Tergelitik juga untuk membuat prolog, meski sepertinya datang telat dan sedikit keluar dari jalur.
Seandainya tiga tahun lalu, cerita ini benar-benar menjadi salah satu naskah film yang menang sayembara....
""Perang Dunia Ketiga. Banyak yang meramalkan. Tapi, tak satu pun yang mau itu terjadi."
==+==
Siapa tahu? Dua ratus tahun lagi akan terjadi Perang Dunia Ketiga.
Siapa tahu? Usai Perang Dunia Ketiga, umat manusia memasuki sebuah peradaban baru. Peradaban yang disebut Masa Koloni.
Dan....
Siapa tahu? Masa keemasan tersebut harus berakhir dengan Perang Kosmik. Sebuah perang yang melibas delapan miliar nyawa manusia kurang dari satu hari. Usai perang itu, manusia-manusia yang tersisa di Bumi, memulai kehidupan mereka layaknya manusia di abad 20.
***
Astro kembali berulah. Usai melabrak DINA dan membawa kabur fibernetik, ia menerobos DIVENN dan membawa serta giganium. Merasa belum cukup, ia mengobrak-abrik pelataran Borneolab, meminjam mesin waktu mereka, lalu meledakkannya.
Alisya yang bertekad meringkus penjahat itu terus mengejar. Dengan tubuh yang tanpa seizin dirinya telah diinjeksi fibernetik, ia pun berubah tak kalah berat dibanding Astro. Ia memotong mobil dengan kepalan tangan, dan memiliki potensial tubuh yang ia anggap sebagai titisan monster.
Ketika Alisya mengejar Astro di masa lalu, dunia di zamannya terancam diserbu rombongan asteroid. Giganium sebagai kunci untuk mengelakkan tanah airnya dari bencana, malah masih berada di tangan Astro. Belum lagi, ketika banyak orang tahu, di antara ribuan asteroid yang berbondong, terselip puluhan bunker nuklir milik sebuah koloni yang telah mati.
==+==
"Bagaimanapun.... Aku kini, berada di antara dentuman itu. Di sela desingan peluru yang menyayat nyawa manusia...."
dikirim dirgita 28 minggu 3 hari yang laluTag:







