Baru lewat jam makan siang. Nina pulang lebih cepat karena tak ada kelas hari itu dan sebagian laporan riset tugasnya sudah selesai ditulis. Adrian mengundangnya datang, jadi Nina mampir ke apartemen. Mereka duduk di dapur, berdua saja karena Nurul sedang pergi ke Canberra.
Nina hanya bergumam, mengangguk tersenyum.
Read more (1500 words)
“Jadi mau kopi atau teh? Kita bikin teh saja ya?” kata Adrian tanpa menunggu jawaban. Tangannya meraih sebuah toples kaca kecil dari deretan toples serupa yang berisi bermacam-macam teh. Yang ia ambil bertuliskan melati.
Mengumpulkan berbagai macam jenis minuman herbal adalah hobi Nurul. Bagi Adrian semua teh sama saja. Sebetulnya dibandingkan semua jenis seduhan yang pernah dibuatkan Nurul untuknya, ia lebih suka teh melati. Itu yang biasa ia buat untuk dirinya sendiri.
Nina menatap deretan toples kecil itu. Tanpa sadar ia menelan ludah. Tentu saja, pikirnya. Memangnya apa yang akan ia harapkan. Dapur itu milik mereka, tentu saja berada di bawah kekuasaan Nurul.
Sekali lagi tanpa sadar ia menarik nafas panjang. Adrian melirik saat ia menghembuskan nafasnya.
“Kenapa?”
Nina mengangkat wajahnya dan tersenyum. “Nggak.” Sekali lagi jantungnya melompat kecil dan mulai berlari.
Adrian balas tersenyum. “Kita tunggu tehnya jadi gelap.” Jelasnya seraya mempersiapkan cangkir-cangkir teh. “Kamu biasanya pakai gula berapa banyak?”
“Ah, biar nanti sendiri.”
Mereka duduk berhadapan di counter. Nina menatap cangkir, Adrian menatap Nina.
Sejenak Nina mengangkat wajahnya, tapi saat menyadari Adrian sedang menatapnya, ia mengalihkan perhatian lagi. Saat Adrian menuangkan teh dari poci ke cangkir, ia memandangi poci itu. Jemari dan tangan yang memegang poci itu. Nina menahan nafas karena takut jantungnya meledak. Tangannya bersedekap, khawatir Adrian melihat badannya berguncang karena debar jantungnya begitu keras.
Gula. Adrian dua sendok. Nina satu. Lelaki itu mengangkat cangkirnya, menghirup uapnya yang wangi melati sambil menunggu suhunya aman untuk dikonsumsi.
“Aku paling suka teh ini. Banyak merek lain, tapi ini yang paling enak. Kalau habis, langsung telepon rumah, langsung dikirim, deh!”
Mau tak mau Nina menatap wajahnya, dan tersenyum. Ia merasa darahnya begitu panas mengalir di pembuluh darahnya, sementara kulitnya terasa begitu dingin dan kebas. Ia menempelkan ujung-ujung jarinya di permukaan cangkir, berusaha menghangatkannya.
“Mmm, aku kepingin beli bunga.” Nina tidak tahu kenapa tiba-tiba itu yang keluar dari bibirnya.
“Bunga apa? Buat hiasan di kamar?”
Nina menggeleng. “Bunga hidup. Tapi di pot. Di asrama nggak boleh piara binatang, sih. Jadi kepengen piara bunga aja.”
“Kamu suka berkebun?”
“Nggak juga,” Nina mengangkat bahu.
“Pernah tanam apa aja? Ibuku punya banyak anggrek di rumah. Yang bisa bikin tanaman itu tetap hidup cuma dia. Waktu dia pergi ke luar kota seminggu, kita dititipin anggreknya, kan. Langsung sekarat itu tanaman. Eh, waktu ibuku pulang, dirawat intensif dua minggu, sehat lagi. Lucu ya?”
Nina menatapnya terpesona. “Anggrek susah. Kepikirnya malah kaktus.”
Adrian tertawa. “Ya, gampang tuh. Kamu suka kaktus?”
“Sebetulnya aku lebih suka Gerbera.”
“Itu yang mana?”
“Batangnya nggak padat, berongga dan sedikit berbulu, bunganya warna merah, oranye, kuning.”
“Wah, yang mana tuh ya?”
“Biasanya suka dipakai di karangan bunga, kok.”
“Oh, itu. Ya, kayanya aku tahu yang mana. Kamu suka itu? Kenapa?”
“Karena dia cerah, terus kayanya tulus.”
“Melati juga,” protes Adrian.
“Tapi melati punya kesan misterius. Dia terlalu sederhana buat jadi sederhana. Kalau Gerbera itu, ceria. Polos apa adanya kaya anak kecil.”
Mata mereka berpandangan. Detik itu Nina berharap mereka ada di dimensi lain. Di mana dapur ini adalah milik mereka berdua. Di mana Nina bukan orang lain. Di mana semua kebahagiaan sekaligus kegelisahan yang ia rasakan ini adalah abadi. Saat ia bangun pagi, adalah dia di sisi Adrian, bukan Nurul.
Ia terkesiap saat tangan Adrian yang hangat menyentuh dan menggenggam tangan kirinya. Tapi ia diam saja. Tidak menepis, tidak menarik diri. Matanya terpaku pada mata Adrian. Seluruh persendiannya kompak menyerah kalah.
“Tangannya dingin, lho. Kamu nggak demam kan?”
Yang ditanya tersipu, menggeleng dan menunduk lagi. Tapi tangannya balas menggenggam tangan Adrian.
Adrian mengulurkan tangan yang satunya dan menempelkannya ke pelipis Nina. Di kulitnya, tangan itu terasa seperti kompres sejuk yang nyaman. Sihir apa ini, kenapa tangan lelaki itu bisa terasa hangat sekaligus sejuk saat menyentuhnya?
Mereka menghabiskan teh di counter sambil terus berpegangan tangan. Adrian bercerita macam-macam, Nina tak berani menatap wajahnya langsung lama-lama. Kepalanya terasa berat sekaligus ringan. Ia takut jatuh dari bangku tinggi tempatnya duduk.
“Kenapa?” tanya Adrian menyadari sesuatu.
“Pusing.”
“Belum makan?”
“Sudah tadi.”
Adrian menempelkan lagi tangannya ke pelipis Nina. Tangan anak itu dingin, tapi pelipisnya hangat. “Mau minum obat?” tapi yang ditanya menggelengkan kepala. “Rebahan dulu ya? Nanti kalau sudah baikan, aku antar kamu ke asrama. Atau mau langsung pulang sekarang?”
Nina menggeleng. “Kalau sudah masuk asrama, pasti jadi males keluar lagi. Kepingin beli bunga dulu. Rebah sebentar, nanti juga baikan.” Putus Nina.
“Ya udah, kalau ‘gitu. Di guest room aja ya?”
Nina melangkah lemas mengikuti Adrian ke kamar tamu. Sepreinya baru diganti. Adrian menyiapkan setumpuk bantal untuknya bersandar. Diam-diam Nina merasa sedikit malu, tapi ia membiarkan Adrian memperlakukannya seakan-akan ia sudah lumpuh dan tidak bisa bergerak lagi.
Lelaki itu menyelimutinya, lalu berpamitan hendak mengambilkan minuman hangat dari dapur.
Saat Adrian pergi, Nina menatap langit-langit kamar dan menarik nafas panjang. Apa saat Nurul sakit, Adrian juga memperlakukannya seperti ini?
Adrian muncul lagi. Menaruh cangkir teh Nina dan pocinya sekalian di meja tepi. Lalu ia duduk di dekat Nina. Sekali lagi menempelkan tangannya di kening Nina.
“Kamu sering begini?”
Hanya kalau dekat denganmu . Nina menggeleng.
“Mau flu mungkin ya?”
Nina hanya tersenyum dan memejamkan mata. Sebelah tangan Adrian kembali menggenggam tangannya. Ia merasa begitu tenang sekaligus gelisah.
“Aku tinggal dulu, ya? Biar kamu bisa merem sebentar.” Lelaki itu beranjak, tapi Nina tidak mau melepaskan tangannya.
Adrian menatapnya heran, tapi lalu duduk lagi. Gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat, lalu bangun. Sorot matanya menunjukkan bahwa ia ingin mengatakan sesuatu.
“Kenapa?”
Adrian merasa tangan Nina yang dingin menggenggam makin erat. Sedetik kemudian, gadis itu mencondongkan badannya. Ia bisa merasakan harum Nina, nafasnya yang hangat di pipi dan dagunya. Kemudian sesuatu yang lembut, basah dan hangat, sedikit manis aroma melati, menyapu bibirnya.
Matanya terpejam. Sebelum gadis itu menghentikan serangannya yang tiba-tiba, Adrian membalas ciuman itu dengan pagutan.
Dunia terasa seperti berputar-putar dalam sebuah terowongan gelap di kepala Nina. Ia tak bisa berpikir lagi. Yang ada di kepalanya hanyalah gema debar jantungnya, atau mungkin juga itu debar jantung Adrian.
Ketika mereka berhenti berciuman, Nina merasa sudah hampir pingsan. Kepalanya terasa begitu ringan, ia bisa mengambang membentur langit-langit kamar seperti balon helium yang lepas tambatan talinya.
Kali ini ia tidak mengalihkan tatapan matanya dari mata Adrian. Ia tak tahu apa yang dipikirkan lelaki itu. Ia tak ingin lelaki itu pergi. Tapi ia tak bisa mengatakannya. Dunia di luar mereka sudah tak ada lagi. Kalau lelaki itu pergi, dunia itu akan kembali, dan Nina tak akan sanggup menghadapinya.
Sepertinya Adrian bisa membaca pikirannya. Lelaki itu tersenyum menenangkan dan menempelkan tangan Nina ke dadanya.
Dia khawatir, pikir Nina. Tapi bukan dia yang melakukannya. Aku. Dia tidak melukaiku.
Nina ingin memeluknya. Ingin mengatakan yang barusan itu bukan salah Adrian. Jangan bersedih. Jangan khawatir. Yang tadi itu aku.
Sebelah lagi lengan Nina bergerak merangkul pundak Adrian. Bibir mereka bertemu dan bertautan lagi. Jantung Nina terasa bagaikan piston yang bergerak semakin kencang, memompakan panas ke seluruh pembuluh darahnya.
Ciuman itu lebih panjang dan dalam. Terkunci dalam tautan yang lekat di antara memberikan ketenangan dan menuntut perhatian.
Kenapa bukan aku milikmu? Kenapa?
Nina rebah tersandar. Kepalanya berputar-putar. Apakah dia sakit sungguhan? Tapi ia masih bisa berpikir jernih. Atau paling tidak ia masih bisa berpikir. Baiklah, mungkin ia sudah tidak bisa berpikir lagi, tapi ia masih sadar. Atau mungkin juga tidak.
Tapi yang jelas, ia tidak melepaskan Adrian. Mereka terkunci dalam pelukan yang erat dan ciuman yang hangat. Nina tak keberatan beban tubuh Adrian menindihnya, tapi lelaki itu berusaha tidak menghimpit Nina.
Satu-satunya pikiran yang menderu di kepala Nina hanyalah kekhawatiran.
Jangan berhenti sekarang. Jangan berhenti sekarang.
Setiap bibir mereka terlepas dari tautannya, Nina meremas lengan Adrian ketakutan, dan lelaki itu mengusir ketakutannya.
Nafas mereka memburu sekarang. Nina bisa mendengar nafas Adrian. Nafasnya sendiri, aneh. Terdengar seperti bukan dirinya. Aneh, ia tak lagi merasa sesak atau pusing seperti tadi. Ia hanya merasa ringan dan hangat.
Saat maraton ciuman itu terhenti, mereka berpandangan dalam jarak yang sangat dekat.
Nina merasa sangat lega. Entah kalau nanti. Tapi saat ini ia merasa cukup bahagia. Ini seperti mimpi yang indah, tapi sungguhan, tapi tidak nyata juga.
Adrian menatapnya balik dan tersenyum. Dalam genggamannya tangan Nina sudah terasa hangat.
“Jadi sakitnya ini? Pantas minum obat nggak mau.” Adrian tertawa. Nina menatapnya antara terkejut, kesal dan malu.
Mereka kembali berpandangan dalam diam. Nina yakin banyak pikiran yang berkecamuk dalam kepala Adrian pada saat itu. Ia sendiri membiarkan kepalanya kosong. Ia merasa seperti bermain akrobat tanpa jaring pengaman. Kalau Adrian mengatakan sesuatu, Nina akan jatuh langsung di tanah. Memikirkannya saja Nina tidak berani.
“Nin...”
Nina menggeleng. Ia meremas jari Adrian. Menulikan telinganya tetapi menatap lekat-lekat bibir lelaki itu. Jangan bilang apa-apa.
Sepertinya rasa takut itu terlihat dari wajahnya, karena Adrian lalu diam kembali. Dan ketika Nina tidak memaksanya untuk meneruskan kata-katanya, tidak seperti biasanya, Adrian tahu diam adalah keputusan yang tepat.
saya sangat suka alurnya... cantik...
sip.
http://www.kemudian.com/node/232811
Aku menyukai detilnya. Nafas yang memburu dan terengah. Hm.
Hanya saja, mana lanjutannya, Sist? :D Ini lanjutan flashback adegan tadi, kan?
Kalau Pantulan Kaca jadi prolog, ini jadi BAB I, pasti ada BAB-BAB selanjutnya. Hm.
Romantis, unik, dan selalu tentang hal-hal yang hanya untuk dewasa. Parenting Guide. Untung saja aku sudah tujuh belas :)
... ini cerpenmu Mir. Kutemukan di Google saat mencari info teh :P
wow dari awal sampai akhir
-romantis-
mulai bagian ciuman dan seterusnya, nafasmu ikut habis keknya kekekek.
begini, Mir, ini subyektif sih dan saya prefer sudut pandang ketiga yang lebih fokus. show not tell tapi itu hanya satu opsi dan ngga harus begitu. ^^ its about style kalik yak.
di luar itu kurasa perlu diedit agar lebih tertata rapi dan tidak terlalu manis :D
Romantis dan mengalir.
Aromanya mirip cerpenku yg pertama aq posting disini Griff...
aq kasih note linknya yah
A Lesson I Call "A Cup of Tea"
http://kemudian.com/node/1157
judulnya sangat indah
mengalir dengan lembut, top deh
CERPEN TERBARU CAT : CACING DI DALAM PERUTKU
PUISI TERBARU CAT : Pesta untuk Permataku
selingkuh itu indah.
hege tak pernah selingkuh, jadi inilah yg terjadi, poor couple.
mari ngeteh, mari bicara.
enbdingnya keren.
...terlalu sederhana buat jadi sederhana." >> kok diriku suka kata-kata ini yaw?^^
Selebihnya... mmm.. mm.. gue lagi males kasih kritik nih M :D. Udah bagus kok, suka deh sama endingnya. Bahagia tapi tidak bahagia, kekeke
btw, diriku cinta sama judulnyaw^^
Ini dia nih... Cerpen yang enak dibaca. Mengalir begitu saja. Indah pula. ^^
wuih.. gila.. semangat menulisnya luar biasa!!