Kalkulator Kaca-Memoir Cinta

14
points

Kalian tahu kan apa dan buat apa kalkulator itu? mesin kecil yang jadi idola anak-anak sekolahan yang malas mikir buat hitung-hitungan. Apa lagi buat anak-anak kelas ilmu sosial macam kami, setiap anak wajib punya, celaka lah kalau tidak.

Kalkulator sebagai alat hitung, anak SD pun tahu itu. Tapi karena tuntutan pasar, para pembuatnya memberi lebih dari sekedar alat hitung-hitungan, ada berbagai tambahan yang tidak ada kaitannya dengan hitung-hitungan terkadang. Ada yang di tambah dengan alat penterjemah bahasa Inggris, ada yang di dalam telepon selular, ada juga yang dikemas seperti telepon selular tapi tak berpungsi lebih selain dari kalkulator itu, menelpon tentu saja tidak bisa, harganya murah, bentuk nya kecil berwarna biru terang norak, tipe telepon selular flipflop, yang dengan aksesoris tambahan nya-yang menarik perhatian ku-sebuah cermin kaca kecil diselipkan di antaranya.

Demi Tuhan ada-ada saja, untuk apa semua itu, aku tertawa menghina di dalam hati siapa pun yang memilikinya.
Dan yang memilikinya adalah seorang perempuan bernama Ningsih. Perempuan adalah satu-satu nya makhluk paling masuk akal yang bisa dan mau menghabiskan uang nya untuk hal-hal yang bagi ku tidak perlu, atas nama kemasan saja, cantik, imut, berkaca, tertawa lagi aku di dalam hati aku melihat ia mematut wajah nya dengan kalkulator multi guna itu.

Ningsih ini teman perempuan terdekat ku, terdekat dengan menggambarkannya, setiap ia ada makanan aku pinta, setiap ada tugas bahasa Inggris aku yang mengerjakan punya nya.

Ia sama jelek nya dengan aku. Aku mengakui nya, tapi ia tidak. Berpuluh-puluh bedak ia lapiskan di muka nya, berliter minyak wangi harga 10 ribuan ia siram kan ke tubuh nya, tetap saja penilaian ku tak berubah selama ini.

Ia mematut dengan kalkulator berkaca itu di depan ku, aku terlihat tersungging mengejek sengaja menampakannya agar membuat nya kesal, dan ia memang kesal dengan manja tentu nya, di cubit bahu ini sekuat-kuat nya.

Sekarang sedang jam istirahat, jam yang paling dinanti anak-anak walau cuma lima belas menit-an, jam terkeren di antara jam-jam pelajaran yang penuh membosankan.

"Do, buat kan aku puisi dong, kamu kan pandai kalau bikin puisi" pinta nya tiba-tiba.

"Puisi? untuk apa? untuk siapa?" tanya ku

"Ada deh, want to know aja situ"

"Ya udah kalo ngga mau kasih tau, ngga tak bikinin" ancam ku dengan senyum kemenangan, posisi ku kuat dalam tawar menawar remeh ini.

"iih gitu deh kamu" anak itu memukul-mukul bahu ku dengan manja nya.

"Mmm...buat dia itu lo Do, Adryan" Ia menunjuk dengan malu-malu dan menyebut nama lelaki yang sedang asyik ngobrol dengan teman satu geng nya jauh di depan kelas sana dengan pelan-pelan takut kedengaran oleh entah siapa.

"oh dia.." aku menanggapi nya seolah-olah selama ini tidak tahu, sudah jadi rahasia umum di kelas ini bahwa Ningsih naksir berat sama idola kelas ini, cowok tercakep yang di luar sekolah ini jadi model di beberapa majalah remaja.
Dan juga bukan rahasia lagi, kalau yang menyebarkan rahasia itu si Ningsih sendiri, berpura-pura malu menceritakannya kepada ku sekarang ini, padahal dalam lubuk hatinya ia ingin menceritakannya dengan sukarela selalu dengan ku, dengan teman-teman sekelas kami, dengan seluruh dunia kalau perlu.

"Besok hari ulang tahun nya, aku mohon ya di buat kan puisi, satuu saja buat hadiah nya nanti" pinta nya kali ini dengan wajah yang memelas di buat-buat.

"Yaa, ntar tak buatin" aku menyanggupinya dengan muka nampak enggan, untuk menggodanya sehingga dipukul lagi lah bahu ku untuk kesekian kalinya.

Bagi ku kalau cuma membuatkan puisi apalagi cuma satu bukan perkara berat,itu keahlian ku. Apalagi puisi cinta dan itu bisa membantu, paling tidak menjaga harapan seseorang seperti ningsih si buruk rupa akan di balas cinta nya oleh sang pangeran tampan buangan dari khayangan itu.

Seperti aku juga, dengan perempuan yang lebih jelek dari Ningsih yang sedang tidak ada di ruang kelas saat ini. Di setiap hari nya di sepanjang jam pelajaran sepanjang kelas menatap bagian punggung nya seperti orang hilang ingatan, dan berharap sekali-kali ia menengok ke belakang membalas menatap aku yang memuja nya ini selalu, lalu kemudian membalas cinta ku. Ini masih pagi namun aku telah bermimpi ternyata, karena perempuan jelek itu tidak pernah melakukannya, "Invisible man" aku bagi nya.

Aih, diantara pembicaraan ku dengan Ningsih pun aku masih memikirkannya, tergila-gila benar aku rupanya. Ku tuduh ia memakai susuk pemikat atau guna-guna atas ku.

Lebih baik segera aku bikin kan puisi buat si Adryan itu, sebelum kebiasaan malas kesukaan ku menghinggapi mood ku.
Membuat puisi itu mudah, tapi membuat puisi atas pesanan orang selalu menyebalkan bagi ku. Dengan tema-tema yang tidak ku alami, tidak keluar dari hati ini aku kadang-kadang merasa seperti pelacur puisi.

Apalagi ini untuk seorang pria, yang eneg lagi aku melihatnya, kalau tidak karena Ningsih yang meminta, lebih baik ku tulis mantra-mantra jahat dari abad pertengahan untuk dia, cowok ter belagu di kelas ku itu.

Dua tiga kata pembukaan keluar.

"Di masa yang se-muda kita, cinta melanda seperti langkah-langkah kita di setiap hari nya"

Kata-kata apa ini? pikir ku, ah sudah lah, memang susah menulis sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kau tulis.

Aku memutuskan untuk keluar dari kelas sejenak, mencari udara segar, udara segar terakhir sebelum beberapa menit lagi kami masuk ke dalam kelas dan terjebak di penjara khotbah dan ceramah guru kami yang betah bersikap datar dan menjemukan setiap hari itu.

Aku duduk lagi, kali ini di kursi panjang yang di letakkan di luar kelas kami. Menatap pemandangan yang lebih luas dibanding dalam kelas, lebih banyak orang dengan berbagai kegiatan, ada yang berlari-lari, ada yang sibuk pacaran, ada yang sibuk menghisap rokok diam-diam karena takut ketahuan.

Di sanalah dia dari kejauhan kelihatan, dengan cara berjalan nya yang khas, lenggak-lenggok seperti bebek, seperti keberatan pantat, dari kantin sekolah ia tampak nya.

Aku berani menatapnya dari kejauhan, tapi tidak kalau ia sudah mulai mendekat dan bisa menyadari tatapan ku, aku akan pura-pura buang muka, dengan mata tertutup kalau ia lewat, namun kepala ini penuh dengan wajahnya, telinga ini mendengar setiap langkah bahkan hembusan nafas nya, oh Tuhan!

Ia tidak lewat di depan ku, ia justru duduk sedikit jauh di samping ku, sendirian, teman sebangku nya yang menemaninya tadi masuk ke kelas duluan.

Sialan! dengan cuek nya ia duduk di situ, sedangkan aku seperti mati kutu dibuatnya, dengan lepasnya ia terlihat, seperti tidak mengetahui perasaan ku selama ini saja, dan Demi Tuhan kenapa ia tiba-tiba tersenyum pada ku!

Aku yang dari tadi berusaha seolah-olah tidak berada di situ, menjadi semakin gugup ketika ia menggeser duduk nya mendekati ku. di suasana yang canggung ini-paling tidak menurut perasaan ku- ia dengan tenang nya sekali lagi menampakkan senyuman dari gigi tongos dan tidak rata nya itu, sembari menyapa.

"Do, denger-denger kamu sudah punya gebetan ya?" tanya nya untuk setelah sekian lama.

"Apa?" reaksi ku tidak bisa lebih dari itu, perempuan jelek ini bertanya pada ku? setelah selama ini aku yakin ia telah lupa bahkan nama ku.

"Bener kamu sudah punya gebetan?, anak kelas satu ya kata nya?" ia mengulangi lagi dengan menekan kan.

Suara serak-serak becek punya nya itu, entah sudah berapa lama telinga ini tidak menikmatinya.

"Apa? tidak ada lah Yen" aku berusaha terlihat cool, mencoba mengendalikan diri ku, semoga ia tidak mendengar degup kencang jantung ku sekarang ini.

"Jangan bohong, kata si Said kamu lagi dekat sama anak cewek kelas satu"
Said-teman sebangku ku-untuk apa lagi dia bicara seperti itu dengan Yenni, perempuan yang ia tahu selama ini temannya ini taksir.

"ngga ada Yen, bener" Aku terus tetap terlihat tenang dan meyakinkan, tidak ada satu perempuan yang sedang dekat dengan ku saat ini atau sebelumnya bahkan.
Terlebih sampai-sampai menjalin hubungan dengan ku, anak lelaki paling urakan di sekolah ini, dengan gaya berjalan melangkah selalu seperti orang yang mati segan hidup pun tak mau ini.

"Bohong"

"Bener, ngga bohong aku"

"Udah berani selingkuh ya kamu do, aku cemburu nih"

Deg! Jantung ini untuk sesaat seperti berhenti. Apa maksudnya coba? mengatakan sesuatu yang selama ini sakral bagi ku. Perempuan egois itu dengan mudah nya begitu saja dengan santai mengatakan sesuatu yang ia tahu dapat membuat tak karuan perasaan ku.

Dengan penolakan, dengan sikap dingin nya selama bertahun-tahun, ia sungguh tega.

"Deng!!"

Bunyi Lonceng yang menandakan masa istirahat telah selesai telah dibunyikan.

Dan ia meninggalkan diri ini begitu saja, dengan perasaan yang sudah lama aku tidak rasakan, kebahagiaan yang selama ini yang ku ingin kan namun juga kenyataan yang memahami yang tadi itu hanya candaan, benar-benar terasa berantakan perasaan ini. Mengecilkan kembali harapan lalu mengutuk nya di dalam hati atas permainannya yang kejam.

Your rating: None Average: 3.5 (4 votes)
dikirim Redo Rizaldi 40 minggu 15 jam yang lalu
Tag: