AME

AME

Aku, terjebak dalam kenyataan telah jatuh cinta secara total pada seorang yang ternyata mengidap kompleksitas identitas akut menjurus ke psychological disorder alias kelainan jiwa, menerima secangkir kopi hangat dari seorang pria yang namanya telah disadur habis-habisan oleh si sakit jiwa itu.
“Mendingan?” Tanyanya.
Namanya Ame Andaresta. Nama yang sama yang disebutkan si sakit jiwa padaku pada pertemuan pertama kami di Chocolaholic coffee shop dua bulan lalu.
Waktu itu hujan deras mengaburkan pandangan dan menurunkan tingkat konsentrasiku ke jalanan. Terpaksa kuputuskan berbelok dan menunggu hingga agak reda. Biasanya aku malas mengalah pada hujan. Apalagi sore itu masih ada banyak hal yang harus kukerjakan dirumah. Self-editting tulisan-tulisanku yang belum kelar, laporan keuangan bulanan pribadi yang membengkak dan perlu direvisi untuk pengetatan planning anggaran bulan berikutnya dan lain-lain dan lain-lain.
Aku masuk kedalam sebuah coffee shop. Setelah selintas mendapatkan semua meja penuh terisi, aku segera menuju ke satu dari empat buah kursi kosong di meja bar. Beberapa meja diantaranya memang hanya dihuni satu atau dua orang saja. Seharusnya kalau aku bukan seorang nerd yang freak, malas bergaul dan ingin segera cepat pulang, memang lebih baik memilih duduk dengan orang tak dikenal dan memulai pembicaraan.
Kupesan secangkir coffee cream blend sebagai penghangat.
“Sendirian?” Saat itulah dia datang, duduk disampingku dan menyapa.
Aku menoleh sedikit padanya dan merasa kurang tertarik. Maklum. Hati ku baru saja hancur dan belum pulih benar. Pria yang berkencan denganku selama empat tahun lebih dan sudah pernah mengutarakan keinginannya untuk menikahiku, tiba-tiba saja berkelit dan menikamku dari belakang dengan mengencani teman sekantornya. Laki-laki bagiku, saat dia menyapa, tidak lebih dari penyakit menular yang harus dihindari.
“Ame. Ame Andaresta...” Kata si sakit jiwa memperkenalkan diri. Seolah tidak peduli meski aku tak membalas salam perkenalannya, dia berkata lagi, “Ini pertama kalinya aku ke Semarang. Dapat tugas dari hotel. Aku bartender. Aku kesini buat ngeliat-liat shaker di Semarang. Orang Semarang?”
Mau tak mau aku menoleh. Lebih tepatnya, aku melirik padanya tanpa banyak memberi komentar selain sebuah anggukan ringan.
Entah bagaimana kemudian kami saling mengenal. Kami bertukar cerita dan nomor telepon sebelum akhirnya mulai saling tidak bisa melewatkan semalampun tanpa bertukar kabar melalui sms.
Mulai merasakan getaran-getaran aneh setiap kali bertemu. Mulai tidak bisa meredam rasa rindu. Mulai mengungkapkan perasaan sayang.
Hingga akhirnya aku mendengar ia menangis di ujung lain teleponku saat Ia mengungkapkan cintanya!
Dan aku yang ternyata sangat naif, mempercayainya. Permasalahan asmara pelik yang pernah kualami, yang seharusnya membuatku tidak mudah percaya begitu saja, seperti tak berpengaruh apa-apa. Gara-gara airmata itu pula aku kembali memberikan seluruh hatiku pada seseorang. Kulupakan sakitnya dikhianati yang pernah membuatku enggan berkomitmen.
Namun yang terparah dari seluruhnya adalah bahwa sepertinya aku telah dikutuk. Kutukannya berbunyi: Kau tidak akan mampu melepaskan diri dari para pria brengsek.
-----------------
Kopi susu panas yang kupegang dengan kedua belah tanganku mengepulkan uap beraroma manis dan menyalurkan kehangatan pada dua sisi pipiku yang kedinginan.
Sore ini hampir sama dengan sore dua bulan yang lalu itu. Kombinasi antara hujan deras, secangkir kopi dan seorang cowo yang sama sekali ga kukenal. Bedanya kali ini aku berada di daerah yang asing. Ya. Benar. I drive miles away from home to give him a surprise. Tapi yang kudapatkan justru kenyataan pahit bahwa si sakit jiwa yang mengaku bernama Ame itu sama sekali bukan bernama Ame, tidak bertempat tinggal di alamat yang dia tuliskan padaku, mendadak tidak dapat dihubungi, dan entah apalagi.
Ame meletakkan cangkir kopinya di sebuah meja mungil diantara kedua kursi kami. Dia mulai memenuhi permintaanku untuk menceritakan sedikit mengenai si sakit jiwa, yang kemudian kutahu dari Ame pula, bahwa namanya adalah David.
“David itu batu. Jangankan kamu yang baru aja kenal sebulan dua bulan. Tunanganya saja menyerah...”
“Tunangan...” Suaraku bergetar. Aku benar-benar merasa sangat lemah ketika mendengarnya.
“Jadi dia juga merahasiakan pertunangannya?” Ame makin terheran-heran, menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya menandakan bahwa dia masih belum berhenti kebingungan.
Kututup kedua mukaku dan aku mulai menangis lagi.
Ame tidak lagi mengguncang-guncangkan bahuku. Kali ini dia sudah terbiasa. Mengingat sudah berapa kali dalam seharian dia melihatku menangis.
Tadi pagi aku mengetuk pintu rumah itu dengan perasaan luar biasa. Rinduku tak tertahankan lagi. Ingin bertemu. Ingin bertemu.
Setelah beberapa hari aku mendengar kabar bahwa dia sakit dan diopname selama seminggu di Jakarta berkaitan dengan tumor kecil di otaknya yang harus diangkat, aku berniat memberinya kejutan dengan datang ke Jogja untuk menemuinya.
Tapi ketika aku menoleh dan mendapatkan seorang pria yang bukan dia membukakan pintu, ada rasa khawatir yang tiba-tiba saja terselip dihatiku. Karena selama ini kudengar dari mulutnya sendiri bahwa dia tinggal sendirian di rumah peninggalan kedua orang tuanya.
Meski ragu, aku tetap bertanya sehalus mungkin, “Bisa ketemu Ame andaresta?”
“Ya?” Aku bisa melihat pria itu menggaruk bagian belakang kepalanya dengan tampang kebingungan, seperti sedang berusaha keras mengingat apakah ia mengenalku, “Aku Ame.” Katanya yakin. Sambil mengangguk dia melanjutkan, “Salam kenal.”
“Aku Sabrina.” Kuperkenalkan diri. “Ada berapa Ame dirumah?” selorohku.
Ame tertawa, “Mau ngecek KTP sekalian?” tawarnya.
Aku meringis dengan gaya yang serupa dengannya. Tapi sedetik berikutnya aku sudah tertegun.
“Tidak ada Ame yang lain yang pernah tinggal di rumah ini kecuali aku...” Dia menjelaskan tanpa diminta.
Mungkin dia merasa iba padaku karena aku belum bisa berbuat banyak selain tak kuasa menahan mulutku terbuka makin lebar.. Aku benar-benar amazed, lebih tepatnya; shock, sampai speechless berat.
“Boleh liat alamatnya?” Tanya Ame sopan. Menurut asumsiku, dia pasti sudah mulai bosan karena aku tak kunjung meninggalkan teras rumah ataupun mengucapkan sesuatu. Segera kuambil hape dari kantung celana. Kubuka folder pesan dan kuserahkan padanya.
“Bener. Alamat sini.” Kata Ame setelah selesai meneliti, “Masalahnya aku juga sangat yakin kalau satu-satunya Ame dirumah ini cuma aku... bahkan satu-satunya orang yang tinggal di alamat ini.”
Akhirnya, aku jatuh diatas lututku dan menangis untuk pertama kalinya pagi itu.
Dia membujukku agar mau menenangkan diri dulu sebelum langsung pulang kekotaku yang jaraknya tidak dekat. Karena itu pulalah kemudian dia tahu siapa yang sebenarnya kucari.
“Ini sih David!” Katanya saat melihat salah satu image di galeri hapeku, “Dia temen di kampus dulu. Anak fakultas ekonomi Universitas ‘M’ kalo ga salah kan?”
Dadaku sakit sekali. Untuk apa dia berbohong? Untuk apa dia mengatasnamakan orang lain dan mendeklarasikan rasa cintanya dengan nama itu? Ah... tidakkah dia tau aku penentang teori Shakespeares? Bagiku nama demikian pentingnya. Bagiku nama adalah seseorang itu sendiri.
Sekarang dia... yang akhirnya membuatku menyerah dan mau mulai mencintai orang lain lagi, ternyata menggunakan nama orang lain untuk mencintaiku.
“David. Orang kalimantan kan?” Ame memastikan lagi.
Aku menggeleng. “Jakarta. Menteng.” Kataku membenarkan.
“Kalimantan!” Ame bersikeras, “Kalau sebelum pindah kesini, aku dulu di Menteng! Kalo si David setahuku dia orang Kalimantan. Soalnya kita emang kenal lumayan deket. Main bola bareng!”
Aku menangis lagi. Entah aku yang terlalu cengeng. Atau kebohongan-kebohongan ini memang terlalu menyakitkan.
--------------
Hari mulai beranjak petang. Kopiku mulai mendingin.
Emosiku sudah agak teredam oleh beberapa teguk kopi dan semilir angin sepoi-sepoi selepas hujan yang menyusup menembus kebalik sweater pink-ku sehingga aku bisa menanyakan dengan hati-hati, “Tunangannya... cantik?”
Ame tertawa, “Yang jelas dia kalah aneh sama kamu. Buat apa kamu menanyakan sesuatu yang nantinya hanya akan membuatmu semakin sakit?”
Aku tersenyum dengan penuh kerelaan, mengambang.
“Aku pernah melihat foto perempuan di dompetnya. Sebenernya aku memang curiga. Hanya gambar orang-orang penting yang tersimpan disana,kan?” Kataku. Retoris.
Kejadiannya dua minggu yang lalu. Malam itu kami keluar makan malam dan dia yang melunasi billnya. Ketika mengeluarkan beberapa lembar cash lima puluh ribuan dari dompet, mataku menangkap selembar foto perempuan yang terpasang manis di sana.
“Kakak.” Katanya tanpa kutanyakan.
Aku mengangguk. Semula aku enggan bertanya lebih jauh. Semula aku hanya ingin hubungan ini sebagai temporary ecstacy saja. Aku tidak mau berharap terlalu banyak dan jatuh lagi.
Ame tertawa terkekeh-kekeh. “Terus? Percaya?” Tanyanya disela-sela tawa.
Aku mendengus kelelahan. Memperlihatkan keberatanku ditertawakan begitu.
Bukannya mereda, tawanya justru makin menggila.
“Si David emang aneh... Aku justru baru tau kalo dia punya kakak perempuan.”
Dasar tidak punya perasaan! Batinku jengkel. Kelihatannya aku mulai dimanfaatkan untuk kepentingannya menghibur diri!
“Jadi kamu bener-bener clueless tentang tunangannya dia?” Dia bertanya lagi.
Aku menghembuskan napasku tanpa menjelaskan apapun.
Aku bukan seseorang yang bersedia berada diantara dua orang yang terikat komitmen. Karena aku tahu pasti betapa sakitnya mengetahui bahwa telah ada seseorang lain yang berdiri dengan komitmen yang sama kuat dengan orang yang kusayangi. Tanpa sepengetahuan kita. Meski untuk sebagian orang posisi itu membuatku memiliki alasan untuk membalas sakit hati, aku tidak pernah menginginkan berada diposisi manapun dalam hubungan orang lain.
Kalau aku tahu dia sudah memiliki komitmen dengan perempuan lain, tidak mungkin aku rela menyetir sendiri mobilku selama tiga jam-melawan hujan deras dan traffic jam jalur antar kota yang memicu stress hanya untuk berada disuatu tempat dimana seseorang menjadikanku salah satu dari dua. Aku pasti sakit jiwa.
“Dia menangis.” Kataku lagi tiba-tiba.
Ame menatapku begitu aku selesai mengucapkan sepotong kalimat itu. Aku tahu benar dia berharap aku bisa melanjutkan kalimat tadi dengan sebuah kalimat penjelas yang memadai. Tapi aku bungkam.
Kudengar dia menghembuskan napas berat.
“Saat dia menyatakan cintanya dia menangis, “Akhirnya aku menjelaskan, tidak enak rasanya membebani seseorang tak dikenal dengan sebuah teka-teki membingungkan, rasanya tidak adil.
“Beberapa kali setiap kami membicarakan hubungan ini dia memperlihatkan air matanya. Mungkin aku terlalu naif... terlalu berpikir kompleks... Tapi pria-pria lain yang kukenal tidak mudah memperlihatkan air mata. Karena itu kupikir...”
“Sungguh-sungguh?” Ame menyelesaikan kalimatku yang tertunda karena terdesak isakan tangis.
Aku diam. Dia benar. Karenanya aku tak mau mengatakan apapun lagi.
Seharusnya sejak pertemuan terakhir dua minggu yang lalu aku sudah tahu seperti apa hati si sakit jiwa yang kucintai itu. Waktu itu dia juga menangis, sampai-sampai membuatku sangat merasa bersalah.
Kami bertengkar pada menit-menit sebelum aku bertolak untuk pulang karena dia menolak menunggu sampai aku meninggalkan kotanya. Entah kenapa aku memaksanya dan kami adu mulut hebat.
Saat itulah dia mengaku mengidap kanker.
Aku panik. Tentu saja. Tiba-tiba saja dia mengaku pusing dan terjatuh ke tanah seperti orang pingsan. Meskipun aneh bagiku karena sebelumnya dia sangat sehat, aku tetap histeris. Tidak berani tak percaya.
Kemudian disela-sela napasnya yang tersengal-sengal dia mengaku tak mampu melihatku pergi meninggalkannya karena itu dia menolak menungguku.
Tapi walaupun aku mengatakan aku tidak akan meninggalkannya, dia tetap bersikeras. Bagaimanapun aku memohon, dia tetap tak mau mengubah pendiriannya.
Betapa sakit yang kurasakan waktu itu tak seberapa sakit dibandingkan sekarang ini. Ketika aku menyadari bahwa kemungkinan dia membuatku mempercayai cerita-cerita bohongnya untuk menemui perempuannya yang lain.
Sialnya cerita-cerita bohong itu kubawa sampai ke hati. Aku mencemaskan keadaannya yang kupikir benar-benar sedang sakit itu sehingga aku mau saja memaafkan dan menerimanya kembali begitu dia menelpon dan meminta maaf di malam yang sama.
“Apa dia sakit?”
Aku tahu aku ga perlu tanya. Tanpa kutanyakanpun... seharusnya aku tahu bahwa semua itu bohong belaka.
“Dia baru saja pulang dari Jakarta dua hari yang lalu untuk operasi pengangkatan tumor di tempurung kepalanya kan? Karena itu pula dia berhenti bekerja sebagai bartender di hotel Q. Udara malam dan asap rokok serta keharusan menemani tamu minum membuat dokter memaksanya berhenti. Iya kan?”
Ame menatapku. Aku bisa menangkap tatapan macam apa yang diberikannya padaku itu. Itu adalah tatapan iba. Mengasihani.
“Jangan menatapku seperti itu.” Perintahku.
Tapi dia tetap melakukannya, “Setauku dia tidak meninggalkan kota seminggu ini. Dia menginap disini dua hari yang lalu. Bertengkar dengan tunangannya dan menangis semalam suntuk. Sudahlah. Jangan tanya apa-apa lagi. Dia bohong. Titik. Menyakitkan melihatmu seperti ini. Entah kenapa... ”
Aku terkesiap. Kemudian cairan hangat mulai kembali mengaliri pipiku yang belum kering benar dari airmata sebelumnya.
“Ya Tuhan...” Rintihku pelan, menyadari satu hal baru yang seharusnya setelah semua kebohongannya terungkap aku tak perlu repot-repot menangis lagi, tapi aku tetap saja menangis. “Jangan bilang kalau dia sama sekali tidak bekerja di hotel itu...”
Ame meraih kepalaku dari tempatnya duduk, mengusap rambutku perlahan dengan hangat meski agak canggung.
“Tunangannya Marketting banquet di hotel itu ” Ujar Ame terkulum. Hampir tak bisa kutangkap dengan telingaku yang menuli karena terlalu banyak menangis.
Entah kenapa aku tertawa kecil. Getir. Pahit. Sakit.
Didalam penglihatanku yang kabur oleh airmata yang menggenang dipelupuk, aku masih bisa melihatnya berdiri dari duduknya dan berlutut dihadapanku. Sebentar kemudian aku tak bisa melihat apapun lagi karena aku memejamkan mata ketika kurasakan lengannya mendekap bahuku lembut.
Ingin menangis. Hanya ingin menangis.
---------------
Ame sedang membereskan dua buah cangkir kopi kami kebelakang sewaktu hapeku melantunkan ringtone yang kukhususkan untuk setiap panggilan si sakit jiwa.
“Halo...” Aku buru-buru mengangkat dan menyapanya.
“Hai!” Sapanya riang.
Aku tersenyum pahit, memberondongnya dengan kalimat yang sudah kurencanakan begitu kulihat namanya didisplay hapeku, namun dalam keadaan tenang, “Aku di rumahmu sekarang. Sama Ame Andaresta. Kayak kenal nama itu?”
“Aku bisa menjelaskan semuanya, sayang... Aku sekarang di Bethesda. Kepalaku pusing. Harusnya aku memang lebih banyak bed-rest. Malah main bola. Terus sialnya... dapet jahitan di kaki... Sekarang gwe di RS mau buk.. ”
Kuputuskan sambungan teleponnya.
Kuhapus nomor telponnya dari incoming, outgoing dan missed calls serta phone bookku. Kumatikan hapeku segera ketika nomor yang sudah tanpa nama itu kembali menghubungi.
“Gimana? Mau berangkat sekarang?”- Disaat yang sama Ame muncul. “Aku mau sekalian ke Bethesda. Ada janji ketemu dokter malam ini. Mau buka jaitan.” Katanya sambil tertatih-tatih kembali menuju pintu.
Aku terlalu sibuk mengurus diriku sendiri hingga baru menyadari ada kejanggalan pada cara jalannya. Ketika berniat kutanyakan, dia terlanjur meneruskan langkahnya sampai menghilang kebalik tirai yang memisahkan ruang tamu dan bagian dalam rumah sebelum muncul kembali kurang dari sepuluh menit.
“Main bola?” Aku menebak.
Ame tersenyum, “Iya. Kok tau? Dasar detektif...” Candanya.
Untuk pertama kalinya aku ikut tertawa bersama orang yang namanya sering kuucapkan penuh dengan harapan-harapan indah sebelum memejamkan mata. Untuk pertama kalinya pula aku mulai bisa menertawakan diriku sendiri. Menertawakan kebodohan-kebodohanku.
--------------------------------------------------------------------------------------end--------

April 21 2006
at 23.57 finished.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer arudoshirogane
arudoshirogane at AME (7 years 28 weeks ago)

Nice one ^^b

Writer danang
danang at AME (10 years 22 weeks ago)
100

keren,

Writer imoets
imoets at AME (12 years 18 weeks ago)
70

idenya unik..
ada gak yah orang sakit jiwa kayak gitu???

Writer v1vald1
v1vald1 at AME (12 years 29 weeks ago)
70

Sebuah cerita yang cukup orisinil. Membacanya pun selezat menyeruput coffee cream blend-mu. Ending yang mayan tepat. Tapi, ada satu pertanyaanku: Kenapa ya David meniru Ame? Toh Ame hanya mengenali David sebagai teman masa kuliah. Tapi agak lucu juga ketika di dekat akhir, penulis menggambarkan kalo baru 2 hari yang lalu David menginap di rumah Ame. Berarti lumayan dekat dong hubungan mereka, dan Ame seharusnya tidak sedatar itu mengenali David hanya sekadar -teman kuliah dulu-
Dan harusnya lagi, dalam deskripsi yang panjang ini, penulis juga mengungkapkan -meski hanya sekilas- KENAPA DAVID MEMILIH AME?

Writer neko no oujisama
neko no oujisama at AME (12 years 32 weeks ago)
70

Enjoy bacanya

Writer alleya hanifa thariane nauda
alleya hanifa t... at AME (12 years 32 weeks ago)
90

NO COMMENT GTL!

Writer Azarya Mesaya
Azarya Mesaya at AME (12 years 33 weeks ago)
50

Tehnik Mucul yang perlu diganti, seperti ini : Aku, terjebak dalam kenyataan telah jatuh cinta secara total pada seorang yang ternyata mengidap kompleksitas identitas akut menjurus ke psychological disorder alias kelainan jiwa, menerima secangkir kopi hangat dari seorang pria yang namanya telah disadur habis-habisan oleh si sakit jiwa itu.
“Mendingan?” Tanyanya.
Namanya Ame Andaresta. Nama yang sama yang disebutkan si sakit jiwa padaku pada pertemuan pertama kami di Chocolaholic coffee shop dua bulan lalu.

Writer soeroen
soeroen at AME (12 years 34 weeks ago)
70

jadi ingat mantan nih..
alur dan kisah mengalir indah seperti hujan yang tak deras..
idenya menarik pula.. keep writing

Writer edowallad
edowallad at AME (12 years 35 weeks ago)
70

alur lompat lompat majumundur adalah salah satu favorit gue

Writer Valen
Valen at AME (12 years 35 weeks ago)
80

Aku salut sama cerita psikologis kaya gini. Sedikit membingungkan dan berbelit mengenai Ame itu, tapi alurnya keren. Membacanya jadi bisa merasakan kekecewaan tokoh Aku terhadap laki2.

Writer Farah
Farah at AME (12 years 35 weeks ago)
70

love this story deh,,,,juastru dengan alurnya yang maju mundur bikin aku tambah seneng bacanya,,,great

Writer v3ndy
v3ndy at AME (12 years 35 weeks ago)
80

Berputar terus kembali . . . nice concept.

Writer F_Griffin
F_Griffin at AME (12 years 35 weeks ago)
60

Saya nggak yakin ini sebetulnya mau memberikan kesimpulan apa pada pembaca. Narasinya tumpang tindih seperti gaya berkisah film-film independen kelas festival macam Memento, Run Lola Run.
Ceritanya sangat menarik, tapi mungkin narasinya perlu dirapikan lagi.
Dan karena panjang, mungkin jarak antar paragrag bisa ditambah, jadi pembaca tidak cepat lelah dan putus asa. Sip!

Writer ipul
ipul at AME (12 years 35 weeks ago)
70

aku suka ceritanya, meski harus dibaca berkali-kali baru ngerti...:)
idenya baaagus

Writer dialian
dialian at AME (12 years 35 weeks ago)
80

ehmm perlu tempat adem buat membacanya...and sambil nyeruput cokelat or kopi kali ya... ditunggu cerita berikutnya...

Writer cen nih...
cen nih... at AME (12 years 35 weeks ago)
70

kereen...tapi bingung..cerita sebenernya gimana sih? he..maaf, bolot..bis bacanya di kantor..hehe..

Writer Setiyo Bardono
Setiyo Bardono at AME (12 years 35 weeks ago)
80

Bagus. Kalau kata guru SD kita, "Pertahankan Prestasimu"