Setetes Darah Di Batu Besar

Temaram sore belum berlahan menyeruak. kuning keemasan berganti merah merekah berekor malam yang pasti dihiasi mutiara bulan yang kadang tertutup awan bergerak mengikuti angin berhembus. sunyi dingin bisu. seorang dara terdiam sendu kosong memandang jauh ke depan kumpulan air bertepi gunung dan cakrawala.
Seorang dara, dengan baju sedikit berpasir, pelipis merah berdarah, sesegukan menahan sedih yang tak terperih, sisa pertengkarannya dengan kekasih hati tadi siang tepat di depan batu besar pingir danau Toba.

Keheningan siang tadi di pinggir danau sebelah batu besar itu pecah oleh suara marah mengelegar seorang pria muda.
"apa yang terjadi malam itu membuatku ragu mengenai keperawananmu,..kita batalkan saja rencana pernikahan kita. aku tidak mau menikah dengan wanita yang tidak perawan".bentakan keras itu keluar dari mulut seorang anak muda yang tampak berang.
"Bang,..tolong jangan tinggalkan aku,...tolong kasihani aku bang,..",kalimat terputus-putus dari dara manis ini sambil menunduk sedih dengan menggengam erat tangan seorang lakilaki seolah-olah dia akan lenyap dari muka bumi jika gengaman itu terlepaskan.
Dengan enggan menatap, suara berat kemarahan itu terdengar lagi,"Sekali lagi kutanya, apakah kamu sempat diperkosanya pada malam perampokan itu?.., jawab Imelda jawab akuu!!.
Dengan lemah tak bertenaga, suara lumbut sedih terdengar berusaha menjelaskan ."Aku tidak tahu bang ,aku benar-benar tidak tahu. Pukulan keras dipangkal leherku ini mebuatku pingsan dan tidak sadarkan diri"." pada saat aku sadar, pakaian ku sudah terkoyak, itu saja yang ku tahu bang. Sedangkan darah di celana dalam ku berasal dari luka cakaran di pangakal paha. aku tidak merasakan nyeri seperti luka dari kelaminku bang tolong ampuni aku".
"Aku juga tidak punya uang untuk kebidan pinggir kota untuk membuktikan keperawanan ku kepada mu". Uang tak seberapa hasil cucian baju di tempat majikan ku gunakan semua untuk menghidupi ke tiga adikku seperti yang abang tau" ujarnya sendu.
"Bang,..bagaimana kalau aku pinjam dulu uang abang untuk memastikan keperawananku dibidan. Nanti kuganti dengan mencicilnya di setiap minggu pembayaran kerjaku", dengan sedikit memohon dia coba memastikan masih ada ruang maaf untuknya.
Angin berhembus sepoi-sepoi, sepasang kekasih terdiam didalam pikirannya masing-masing. setelah keheningan itu, dengan sedikit menatap berlahan, mencoba melihat muka merah padam lelaki idaman yang 10 tahun sudah menemaninya mengarungi hidup serba pahit ini.
laki-laki itu dengan keras dan tegas berkata"Imelda, aku tetap tidak bisa menikahimu. Keluargaku memandang kau sebagai orang yang tidak sempurna lagi untuk dinikahi. Kamu didapati pingsan dengan pakaian terkoyak setengah bugil. Biarpun kamu masih perawan, setidaknya kamu sudah pernah dijamah orang. Aku tidak terima,...Aku tidak akan pernah terima, .. titik. Selamat tinggal", dengan sedikit hentakan terlepaslah gengaman takut kehilangan seorang yang sangat dicintai dara muda itu. "jangan tingalkan aku bang.....", dengan berlahan berbisik lembut dengan sisa pengharapan cinta coba memegang tangan tumpuan cita-cita berkeluarganya itu.
"Aku tidak bisa mel,... aku tetap tidak bisaaaaaaa", sambil menghentakkan tangannya lebih keras dari yang pertama diikuti gerakan berlahan, pelan-pelan melangkah pelan menjauh meninggalkan tangan yang terjulur.
"aku tidak bisa mel, jangan paksa aku",sambil pergi meninggalkan dara manis tanpa sekalipun menoleh kebelakang itu yang terbengong kosong.
"Abang,.....abang,....maafkan aku yang tidak dapat menjaga harga diriku", gumamnya hancur, bingung, tidak percaya akan semuanya yang baru terjadi di depan mata.
Sepuluh tahun terbuang tanpa ada perjuangan untuk mempertahankan rasa yang tercipta. " Abang,...Abang,.. pandangan ku gelap sedikit merancau berbisik namun tidak ada seseorang pun di sekitarnya.
"Bang,....gelll..aa..pp", beberapa saat kemudian tubuh dara manis itu limbung dan beberapa detik kemudian dia terhuyung jatuh ke depan. Setetes darah terciprat di batu ketika kepala penuh beban itu menghantam batu besar tempat bersandar.
gadis manis itu terjatuh dengan kepala beratuk dengan batu besar.

Angin sepoi-sepoi berhembus. berlahan gadis manis itu sadar dari pingsannya.
pekikan kecil lirih perih keluar dari mulutnya membuatnya dia sedikit meringis.
Seorang dara manis dengan pelahan berlahan berdiri, dipeluknya batu besar itu dengan putus asa. "Abang,...jangan pergi...,aku akan melakukan apapun yang kamu mau. Jangan tinggalkan aku....,jangan pernah tinggalkan aku abang",seorang wanita bergumam pelan, memeluk batu besar, memandang kosong kumpulan air bertepi gunung dan cakrawala, dengan baju sedikit berpasir, berpelipis merah berdarah.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer second_life
second_life at Setetes Darah Di Batu Besar (12 years 11 weeks ago)
80

ceritany bgs :D
tp kasian ma ce ny. tuh co kurang ajar amat yak???
yg dcintai co ny bukan tuh ce ny, tp kperawanan ce ny
uh.......
*pgn bejek!!

berhasil aku, saya khusus membuat cerpen ini untuk orang-orang yang bermasalah dengan hal-hal seperti ini. setelah 7 tahun kubuat baru berani akulihat lagi hari ini, aku terlalu terbawa dengan cerita ini,pasti bawaannya emosi juga.

Writer Minar
Minar at Setetes Darah Di Batu Besar (12 years 11 weeks ago)
100

Wah udah kyk cerita di sinetron2 aja, tapi bagus lho. Seru.

Writer Ayo_e
Ayo_e at Setetes Darah Di Batu Besar (12 years 11 weeks ago)
90

Ide cerita yang bagus, perempuan yang selalu menjadi objek penderita di beberapa belahan bumi.

Ada beberapa tulisan yang perlu diedit, kesalajam mengetik.

Gaya bahasa lebih dengan sentuhan emosi sedikit akan membuat cerita ini menjadi cantik

sudah saya tambahkan setelah 7 tahun

Writer splinters
splinters at Setetes Darah Di Batu Besar (12 years 11 weeks ago)
70

ada ide yang besar di sini. kenapa kehormatan seorang perempuan selalu dipandang dari keperawanannya? serendah itukah perempuan di mata laki-laki?

tetapi ide yang besar ini menurutku masih kurang didukung dengan eksekusi yang rapi. banyak dialogmu yang masih kurang luwes, sehingga kesannya sangat artifisial. mudah-mudahan bisa dilatih lagi penulisan dialognya, ya, karena kamu punya potensi besar.

dan masalah editing ... hehehe maaf, tapi aku lebih suka kamu mengedit dulu ceritamu sebelum di-posting di sini. simpel, sih, untuk memanjakan pembaca aja. karena pembaca adalah raja buat penulis, kan? :)

satu kesalahan yang paling mengganggu adalah penulisan sepoi-sepoi yang pakai 'y' hihihi aku kira itu tadi istilah baru seperti asoy atau geboy, gitu ;p

terus asah taringmu ya!!! kita belajar sama-sama!

siap sudah kucoba melueskannya

Writer Super x
Super x at Setetes Darah Di Batu Besar (12 years 11 weeks ago)
80

good... ini cerita latar belakang bagaimana si Mel jadi gila ya?... i c

jenis cerita ini adalah jenis cerita yang diselesaikan di kepala masing-masing pembaca. terserah "super" menutup cerita ini dengan apa