Jangan ditahan!!!

71
points

“Ken, minta minyak angin dong,” Hari sudah berdiri di sampingku meminta minyak kayu putih yang kubeli hampir seminggu yang lalu.

“Minyak kayu putih,” Kataku membetulkan kata-katanya sambil menyerahkan minyak kayu putih ukuran kecil itu padanya.

Udara Bandung akhir-akhir ini mendadak menjadi sangat dingin, hampir tiap saat hujan, walaupun aku kurang begitu suka bau minyak kayu putih, tapi udara dingin yang menerjang dan tak mempan dikalahkan jaket ataupun sweater, memaksaku membelinya untuk menjaga agar tubuhku tetap hangat.

“Kenapa Har?” Tanyaku penasaran.

“Kayaknya masuk angin nih,” Katanya sambil menepuk-nepuk pelan perutnya yang sedikit membuncit. Ah walaupun buncit, dia tetap tampan kok. Dia lalu membuka tutup botol minyak kayu putih itu dan mulai mengolesi sekitar pelipisnya untuk meredakan rasa sakit yang ia rasakan.

“Mual?” Tanyaku. Sebagai teman aku harus memperhatikan dia, kan? Oke deh, aku mengaku, perhatian ini bukan sekedar perhatian dari teman saja, tapi karena aku memang menaruh simpati padanya, karena kepribadiannya yang kalem tapi tegas, juga karena dia pintar dan tampan.

Dia mengangguk pelan lalu mulai menghirup bau minyak kayu putih. Aku begidik melihatnya, aku paling tidak tahan dengan bau minyak kayu putih, dan jika aku yang mual, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika harus mencium bau minyak kayu putih. Hueek...

Aku memperhatikan dia, wajahnya yang sedikit meringis dan matanya yang tampak agak lelah, membuatku makin yakin jika dia memang sedang kurang enak badan. Agak aneh memang, karena sepuluh menit yang lalu dia datang dengan keadaan segar bugar. Kok, dalam waktu singkat dia mendadak sakit.

“Belum makan, ya?” Tanyaku.

Dia menggeleng. Masih mencium minyak kayu putih.

“Jangan-jangan kamu menahan ya?” Aku menanyakan itu tanpa pikir panjang.

Dia memandangku dengan ekspresi lucu. Dia terlihat bingung.

“Kamu menahan gas, kan? Makanya mual.”

Tiba-tiba wajahnya memerah. Jadi iya. Dia menahan gas yang seharusnya keluar, jadinya gas itu tertahan dan membuat perutnya menjadi kembung. Pantas dia mual.

“Loh, kok ditahan? Kan kita lagi di taman, buang aja, nggak akan bau, kok.” Kataku pada Hari, yang wajahnya makin memerah. Hari tidak menjawab, dia terus saja menghirup minyak kayu putih dengan hirupan yang makin lama makin dalam.

Hmm... Terimakasih Hari, kita jadi tahu bahwa menahan gas itu tidak sehat, tapi jangan sembarang membuang gas, karena bisa membuat orang lain tidak nyaman. Maka, buanglah gas pada tempatnya, yaitu di tempat yang cukup berudara atau di ruang terbuka.

(Untuk Matahari: Semoga cepet sembuh, ya)

Your rating: None Average: 5.9 (12 votes)
dikirim kenary 39 minggu 1 hari yang lalu
Tag: