Percakapan Di Bawah Pohon Maple

"

Secuil pahala pun tak mengapa ^^

"

Malam itu sebuah daun maple menanggalkan diri dari ranting yang selama ini menopang hidupnya. Tanpa mengucapkan sapaan terakhir atau sekedar salam perpisahan, ia terus terombang-ambing oleh hembusan angin yang kala itu berhembus lembut, selembut sutra buatan Eropa atau kain dari dataran Cina. Daun itu terbalik kemudian berbalik lagi, seolah-olah sedang melepaskan semua beban yang teramat berat yang selama ini terus menghantam pertumbuhannya.

Daun itu terus melayang dan secara tidak sengaja, hinggap di tangan sebuah sosok. Sosok itu menengadah ke atas, memperhatikan pohon yang saat itu menjadi peneduh baginya.

Ia menyunggingkan sebuah senyuman mistis lalu berkata, “Kasihan sekali nasibmu, tanggal diusia muda.”

Entah bulan dapat mendeskripsikan sosok itu dengan tepat atau tidak, tapi inilah hasilnya.

Rambutnya panjang terurai, dengan tiap helainya berwarna pirang. Bola matanya indah kebiruan dan diselimuti oleh kelopak berdaging dengan kulit kekuningan. Alisnya hitam lebat, berderet dengan sempurna. Hidungnya lancip dan bibirnya yang terpoles oleh gincu hitam makin menambah mungil bentuknya. Sepasang sayap menyerupai sayap angsa dengan tiap bulu berwarna kegelapan muncul di punggungnya, serasi dengan warna gaun yang saat itu tengah dikenakannya. Telapak kakinya yang telanjang, dipenuhi oleh butiran-butiran pasir dari neraka.

Sosok itu berpaling ke tubuh di sampingnya (tak jelas apakah itu tubuh atau jiwa atau roh)―tubuh dengan rantai yang mengikat pergelangan kakinya. Ia kembali menyunggingkan senyumannya, lalu berkata pelan, “Kenapa kau diam? Padahal tadi saat aku mengambilmu dari tubuhmu yang terbujur kaku di jalanan karena menelan timah panas, kau berontak setengah mati dan tak mau keluar dari jasadmu itu.”

“Apa kau tiba-tiba menjadi bisu?” lanjut sosok itu.

Tubuh itu tertawa. “Aku masih belum menyadari kalau aku sudah mati. Apakah aku punya pilihan?” tanyanya.

“Maksudmu?” tanya sosok itu kembali sambil membenarkan duduknya. Sayapnya tiba-tiba menciut dan terus menciut hingga tak tampak lagi. Mungkin sayap hitam itu masuk ke punggungnya atau menghilang entah kemana.

“Apakah aku bisa memilih dari dua tempat yang kau sebutkan tadi? Neraka atau surga?” tubuh itu mengulangi.

Entah kenapa sosok itu diam, mungkin sedang berfikir untuk jawaban yang tepat. “Apakah kau berbuat kebaikan semasa hidupmu?”

Tubuh itu tak menjawab. Ia malah menengadah ke langit, memperhatikan tiap bintang yang seolah-olah tersenyum kepadanya. Memancarkan cahaya yang lebih terang dari biasanya.

Sosok seperti malaikat itu tertawa. Keras sekali. Setelah puas dengan tawanya, ia mengambil sebuah buku bersampul hitam yang tergeletak di sampingnya lalu membuka tiap lembar catatan tersebut, mencari sebuah nama.

Ia berhenti di lembar pertengahan saat menemukan apa yang dicarinya.
“Kurasa kau tak pernah berbuat kebaikan. Yang kutahu dari kisah hidupmu adalah kau seorang pencuri, pembunuh, dan pemerkosa. Tak ada catatan hitam dari perbuatannmu. Semuanya cuma tinta merah yang terus mengiasi tiap lembar catatan mengenai hidupmu.”

Sosok itu diam, terkejut tatkala melihat sebuah catatan hitam kecil tertulis di sudut kiri bawah bukunya. Kecil sekali tulisan itu hingga hampir-hampir tak bisa terbaca olehnya.

“Hmmm... tapi ini tak cukup untuk memasukkanmu ke surga. Kau tentunya akan pergi bersamaku ke neraka. Ha... ha... ha...” ia tertawa lagi sambil menutup catatannya lalu melanjutkan, “Persiapkan dirimu untuk menemui semua teman-temanmu di sana.”

Sosok itu berdiri. Hembusan angin membelai rambut dan gaunnya. Sayapnya tiba-tiba muncul lagi disertai sinar kegelapan yang terbias pada setiap kepakannya. Ia menarik ujung rantai yang mengikat kaki tubuh tadi dan menyuruhnya berdiri. Dengan sekali jentikan jari, sebuah pintu muncul di hadapan mereka. Muncul begitu saja dengan rentangan waktu yang sangat cepat, hingga melebihi kecepatan katupan mata. Mirip pintu gerbang menuju ke dunia lain, dunia yang tak bisa terjamah oleh ilmu pengetahuan atau semacamnya.

Suasana malam hening. Tak ada suara satu makhluk pun yang terdengar. Keceriaan malam yang sebelumnya tercipta seperti tertelan oleh sesuatu yang menakutkan. Begitu bisu dan menakutkan hingga angin pun pergi menjauh, air berhenti mengalir, kuncup bunga tak berani mekar serta bulan dan bintang bersembunyi di balik gumpalan awan.

Dari dalam gerbang, terdengar teriakan, namun lebih mirip jeritan minta tolong. Jeritan yang tak pernah terdengar di dunia. Sebuah jeritan yang seakan-akan dapat mengusir kebahagiaan dan menggantinya dengan kesedihan, atau bahkan dapat memisahkan jiwa dari jasad yang masih bernyawa. Melebihi suara tangis kelaparan atau jeritan setelah perang yang hanya meninggalkan kesengsaraan.

Suara pecutan atau hantaman benda dari dalam lebih keras dari suara hantaman nuklir yang melanda Nagasaki dan Hiroshima pada Perang Dunia ke II, atau letusan gunung Krakatau yang debu vulkaniknya memenuhi belahan dunia selama berhari-hari.

“Ayo kita masuk,” kata sosok malaikat itu. Bibirnya menyeringai. Wajah yang sebelumnya tampak anggun dan tenang seperti ternodai oleh kebohongan dan kemunafikan, layaknya putih susu yang ternodai oleh pekatnya bubuk kopi yang menguasai warna keseluruhannya.

Dengan langkah berat, tubuh itu masuk. Bunyi gemericing rantai menyertai kepergiannya. Namun tak tahu kenapa, tiap langkahnya semakin berat dan lebih berat lagi setelahnya. Kakinya menolak untuk masuk ke pintu tersebut, sementara dari dalam, lidah api mulai menyambar dan menunggu kehadirannya.

Sebuah cahaya keputihan muncul dari atas langit dan semakin membesar hingga membentuk sebuah pintu. Kegelapan yang sebelumnya menutupi tempat itu tiba-tiba menghilang. Suara hewan malam kembali terdengar, hembusan angin kembali terasa, dan lebih mengejutkan lagi, kebahagiaan langsung tercipta.

Sosok malaikat dan tubuh itu diam terpaku. Mereka seperti menikmati tiap sinar yang menyentuh kulitnya. Terasa hangat hingga memenuhi kerongkongan dan akhirnya paru-paru.

Sebuah sosok lagi namun bercahaya melangkah keluar dari pintu tersebut, dan dengan anggun melayang turun hingga memijakkan kakinya di depan mereka. Sayapnya yang berwarna keputihan mengembang, memamerkan tiap helai bulunya yang tak bernoda.

“Mengapa kau datang ke sini? Dia adalah tawananku,” ujar sosok malaikat yang bergaun hitam ketus.

“Tawanan? Ingat, dia bukan tawanan siapa pun. Dia hanya milik Tuhan seorang dan kedatanganku ke sini untuk menjemputnya menuju surga,” sosok malaikat yang satunya menimpali.

“Menuju surga? Apa aku tidak salah dengar?” malaikat tadi tak percaya dan kemudian tertawa. Mulutnya dipenuhi oleh deretan gigi-gigi yang menghitam dan tajam, memotong apa saja yang masuk ke dalamnya. “Tidak... tidak mungkin dia bisa ke tempat itu. Tempat terakhirnya adalah bersamaku. Lagipula tak ada satu kebaikan pun yang pernah dia perbuat.”

Tubuh yang sedang dibicarakan itu terdiam dan hanya menunduk, seolah-olah menerima semua keputusan yang dicapai.

Malaikat lain tersenyum menang.
“Kau salah. Dia pernah berbuat kebaikan walaupun hanya sekali.”

“Tapi itu tak cukup,” malaikat lain tidak setuju. Ia tetap bersikeras bahwa tubuh itu harus ikut dengannya―ke neraka.

“Bagi-Nya, itu saja cukup. Dia pernah memberi makan ikan-ikan yang kelaparan di aliran sungai Thames. Walaupun perbuatan itu tidak seberapa di matamu, namun itu besar artinya di mata Penciptamu,” jelas malaikat bergaun putih.

“Bagaimanapun dia harus ikut denganku. Tak peduli apapun itu,” ujar malaikat tadi keras kepala.

“Walaupun kau mengacuhkan perintah dari-Nya?”

“Ya. Aku sudah bosan dengan semua ini. Pokoknya, dia harus ikut bersamaku ke neraka. Jangan menghalangi jalanku, jika kau tak mau musnah,” jelas sosok berjubah hitam itu mengancam.

Bola matanya yang tadi berwarna kebiruan berubah menjadi hitam pekat sepenuhnya dan rambutnya yang pirang berganti dengan liukan lidah api yang siap menyambar tanpa ampun. Rumput yang dipijaknya langsung layu dan mati.

Selang beberapa lama setelah sosok malaikat itu memamerkan kekuatannya, tiba-tiba sebuah sinar putih muncul dari langit. Terus turun hingga menghantam sosok malaikat bergaun hitam itu. Membuat seluruh tubuhnya terbakar dan pada akhirnya mengubahnya menjadi serpihan debu kristal hitam yang kemudian diterbangkan angin.

Mereka berdua terdiam melihat kejadian itu, tak percaya akan apa yang telah terjadi. Semenit kemudian malaikat bersayap putih itu berkata dengan bijaksana, “Kemarilah. Ikutlah bersamu ke surga.”

“Te... terima kasih,” balas tubuh itu bahagia. Tak terasa setetes air mata membasahi pipinya. Perasaan bahagia memenuhi hatinya. Tubuhnya kemudian bercahaya, bersinar terang sekali seperti kumpulan kunang-kunang yang menerangi suatu lembah di malam hari.

“Jangan berterimakasih. Itu sudah sepatutnya buatmu,” kata malaikat itu lalu mengibaskan sayapnya dan melayang di atas tanah. Mereka lalu terbang menuju sebuah pintu cahaya yang telah menunggu kehadiran mereka.

dikirim abc 25 weeks 5 days yang lalu
Tag: