Pagi-Memoir Cinta

49
points

Pagi ini menjemukan, seperti pagi-pagi sebelum ini. Duduk di ruang kelas yang sudah mulai ramai dengan anak-anak yang baru masuk dan akan memulai pelajaran setelah ada bunyi dentang lonceng nanti nya.
Sambil menunggu itu, semua terlihat sibuk dengan apa pun urusan masing-masing. Kebanyakan, mereka sibukkan dengan mengobrol, membicarakan banyak hal yang terlihat menarik tapi tidak bagi ku. Beberapa, ada yang sibuk bersih-bersih, ada yang membolak-balik buku. Sedang kan Aku? Duduk sendiri tidak melakukan apa pun, melongo sebagai orang bodoh. Lihatlah diri ini, benar-benar berasa sepi di tengah keramaian.

Jadi, di sinilah aku, duduk sendirian di tengah-tengah kelas di bangku yang telah ku duduki selama setengah tahun ini, setengah tahun dari tiga tahun yang harus ku jalani di sekolah menengah atas ternama di kota ku ini, di tahun terakhir dari tiga tahun tersebut mudah-mudahan.

Duduk, menahan ngantuk, melihat apa pun yang terlihat, mereka yang berbicara, mereka yang bisa tertawa atau yang lagi sibuk menyalin tulisan teman atau bahkan menyalin pekerjaan rumah yang harus di kumpul kan sebentar lagi. pekerjaan rumah yang juga tidak rampung aku kerja kan-terlalu banyak menonton film tadi malam hingga larut-hingga nanti tidak ada yang akan bisa ku kumpul kan, namun aku jelas saat ini tidak terlalu peduli.

Duduk di bagian paling pojok di belakang ruangan ini, bagian favorit ku. bukan tanpa sebab dan alasan, bukan juga hanya karena faktor kesukaan.
Jauh berselisih empat bangku di depan, ada yang selalu duduk di situ, seorang perempuan yang telah menghantui ku selama tiga tahun terakhir ini, satu kelas bersama untuk tiga tahun di sekolah ini dalam hidup ku. Percayalah, kalau bisa memilih aku ingin berada di tempat lain, itu yang selalu berusaha ku tanam kan selama ini dalam benak dan hati ku ini.

Karena perempuan itu telah mengganggu tidur ku, menggelisah kan hati ini dengan wajah ketus di manis kan dengan lesung pipit nya itu. Perempuan jelek aku berharap, dengan jerawat mengelilingi wajah nya aku benar-benar mencoba meyakinkan diri ku sendiri bahwa ia tidak pantas untuk ku, yang jelek-jelek begini cukup banyak yang menyatakan cinta.

Tapi tidak, aku jatuh cinta pada nya. Celaka lah diri ini, ku kutuk untuk setiap hari, untuk waktu-waktu yang ku buang dengan hanya memikir kan nya selalu.
Demi Tuhan, kulit nya hitam, dada nya kecil, rambut nya keriting dan out of style.

Tapi kenapa setiap melihat nya degup jantung tidak pernah ber ritme wajar.
konyol nya bahkan setiap berpapasan, mata ini tak bisa menatap nya lebih dari setengah detik, bahkan lebih sering menghindar kalau melihat dari kejauhan dia akan berjalan menuju ke arah ku.

Tahu kah dia perasaan ku? jelas ia tahu. Kurang dari tiga tahun yang lalu ia dengan terang menolak ku. ada laki-laki lain, kau bukan tipe laki-laki yang ku ingin kan, Tidak mau punya pacar berondong dan berbagai alasan penolakan yang ia coba buat dengan halus dan sopan, seolah-olah dapat tidak terlalu menyakitkan bagi ku.

Namun tetap saja menyakitkan. Setelah malam minggu yang menghenyakkan itu, selama serasa lebih dari tiga tahun ini aku mencoba selalu mengatakan pada diri ku sendiri untuk menerima kenyataan, memahami perasaan, cinta tak harus memiliki, bleh!

Kini ia datang, dari balik pintu ia menyembul dengan wajah yang menenangkan, rambut keriting nya seperti biasa ia kepang kan, jelek oh tuhan aku ingin sekali mengatakan nya biar semakin benci ia pada ku, dan aku pun siapa tahu bisa benci pada nya.

Yenni Rahmawati namanya, nama pasaran bukan? agak gendut tubuh nya, aku menolak mengatakannya sintal, pendek orang nya, paling tidak lebih pendek lah dari aku.

Duduk ia di bangkunya, melontarkan senyum pada teman-teman di sekitar nya, tapi tidak pada ku, terlalu jauh mungkin.

Terlalu jauh juga ia untuk menyapa ku seperti ia menyapa anak-anak cowok yang mencari perhatian di depan bangkunya. aku tidak di perhatikan, dan bukan untuk pertama kalinya, dan untuk entah berapa lama kami tidak saling menyapa, untuk orang yang telah bersama-sama dalam satu kelas sama tiga tahun, hubungan kami sudah seperti musuh saja, bisa di hitung dengan jari tanpa jari-jari di kaki bahkan, berapa kali kami ngobrol ato sekedar berkata-kata.

Makin lemas saja aku untuk menyambut hari ini, makin malas buat apa pun kalau sudah seperti ini.

"deng!!!"

Dentang lonceng telah dibunyikan, menandakan berakhirnya segala obrolan tidak penting, tegur sapa, atau kesempatan untuk menyalin pekerjaan rumah mereka-mereka yang ada di ruangan.

Aku pun mulai menutup mata ku, menelungkupkan tubuh di atas meja, menguap selebar-lebar nya, tadi malam aku tidur larut sekali.

Your rating: None Average: 5.4 (9 votes)
dikirim Redo Rizaldi 40 minggu 21 jam yang lalu
Tag: