Sabtu, Mei 1999
Read more (1231 words)
Mery melangkahkan kakinya menuju bangunan putih besar yang berada di pusat kota Pematangsiantar. Bau obat-obatan begitu kental tercium. Mery melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. Dia mendapat panggilan dari sekolah bahwa ayahnya masuk rumah sakit. Dengan perasaan yang tak dapat tergambarkan lagi Mery melangkah menuju ruangan dimana ayahnya di rawat. Dari kejauhan Mery melihat wanita separuh baya menangis sambil menggendong seorang anak perempuan yang masih berusia 2 tahun. Mery menghampiri wanita paru baya itu.
“Bu…apa yang terjadi kepada ayah?” dengan suara yang gemetar
“Ayah kamu…muntah darah sayang” jawab ibunya sambil menangis
Mery terdiam terhenyak. Tak tahu mau berkata apalagi. Sementara ibunya masih tetap menangis. Ingin rasanya Mery segera berlari dan berteriak. Karena begitu sesak. Tak terasa air hangat itu menetes juga membahasi pipinya. Yah…mengalir terus tanpa suara. Suara kecil Kinanti terdengar bermain-main. Dia belum tahu apa yang terjadi. Dia masih terlalu muda untuk memahami hal ini. Kamipun terhanyut dalam tangisan.
“Bu Wijaya…sekarang sudah boleh masuk melihat keadaan Bapak” seorang wanita berseragam putih-putih yang tak lain adalah perawat di rumah sakit tersebut.
“Ya..makasih suster” suara ibu sudah terdengar serak akibat menangis
Kamipun memasuki ruangan yang kecil dimana ayah dirawat. Tubuh ayah terbujur dan masih belum sadar. Dan angan Mery segera membayangkan saat-saat dimana ayahnya pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Bagaimana mungkin???? Tidak…itu tidak boleh terjadi…batin Mery mulai berperang. Mery memangangi tangan ayahnya. Tiba-tiba sesosok lelaki yang masih berusia kira-kira 13 tahun datang mendekat kearah mereka. Raga. Adik laki-laki Mery. Yang masih duduk dibangku SLTP kelas 1. Sementara Mery duduk di bangku kelas 3.
“Raga..” suara ibunya memanggil
Raga hanya diam membisu. Seakan tak percaya dengan apa yang menimpa ayahnya. Karena selama ini ayahnya tampak sehat-sehat saja. Baru saja kemarin ayahnya menemaninya di lapangan sepak bola dan memberi semangat. Baru saja kemarin sore ayahnya menemaninya bermain layang-layang dilapangan sepak bola yang tak jauh dari rumah mereka. Raga terhenyak. Merasa sangat terpukul dengan semua ini. Raga anak cowok satu-satunya di keluarga mereka.
“Raga…ayah mu sudah tidak apa-apa..hanya lagi istirahat” ibunya mencoba menghibur Raga.
“hehehe…”antara tertawa dan menangis Raga mendekati ayahnya dan memegang tangannya
“Iya… benar Bu. Ayah hanya sedang tidur karena letih menemani Raga bermainkan Bu?” Raga mencoba menghibur diri
Mereka menenangkan diri. Hari semakin malam. Mery dan Raga keluar untuk membeli makan malam buat mereka. Ketepatan di seberang rumah sakit itu ada penjual makanan. Mery membelikan beberapa makanan ringan untuk adik perempuannya. Kinanti. Setelah membelikan tiga bungkus nasi, mereka berjalan menuju kearah bangunan putih itu kembali.
“Kak…bagaimana kalau ayah meninggal?” suara Raga sedikit gemetar
“Tidak…ayah tidak akan meninggal, semua akan baik-baik saja. Tuhan takkan membiarkan kita sendiri melangkah” jawab Mery sambil tersenyum kepada Raga
“Tapi…kenapa ayah belum sadar juga sampai sekarang”
“karena ayah sudah banyak mengeluarkan darah, makanya keadaannya masih lemah..” Mery mencoba menenangkan adiknya
“Semoga semuanya baik-baik saja ya kak…apalagi Kinanti. Dia masih kecil “
“Iya..kita berdoa saja ya..”Mery memengang tangan Raga dan mengajaknya berjalan lebih cepat takut ibunya khawatir menunggu mereka kelamaan.
***
“Syalommm…, ibu kami pulang” Mery dan Raga mencoba menutupi rasa sedih mereka.
“Kalian sudah datang..syukurlah..”
“Ayo kita makan Bu..”
“Yah…mari kita makan”
Setelah memanjatkan doa pada yang Maha Kuasa akhirnya mereka makan. Kinanti tertawa senang karena mendapat permen beserta coklat. Betapa polosnya dia.
“Ayah tadi sudah sadar..” Ibunya membuka pembicaraan
“Benar..Bu” Mery begitu senang tak kalah juga Raga
“Trus..apa kata ayah”
“Ayah berkata…dimana bidadari-bidadariku dan jagaonku”sebutan untuk mereka
Mereka tersenyum. Mudah-mudahan ini menjadi awal yang baik.
***
Pukul 24.00 Wib, Mery belum bisa memejamkan matanya. Begitu juga dengan ibu.
“Bu…apa Ibu sudah tidur”
“Belum kenapa? Kamu tidak bisa tidur ya?”
“Iya Bu.. begitu susahnya mata ini terlelap”
“Mer…”
“Ya…bu”
“Seandainya ayahmu nanti akan pergi jauh….”suara Ibu tertahan
“Kenapa ibu berkata seperti itu Bu?” tanya Mery pelan
“Karena tadi ibu dipanggil keruang dokter..katanya ayahmu mengidap penyakit kanker”
“Ada bencolan kecil di punggung belakangnya…”
“Tapi…”Suara Mery tiba-tiba terhenti karena dada terasa begitu sesak
“Tapi…bukankah ayah tidak apa-apa Bu?”Mery semakin memburu Ibunya
“Iya…tapi kita harus bersiap-siap kepada keadaan yang terburuk…ibu harap kamu selaku anak sulung dapat kuat”
Ibu menghusap kepala Mery dengan lembut. Butiran air mata tertumpah lagi…
“Ya..Tuhan jujur Mery belum mau kehilangan ayah Mery…Tolonglah Tuhan berikan muzizat itu…” doa Mery dalam hati
***
Mei hari kedua…
Mery tidak masuk sekolah. Ketepatan mereka sedang minggu-minggu sepi karena sebentar lagi mereka akan menghadapi Ujian Akhir Nasional. Mery pulang kerumah untuk mengambil persediaan ibu dan adiknya di rumah sakit. Mery buru-buru.
Telepon genggam di tangan Mery berdering
“Mer..gimana dengan ayah kamu?” suara bariton Alex terdengar dari ujung telepon
“Baik-baik saja”Mery mencoba tegar
“Mer..mungkin nanti aku dan teman-teman akan datang ke rumah sakit”
“Makasih ya..Lex”suara Mery berubah
“Kamu baik-baik ajakan Mer?” Alex khawatir
“Iya..aku baik-baik saja..Ya udah kalau nanti mau datang…datang aja keruang Melati C nomor 3”
“Ok..kami pasti datang”
“Ok…”
“Mer…”
“Ya…”
“Ingat kamu ga sendiri” Alex mencoba memberikan dukungan
“Ya…makasih ya Lex”
Merypun berangkat ke rumah sakit. Para tetangga menanyakan khabar ayahnya. Mery menjelaskan dan mereka semua merasa kasihan.
***
“Mer…” Ibu memanggil Mery
“Iya Bu..”
“Ayah mu akan segera di operasi dan butuh biaya banyak”
“gimana ini Mer”
“Bagaimana kalau bus angkutan umum kita dijual aja bu?”saran Mery
“Apa itu yang terbaik Mer?”
“Ya ..bu ga mungkin kita minjam. Itu hanya menambah beban aja Bu”
“baiklah Mer..”
“Kita harus kuat Bu” Mery memeluk tubuh ibunya yang semakin kecil karena kurang istirahat.
Mery memperhatikan Ibunya, Raga beserta adiknya Kinanti yang tertidur pulas. Sudah 5 hari ayahnya dirawat dirumah sakit itu. Belum ada perubahan. Sepertinya malah makin semakin memburuk. Bencolan di punggung ayahnya semakin hari semakin membengkak. Dan luka bekas operasi itu menganga karena sel kulit ayahnya tak dapat lagi bekerja. Mery semakin sedih dan terpuruk. Raga tak kuasa melihat semuanya. Raga berubah menjadi anak yang pendiam. Seakan dia menghakimi Tuhan tak sayang kepadanya.
***
Mei,1999
Malam pukul 22.00 Wib ayah Mery di bawa keruang ICU karena banyak mengeluarkan darah dari punggungnya. Tangisan Ibu Mery semakin tak terkontrol. Mery berdiri sambil menggendong adiknya Kinanti. Raga hanya terduduk seperti orang bodoh. Airmatanya menetes jatuh tak beraturan. Kinanti ikut menangis karena melihat ibunya menangis. Mery mencoba menenangkan adik-adiknya. Ya Tuhan…segala sesuatu terjadi seturut dengan kehendakMu. Dokter keluar dengan wajah lusuh. Ya Tuhan…Ayahku. Detak jantung Mery semakin kencang saat dokter mulai memberitahukan bahwa ayahnya telah tiada. Ibunya menjerit sekuat tenaga hingga pingsan. Raga hanya terdiam, membisu tak tahu harus berbuat apa. Mery….Mery menjerit kuat memanggil ayahnya. Mery masih tak kuasa menerima semua kenyataan ini. Kenyataan di usia 15 tahun dia harus kehilangan kasih sayang ayahnya. Kenyataan bahwa Kinanti tidak akan mengenali sosok ayahnya. Kenyataan kalau ibunya sekarang harus sendiri. Hahhh…terasa sesak.
Para sanak saudara telah membersihkan rumah Mery. Mereka menunggu mobil ambulance rumah sakit yang akan datang malam itu juga. Rumah Mery sudah di penuhi banyak orang. Suara sirene ambulance begitu kuat terdengar. Setelah sampai kakak ayah Mery langsung pingsan melihat tubuh adik lelakinya tak bernyawa lagi. Ayah Mery di baringkan di tempat tidur yang telah disediakan. Jeritan tangis terdengar dimana-mana. Mery memeluk adik-adiknya. Dan berusaha tegar, meskipun saat itu perasaannya begitu kacau dan hancur. Besok..yah besok Mery akan menghadapi Ujian AKhir Nasional. Mery kacau tak terpikir olehnya. Saat ini dia hanya mencoba kuat…
*** bersambung
Rating Views: 683 reads
Comments: 7
Rating:
Favorites You have to login to access this feature
click here Flag You have to login to access this feature
click here
Be the first person to continue this post
mungkin bisa dibuat alurnya ga mulus maju terus...asik juga dah ada pewaktuannya...mungkin bisa dibuat alur mundur ato maju mundur..kayak angkot :D
hiks hiks. Bunda Ery cerita ini kayaknya bisa lebih menguras air mata jika dialognya lebih tegas. dialog2 di cerpen ini masih kurang kuat. seperti yang dikatakan Frenzy.
bunda_ery... aku kayaknya baru kali ini membaca cerpenmu. Apa aku lupa mgkn?
untuk cerpen ini, aku rasa dialog dan deskripsi cukup OK walau masih bisa dipertajam. Misalnya, dialog didukung dengan deskripsi lain yang mendukung keseluruhan cerita, menambah kesenduan keluarga yang takut sang ayah akan pergi kapan saja.
dan untuk sambungan, penasaran jg apa yang akan digali lebih lanjut. cerpen ini masih lom terlalu panjang kok :)
terus menulis yah
Tulisan sepanjang itu masih bersambung?
Ati2 sama minat pembaca yg bisa jadi males karena mereka ngga baca di buku tapi di depan komputer yg membutuhkan koneksi internet.
Tapi, tulisanmu lumayan koq.. Cuma kerasa datar aja. Keep trying ya!!
kalimat - kalimatnya terkesan lembut. Salut deh buat bunda_ery. Ceritanya masih panjang ya? Saranku klo cerita spt ini sebaiknya dibikin pendek tp klimaksnya detil
Kayanya bunda_ery dah jago nulis cerpen,k-lo aku lom bisa spt itu,boro2 nulis byk,baca aja kadang2 males,tapi aku akan berusaha tuk nulis apapun disini, be thebest yach.
cerpen ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. maaf sebelumnya tapi menulis merupakan salahsatu hobbyku. untuk itu diharapkan saran dan masukannya dari teman-teman semua. terimakasih