Darah Perawan Kesepian di Malam Bukan Pengantin

"Hah, yang bener lo? Si Desi dah mau merit? Dah tunangan segala?" tanya Fenny seakan tak percya. "Kita kan masih kelas 3 SMA kan, Ta?" Fenny mengecek bed seragamnya untuk memastikan kalau mereka masih SMA.

"Ya, iyalah. Lo gak usah syok kayak gitu, Fen! Sekarang mah udah musim yang namanya merit muda. Apalagi, calon lakinya itu umurnya udah 28! Namanya Benny." papar Rita.

"Hah? 28?" Fenny kembali syok. "Iya, tapi si Desi itu kan anaknya childish banget! Bukan gimana, ya? Dia itu cengeng benget dari SMP, sekolahnya dodol, rapornya banyak merah, kerjaannya pacaran mulu. Dia aja bisa naek kelas mulu menurut gua adalah sebuah bintang jatuh yang nyasar di kepala dia!"

"Justru itulah keberuntungan yang selalu berpihak sama dia! Cowoknya baek banget kok, perhatian dan mapan. Soal tampang lumayan lah. Dibandingkan dengan mantan-mantan dia yang dulu kayak Joni culun, Herman ganjen, Welly yang sok metroseksual, dan laen-laen yang tidak bisa kita sebutkan satu per satu!"

"Iya juga sih, gak kayak kita yang dari dulu selalu bekerja keras demi kehidupan yang semakin sulit aja." gerutu Fenny.

"Jangan lemes gitu dong! Kita harus semangat! Masih banyak kan cowok yang antre buat lo! Betul?"

"Iya, tapi gak ada yang bener semua! Gue udah males pacaran lagi. Mendingan ntar aja tunggu lulus kuliah."

"Lho kok gitu? Trauma ya?"

"Gak juga! Males aja buang-buang waktu. Lagian, lo tau kan gue mau jadi dokter kandungan. Itu cita-cita yang harus gue capai sebelum merit."

"Hah, lo masih mau jadi dokter kandungan? Ck.. ck... ck... Apa ini gara-gara kita sering nonton film bokep bareng Desi waktu SMP?"

"Shuuuttt! Gile lo ye, membongkar aib masa lalu kita! Udah, jangan diinget-inget lagi. Dari dulu gue emang suka cari-cari pengetahuan tentang itu. Waktu itu kan gue ajak lo orang cuma buat iseng-iseng aja. Duh, penasaran pengen liat mukanya si Desi. udah lama banget gak liat."

"Iya, gue juga kangen sama dia, meskipun kadang dia cuma bisa jadi benalu buat kita. Tapi, entah kenapa bawaannya kangen mulu sama dia!"

* * *

Fenny hanya bisa duduk selonjoran di sofa seraya menonton acara televisi yang semakin hari semakin tidak bermutu. Kerjaannya hanya memencet remote TV, mengeluarkan mimik wajah cembetut dan ogah-ogahan. Sang bunda yang duduk di sampingnya sepertinya bisa merasakan kegundahan anak semata wayangnya itu.

"Fen, kamu kenapa? Kok, mukanya ditekuk?" mama memegang pundak Fenny.

"Gak napa-napa Ma, cuma BT aja sama acara TV yang gitu-gitu aja!"

"Gak mungkin! Pasti ada sesuatu deh. Si Lius yang waktu itu sering datang, kok gak pernah datang lagi?" mama memulai introgasinya.

"Ehm... Duh, Ma jangan sebut nama dia lagi deh. Menjijikan! Kita udah putus dari 3 minggu yang lalu! Dia itu cowok brengsek! Masa dia di belakang aku jalan sama Vita anak kelas sebelah." keluh Fenny.

"Ya udah, jadiin pengalaman aja. Bagus kalau kamu udah tau dia kayak gimana. Lagian, kan Mama udah pernah bilang mendingan kamu belajar dulu aja. Masa depan kamu masih panjang."

"Iya, aku ngerti. Makanya, aku gak mau pacaran dulu. Yang penting, aku bisa jadi dokter kandungan dulu buat senengin hati Mama!"

"Maaf ya, Fen. Mama nggak bisa janji buat nyekolahin kamu di kedokteran. Biayanya kan mahal banget. Papa kamu udah nggak ada. Sekarang ini toko lagi sepi banget."

Raut wajah Fenny tiba-tiba lesu dan seakan semangatnya yang baru saja dimunculkan tadi hilang begitu saja. Itulah kata-kata yang selalu ia takutkan selama ini. Apalagi, ia tahu betul kalau saja akhir-akhir ini penjualan pakaian di Bekasi sedang tidak lancar seperti yang dulu. Kali ini ia menganggap kalau saja cita-citanya itu terlalu tinggi untuknya. Dalam hati kecilnya ada keinginan untuk mengubur cita-cita tu perlahan-lahan.

"Gak apa-apa, Ma. Aku ngerti. Aku janji bakalan cari kerja juga setelah lulus SMA nanti." Fenny berusaha tersenyum.

Tiba-tiba, ia teringat akan Desi sahabatnya ketika SMP. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan sahabatnya itu. Begitu mendengar kabarnya yang terbaru, ternyata sudah bertunangan. Ia membayangkan betapa beruntungnya nasib Desi yang selama hidupnya tidak pernah membanting tulang. Sementara, ia harus belajar keras hingga mendapatkan beasiswa setiap semester. Namun, Desi akan dipinang oleh seseorang yang begitu baik hati dan mapan. Ditambah lagi, kehidupan perekonomian keluarga Desi yang jauh lebih baik darinya. Huh, membuat hatinya semakin iri saja.

"Oh, iya Ma. Tadi aku denger kabar dari Rita. Katanya Desi dah tunangan loh. Paling bentar lagi merit!"

"Desi? Desi yang mana, ya?"

"Desi temen SMP aku yang dulu itu. Yang selalu nangis kalau ambil rapor soalnya takut nggak naek kelas."

"Oh, yang itu. Ya, ampun! Tunangan sama siapa? Masih kecil gitu udah pengen cepet-cepet nikah? Ck.. ck... ck..." gumam mama.

"Namanya Benny. Gak tau deh dia kenal di mana. Orangnya bisa dikatakan dewasa abis umurnya udah 28. Ya, kalau kelamaan kan bakal jadi bujang lapuk. Hahahaha.."

"Duh, kamu bisa aja. Kalau Mama sih nggak mau kamu cepet-cepet kayak gitu." ledek mama.

"Ya iyalah, Ma. Siapa juga yang mau cepet-cepet. Tapi, enak juga ya, Ma kalau udah ada orang yang sayang sama kita di samping kita! Kadang kan kita selalu penasaran sama siapa jodoh kita nanti, kita jadi apa nantinya. Kayaknya semuanya serba nggak jelas dan membuat kita penasaran banget."

"Yang penting kamu lakukan aja yang terbaik selama kamu hidup. Jangan berpikir kalau hidup Desi itu lebih baik dari kamu." ujar mama dan itu membuat Fenny tersentak seakan mama tahu apa yang sedang dipikirkannya.

"Aku nggak mikir gitu, Ma. Lagian siapa juga yang mau kayak dia. Kawin muda. Ogah!" Fenny berusaha membela perasaannya.

"Mama kan cuma kasih tau aja. Jangan marah gitu dong kalau nggak bener. Hehehe... Asal kamu tau aja, bahwa kehidupan pernikahan itu begitu rumit dan itu nggak akan pernah bisa 100 persen menghapuskan setiap kesepian dalam hati kita."

"Ah, yang bener? Aku tau itu rumit, tapi bukannya itu berarti kita udah nggak sendiri lagi?"

Mama mengelus rambut Fenny yang panjang dan hitam legam, "Iya, tapi manusia itu selalu mengecewakan." bola mata mama hampir berkaca-kaca.

"Mama bilang begitu apa karena dulu Papa pernah ngecewain Mama dan sekarang dia udah nggak ada?"

"Papa itu orangnya baik, Fen. Dia itu bertanggung jawab banget. Meskipun tampak sempurna pasti ada sedikit cacat celanya. Cuma buat Mama, Papa kamu adalah yang terbaik. Bukan karena dia udah nggak ada Mama jadi kesepian. Tapi, kenyataannya emang begitu. Walaupun Papa kamu masih ada, Mama nggak mungkin bisa lepas sepenuhnya dari rasa sepi. Semua orang akan merasakan itu."

* * *

"Des, tar kamu jadi nginep di rumah aku lagi?" tanya Benny.

"Iya, jadi. Aku udah bosen banget di rumah. Kak Sisi bawel banget. Nyokap juga cuma bisa ngomel-ngomel aja. Cuma kamu aja yang bisa ngertiin aku." ungkap Desi.

"Huh, bisa aja."

Benny memegang tangan Desi dan keduanya hanya bisa berpandangan sambil tersenyum. Api asmara itu semakin membara saja dalam hati keduanya.

"Aku laper, Say. Aku makan dulu, ya. Kamu juga makan dulu aja." kata Desi begitu melihat pesanan steak chicken crispy yang dipesannya diantar oleh pelayan.

"Oke. Kita makan dulu aja."

Begitu ingin mengiris steak itu, HP Desi berdering, "Dari Fenny, Say. Aku angkat dulu, ya."

"Halo Fenny!"

"Ei, ke mana aja lo? Tunangan nggak bilang-bilang."

"Bukan nggak bilang Say, tapi nomor HP lo orang ilang. Ini aja baru dapet nomer lo orang waktu ketemu Rita di Mega Mall."

"Kapan nih meritnya? Awas lo kalau gue gak diundang!"

"Pasti gue undang lah, Say!" Desi menahan tawa di depan Benny dan Benny hanya bisa membalas dengan senyum.

"Ketemuan yuk, Des! Gue pengen banget ketemu sama lo! Gue juga bakal ajak si Rita."

"Gak bisa, Say. Sori banget. Gue lagi bareng Benny. Abis ini gue mau nginep di rumah dia yang di Bojong."

"Hah, mau nginep? Bukannya tabu, ya nginep di rumah tunangan? Lo gila!"

"Gak macem-macemlah, Say. Kita kan tau batesnya."

"Tapi, kan tetep aja nggak etis! Kalau nyokap gue yang denger bisa diceramahin panjang lebar! Ya sutralah, sori ganggu ya. Have fun aja deh. Kapan-kapan kita ketemuan. Oce!"

"Oce deh, Say. Sori banget, ya!"

Pembicaraan itu pun berakhir. Keinginan Fenny untuk bertemu dengan Desi pun tidak kesampaian lagi. Lagi-lagi, ia menganggap, bahwa Desi saat ini adalah gadis yang paling beruntung. Namun, ada sedikit yang mengganjal begitu mendengar kalau Desi mau menginap di Benny. Gadis macam apa yang menginap di rumah cowok yang belum menjadi suaminya? Begitu pikirnya.

Di dalam kamarnya Fenny merasakan kesendirian lagi. Ia sedang bosan belajar. Lagipula, besok tidak ada ulangan dan PR. Hanya duduk termangu di atas meja belajarnya. Kali ini, ia kangen dengan papanya yang 5 tahun lalu telah meninggalkannya karena penyakit jantung kronisnya. Tak ada sentuhan hati seorang bapa yang ia rasakan seperti teman-temannya yang lain. Air mata mulai keluar setetes dari pelupuk matanya, namun buru-buru dihapus dengan kasar.

* * *

Dua tahun kemudian...
Kehidupan itu berjalan dengan ketidakpastian. Fenny yang tadinya berjanji dengan sang bunda untuk menunda waktu berpacaran malahan tidak bisa menepati janjinya. Buktinya, hari ini ia mengalami patah hati untuk kedua kalinya. Jalinan cintanya dengan Heri yang hanya bertahan selama 3 bulan putus sudah. Rita yang tadinya sering bergonta-ganti pacar selama SMA, namun sejak duduk di bangku kuliah sampai semester 3 ini, ia mampu menjalani masa jomblo. Hanya Desi saja yang masih konsisten setia bertunangan dengan Benny dan seminggu kemudian mereka akan melangsungkan pernikahan. Undangan sudah tersebar luas, gedung sudah dipesan, foto pre wedding, WO, dan lain-lainnya sudah fix.

Fenny hanya bisa merenungi nasibnya yang kali ini buruk. Ia tidak menyangka, bahwa Heri akan meninggalkannya untuk kuliah hukum di Belanda. Tadinya, ia bersedia untuk pacaran jarak jauh dengan cowok itu, namun hatinya bimbang lagi. Ia tidak akan pernah rela untuk pacaran jarak jauh dengan siapa pun! Ia hanya bisa melihat pesawat yang ditumpangi Heri terbang semakin menjauh dari hadapannya. Setiap nasib buruk yang menimpanya, ia pasti teringat pada Desi sahabatnya yang seminggu lagi akan menikah.

Desi hanya tersenyum memandangi ranjang pengantinnya yang begitu anggun dan tertata rapi. Ditambah lagi dengan sprei pink yang terbuat dari bahan satin. Dielusnya permukaan kain itu dan tak berhenti dikaguminya. Benny pun masuk juga ke dalam kamar itu duduk di samping Desi.

"Napa, Des? Kamu udah nggak sabar nunggu minggu depan?"

"Gak tau.. Hehehe.."

"Kalau aku sih udah nggak sabar sebenernya. Heheheh.."

Desi hanya tersenyum kecil dan Benny tahu kalau calon istrinya itu mengisyaratkan hal yang sama. Entah setan apa yang membuat nafsu di antara keduanya klimaks. Perbuatan yang seharusnya dilakukan seminggu kemudian pun terjadi tanpa direncanakan oleh mereka sebelumnya. Desi membiarkan lelaki itu menyentuh tubuhnya seenaknya. Toh, dalam pikiran mereka, mereka sudah pasti akan menikah dan menjadi suami istri. Kesenangan dan kesakitan semuanya jadi satu saat mereka melakukan hubungan suami istri itu. Tidak ada orang di rumah saat itu, sehingga menyebabkan kebebasan itu semakin bisa diungkapkan.

Kain sprei yang tadinya mulus dan halus kini ternodai sudah dengan darah perawan yang menetes. Tidak ada penyesalan yang tampak melihat noda itu. Apalagi ada kebanggaan dari diri Desi kalau ia telah menyerahkan benda berharganya itu hanya untuk Benny seorang. Yang selanjutnya harus mereka pikirkan adalah menyingkirkan sprei itu dan menggantinya dengan yang baru sebelum yang lain melihat.

* * *

Hari yang dinantikan pun muncul. Gedung pesta tampak megah dengan dekorasi white silver yang begitu memukau. Desi tampak cantik dengan gaun penggantinnya. Benny pun tampak tampan dengan jas pengantinnya. Semua orang tampak kagum memandangi keduanya menarik lonceng dan menuju ke atas pelaminan. Iringan penari dan pengapit pun turut mengindahkan suasana.

Entah mengapa tak ada lagi rasa iri dalam diri Fenny karena ia merasa bisa bersyukur akan hidupnya. Setidaknya, kini ia bisa mengecap bangku pendidikan di fakultas Kedokteran dengan beasiswa yang diterimanya dengan perjuangan keras. Keinginan untuk membahagiakan mamanya lebih besar dari apa pun juga, termasuk menemukan pasangan hidup. Ia yakin kalau Tuhan akan memberikan yang terbaik untuknya.

Ketiga sahabat itu asyik berfoto-foto ria sebelum pulang. Bisa dikatakan, ketiganya itu adalah banci foto. Apalagi, jarang-jarang Fenny dan Rita mengenakan gaun. Hanya di pesta saja mereka bisa bergaya seperti ini.

"Des, jangan lupa cerita-cerita, ya tar malem ngapain aja. Jangan lupa telepon gue." bisik Fenny pada Desi.

"Gile lo! Rahasia kali!" teriak Desi sambil menyenggol pinggang Fenny. Dalam hati ia hanya bisa tertawa geli mengingat kejadian seminggu yang lalu.

Keesokan harinya..
"Ma, ngapain masuk ke kamar aku?" tanya Desi.

"Mama cuma mau pajang ini aja di kamar kamu buat kenang-kenagan aja." mama menaruh lampu meja hias di atas meja kecil.

"Oohh, ngomong dong!" Desi hanya cemas sewaktu mamanya melihat keadaan kamarnya yang masih berantakan.

"Aduh, ck... ck... ck... Ampun dah, kemaren maennya ganas banget, ya?" tanya mama begitu melihat ada noda lipstik dan blush on yang menempel di ranjang pengantin itu.

Desi hanya bisa tertawa geli. Mama mengira itu adalah darah perawan yang biasa dikeluarkan sewaktu malam pertama.

* * *

"Des, katanya lo mau cerita-cerita malam pertama ngapain aja! Mana udah 6 bulan nih!" tagih Fenny.

"Idieh, siapa yang janji? Rahasia dong, masa gue sebar luasin? Hahahah..."

"Iye, gue penasaran nih!" sela Rita.

"Ngaco pada otaknya ngeres! Apalgai ini nih calon dokter kandungan!" sahut Desi.

"Gimana nih yang udah jadi bini orang? Enak kaga?" tanya Fenny.

"Ya, bedalah kehidupannya gak kayak waktu masih single. Begitu banyak tanggung jawab dan gue gak bisa seenak jidat bebas kayak dulu. Ini aja gue pergi bareng lo orang izinnya susah banget."

"Tapi, enak dong ada yang perhatiin."

"Ah, gak juga. Kadang Benny itu cuek banget. Bener ya ata orang waktu pacaran sama merit itu beda banget. Ya, gue maklum sih dia kan sekarang sibuk banget."

"Oh, gitu."

Fenny baru mengerti apa yang dikatakan oleh mamanya. Kesepian itu pasti akan melanda siapa saja termasuk orang yang sudah menikah.

"Waktu ngelakuin ngeluarin darah dong?" tanya Rita ngasal. "Uupps! Sori!"

"Hahahaha... seminggu sebelumnya justru." jawab Desi.

"Kok bisa? Gimana caranya?" tanya Fenny polos.

Akhirnya, Desi menceritakan semuanya! Tentang malam pertamanya yang terjadi sebelum waktunya, termasuk mamanya yang tertipu oleh noda lipstik.

"Hahahaha... kacau aja nih anak satu dari SMP gak berubah!" ledek Rita.

"Lo nggak merasa bersalah?" tanya Fenny bingung.

"Ya, gak lah! Kan udah bagi-bagi undangan segala macam."

"Betul, Fen. Dia orang kan udah pasti merit! Ngapain merasa bersalah segala!"

Fenny semakin bingung. Ia merasa kalau ia yang paling aneh sendirian. Baginya, malam pertama itu tidak akan bisa pindah hari atau dimajukan segala. Ia begitu mengerti begitu besar kesepian yang dialami Desi sampai-sampai ia tidak sabar untuk menunggu seminggu ke depan. Ia juga mengerti, bahwa pernikahan itu bukan obat penghapus kesepian meskipun ia kadang tidak lepas dari rasa itu.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
40

endingnya kurang...

endingnya kurang...

70

kayaknya masih da yang kurang...

80

heheh kirain cerita apaan gitu...menarik... judulnya... cerita... okelah....

90

hanya endingnya aja bikin kurang puas :D

90

hanya endingnya aja bikin kurang puas :D

70

Bagus sih... tapi judulnya kayaknya misteri banget ternyata ceritanya gak seperti yang ku bayangin. Anyway, bagus kok ... keep writing and mampir ya!

Ehm..stuju sm bobi..tlalu rapi.jadix flat.. Salah nuliz dkit bsa jd bokep.hehehe tp mungkin maksud kamu bener,ada nilai2 yg ingin km sampaikan dr situ.. Ha3x nevermind..gwa jg gag tlalu taw
nuliz.. Kip write aja,sizt!! Smangad!

60

Kl menurut W,,,Judul yg bagUs bgt bwt ceritA yg singkAt ^^

70

Judulnya, ok-lah. Uraiannya, cukup rapi. hanya, tidak ada bagian "yang menaikkan suasana". Terlalu stabil.aku bisa ikutin dari awal hingga akhir, tapi merasa ini terlalu ringan malah..hehehehe

Aku cuma bingung,kok kesepian di benturkan dengan pernikahan yang berujung penulis mengambil kesimpulan pernikahan bukan jalan keluar dari kesepian?Hemm, keknya dari awal si tokoh fenny ga di tunjukkan kalau dia merasa kesepian (yang ada adalah dia kangen ama desi), kalaupun ada ya cuma percakapan dengan mamanya (yang memunculkan istilah kesepian. beh....
hemm, binun..km mau mau soroti kesepian (bahwa pernikahan terjadi bukan karena kesepian)atau pernikahan dini?
mengambang..hehehehehehe
tapi, jangan marah ya kalau bilang begitu. aku pikir km menulis dengan baik kok..
Selamat menulis lagi...

60

tetep sakralnya pas malam penganten, walaupun sambil ngumpet-ngumpet biar nggak diintipin

80

Lumayan lah...

Keep working guys

80

judulnya ciamik, sayangnya klimaks ceritanya berakhir sebelum ending.. (bagian desi keilangan keperawanan) jadi ujungnya jadi terasa 'ceramah'..

90

Ceritanya mengalir lancar banget. Trims ya dah comment di ceritaku juga.

70

judulnya menarik,
hanya saja kamu kurang fokus dalam menuliskannya. jadi agak membengkak di mana-mana kata-katanya.

coba di padatkan pasti jadi oke banget deh.

(*practice makes perfect)

80

Nggak terlalu panjang tuh. Bagi ane masih normal aja.

Ceritanya...hmmm ane kira bukan untuk seumuran ane (hahahaha) berhubung udah dibaca ya apa boleh buat ^_^.

Bagus penceritaannya Kak, untuk koreksinya kayaknya nggak ada deh. Udah perfek, tpai ending-nya kayaknya dikit gantung.

Tapi bagus! Bantai!

70

Cerpennya lumayan panjang..
tapi bagus koq..cerita nya
judul nya oke punya :D

70

kayakya, kepanjangan, mbak. mungkin bisa lebih dipadatkan: pemilihan adegan,narasi yang dimunculkan, efisiensi dialog dsb. wah, judulnya membuat pembaca tertarik, kok.

70

90

gak ngerti kenapa ... tapi bagus banget :D

70

wuih..cerpennya panjang banget.., komennya ntar aja yach.. ni gua kasih poin dulu yach.. tak baca offline aja..