DUNIA RANGGA
“ Tahukah kau bulan… saat ini aku sangat merindukan bintang, sangat amat merindukannya. Kenapa malam ini dia tak muncul? Menemanimu ? Menemaniku? Dan menemani malam yang begitu dingin ini… Oh bulan, seandainya kau tahu… Aku sangat merindukan bintangku “.
Pria itu kini tegak berdiri, melangkah menuju cermin besar yang ada di kamarnya. Kemudian berbicara lagi.
“ Rangga… kau yang ada di sana, aku begitu kasihan padamu, kau selalu sendiri, tak ada seorang pun yang peduli padamu… Kau ini kenapa Rangga, ada apa denganmu?”
Pria itu tak henti-hentinya berceloteh pada dirinya sendiri, sebentar-sebantar dia terdiam, sebentar-sebentar dia berceloteh lagi. Begitulah Rangga, seorang penulis fiksi yang benar-benar fiksi. Imajinasinya begitu kuat, dia sangat pintar berimajinasi, dan selalu berimajinasi, hidupnya penuh dengan imajinasi, dan di pikirannya hanya ada imajinasi. Dia cukup terkenal di kalangannya, maksudnya di kalangan para penulis cerita atau sebangsa dengan novel, karyanya tidak pernah lepas dari imajinasi yang tidak perlu di cari kebenarannya. Tapi tahukah? Dia tidak pernah puas, baginya apa yang dia pikirkan benar-benar ada, dia baru merasakannya sekitar satu tahun ini, saat ia menulis sebuah novel tentang “bintang”. Sampai sekarang, sampai dia telah menyelesaikan novelnya itu, dia berpikir kalau “bintang” itu benar-benar ada di kehidupannya. Dan inilah “bintang” yang dia maksud itu.
***
Bulan Desember, saat hujan turun dengan deras, seorang Rangga sedang asyik berdiam diri, memejamkan mata di sebuah tempat tidur sambil memeluk gulingnya. Tidak sedang tidur atau tidak sedang berpikir jorok, justru sedang berpikir dan mengkhayal. Itulah awal mula dia membuat sebuah karya, perlu waktu yang pas untuk berkhayal, hal sekecil bantal bisa dijadikannya cerita, tidak ada kata real di kamusnya, semua serba imagination. Dia mulai membuka mata, sayup-sayup seperti orang habis bangun tidur, dia langsung menghidupkan komputernya yang sudah jadul , walaupun komputernya masih Pentium 2, tapi bukan menjadi halangannya untuk menulis.
Dia langsung membuka Microsoft Word, dan mulai menulis judul “BINTANG”. Kali ini entah apa yang akan dia ceritakan, kita tunggu sebentar. Tangannya mulai bergerak, jari-jemarinya mulai cepat memencet tuts komputer, kemudian dia sudah terlihat sibuk. Bagaimana kalau kita tinggal dia, sampai aku tahu apa yang dibuatnya ?
***
“ Bintang, kau lihat itu, aku sudah membuatmu… kini kau hidup, kau harus menemaniku. Lihat… kau ada di ceritaku, dan kau tampak cantik kugambarkan.”
Rangga seakan sedang berbicara dengan Bintang, tokoh utama dari ceritanya. Aku sedikit tak tega melihatnya. Rangga memang bisa dibilang pria yang kesepian, sampai saat ini, saat umurnya sudah menginjak 30 tahun, belum ada gadis yang mau menjadi pendampingnya. Sudah berlusin-lusin surat dia terima dari ibunya di Semarang, hanya menanyakan calon istri Rangga. Mungkin karena sudah putus asa, dan mumpung dia pintar berimajinasi, dia menciptakan seorang ”Bintang” yang sebenarnya tidak ada menjadi ada. Sungguh terlalu, tapi, aku jadi ingin lihat bagaimana jadinya.
In Rangga eyes
” Bintangku, manisku, sudah selayaknya kau menjagaku, begitu bukan ?”, sahut Rangga pada seorang gadis yang dia anggap sebagai Bintang. Sambil terus menulis, dia menyuruh Bintang untuk membuatkannya secangkir kopi. Dan lima menit kemudian, kopi itu diminumnya, kopi yang sudah dingin, yang sejak satu jam yang lalu sudah dibuatnya. Masih sibuk dengan tulisannya, dia kemudian memanggil Bintang, yang dia pikir sedang merebahkan badan di kasur Rangga.
” Bintang, kau suka tulisan ini ?”
Yang ditanya seolah mengangguk senang, senyumnya yang manis membuat Rangga sumringah, kemudian dia membelai rambut Bintang yang panjang dan wangi. Lambat laun, malam semakin larut, alunan musik ballad merdu terdengar, dan Rangga semakin bersemangat untuk menciptakan Bintang.
” Kau suka ballad Bintang ? Apa lagi yang kau suka ? Kau suka pelangi ?”
Yang ditanya kemudian menjawab, ” Aku suka semua yang kau ciptakan untukku ”. Rangga kemudian mulai memandang Bintang, parasnya yang rupawan, membuat birahinya tergoda. ”Kau memang Bintang yang ku suka”.
Malam itu, Rangga tidak tidur, dia sibuk membuat cerita tentang kekasih barunya. Bintang pun makin betah di kamar Rangga, sekali-sekali dia mendekati Rangga untuk menghibur, dan sekali-sekali menghilang entah kemana. Malam beranjak pagi, kemudian mulai siang, seharian Rangga tidak beranjak dari tempat duduknya, posisinya masih tetap sama, masih di depan komputer yang masih Pentium 2. Bunyi telepon seluler memecah keheningan, dan hal itu membuat Rangga kesal, dia mengangkatnya dengan kesal.
” Halo...” sapa Rangga dengan nada kesal.
“ Woi Ngga, lagi ngapain lo?” tanya suara pria diseberang sana.
“ Bukan urusan loe... Ngapain sih Re, gangguin gue...” semprot Rangga pada pria yang ternyata diketahui bernama Rehan itu.
“ Sewot amat sih ni anak. Lagi kumat lo? Cerita apa lagi yang lo bikin ? Bikin cerita tentang manusia pacaran sama benda mati ?”
Deg! Ada perasaan merinding yang dirasakan Rangga ketika temannya itu mengucapkan “manusia pacaran sama benda mati”.
” Berisik lo... Udah jangan ganggu gue...Gue lagi sibuk...” kata Rangga, kemudian telepon itu terputus. Rangga tampak bingung, seperti baru saja bangun dari mimpinya, dia kemudian bergegas untuk mandi, menghilangkan bau keringatnya, dan menghilangkan rasa yang dikiranya mengganjal.
” Bintang... Bintang manisku...” sahut Rangga setelah dia selesai mandi dan kembali ke kamar. Sekali lagi dia memanggil kekasihnya itu, ” Bintang... Bintang sayang, dimana kamu...” Tidak ada sahutan, yang ada hanya sebatang rokok dia dapati di samping meja kerjanya. Dia mulai menghisap rokoknya, melongok ke luar jendela kontrakannya, mencari apa yang dicarinya. Kosong. Yang ada hanya sekumpulan anak muda yang sedang bergerombol, bermain gitar, dan tampaknya Rangga melihat sesuatu yang aneh. Dia melihat Bintang ada diantara mereka, sedang ikut bernyayi. Dan tampaknya Rangga tidak menyukainya, dia kemudian menghampiri gerombolan anak muda tersebut dan mulai marah-marah pada Bintang, kekasihnya.
” Bintang ! Sedang apa kau di sini ? Kau seharusnya berada di kamarku ! Kau tidak boleh keluar, nanti pemuda-pemuda ini menyukaimu ! Kau hanya milikku seorang !” Rangga tak henti-hentinya mengomel sendiri, Bintang yang dikiranya ada bersama gerombolan itu hanya tersenyum, dan hal itu membuat Rangga murka.
” Bintang!!! Aku bicara padamu !! Jangan kau tersenyum padaku ?!! Kau sudah membuatku marah... Ayo masuk !!”
” Heh mas!!! Teriak-teriak sama siapa sih ?? Kita nggak ganggu mas Rangga kok, nggak ada yang namanya Bintang di sini !!!”
Rangga tidak menghiraukan para pemuda itu bicara, dia lantas membawa Bintang masuk ke kamar kontrakannya, kemudian mengunci pintu dan jendela rapat-rapat.
” Dah sedeng tu orang, gue jadi kasihan ngliatnya... Lama-lama gue takut jek..” kata salah seorang pemuda disambung pemuda lainnya.
” Ininih... dampak dari pemanasan global...”
“ Pemanasan global ape..!!! apa hubunganye coba…” kata pemuda lain dengan logat Betawinya.
“ Ininih… dampak nggak pernah baca berita sama nonton koran… Jadi nggak tau pemanasan global tuh apaan..”
“ Yang bener tuh baca koran sama nonton berita dodol…Emang apaan?”
“ Ya… ntu… ntulah pokoknye…”
“ Kepala manusia kayak kepalanya mas Rangga itu jadi ikutan panas, ngayal sih ngayal, tapi kok malah jadi gila gitu ya…Penulis yang aneh…”
“ Udeh ah… nggak baek ngomongin orang, mending ngomongin gue aje…”
“ Huuuu…”
***
Rangga masih tampak kesal, dia duduk di kursi kerjanya, memandang Bintang yang masih tampak tersenyum tanpa perasaan bersalah. Rangga baru sadar kalau Bintang yang dia ciptakan tidak memiliki perasaan, dan Rangga harus menelan kekecewaannya pada kekasihnya itu.
“ Bintang…. Kau sungguh bodoh !! Kenapa kau biarkan aku memarahimu? Kenapa kau tidak menjawab Bintang…”
Rangga kemudian melanjutkan tulisannya, dia mulai menciptakan Bintang dengan sedikit perubahan.Kini Rangga membuat Bintang memiliki perasaan marah, benci dan kesal. Tapi, karenanya Bintang menjadi tak terkendali.
Malam itu, Rehan datang menemui Rangga, namun tampaknya kedatangan Rehan tidak disambut baik oleh Rangga. Rangga masih tampak kesal pada Bintang, kekasihnya, kini Bintang hilang entah kemana.
“ Gue heran sama dia Re, daritadi ada aja yang buat gue kesel sama dia..”
“ Siapa sih Ngga yang lo maksud…”
“ Ah... Lo nggak perlu tahu lah... Dia cuma cewek biasa...”
“ Jadi lo udah punya cewek ? Cewek mana yang mau sama lo?”
Rangga merengut mendengar pertanyaan Rehan, pria itu menjadi tak enak hati.
“Sorry... gue bercanda men...Jadi nggak mau cerita nih...”
“ Kalo gue cerita malah tambah bikin ilfeel lo...”
“ Maksud lo...”
“ Ah udah lah Re, mending sekarang lo pulang aja gih... gue mau nyelesin yang satu ini...”
Rehan pun akhirnya menuruti permintaan Rangga, tanpa sempat pamit pada Rangga dia sudah meninggalkan kamarnya. Rangga mulai termangu, dia mencari Bintang, tapi tidak ketemu. Rangga mulai kesal, sudah berulang kali Bintang membuatnya kesal. Kemudian yang dicarinya datang juga, Rangga mulai menghujani Bintang pertanyaan.
“ Kemana saja Bintang ?? Kau sudah berani keluyuran ya... Nanti bagaimana kalau pemuda-pemuda di luar sana mulai jatuh cinta padamu, lalu kau mulai meninggalkanku? ”
” Jawab Bintang, jangan diam saja....”
Yang ditanya hanya diam saja. Sementara itu, di seberang pintu kamar Rangga tampak seorang pria dengan seksama menempelkan daun telinganya untuk mendengarkan apa yang terjadi di kamar Rangga. Pria itu adalah Rehan, dia datang lagi untuk mengambil kunci mobilnya yang tertinggal, tapi dia terlanjur mendengar teriakan Rangga kepada seseorang yang dia tak tahu pasti, mungkin pacar Rangga, pikir Rehan saat itu.
” Bintang !!! Aku menciptakanmu hanya untukku sendiri ! Bukan untuk orang lain... Mengerti!!”
Kali ini, yang diajak bicara seolah mulai menunjukkan rasa tidak senangya, dia tampak marah dan kesal. Perasaannya kini persis seperti apa yang digambarkan Rangga di cerita itu.
” CUKUP !! Aku muak denganmu !!! Aku sungguh MUAK !”
Rangga terhenyak mendengar kata-kata itu keluar dari bibir mungil kekasihnya. Rangga tampak seperti batu karang yang lantas dihempas ombak.
” Bintang....” kata Rangga lirih, dia seakan tak percaya Bintang dapat berkata seperti itu. Seseorang dibalik pintu mulai tampak gelisah, kini dia tidak sendiri tapi ada beberapa pemuda yang ikut menyimak pembicaraan Rangga dengan kekasihnya. Satu sama lain mengintip dari lubang pintu yang begitu kecil, hanya tampak seorang Rangga sedang berdiri tegak sambil menghadap ke arah kasurnya. Dan mereka tidak menemukan wanita yang dimaksud sebagai Bintang.
” Aku lelah menjadi wanitamu... Mengerti ?? Aku hanya sebuah rekaan, aku tidak nyata... Aku bukan Bintang yang sesungguhnya...”
” Tidak.. tidak Bintangku, manisku, kau benar-benar hidup... Di mataku kau nyata, kau kekasihku.”
” Aku kasihan padamu, Rangga, kekasihku, aku tidak nyata!! Itu kenyataannya, kau penulis fiksi yang penuh imajinasi !! Aku imajinasimu !! Aku, Bintang, kekasihmu, dan aku tidak nyata... Mengerti !!!”
” Tapi Bintang... bagiku kau..”
” CUKUP... itu bagimu... tapi bagi temanmu... bagi pemuda itu dan bagiku... aku tidak nyata... Aku tidak mau menjadi bonekamu... Aku akan menjadi aku diceritamu, bukan di sini... Ini adalah duniamu... Jadi jangan anggap aku ada lagi ”.
” Bin....”
Dubrak !!! Pintu kamar Rangga roboh, dan di belakangnya sudah ada sekelompok pria termasuk Rehan temannya. Dan pertanyaan mereka terjawab sudah, Rangga memang sudah tidak waras, wanita yang dia katakan sebagai Bintang tidak ada di kamarnya. Hanya Rangga sendiri di situ. Rehan dan pemuda-pemuda tadi pun nampak miris melihatnya, kemudian mereka pergi meninggalkan Rangga.
” Sorry Ngga, gue cuma mau ambil kunci mobil gue. Gue nggak dengar lo ngomong kok tadi. Sueerr deh...” kata Rehan sambil melangkah pergi.
“ Tunggu Re... Lo udah mikir gue... gila ya...”
“ Correct…Tanpa gue bilang harusnya lo nyadar kalo lo udah sinting Ngga”
“ Lo nggak tahu gue Re…”
“ Hello, lo temen SMA gue, jelas gue ngerti banget lo. Rangga yang suka banget nulis, suka pelajaran Sejarah, ngga pernah bolos mata kuliah Prosa. Apa lagi? Apa lagi yang nggak gue tahu dari lo? Soal kegila-gilaan lo sama dunia lo? Apa gue harus masuk ‘Dunia Rangga’ biar gue tahu siapa lo sebenernya?”
Rangga terdiam. “ Gue tahu lo cinta banget sama nulis, cinta banget sama khayalan lo, tapi please dong Ngga, ada waktunya kan lo buat cerita yang bener-bener real, maksud gue, dalam konteks ini yang diterima akal sehat lo. Lo nyiptain cewek yang bisa lo pacarin, sementara tu orang nggak ada di dunia ini, hanya ada di kepala lo doang. Bisa disebut nggak waras kan tuh…”
“ Bintang tuh ada Re, dia cewek yang cantik, manis, dan…”
“ Cukup… lo harus ikut gue ke Psikolog deh kayaknya. Imajinasi tai… Temen gue jadi gila. Punya dosa apa gue.... Ikut...”
***
Selama sebulan, Rangga rutin mengunjungi tempat terapi psikologis atas rujukan Rehan, temannya. Namun sepertinya Rangga tak henti-hentinya memikirkan Bintang, kekasihnya. Dia memang telah menyelesaikan novelnya, namun Bintang tak kunjung datang menemuinya, padahal Rangga merasakan kerinduan yang teramat sangat. Malam itu, dia duduk dekat jendela kamarnya, memandang bulan dan mencari dimana bintangnya. Dan malam berikutnya hal yang sama Rangga lakukan, masih menunggu Bintang, sampai akhirnya, Bintang benar-benar datang, menjemputnya, mengajak Rangga bersamanya, ke tempat yang begitu jauh, ditemani bintang-bintang yang lain. Karena malam itu, Rangga melihat jiwanya terbujur kaku bersimbah darah, dengan silet di tangannya, Rangga memutuskan untuk ikut bersama Bintang, mencari apa itu imajinasi yang sesungguhnya, tanpa kenyataan yang mampu merubahnya.
