SoulDear (3)

18
points

CHAPTER 3-Dream Prisoner

”Terlambat.. Kamimono itu sudah mengetahui tipuanku.”

Sedetik kemudian suara keras terdengar dari arah lantai dasar..

BRAAAAK!!

Shun dan Azusa merapat ke sisi balkon untuk melihat apa yang terjadi dibawah.

“Pintunya!!”

Sesuatu yang besar jatuh tepat di depan pintu masuk mall. Ternyata benda yang jatuh itu billboard yang dipasang di atap gedung. Daya impak dari tumbukan itu menghancurkan pintu otomatis menjadi kepingan-kepingan kecil yang berhamburan ke segala arah.

Untungnya kaca pintu itu terbuat dari bahan khusus sehingga kepingan pecahannya tidak sampai melukai para pekerja konstruksi yang bergeletakan di sekitar pintu masuk. Tetapi sekarang pintu keluar mereka jadi tertutup reruntuhan, mereka harus mencari jalan lain.

“Apa mungkin..” Shun menatap Azusa dengan pandangan kaku.

Tidak salah lagi. Cuma Kamimono tadi yang mempunyai tenaga sebesar itu untuk merobohkan papan billboard.

“Cepat! Kita harus mencari jalan lain!”

Keduanya berbalik arah dan mulai berlari. Seiring dengan langkah mereka yang panik, suara-suara gemuruh mulai terdengar dari dalam gedung.

Mereka terus berlari menjauhi sumber kegaduhan tetapi asal suara itu terus berpindah-pindah. Sesaat terdengar jauh di belakang lalu tak lama kemudian suara lain muncul di depan. Shun yakin jika mereka berhenti sekarang bisa-bisa Kamimono itu membuatnya tertidur selamanya.

Setelah cukup lama berlari kesana kemari Shun didera rasa lelah yang amat sangat. Dia sudah tidak sanggup lagi bergerak apalagi selama ini dia menggendong Kaoru di punggungnya. Shun berjongkok karena mulai kehabisan napas..

“Kamu tidak apa-apa?! Mau gantian tidak?” Meskipun Azusa bertanya begitu tetapi badannya sudah cukup terluka dan tubuhnya jauh lebih kecil dari Kaoru. Shun jadi tidak tahu harus bagaimana..

(Niiiii!)

Azusa dan Shun menoleh bersamaan dan melihat mahluk putih mungil, deity, yang mereka temukan beberapa saat yang lalu di atas. Deity itu meloncat-loncat dan melambai-lambaikan tangannya, memanggil mereka untuk mendekat..

“Tunggu.. Biar aku yang melihat.”
Azusa mendekati si deity lalu menghilang bersamanya ke sebuah belokan.

Terdengar suara Azusa memanggil, dengan susah payah Shun bangun dan bergegas menyusul mereka. Tak lama kemudian Shun berhasil menemukan Azusa dan deity itu. Tak jauh dari mereka ada sebuah pintu bertuliskan ‘Emergency Exit’.

“Sepertinya dia tahu jalan keluar..”

Deity itu menembus pintu dengan tubuhnya. Azusa mengikutinya masuk dan membuka pintu lebar-lebar agar Shun bisa lewat. Dibalik pintu itu ada tangga darurat yang terhubung dengan semua lantai.

Ruangan itu gelap gulita, satu-satunya cahaya berasal dari sinar temaram yang terpancar dari tubuh si mungil. Dengan penerangan dari tubuhnya si deity membimbing mereka menuruni tangga satu per satu Suara gaduh dari dalam gedung terdengar semakin jauh sampai akhirnya tidak terdengar lagi.

Azusa membuka pintu di ujung tangga dan mereka sampai di ruangan dengan komposisi yang berbeda. Mereka berada di lorong yang besar dengan langit-langit yang tinggi. Dinding serta lantai di sekitar mereka berwarna abu-abu monoton dan di dekat pintu ada tulisan ‘B2’. Sepertinya deity itu membawa mereka ke parkir basement.

“Benar juga. Dari basement kita bisa keluar dengan aman lewat bawah..” Shun berkata pada dirinya sendiri.

Azusa menoleh mendengar perkataan Shun. “Ingatkan aku untuk memberikannya persembahan begitu kita berhasil keluar.”

Shun tersenyum tetapi Azusa tetap menampilkan mimik serius.

Kemudian gadis itu menghilang ke belakang punggung Shun dan Shun merasa beban di pundaknya sedikit lebih ringan. Mereka mulai berjalan dengan posisi seperti sedang bermain kibasen. Shun dan Azusa menjadi kuda sedangkan Kaoru menjadi penunggangnya. Yang membedakannya dengan kibasen biasa: kudanya kurang satu lagi dan penunggangnya sedang teler.

Beberapa saat kemudian tanjakan untuk naik ke lantai atas terlihat.Tetapi..

“Loh loh..”

“Kenapa?” tanya Azusa karena tidak bisa melihat apa yang terjadi di depan..

“Deity itu bukannya naik ke lantai atas malah jalan terus.”

“Suruh dia berhenti. Bilang saja dia salah arah..”

Shun berpikir bagaimana caranya menyampaikan pesan Azusa dalam bahasa binatang , eh deity, tanpa mengurangi makna yang terkandung di dalamnya.

“Tunggu apa lagi? Cepat suruh dia berhenti.”

“HEI berhenti!! Deity-san! Kami ingin naik ke atas! HEEEEEI!” Shun mencoba berteriak untuk mendapatkan perhatian.

SWIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT.. Tanpa memakai bantuan tangan, Shun melipat kedua bibirnya dan bersiul keras. Dengan begini pasti Deity itu akan berhenti. Dia tidak pernah menyangka keahlian yang dipelajarinya waktu kecil itu berguna sampai saat ini.

Tetapi sekeras apapun Shun bersiul deity itu tidak juga berhenti, menoleh pun tidak. Ternyata keahlian itu sama sekali tidak berguna.Seiring deity itu menjauh kegelapan ruang bawah tanah mulai memenuhi lorong di sekitar mereka. Jalan menuju tanjakan ke atas kini tidak lagi terlihat.

Shun berusaha mencari jalan sendiri tetapi Azusa tidak ingin mengambil resiko berjalan dalam gelap.

“Sudahlah. Sepertinya kita tidak punya pilihan selain mengikutinya..” ujarnya kepada Shun.

Mereka berusaha mengejar mahluk itu, sosoknya yang mungil sempat menghilang sebentar ketika membelok ke arah lain. Setelah membelok di tempat yang sama Shun dapat melihat cahaya itu jauh di depan. Berdiri diam bagai bohlam lampu yang diletakkan di atas lantai.

Flik-flik-flik.. Kedipan cahaya tiba-tiba menyala tak jauh dari tempat cahaya pertama berada. Disusul oleh cahaya kedua dan ketiga. Cahaya itu berkedip-kedip beberapa lama kemudian menyala stabil. Aroma bawang bombay tercium seiring dengan kemunculan cahaya-cahaya itu.

“Ada apa di depan?” Azusa yang merasakan adanya perubahan luminasitas di lorong itu bertanya pada Shun.

“Deity itu.. Ada empat!”

Semuanya terlihat begitu mirip di mata Shun, Shun tidak bisa membedakannya dengan deity yang membawa mereka ke tempat itu. Saudara-saudara identiknya mendekati deity itu lalu mulai bercakap-cakap dalam bahasa mereka. Di telinga Shun percakapan mereka terdengar seperti bunyi ‘Niiiii!’ yang diucapkan dalam berbagai nada dan intonasi yang berbeda.

Shun terperanjat melihat pemandangan aneh itu..

“Hei aku sudah tidak kuat lagi nih.. Bagaimana kalau kita turunkan Kaoru sebentar?”

“Ah kita dudukkan saja di pilar itu..”

Shun dan Azusa menurunkan tubuh Kaoru dan mendudukkannya di sebuah pilar penyangga tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Kira-kira apa yang mereka bicarakan ya?”

“Mungkin mereka sedang berunding sebaiknya kita di masak dengan cara apa..”

“HEEE..”

“Bercanda kok..” Ujar Azusa datar, “Mahluk halus seperti itu makanannya berbeda tapi beberapa jenis memang ada yang memakan roh manusia sebagai selingan.”

Shun tidak bertambah lega sedikit pun mendengar penjelasan Azusa. Bagaimana kalau deity itu ternyata termasuk spesies pemakan roh yang dia katakan? Siapa tahu ada roh jahat yang memanfaatkan keimutan deity-deity itu supaya memancing mereka untuk dimakan.

Shun memicingkan mata dan memeriksa sekeliling kalau-kalau dinding basement mulai berubah wujud menjadi lambung raksasa pemakan roh manusia.

Lamunan Shun di buyarkan oleh kata-kata Azusa.
“Ngomong-ngomong kita belum berkenalan.”

Azusa menyodorkan tangannya.” Namaku Minami Azusa. Salam kenal.”

“Koizumi Shun. Panggil saja Shun.” Shun menyambut tangan Kaoru yang mungil.. Dia dapat merasakan getaran halus saat menggenggamnya..

“Ah! Lukanya!”

Mungkin karena terlalu banyak bergerak, luka Azusa jadi melebar dan mengucurkan banyak darah.. Tetesan-tetesan darahnya meninggalkan jejak merah di atas lantai karena Azusa sejak tadi berjalan di belakang Shun jadi tidak melihatnya.

“Aduh gimana ya..”Shun mengingat-ingat pelajaran pertolongan pertama yang dipelajarinya waktu SMP. Shun hendak merobek kaosnya untuk dibebatkan tetapi dia ingat bahwa kaosnya penuh keringat dan tumpahan cola. Keringat mengandung garam sedangkan cola mengandung asam, bisa-bisa lukanya tambah perih.

Kain apa ya yang cukup halus dan bisa dijadikan perban. Shun berpikir sambil melihat sekeliling..

“Hei apa yang kamu lakukan pada Kaoru!”

“Tidak apa-apa aku hanya mau merobeknya sedikit untuk dijadikan perban!” ujar Shun sambil berusaha merobek rok Kaoru.

“Berhenti!! Shun-san!! Kyaaa ada orang mesum!!”
Azusa ingin bangkit dan mencegah perbuatan Shun tapi dia tidak bisa bergerak karena terluka. Jadinya dia hanya mampu berteriak-teriak melihat Shun menarik rok Kaoru..

Shun tidak menghiraukan larangan itu dan tetap berusaha menarik ujung rok kaoru. Ternyata pekerjaan itu tidak segampang yang dia kira. Rok tipis itu tetap utuh meskipun Shun berusaha merobeknya sekuat tenaga.

“Shun-san!! Shun-san!!!”

“Iya-iya aku dengar! Cuma merobek sedikit saja, Kaoru juga pasti tidak keberatan tahu.”

“Bukan itu maksudku! Ada yang aneh dengan deity-deity ini..”

Shun menoleh ke arah Azusa dan melihat mahluk-mahluk kecil itu tiba-tiba ada di sekitar Azusa. Mengerubunginya..

Jangan-jangan deity itu tertarik dengan darah Azusa..

“Hush-hush! Pergi kalian!” Shun berusaha menghalau mahluk-mahluk itu dari Azusa tetapi tiga diantara mereka malah menyerbu ke arah Shun..

(Nininiiii!)

Deity-deity itu menahan kedua kaki Shun hingga dia tidak bisa bergerak, Shun berusaha lepas dari mereka tetapi tangannya menembus saat dia ingin memukul mahluk-mahluk itu.

Satu dari mereka yang tidak ikut mencengkram Shun sekarang mendekati Azusa.. Shun dapat melihat tangan kecil deity itu terulur hendak menyentuh bagian perut Azusa yang terluka dan dipenuhi bercak darah..

Shun jadi ingat apa yang mahluk itu lakukan pada tetesan cola di kaosnya. Kaos Shun yang tadinya penuh dengan noda coklat jadi putih dan kering seperti sebelum terkena tumpahan. Gawat!! Bisa-bisa darah Azusa akan diminum sampai habis!

“Azusa cepat lari!! Jangan sampai tersentuh!”

Terlambat.. Dari tangan deity yang menyentuh Azusa, keluar sinar tipis berwarna kuning pucat. Pandangan Azusa berubah menjadi kosong saat deity itu menyentuhnya. Kejadian itu hanya berlangsung selama 5 menit kemudian deity itu melepaskan sentuhannya.

“Aneh aku merasa nyaman waktu di sentuh.” Azusa melapor kepada Shun yang masih berada pada posisi dicekam.

Kemudian Azusa berbalik membelakangi Shun dan memeriksa luka dibalik bajunya..

“Hee lukanya.. Sembuh!”

Shun sempat tidak percaya tetapi Azusa sekarang sudah bisa berdiri dan berjalan seperti biasa.

Deity yang menyembuhkan Azusa kemudian mendekati Shun dan menyentuhkan tangannya. Shun dapat merasakan sensasi yang menenangkan dari sentuhan mahluk kecil itu. Tenaganya yang hilang kembali penuh dan pikirannya tidak lagi dipenuhi kekhawatiran.

Jangan-jangan deity yang ditemui mereka di atas memang bermaksud membawa mereka kesini untuk menyembuhkan luka mereka? Shun jadi tidak enak hati karena telah berburuk sangka.

Begitu sesi terapi Shun selesai keempat mahluk itu mengajak Shun dan Azusa untuk kembali berjalan. Shun mengira mereka akan diantarkan pulang tetapi rupanya bukan itu tujuan para deity.

Mereka berjalan menuju ke ujung barat dari pelataran parkir bawah tanah itu. Ruangan yang semula dipenuhi cahaya temaram dari satu deiy kini terang seperti siang hari saat keempat mahluk itu berjalan berdekatan.

Azusa yang pertama kaii menyadarinya..

“Apa itu!”

Di depan mereka ada sebuah kubah besar dengan diameter dan tinggi yang hampir memenuhi dinding dan langit-langit. Dinding dari kubah itu transparan dan tipis seperti terbuat dari gelembung sabun raksasa. DI dalamnya Shun dapat melihat sesuatu yang seperti asap pekat yang menari-nari dengan gerakan yang lambat.

Lapisan asap itu menghalangi pandangan Shun sehingga dia tidak dapat melihat apa yang ada di dalam kubah itu. Meskipun begitu nalurinya seperti merasakan sesuatu.

Kemudian dia bertanya pada Azusa, “menurut kamu ini apa?”

Azusa mendekati dinding kubah untuk menyelidikinya dari dekat. Dia menyentuh dinding kubah itu dengan hati-hati. Kubah itu bergelombang seperti riak pada permukaan air saat Azusa meraba permukaan dindingnya. Kemudian Azusa menarik tangannya lagi dan mendapati cairan perak membasahi jari-jarinya..

“Ektoplasma,”gumamnya,” sepertinya kubah ini dibuat untuk menahan sesuatu yang gaib.”

“Sesuatu yang gaib? Seperti apa?”

“Entahlah.. Yang jelas sesuatu yang tidak bisa disentuh dan dilihat.. Seperti roh, sihir, atau..”

Mata Azusa melebar..

“Sepertinya aku mulai mengerti rahasia Kamimono itu! Kubah ini adalah..”
Tapi belum sempat Azusa menyelesaikan kalimatnya.. Sesuatu menghantam gadis itu dari belakang, menghempaskan tubuh rampingnya ke dalam kubah.

“Ap- Apa yang kalian lakukan!” Shun berteriak ke arah para deity..

(Ninini!) Dengan tangkas tiga dari deity-deity itu menyusun sebuah formasi.. Kemudian deity terakhir meloncat ke tengah-tengah mereka bagaikan trampolin..

“Heeee?I!”

Shun merasa seperti berada dalam sebuah adegan super lambat. Dia menyaksikan dengan jelas bagaimana deity itu melesat seperti ketapel dan menyundulkan kepala ke dadanya. Detik berikutnya kakinya tidak lagi menapaki lantai dan dia terdorong kebelakang sama seperti Azusa.

Shun dapat merasakan kulitnya tergelitik saat tubuhnya menembus dinding kubah itu. Sebelum menyentuh tanah, Shun bahkan sempat melihat titik-titik asap itu berenang di udara sekitarnya.

Adegan itu berakhir dengan layar hitam. Tanpa end roll dan tepukan tangan dari penonton.

Sepertinya film ini belum berakhir.

‘Sial.’ Bisik Shun saat dirinya semakin tenggelam dalam ketidaksadaran.

Your rating: None Average: 6 (3 votes)
dikirim Iphrite 39 minggu 1 hari yang lalu
Tag: