akan tertidur.

Ia menoleh ke arah datangnya suara tadi. Cepat-cepat ia tersenyum, menggeleng sekali, lalu berkata dengan suara tenang.

“Saya mau melanjutkan pendidikan di Bandung,” kemudian melanjutkan, “Saya mendapatkan tawaran dari salah satu universitas di sana.”

“Oh! Ternyata kau mahasiswa. Maaf, saya kira kau masih SMU dan berniat pindah pada salah satu sekolah di Jakarta. Kau tahu kan, sekarang ini sudah menjadi hal biasa bagi mereka anak-anak abg jika pindah sekolah. Bagi mereka, itu semua adalah tren yang harus diikuti. Padahal banyak sekali yang harus mereka lakukan, baik dari menyesuaikan diri lingkungan sekolah, menyesuaikan diri dengan teman baru, dengan peraturan atau hal-hal lainnya.”

Berharap pembicaraan tak terpotong sampai di situ saja, pria itu melanjutkan,
“Kalau boleh tahu, kau mau ambil jurusan apa di universitas itu?”

“Jurusan Teknik Informatika,” jawab Adam singkat.

“Jurusan yang bagus...” katanya lalu melanjutkan, “Saat ini, lulusannya memang banyak dibutuhkan oleh perusahan-perusahaan yang bergerak dalam bidang apapun. Tapi sepertinya, persaingannya sangat ketat. Jurusan itu sekarang ini juga banyak digemari oleh anak-anak lulusan SMU, baik pria maupun wanita.”

“Tidak jadi masalah buat saya. Walaupun persaingannya ketat, tapi kemampuan seseorang itu berbeda-beda. Tidak ada yang sama. Tidak ada seorang pun yang bisa menguasai semuanya. Tak ada seorang pun yang memiliki satu bakat dapat menguasai semua bakat yang lain. Bahkan Albert Eistein pun tak bisa memaksakan dirinya menjadi seperti Sigmund Freud. Tak ada yang bisa,” ujar Adam tak mau kalah, “Namun yang lebih penting ada pada diri kita sendiri. Apakah kita ingin mencapai semua itu atau tidak? Apakah kita ingin berhasil atau tidak? Itu yang sekarang menjadi pertanyaannya.”

Pria itu nyegir, memamerkan deretan giginya yang putih.

“Kalau menurutku, kau anak yang pintar melihat situasi. Kata-katamu itu sungguh mengejutkan untuk seorang anak seusiamu, yang biasanya berfikir untuk kesenangan semata. Saya seolah-olah sudah bisa membanyangkan masa depanmu, jika memang kau masih tetap memegang prinsip seperti yang kau katakan tadi.”

“Kenalkan nama saya Indra Darmawan. Saya bekerja sebagai pengacara,” katanya memperkenalkan diri. Sebelah tangannya melewati sanggahan kursi, berniat memberi salam.

“Ini kartu namaku,” ia memberikan kartu nama yang baru diambilnya kepada Adam.

Adam memandangi kartu nama itu sebentar. Indra Darmawan, SH―nama itu yang tertulis tebal pada kartu tersebut. Tampaknya laki-laki itu benar-benar profesional dalam bidang yang ditekuninya. Sangat terlihat jelas dari cara berpakaian maupun caranya berdandan. Dimasukkannya kartu nama itu ke dalam saku bajunya.

Jam tangannya sekarang sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Tidak terasa sudah sekitar tiga puluh menit ia terbang di angkasa bersama burung besi raksasa yang menjadi tumpangannya. Ia berpikir dalam-dalam.

“Nanti aku akan pulang ke kampung halamanku jika libur semester dua telah tiba. Itu waktu yang tepat untuk pulang menjenguk Ayah, Ibu, dan kedua adikku,” ujarnya dalam hati.

Kini dua orang pramugari muncul dari ekor pesawat membawa sebuah troli aluminium. Dus-dus makanan memenuhi salah satu rongga pada troli tersebut. Dengan cekatan, kedua pramugari itu membagikan dus itu kepada para penumpang.
Lama berselang setelah kedua pramugari itu pergi, pesawat seperti menabrak sesuatu―bergetar pelan, membuat beberapa penumpang bergoyang ke kiri dan ke kanan.

Tapi itu tak membuat semua penumpang panik. Ekspresi mereka biasa saja. Itu seakan-akan sudah menjadi hal yang lumrah jika pesawat memasuki kumpulan awan―jika terjadi gerak turbulensi. Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi seluruh badan pesawat. Tetes-tetes hujan terdengar menakutkan apalagi disertai dengan sambaran petir yang menyambar tanpa tujuan, menghantam silih berganti semua yang coba menghalangi lajunya.

Adam menatap keluar melalui jendela pesawat. Awan yang tadinya putih bersih dan tak bernoda kini menjadi gelap gulita, seolah-olah kegelapan tersedot ke dalamnya.

Padahal baru jam dua belas siang, kata Adam dalam hati.

Ia setengah berdiri dari kursinya, memandang ke depan dan belakang. Hampir semua penumpang tertidur, selebihnya ada yang asyik membaca atau mengobrol dengan teman sebangkunya tanpa mempedulikan apa yang akan terjadi. Rasa kantuk kini mulai datang menghampirinya. Sebelah tangan menutup mulutnya saat menguap. Sekali lagi matanya terasa berat.

Sebelum menutup matanya, ia menoleh ke samping―tempat Indra Darmawan duduk. Pria itu juga tertidur, begitu pula orang yang duduk di sebelahnya. Akhirnya Adam menutup matanya rapat- rapat. Sambil membetulkan posisi duduknya, ia tertidur.

۝۝۝***

Entah sejak kapan semua penumpang berteriak. Menjerit-jerit ketakutan tanpa henti. Menangis dan berdoa sebisanya. Pesawat lanjut bergetar hebat, memuntahkan barang-barang yang berada di bagasi di atas kursi. Tak ayal beberapa orang tertimpa bawaannya sendiri. Suara sirine pemberitahuan tak henti-hentinya berbunyi, melolong bagai srigala yang menyambut datangnya bulan purnama, seperti suara anjing yang menyalak jika melihat pencuri mengendap di rumah tuannya. Benar-benar menakutkan.

Di luar, api melahap sepertiga ujung sayap. Menghentikan kerja mesin-mesin yang mengontrolnya. Lambaian api menari-nari terkena hembusan angin. Petir menyambar lagi, membuat kobaran api semakin bertambah besar, siap melahap yang tersisa.

Semua pramugari sibuk menenangkan para penumpang (jauh di dalam hatinya mereka juga ketakutan), terlebih lagi seorang Ibu yang duduk di bangku paling depan. Bayinya yang berumur sekitar tiga bulanan dipeluknya erat. Benturan yang melanda tangannya tidak ia pedulikan betapa pun sakitnya. Suara tangisan bayinya tak kalah nyaring dengan suara sirine yang sebelumnya telah berbunyi. Adam tersentak hebat hingga membuat kepalanya terbentur ke kursi depannya. Anehnya terasa sakit. Adam lalu memijati area kepalanya. Ternyata kejadian itu bukan mimpi. Itu yang memang sebenarnya terjadi.

“Tenang saja... kita percayakan semuanya pada pilot,” ujar Indra Darmawan yang duduk di sebelahnya tersenyum memandanginya.

Adam masih kebingungan dengan semuanya. Setelah mengencangkan sabuk pengaman, seorang pramugari bertubuh jangkung menghampirinya.

“Tolong kenakan pelampung yang ada di bawah kursi Anda,” serunya.

“Memangnya kenapa?” tanya Adam panik. Kesadarannya masih belum sepenuhnya pulih.

“Apa yang terjadi dengan pesawat ini?” tanyanya lagi.

“Sepertinya ada kerusakan pada bagian sayap. Tadi ada kilat yang menyambar baling-baling pesawat bagian kiri. Sekarang kami mohon Anda untuk tenang. Pilot kami sudah terlatih dalam menyelesaikan masalah seperti ini,” kata pramugari itu menjelaskan.

“Sebaiknya Anda bersiap-siap, karena sebentar lagi mungkin kita akan mendarat darurat,” lanjutnya. Air mukanya berbeda. Wajahnya juga menunjukkan ketakutan yang amat sangat.

Pesawat kembali mengalami hentakan hebat sehingga beberapa pramugari ada yang terjatuh. Kejadian itu membuatnya mual, serasa ingin muntah. Suara tangisan dan teriakan makin gencar terdengar, bahkan sekarang suara itu malah makin banyak dan makin histeris. Beberapa orang yang tadinya terlihat tenang, sekarang ekspresinya berubah drastis. Setiap pandangan mata mereka menunjukkan rasa cemas, ketakutan, dan terguncang akan peristiwa yang sedang mereka alami saat ini.

Beberapa turis asing yang berjarak beberapa bangku dari Adam sedang duduk terpaku. Badan mereka gemetaran. Setelah mengencangkan seat belt, mereka berpegangan kuat pada kursi di depan, berharap tidak terpelanting saat pesawat bergetar lagi.

Sudah hampir empat kali pesawat bergetar hebat. Dan lampu-lampu yang sebelumnya menyala kini mati. Semua penumpang semakin panik. Teriakan-teriakan tak hentinya menghiasi ketegangan. Adam kembali menengok ke bangku di sebelahnya. Indra Darmawan yang tadi kelihatan tenang kini ketakutan. Matanya dipejamkan, mulutnya komat-kamit seperti orang yang sedang membaca doa.

“Tolong...” hanya teriakan itu yang terdengar secara bergantian.

Adam melepaskan sabuk pengamannya. Ia mencoba berdiri walaupun kakinya masih gemetaran namun tetap dipaksanaya untuk berjalan, dipaksa melewati barisan kursinya. Kaki-kaki yang menghalangi langkahnya ditendang. Seorang pramugari berniat menghentikannya tapi tidak diacuhkannya. Ia mencari letak pintu darurat. Saat mulai berjalan semua mata menoleh kepadanya. Seseorang dengan napas yang memburu dan memegang dadanya sedang ditenangkan oleh seorang pramugari.

Kini pintu darurat sudah berada di depan mata. Pintu tidak lebih tinggi dari tubuhnya. Tak ada yang menempati dua buah kursi di deretan tersebut. Pernah ia melihat film-film di televisi, bagaimana daya hisap pintu darurat karena pengaruh tekanan udara dari luar. Benar-benar luar biasa. Tapi daripada mati konyol tanpa ada usaha dan menunggu kematian yang makin dekat menghampiri, tak dihiraukannya semua itu. Ia menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta.

“Aneh mengapa tidak ada seorang pun yang berpikiran untuk membuka pintu ini, bahkan para pramugari sekalipun mengacuhkannya,” pikirnya.

Ditariknya tuas pintu itu, namun tetap tidak mau terbuka. Didorongnya lagi dengan sekuat tenaganya, tapi masih belum terbuka. Ia berteriak, sambil mengumpulkan semua kekuatan pada kedua tangannya. Tonjolan urat-uratnya menghiasi lengan dan lehernya.

“Aku tidak mau mati di sini...” teriaknya.

Akhirnya pintu darurat terbuka juga. Saat akan melompat, bajunya terkait oleh sesuatu. Setelah ditengoknya ke belakang, ternyata Indra Darmawan yang menarik bajunya. Tatapannya sungguh menakutkan. Matanya melotot, butir-butir keringat telah membasahi seluruh wajahnya. Air mukanya yang ketakutan menjelaskan maksudnya.

“Tolong aku...” katanya, “Aku juga tidak mau mati di sini.”

Di ruang cockpit, pilot masih berusaha mengendalikan pesawat. Asistennya yang duduk di samping memencet tombol-tombol yang ada di depannya. Kemudian berbicara dengan suara ketakutan.

“Kita kehilangan kendali, Pak. Komunikasi kita juga terputus dengan kantor pusat. Kita akan menabrak jika keadaannya tetap seperti ini,” katanya gelisah.

“Jangan berbicara seperti itu, cepat kerjakan saja tugasmu,” bentak sang pilot.

Kedua tangannya yang kekar sekuat tenaga membelokkan kemudi pesawat. Namun lautan sudah di depan mata. Riak gelombang makin jelas terdengar, seperti memanggil-manggil untuk bermain bersamanya. Pesawat itu menabrak.

Hantaman keras terjadi disertai suara nyaring dari ledakan mesin pesawat. Api dengan cepat melahap bagian ekor hingga badan pesawat. Pesawat itu meluncur menabrak air. Bagian depannya terlihat berantakan. Bagian sayap dan ekornya berhamburan kemana-mana. Sulit dipastikan bahwa semua penumpang dan awak pesawat itu dapat selamat. Kecelakaan seperti itu sudah tentu memakan semua nyawa orang yang mengalaminya. Takkan ada yang selamat.

Sempat ada yang mencoba melompat saat pesawat belum menghantam laut, tapi sayang baling-baling pesawat yang terlepas tepat mengenai tubuhnya. Membelah tubuhnya menjadi dua dan mengeluarkan seluruh isi perutnya. Benar-benar menjijikkan.

Ganasnya ombak kemudian menghilang dari permukaan laut. Hanya serpihan-serpihan pesawat yang banyak bertebaran di permukaan air. Serpihan itu seakan menjadi tanda akan peristiwa tersebut. Ombak-ombak yang saling menggulung seolah-olah ingin menyampaikan berita duka ke seluruh belahan dunia.

۝۝۝***

Suara gesekan daun kelapa menandakan betapa angin saat itu berhembus dengan lembut. Kicauan burung berwarna kecoklatan turut memeriahkan suasana saat itu. Ombak-ombak kecil yang menggulung dari tengah lautan membawa banyak serpihan kayu dan benda lain ke bibir pantai. Beberapa ekor kepiting sedang bermain kejar-kejaran dengan sesamanya. Kedua capitnya menganga seperti mulut singa. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa ada burung pemangsa yang memperhatikan mereka sejak tadi. Mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Burung lalu bertengger sebentar di pucuk pohon kemudian melebarkan sayap dan terjun bebas dari pos penjagaannya. Menukik cepat dan tanpa suara. Sayapnya yang lebar ditumbuhi bulu-bulu halus bergoyang membelah angin.

Tampaknya salah satu kepiting laut menyadari kedatangannya. Ia berlari lalu masuk ke liang perlindungannya. Namun teman bermainnya bernasib lain. Cengkraman burung elang tepat mengenai sasaran. Kuku-kukunya yang tajam merobek cangkang si kepiting dengan sekali sergapan. Paruhnya yang bengkok mengoyak-ngoyak capitnya. Sial nasibnya. Kepiting itu mati tanpa sempat melakukan perlawanan. Itulah hukum rimba, dimana yang kuat yang akan menjadi pemenang, sedangkan yang lemah akan dijadikan mangsa oleh yang kuat.

Sesosok tubuh tampaknya terbaring di bibir pantai. Ombak yang membawa pasir membasahi kakinya yang tak bersepatu. Bajunya yang tadi basah oleh air laut kini sudah kering terkena sinar matahari. Suara buah kelapa yang jatuh serta deburan ombak sedikit demi sedikit mulai meyadarkannya.
Matanya yang tadi tertutup rapat, kini mulai terbuka. Dengan sisa kekuatan, tangannya lalu menopang tubuhnya dan duduk di atas pasir pantai tempatnya tadi tertidur. Kepalanya masih pusing. Jaket pelampungnya dibuka dan dilempar. Dengan heran ia memandangi sekeliling tempat itu.

“A... aku hidup. A... aku masih hidup. Terima kasih Tuhan,” ujarnya sambil menengadah ke langit, sembari mengucap syukur.

Ia kembali tersadar, "Di... dimana aku. Tempat apa ini?"

>>Bersambung<<

Your rating: None Average: 6.1 (7 votes)
dikirim abc 34 minggu 2 hari yang lalu
Tag: