Ini adalah seri B untuk bab keenam Kisah.Pernyataan lisensi: Teman-teman boleh menyalin cerita ini ke media simpan lokal. Penggandaan diizinkan selama dalam bentuk digital dan tidak untuk melanggar norma dan peraturan yang berlaku, dan bukan untuk tujan komersial. Jangan mencetak cerita ini ke atas kertas! Pohon sudah banyak yang ditebang untuk itu.
"Kemarin, Astro ditemukan terkapar di sela-sela kargo oleh petugas pelabuhan. Khawatir orang yang ia temukan adalah korban kriminal, ia menghubungi polisi. Sementara polisi, segera membawa Astro ke rumah sakit. Lagi.
Seharian penuh, kondisi Astro dalam kritis. Menurut dokter, ada semacam zat yang memasuki tubuh pasien ini. Zat itu membuat sistem saraf Astro menjadi kacau. Ototnya pun berkontraksi tidak menentu.
Selain zat asing, para tenaga medis juga menemukan benda elektronik yang memancarkan sinyal di balik punggung Asrtro. Berharap bahwa benda itu adalah pemicu reaksi, operasi kecil langsung digelar untuk mencabut benda tersebut.
Menjelang dini hari, kondisi Astro mulai membaik. Dan pagi ini, ia sudah dapat membuka mata. Bahkan, ia juga telah melarikan diri dari rumah sakit. Lagi. Ia juga sempat mencaplok buah-buahan di kamar pasien lain. Sudah dua hari ini ia tidak mengisi perut.
Astro nyaris sembuh, begitu pula dengan Alisya. Musuh besar Astro ini sudah dapat melangkahkan kaki dengan baik. Begitu bangun, ia langsung mencari Gaya dengan langkah yang masih goyang. Perasaannya tidak enak setelah digerayangi mimpi buruk. Di mimpinya, ia melihat sebuah asteroid menghantam Bumi. Ukuran batu itu sangat besar. Hantamannya meluluhlantakkan hampir seisi planet.
Ia mendapati Gaya di depan rumah. Temannya tersebut sedang menyiram tanaman.
“Alisya? Kau sudah bisa berjalan? Kau... sudah sembuh?” sambut Gaya.
“Hampir....”
“Syukurlah.”
“Bagaimana denganmu? Memarmu sudah hilang?”
“Sama sepertimu. Hampir....”
“Jika demikian.... Gaya, bagaimana kalau kita bergerak sekarang? Kita cari Astro. Aku bermimpi buruk tentang masa kita.”
“Mimpi itu sudah biasa, Alisya. Bunga tidur.”
“Tapi....”
“Oke, kita akan pergi. Tapi, nanti siang saja. Bagaimana?”
“Kenapa?”
“Kau masih belum sembuh benar. Lagi pula, kau belum mandi.” Langsung, dengan selang air di tangan, ia menyemprot tubuh Alisya hingga basah kuyup.
“Berhenti, Gaya! Berhenti!”
Gaya terkaget dan menyembunyikan selang air di balik punggung.
“Aku masih belum sembuh benar.... Nanti malah demam!”
“Maaf...!”
***
Hampir dua jam. LABTEK kembali hening usai sedikit perbincangan antara Digta dan Ayu. Digta mempertanyakan kesungguhan gadis berbongkah batu es tersebut tentang idenya untuk mati bersama. Dan tanpa menunggu lama, Ayu segera menjawab bahwa ia tidak main-main.
“Tapi, orang-orang yang ditugaskan untuk menangkap Astro adalah orang-orang pilihan. Mereka dapat dengan mudah menjebol pintu yang macet itu, membawanya keluar, dan segera mengamankan Astro ke Markas Besar Polisi.”
“Bagaimana jika kerusakan di luar sangat parah? Tidak memungkinkan kita untuk pergi ke mana-mana. Satu-satunya jalan adalah mengurung Astro di sini. Sementara, Astro adalah orang yang sangat nekad. Ia bisa membunuh kita semua.” Jawaban yang dianggap logis oleh Ayu segera dilontarkan.
Digta terdiam. Ia diam bukan karena ucapan Ayu. Ia diam karena ucapannya sendiri.
“Tunggu.... Apa yang baru saja aku katakan...?”
Usai beberapa detik terlihat bingung, mendadak tangannya menyambar bahu kiri Ayu. Gadis dengan pembawaan berseberangan dengannya tersebut hanya menoleh. Sementara Digta, terlihat begitu antusias.
“Polisi-polisi itu! Kita bisa meminta bantuan mereka. Kita hanya perlu beberapa orang yang pernah menggunakan fibernetik. Kekuatan otot mereka mungkin bisa menjebol pintu.”
“Ide bagus....” Ayu sedikit menjauh dari sandaran kursi. Dengan segera, jemarinya kembali bermain lincah di atas papan ketik.
***
Setelah perbincangan, mereka berempat hanya bisa duduk di kursi masing-masing, tanpa banyak berbuat. Digta kembali menyeret kursi ke pojok ruang operator. Jemarinya memutar-mutar pena dengan lihai. Sementara Ayu, sesekali membuka jalur komunikasi ke komputer mainframe DINA. Begitu gagal, ia langsung pindah ke modus permainan untuk menghabiskan waktu beberapa menit. Kemudian, mencoba lagi.
“Mereka akan datang sekitar satu jam lagi. Ada kendala teknis.” Ayu bersuara pelan. Ia baru saja mendapat pesan dari penjaga Pos Jembatan Portal.
Di salah satu sisi dengan sebuah komputer menyala, Niken mengerjakan sesuatu. Di sampingnya, Profesor Irene mengecek sebuah catatan, sembari duduk membelakangi komputer. Niken yang sepertinya kesusahan dalam memencet tombol-tombol keyboard, menarik perhatian Profesor Irene.
“Tanganmu luka parah?”
Niken menggeleng. “Hanya luka lecet. Aku terlalu bodoh. Aku berusaha membuka pintu itu hanya bermodal tuas besi biasa.”
“Usahamu kuhargai. Setidaknya, itu menghalangi kami untuk berbuat yang sama sepertimu.”
Niken hanya tersenyum. Letih menggunakan keyboard, jemarinya memanfaatkan fitur layar sentuh untuk memberikan beberapa perintah.
“Kau sedang mengerjakan apa?” Profesor Irene memutar kursi, menghadap ke komputer.
“Sebelum mengirim peringatan, DIVENN sempat mengirim data asteroid yang dicurigai. Aku sedang memeriksanya.”
Profesor Irene mencondongkan tubuhnya. Sesuatu sepertinya muncul di monitor. Tampilannya menutup seluruh dekstop seusai Niken memencet sebuah ikon.
Ratusan titik putih berlatar belakang hitam mulai terhampar. Dengan cepat pula, satu demi satu titik-titik itu mulai memiliki label empat digit angka. Beberapa di antaranya, malah ditandai dengan lingkaran merah.
“Itu model dua dimensi. Bisa ditransfer ke model tiga dimensi?”
“Tunggu....” Niken sedikit mengutak-atik. Dan setelahnya, tampilan lain kembali muncul.
Ia tersandar. Profesor Irene menangkap air muka tak bersemangat dari wajah Niken.
“Tidak diragukan....”
“Kenapa?”
“DIVENN benar-benar telah mencocokkan data DEX-3 dan DORGIBA. Memang benar, ada tiga puluh sembilan bunker dan reaktor nuklir yang berarak menuju Bumi. Dan jarak mereka... tinggal satu hari lagi.”
Digta yang menyendiri di pojok, dapat mendengar kalimat itu. Jemarinya berhenti bermain. Sementara Ayu, hanya menoleh. Begitu ia kembali ke monitor komputer, pesan gagal lagi-lagi muncul.
“Setidaknya ada Bulan. Kita bisa mengharapkan gravitasinya.” Profesor Irene mencoba mencari harapan.
Niken malah menggeleng kecil. “Bulan tidak cukup kuat. Gravitasinya tidak bisa menarik semua bunker. Dan hantaman beberapa bunker, mungkin dapat menghapus satelit tersebut.”
“Kita akan mati...,” sela Ayu. Ucapannya membuat semua orang membatin. Mungkin saja ia benar. Tetapi seharusnya, masih ada harapan. Masih ada negara selain Indonesia. Mereka memiliki kemungkinan besar untuk selamat dari serangan asteroid. Dan mereka seharusnya, dapat melakukan sesuatu untuk menyelamatkan planet ini.
“....”
Lama terdiam, Digta akhirnya beranjak dari kursi. Langkahnya terayun menuju dapur. Di bawah cahaya yang cukup terang, Digta menebak-nebak isi laci di tempat tersebut. Dan dalam waktu singkat, ia berhasil mendapatkan satu toples kopi dan gula. Keduanya ia campur dalam sebuah cangkir.
Air panas juga tidak begitu repot untuk dicari. Tinggal meletakkan gelas di bawah keran berwarna merah, memencet tombol di atas keran, dan air dengan kepulan asapnya segera turun. Tinggal mengambil sendok dan mengaduk kopi buatannya.
Baru beberapa putaran sendok, konsentrasi Digta terganggu oleh debu yang mendadak turun. Debu yang cukup pekat menghinggapi cangkirnya, mengotori kopinya dan juga meja yang menjadi landasan. Dengan rasa jengkel, Digta mendongak. Nyaris matanya juga diterpa oleh debu, jika ia tidak segera bergeser ke belakang.
Sebuah ventilasi menganga tepat di atas kepala Digta. Kisi-kisinya tampak kotor oleh debu. Sesekali, debu-debu itu jatuh dan Digta cukup lama hanya berdiri menatapnya. Hingga akhirnya, ia bergegas mengambil kursi dan berusaha mendekati ventilasi.
Sayup-sayup, ia mendengar suara gaduh. Tidak begitu jelas, hingga akhirnya ia mendengar teriakan seseorang. Usai suara teriakan, sesuatu yang besar sepertinya terhempas. Bisa jadi bongkahan beton atau mungkin ledakan. Digta dapat merasakan getarannya walaupun halus.
Lupa akan kopinya, Digta melompat dari kursi dan kembali ke ruang operator.
“Ayu, aktifkan terminal isi ulang MIGEN. Kita akan segera keluar dari sini!”
Ayu hanya mengangguk. Ia berpindah dari modus permainan dan memasuki sebuah jendela perintah.
Profesor Irene berbalik. “Kau sungguh-sungguh?”
“Aku sungguh-sungguh,” jawab Digta bersemangat. “Sewaktu di dapur, aku mendengar suara gaduh lewat ventilasi. Itu adalah suara dari permukaan. Aku mendengar orang-orang!”
Terminal isi daya MIGEN telah aktif. Sepasang matanya menyala dengan warna merah.
“Kau yakin...?”
“Aku yakin seratus persen.”
“Bagaimana dengan polisi-polisinya?” sela Niken.
“Biarkan saja mereka tetap kemari. Siapa tahu, kita juga memerlukan bantuan dari mereka.”
***
Hein menyusuri trotoar kota. Sebuah jaket dengan penutup kepala, menjadi pelindung dari incaran polisi dan Astro. Sesekali ia berhenti untuk bertanya pada seseorang.
Sudah dua hari ia mencari alamat yang diberikan Astro. Sudah dua hari pula ia terkatung-katung. Ia juga sempat ditipu oleh sekelompok pemuda, hingga harus meninggalkan kota cukup jauh. Dan pagi ini, ia tidak ingin tertipu untuk kedua kali. Usai bertanya pada satu orang, ia bertanya terus pada orang lain. Hingga hatinya merasa cukup, cukup yakin bahwa orang-orang yang ia tanya tidak menipu, dan alamat tersebut bukanlah alamat fiktif. Astro bisa saja membohonginya sejak awal.
Usai bertanya pada seorang pemilik kios majalah, jam tangan milik Hein berbunyi. Bergegas ia memisahkan diri dari tempat ramai.
“Selamat pagi, Hein. Bagaimana kabarmu?”
“Baik, Josh. Meski sedikit jengkel. Mengapa baru menghubungiku? Aku kehilangan kontak.”
“Kami terpaksa menutup portal dan melakukan sinkronisasi. Sekarang, portal berada di puncak sebuah gedung.”
“Di mana?” Hein mendongak. Matanya melompat dari satu puncak gedung ke puncak yang lain.
“Untuk sementara, kau tidak perlu tahu.”
Hein menurunkan pandangannya.
“Bagaimana dengan Astro? Kau berhasil?”
“Andai kau ada di sini. Ia lebih kuat dari terakhir kali aku bertemu dengannya. Ia melemparku keluar dari pelabuhan....” Hein sedikit berbisik untuk kalimat terakhir.
“Berarti, kau gagal. Tuan Morgan tidak menerima ini. Ia pasti akan marah.”
“Tapi ada kabar baik. Setidaknya, giganium itu tidak bersama Astro sekarang. Benda itu dibawa lari oleh putri ilmuwan DIVENN. Aku sekarang tengah mencarinya. Dan Astro, kupikir ia terluka.”
“Jika terluka, mengapa tidak kau habisi?”
“Ia lebih dulu melemparku. Dan mungkin, ia sekarang sudah sembuh. Aku tidak mau ambil resiko dan buang waktu. Jika kau punya waktu banyak di sana, lebih baik kau membantuku. Rasakan bagaimana susahnya mencari alamat.”
Josh terdengar sedikit tertawa.
“Aku akan segera datang. Oh iya, mau mendengar sebuah kabar? Ini menyangkut DINA dan DIVENN.”
“Apa itu?”
***
Tepat tiga puluh menit. Ayu menatap jam tangannya, dan segera menekan beberapa tombol pada keyboard. Terminal isi daya MIGEN segera memutus pasokan listrik. Mata MIGEN berubah dari merah menjadi kuning. Digta bergegas mencopot tiga kabel yang menjulur dari punggung MIGEN.
Profesor Irene mengambil alih. Ia mengaktifkan modul kontroler dan mulai menyalakan mesin. Berhasil. MIGEN menyala dengan sinar mata berwarna hijau. Namun, sebuah pesan segera muncul. Memperingatkan Profesor Irene, bahwa MIGEN aktif dalam kondisi minimal. Energinya akan segera habis.
“Tidak masalah...!” Profesor Irene bergegas memberi perintah pada modul kontroler. Sebelum ia benar-benar mencapai tahap eksekusi perintah, ia berbalik menghadap Ayu. “Izinkan aku untuk mendobrak pintu koridor elevator barang.”
“Silakan....”
Dan tombol Enter ditekan. MIGEN bergerak. Ia menuju pintu koridor yang akan membawa mereka ke elevator. Dengan sekali ayunan tangan, pintu baja itu mulai seperti kaleng dilempar batu. Sebuah celah yang terbentuk, membantu MIGEN untuk menggeser dua kepingan bajanya saling menjauh. Dengan kemampuan mesin yang ia miliki, MIGEN berhasil membuat celah selebar satu meter, dari dua meter lebar bukaan pintu seharusnya.
“Ayo, kita keluar. Tunggu apa lagi?” Digta adalah orang pertama yang memasuki koridor, disusul MIGEN, kemudian tiga orang sisa. Mereka menuju elevator. Pintu elevator barang menyambut dengan mulus. Ayu yang juga bergabung, melakukan sesuatu terhadap jam tangannya. Dan elevator bergerak naik ke atas.
Semua saling tatap. Tidak ada yang berani bicara. Tidak ada pula yang berani membayangkan keadaan di luar sana.
***
Veren berjalan tertatih. Dahinya terpaksa diperban dan tangan kanannya terpaksa digendong. Ia tertimpa runtuhan gedung ketika serpihan asteroid jatuh tak jauh dari DINA. Dan kini, gedung tersebut tidak utuh lagi, dengan jendela-jendela yang tidak lagi berkaca, dan beberapa bagian depan gedung yang runtuh.
“Anak buahku melapor, jalan menuju lift ke LABTEK-DINA tertutup beton. Langit-langit lantai dasar runtuh.” Seorang laki-laki berseragam loreng mengiringi Veren. “Sekarang, mereka pindah ke pintu elevator barang.”
“Berhasil?”
“Sedang dicoba.”
Seorang pemuda dengan baju loreng menghampiri mereka. “Lapor, Pak!” Ia berdiri tegap. “Kami sudah berusaha untuk membuka kunci pintu elevator barang. Tetapi, pintu tersebut tetap tidak mau terbuka. Diduga, sistem hidrolik pintu mengalami gangguan, Pak!”
“Setahuku, pintu elevator barang adalah baja setebal lima sentimeter,” ujar Veren.
“Kalau begitu, ledakan,” komentar atasan pemuda tersebut.
“Diledakkan?” balas Veren.
“Kau dengar itu, Prajurit? Ledakan pintu itu. Kita evakuasi secepatnya orang-orang yang ada di dalam.”
“Laksanakan, Pak!”
Pemuda itu menjauh. Ia menghampiri sebuah mobil yang juga bermotif loreng. Setelah meminta izin dari penjaga mobil, ia pergi menenteng sebuah benda besar. Ia menghadap langsung di depan pintu masuk elevator barang. Benda itu ia panggul, matanya membidik, dan jarinya siap menekan sebentuk pelatuk.
“Satu..., dua....” Ia menghitung dalam hati. Dan mendadak, pintu di hadapannya berbunyi cukup keras. Ia terperanjat dan pintu lagi-lagi seperti diseruduk seekor banteng, hingga penyok di beberapa sisi. Dan cukup untuk hantaman yang ketiga, pintu baja elevator barang yang berdiri kokoh akhirnya tumbang. Sebentuk tubuh logam sedikit menambah keterkejutan sang prajurit.
Digta menyelinap dari balik tubuh MIGEN. Ia melambai. “Halo....”
Tag:











