Kisah Bagian 7: Ledakan (B)

22
points
"

Peringatan pemerintah: Restricted for children!
Pernyataan lisensi: Teman-teman boleh menyalin cerita ini ke media simpan lokal. Penggandaan diizinkan selama dalam bentuk digital, tidak menghilangkan sumber atau penulis asli, dan tidak untuk melanggar norma dan peraturan yang berlaku, dan bukan untuk tujan komersial. Jangan mencetak cerita ini ke atas kertas! Pohon sudah banyak yang ditebang untuk itu.
Selanjutnya: Kisah Bagian 7: Ledakan (C) dan (D) – 8/9-03-2008.

"

Aneh. Padahal, berdiri di atas tanah. Mengapa seperti di permukaan laut?

Alisya tidak melanjutkan langkahnya. Sudah dua puluh meter ia meninggalkan Gaya di telepon umum. Ia sendiri ingin sedikit berkeliling, sementara Gaya asyik berbincang.

Namun, gelombang itu....

Beberapa pejalan kaki melirik Alisya. Gadis itu tak bergeming di trotoar, tidak pula berkedip. Ia mematung seakan sesuatu hendak menerkamnya.

Sebuah arus besar kembali mengalir di pandangan Alisya. Ia menerobos dari belakang dan meluncur cepat ke depan. Arus bening itu hanya menyisakan sejengkal titik jernih di pusat simetri mata Alisya.

“Aku sudah menelepon Sonia. Ia bilang, rumahnya tidak apa-apa selama kita pergi. Aku juga meminta maaf, karena kita membawa pergi pakaiannya.” Gaya melirik ke bawah. Sungguh tidak mungkin untuk turun ke jalan, sementara di punggung mereka terpampang jelas akronim DINA. Kesempatan emas menangkap Astro bisa lenyap.

Titik mata Alisya masih terpahat ke depan. Sedikitpun ia tidak menoleh atau menyahut.

“Alisya...?”

Arus bening di mata Alisya mulai menyurut.

“Alisya?” Gaya memanggil sedikit keras.

Kepala sahabatnya sontak berputar. “Gaya? Kau sudah selesai menelepon?”

Gaya mengeluh. Nyaris mulutnya menggelembung seperti buntal. “Sudah....”

“Oh iya, aku tadi mendengar bahwa kau sudah menelepon Sonia.” Alisya terlihat semakin kacau. Gaya serasa ingin meleleh. Kau tahu, mengapa seperti tidak tahu?

“Kau sebenarnya belum sembuh benar. Tidak seharusnya kita turun.” Gaya memperingatkan. Ia sempat melihat Alisya berjalan sempoyongan menjauhi telepon umum. Sebelum akhirnya, ia mematung di tempat ini.

“Aku sudah sembuh. Buktinya, aku sudah bisa berjalan.” Dasar Alisya keras kepala.

“Tapi, kau berjalan seperti orang mabuk!”

Arus bening kembali muncul. Alisya menunduk dan hanya kakinya yang tidak diterabas arus. Seakan ada pelindung yang menyelubungi kakinya.

Gaya mulai menenangkan ucapannya. “Aku tahu apa yang kau rasakan, karena kita berdua sama. Tubuh kita sakit, tetapi keinginan untuk menjatuhkan Astro lebih kuat.”

“Jadi, kau masih sakit?”

Gaya sedikit mengangguk. “Begitulah.... Terkadang, penglihatanku agak aneh. Telah beberapa kali aku menyaksikan, bahwa sekelilingku bergerak lebih lambat dari seharusnya. Dan otot-otot di sekujur tubuhku, rasanya kaku dan perlu direnggangkan.”

Gaya mengambil tempat di sisi kanan Alisya. Sebuah tinju ia layangkan ke depan.

“Hah?” Gaya terlihat kaget. Pelan-pelan ia menarik kepalan tangannya. Secara cermat, ia melihat telapaknya yang mulai membuka. “Apakah hanya halusinasiku saja? Gerakanku kini lebih cepat.”

Alisya menoleh. “Mungkin, memang halusinasimu. Bukankah kau sedang sakit?”

Gaya mengangguk. Dan mereka hendak melanjutkan langkah, jika saja sebuah gemuruh kecil tidak memutar kepala mereka ke belakang.

“Suara itu... guntur?” Alisya memprediksi.

“Aku rasa, sebuah ledakan. Cuaca sangat cerah.”

Tak hanya mereka yang terheran, ratusan orang di jalan tersebut juga terhenti dari aktivitas. Beberapa di antara mereka mendongak ke langit, menduga-duga apakah akan turun hujan. Sementara sisa yang lain, menoleh ke sebuah blok gedung dengan asap pekat yang mulai muncul.

“Di sana!” tunjuk Gaya.

“Arah itu....”

Gelang multifungsi mereka berbunyi. Benda tersebut telah aktif sejak meninggalkan rumah Sonia.

“Kepada semua anggota. Ini Rino. Aku melihat ledakan di sebuah gedung. Berasal dari lantai 14. Aku rasa, itu Pos Jembatan Portal.”

Keduanya saling pandang, sebelum akhirnya berpacu lari menuju gedung yang mengeluarkan asap. Tak sampai sepuluh menit, keduanya sudah berdiri di depan gedung. Orang telah ramai, serakan kaca dan puing memenuhi badan jalan. Polisi dan pemadam kebakaran tiba setelah asap mulai menipis.

Alisya mendongak. Lubang selebar nyaris dua puluh meter menghiasi sisi depan gedung.

“Tidak salah lagi. Ledakan berasal dari Pos Jembatan Portal. Tapi, bagaimana bisa?”

“Arus pendek di mesin waktu?” tebak Gaya.

“Astro!” Alisya mendadak melesat. Sebelum dihalang-halangi polisi, Gaya bergegas menyusul. Dan di bawah sepuluh menit, mereka benar-benar sudah menginjak anak tangga terakhir di lantai empat belas. Terpaksa mereka menggunakan jalur tersebut, karena lift gedung telah mati. Usai berkejaran menaiki tangga, keduanya berkejaran menarik napas.

Alisya benar-benar sudah tidak mengenal lantai tersebut. Lantai dan langit-langit yang menghadap jalan telah hilang. Banyak bagian yang terbakar dan puing-puing bertebaran. Hawa panas ternyata masih menyengat di lantai itu.

“Aku harap, masih ada yang selamat....” Gaya masih berusaha menenangkan paru-parunya. Sementara Alisya, dadanya sudah tidak terlihat turun naik.

Sebuah runtuhan mengusik dari belakang. Beberapa bongkah beton menghantam lantai. Seorang pemuda dengan wajah koyak perlahan berdiri. Tak kalah compang-camping, pakaiannya juga tampak tercabik-cabik. Darah segar mengalir di antara sela kulitnya yang terbuka. Gaya meringis.

Alisya tercengang. Luka-luka di wajah pemuda asing tersebut perlahan berhenti mengeluarkan darah. Sobeknya mengatup sendiri dan Gaya merasa lututnya bergoyang. Selama menjadi perawat, ia tidak pernah melihat tontonan berating violence tepat di depan mata.

“Siapa kau?” Alisya bertanya.

Pemuda itu menoleh. “Aku polisi....”

“Tidak ada polisi yang mampu meregenerasi tubuhnya secepat itu.”

Pemuda di hadapannya tersenyum.

“Aries, apa yang terjadi? Aku mendengar ledakan. Kau tidak menjatuhkan bom itu di gedung ini, kan?” Viper muncul dari jalur tangga yang sama. Ia kaget. Alisya dan Gaya sudah sampai mendahuluinya.

“Kalau bom itu jatuh di lantai ini, kau pasti juga sudah mati....” Aries memutar tubuh ke arah Viper. Pemuda itu hanya tersenyum. Ia baru ingat, bom yang ia berikan adalah bom berdaya ledak besar. Jika meledak, seluruh gedung bisa saja runtuh. Ia yang tertidur di lantai dasar, pasti juga sudah tertimbun.

“Yang aku herankan adalah..., mengapa ledakannya bisa sampai menerobos portal? Aku sampai kena.” Aries menghadap lantai yang telah hilang.

“Hentikan ucapan kalian!” Gaya menginterupsi. Matanya terlihat panas. “Kalian yang meledakkan pos kami! Kalian masih sempat bercanda!”

Kedua pemuda tersebut menoleh.

“Kalian anggota polisi?” Aries bertanya.

“Kami anggota DINA.” Alisya mengambil alih jawaban. “Dan kalian akan kami tahan, dengan tuduhan sabotase.”

Aries tersenyum. “Coba saja.”

Dan sebuah bongkah beton ia tendang. Alisya tak begeming. Ia mengayunkan tangan kirinya dan beton itu hancur seketika. Debunya menyebar. Angin menyeruak di antara partikel debu dan Aries merasakan ada yang tidak beres.

Benar saja. Alisya sudah tepat di depannya. Ia hanya dapat melompat ke kiri dan kepalan tangan Alisya meremukkan dinding yang ia belakangi. Belum puas merubuhkan tembok itu, Alisya berputar dan menyerang Aries. Lesutan kaki dan tangannya bagai senapan mesin. Ia baru berhenti, ketika pemuda itu telah jatuh tersungkur.

Aries masih memiliki nyali untuk berdiri. Perlahan ia bangkit, sementara Alisya seperti kehilangan pijakan. Kakinya goyah dan beberapa kali tubuhnya mencari keseimbangan. Arus itu kembali menutupi matanya. Lingkungan sekitar begitu sulit untuk dilihat. Begitu ia mencoba untuk fokus, sekelebat bayangan mendadak muncul tepat di depan matanya.

Alisya terlempar. Tubuhnya meluncur dan nyaris terjun bebas. Ia jatuh dan berhenti terseret satu meter dari lubang ledakan yang telah menunggu.

Seakan tak merasa sakit di tubuhnya, Alisya bergegas bangkit dan menahan tinju dari Aries. Mereka adu jotos dan saling melempar tendang. Suatu saat, Alisya berhasil membuat pemuda itu kehilangan kontrol, tubuhnya melambung, dan disambut terjangan ke atas. Dalam hitungan kurang dari tiga detik, Aries melesat menerobos lima lapis lantai gedung.

Tubuhnya menghempas keras di lapis terakhir. Ia menempel di langit-langit dan pelan-pelan merosot jatuh. Alisya menolak lantai. Ia menyambut tubuh Aris.

Suara gemuruh terdengar halus. Serpihan debu dan puing luruh dari lubang yang diterabas tubuh Aries. Gaya tak bergeming menyangksikannya.

“Hei, manis!”

Gaya berputar.

“Kau tidak ingin berkenalan denganku?” Viper dengan anggun mengenakan kacamata hitam.

Gaya memasang kuda-kuda.

“Namaku Andreas River. Lebih dikenal dengan nama Viper. Namamu?”

“Kita punya waktu banyak untuk berkenalan. Tetapi setelah kau dipenjara.” Gaya mempererat kepalan tangannya.

“Gadis manis sepertimu sebenarnya sayang untuk dipukul. Tetapi karena kau anggota DINA, akan kupatahkan seluruh tulang di tubuhmu!”

Gaya terlihat gentar. Viper berkata cukup nyaring untuk kalimat terakhir. Namun, tak ada pilihan. Ia terpaksa mengacungkan tinju ketika Viper melesat ke arahnya.

Baru lima detik, Gaya sudah mendapat bogem mentah bertubi-tubi. Ayunan tangannya tidak cukup ampuh sebagai tameng. Tubuhnya sempat melayang, bahkan direnggut dan dilempar ke bawah hingga menerobos dua lantai.

Lubang yang terbentuk berada dalam satu garis serong. Meski begitu, Viper masih bisa melihat tubuh Gaya yang tergeletak di lantai sebelas. Merasa ia harus mengakhiri adu fisik ini, Viper melompat ke dalam lubang. Kakinya mendarat mulus dan ia disambut oleh Gaya yang sudah menempel di langit-langit. Loncatan gadis itu cukup kencang, sehingga ia masih memiliki gaya dorong ke atas setelah mencapai langit-langit.

Gaya kembali meluncur dengan tangan mengepal. Viper segera membungkuk. Ia membiarkan Gaya mendarat di belakangnya dan berputar untuk mengait kakinya. Berusaha menghindar, Viper mencoba bersalto. Namun, tubuhnya tiba-tiba berhenti dalam posisi terbalik.

Gaya mendapatkan kaki Viper. Sebelum pemuda itu melawan, Gaya berteriak dan melemparnya. Anak buah Tuan Morgan tersebut meluncur menerobos meja kerja dan sekat-sekat ruang gedung. Hingga akhirnya, ia terhenti di sebuah dinding dan jatuh terkapar.

Gaya tersenyum puas, tetapi segaris tipis di bibirnya segera menghilang. Ia terlalu lelah untuk berdiri tegap dan bertelekan pinggang. Napas yang turun naik telah mengambil alih konsentrasinya. Dan tiba-tiba, kedua tempurung lututnya seperti tak terkunci. Dengan mulus, ia jatuh bersimpuh.

Pada saat itu, mengenai tubuh yang kaku dan penglihatan yang aneh bukanlah cerita bohong. Ia merasakan sendiri bahwa seluruh otot di balik kulitnya seperti menciut. Bola matanya seperti menangkap tayangan video yang diperlambat. Ia sadar bahwa Viper perlahan bangkit, bahkan akhirnya berlari hendak membunuhnya. Dan pada saat itu, ia juga sadar, bahwa hanya satu pilihan yang ia miliki. Ia mencoba berdiri dan....

Sosok tubuh muncul di depan matanya. Tangan yang kekar menghantam wajah Viper, menjatuhkan pemuda itu berguling-guling.

Viper kembali terkapar. Laras senapan mesin tepat di belakang kepalanya. Seseorang layaknya manusia besi merangkum tangannya di punggung. Borgol baja membuat Viper tak berkutik.

“Kau baik-baik saja?” Gaya menoleh. Untuk beberapa detik, ia mencoba menerima, bahwa suara wanita yang menegurnya tadi berasal dari seperangkat baju zirah di sisinya. Ia akhirnya yakin, ketika pakaian tempur itu berubah menjadi kilatan kecil dan lenyap, dan menyisakan seorang wanita berpenampilan kasual.

“Polisi...?”

Wanita itu ikut berlutut. Sebuah tangkai muncul dari balik telinga kanannya. Potongan-potongan kaca dan logam bermunculan sangat cepat, hingga akhirnya membentuk kacamata utuh. Gaya yang bersimpuh tepat di hadapannya tak berkedip. Atraksi ketika pakaian besi tersebut lenyap sudah cukup mengesankan. Kepingan logam yang dikenakan wanita itu lenyap menjadi sinar-sinar indah, lalu berkumpul di sebuah kotak di dada kiri serta lengan kirinya.

Teknologi apa yang mereka gunakan? Apakah ini adalah hasil dari kerja sama pemerintah dan Borneolab?

“Kau anggota DINA, bukan?”

Gaya tersadar.

“Gaya Rahmadia. Kau terdaftar sebagai anggota DINA, tergabung dalam Unit Pemburu Astro. Benar?”

Gaya mengangguk kecil.

“Di mana rekanmu? Kau dan Mayarananti seharusnya mendapat tugas lain. Pimpinan kalian yang menyampaikan berita ini.”

“Tugas lain...?”

“Anggota satu unitmu mungkin dapat menjelaskan lebih detil. Sekarang, di mana rekanmu yang memiliki nama sama panjang dengan putri ilmuwan DIVENN?”

Gaya menggeleng. “Mungkin, ia masih berurusan dengan pemuda yang satunya lagi....”

“Berapa orang semuanya? Orang yang menyerang pos?”

“Setahuku, ada dua.”

Anggota polisi tersebut menoleh ke teman-temannya. “Masih ada satu pemuda lagi. Harus segera ditangkap!”

“Baik!” Tiga anggota polisi lengkap dengan pakaian tempur mereka, segera berpencar.

Gaya mengerang. Ototnya kembali serasa ditarik ke luar.

“Jangan banyak bergerak!” himbau wanita itu. “Dua tulang rusukmu patah, membengkok ke organ vital. Sepertinya, kau harus beristirahat cukup lama.”

Gaya terlihat lesu. Ia tidak menyadari bahwa air muka polisi wanita di sampingnya sontak berubah. Ia menangkap gambar menakjubkan melalui kacamata pemindainya. Sewaktu Gaya untuk kedua kalinya mengerang, otot-ototnya mengencang, menekan tulang rusuk yang patah hingga berada di posisi semula. Lalu dengan perlahan, tulang-tulang itu kembali bertemu.

“Aku menemukan residu fibernetik. Apakah ini efek obat itu?” gumamnya.

Your rating: None Average: 5.5 (4 votes)
dikirim dirgita 32 minggu 6 hari yang lalu
Tag: