Bantai bang! Ini hasil ketikan satu jam!
"Suasana di kantin Pak Jayudi begitu ramai. Para mahasiswa berjubel, ingin menampal perut mereka yang telah bocor. Begitu pula dengan Rafli. Ia dengan asyiknya menikmati honor bermain pianonya yang jumlah nolnya susah dihitung dengan sempoa. Ia dengan rakusnya memesan bakso seribu biji dengan es teh satu kaleng. Teman-teman se jurusan pun ditraktirnya makan bakwan yang ukurannya sebesar mata kancing. Begitu berlawanan dengan hal yang dinikmatinya.
Sedang asyiknya ia memakan baksonya yang ke seribu biji, ia mencuri dengar pembicaraan mahasiswa yang sedang asyik ngunyah pete goreng yang diselingi dengan obrolan yang dianggapnya cukup menarik.
“Eh, situ tau nggak kalo si Jack jadian ama si Wiwiek?” tanya si rambut sehelai.
“Tau tau! Nggak nyangka kalu dia jadian ama dia, padahal gosipnya kan ia naksir berat sama temennya, si Dewi,” sambung si rambut kriwil.
“Tapi, katanya kemaren sore mereka kecelakaan,” tambah si rambut hampa.
“Kecelekaan?” kata si rambut sehelai dan si rambut kriwil berbarengan.
“Jadi, mereka bakalan kawin dong? Cepet banget ya? Si Jack kagak bisa nahan sih,” sahut si rambut sehelai.
“Yeee, bukan kecelakaan yang gituan,” bantah si rambut hampa yang hampanya seperti di luar angkasa.
“Kecelakaan apaan?” tanya si rambut kriwil.
“Katanya sih, katanya! Mereka berdua diserang ama orang aneh berjas putih kayak orang abis pergi haji, gitu,”
“Trus?”
“Si Jack...., emmm..., bonyok! Dibantai tuh orang. Menurut gosip, tuh orang mau minta uang sepuluh jutanya itu. Menurut kabar onta, nama tuh orang Donald,”
“Donald? Donald bebek kah?” tanya si rambut sehelai.
“Bukan Donald bebek, tapi Donald Duck,” timpal si rambut kriwil.
“Ama aja!” sambung si rambut sehelai.
“But, apa bener si Jack bonyok abis?” tanya si rambut kriwil.
“Kalo nggak percaya lu temuin aja,”
“Emangnya dia masuk hari ini?”
“He-e. Dia nganterin si Wiwiek yang tak luput dari serangan si Donald,”
Tiba-tiba HP mereka bertiga berdering dengan hebat hingga pete goreng yang telah masuk ke perut mereka keluar lagi dalam kondisi yang utuh.
“Wah, ada SMS dari dosen pribadi ane. Katanya nilai ujian ane F minus pangkat sepuluh. Heee, ada peningkatan, dulu nilai ane F minus pangkat sebelas,” kata si rambut sehelai.
“Apa? Kucingnya susah melahirkan? Mau di sesar? Oke, gue bakalan ke sana,” kata si rambut kriwil. “Eh, coy! Gue caw dulu yach!”
“Apaan nih?” si rambut hampa terlihat kebingungan saat membaca SMS yang masuk ke HP jaman batunya. “Peran Anda sudah selesai. Anda diharapkan pergi dari lokasi. Bye-bye,”
Si rambut hampa cuma bisa menggaruk-garuk rambutnya yang sudah roib. Bingung apa yang dimaksud dalam SMS itu dan seketika itu pula dia tersadar. “Oh, iye! Gue kan cuma aktor figuran di cerita “The Legend Of The Blue Eyes Power” ini!” katanya dengan wajah cerah merekah. “Udah yach! Gue caw dulu!”
Tinggallah si rambut sehelai. Kebingungan apa yang sedang terjadi.
“Udah ah, gue caw juga ah!”
Tidak ada lagi yang merumpi di kantin Pak Jayudi. Tinggal seorang mahasiswa yang terduduk dengan pikiran yang jauh menerawang.
“Jackson? Dikalahkan? Bagaimana bisa? Bukankah dia adalah orang yang terkuat di sini?” kata Rafli membatin.
Ia lalu mengangkat kepalanya. “Sebenarnya apa yang terjadi sekarang? Jujur saja, semenjak Aku mengetahui kalau aku ini bermata biru selalu ada kejadian yang tak terduga. Perasaanku tidak enak hari ini. Aku ingin pulang saja. Aku akan bertanya lebih lanjut pada Ismail,”
Ia lalu memasang tas punggungnya dan hendak pulang. Dan...
“Bruuk...!” Ia tak sengaja menabrak Jackson.
“Argh...! Sakit,” keluh Jackson sambil memegang bahu kanannya yang diperban.
“M, maaf! Ng, nggak sengaja,” kata Rafli sambil mengelus-elus bahu yang disakitkan Jackson.
Dengan tatapan yang tajam Jackson menatap Rafli. Rafli pun hanya bisa terdiam. Begitu banyak pertanyaan yang hendak ia ajukan, tetapi entah bagaimana ia tak bisa mengucap sepatah kata apapun.
Mereka berdua berdiri berhadapan. Saling menatap. Tanpa bicara. Dan mata yang bersinar biru.
To Be Continued
dikirim Endy Tatsuke 38 minggu 6 hari yang laluTag:








