FireHeart - Legenda Paladin - Bab 3.1.1.3. Dalam Rahang Bahaya

37
points
"

ok, ini baru mulai tempur.

"

Sebuah bayangan bergerak cepat dalam gelap, di bawah bayangan bulan. Bayangan itu juga bergerak hati-hati dan diam-diam, jadi tak ada musuh yang bisa memergokinya dan menyerangnya secara mendadak. Lalu Robert Orcbane sang pemburu, pemilik bayangan tersebut tiba di depan sebuah gua di Perbukitan Harper Barat. Dia bersembunyi dan mencoba mengulas kembali rencananya sebelum masuk menyerang mendadak.
Tak ada penjaga di depan. Kalaupun peta ini benar, tapi aku tak pernah tahu itu, kan? Aku harus bersiap untuk segala kemungkinan dan resiko. Mungkin mereka sudah bersiap-siap, mengantisipasi pemburu yang akan datang dengan jebakan yang sudah mereka pasang.
A’bong adalah mantan kapten veteran, dan aku ini dulu hanya pengintai. Aku tak tahu jebakan apa yang mereka siapkan dan bagaimana cara menangkalnya. Aku hanya ikut dalam satu perang, jadi aku hanya tahu jebakan-jebakan standar dan bukan jebakan orc. Sayang Hulferd sudah mundur dari ketentaraan, kalau tidak dia pasti bisa memberitahuku lebih banyak lagi dari ini. Ah, buang saja jauh-jauh pikiran negatif itu. Aku harus mengatasi ini sendiri, kalau aku ingin berkembang. Vadis tolonglah.
Lalu Robert mengatupkan kedua belah tangannya dan berdoa seperti pengikut Vadis yang taat, lalu mencium cincin pada jari kelingking kirinya. Kini dia baru siap.
Oke, semua tergantung nasib sekarang.
Robert memasuki gua yang sempit itu dengan memegang obor di tangan kiri dan senjata kiliji andalannya di tangan kanannya. Dia berjalan terus, dan meilhat seberkas cahaya dari kejauhan. Sekarang dia baru yakin ada seseorang yang berkemah dalam gua ini.
Aku sedang beruntung. Mereka ada di sini – siapapun itu.
Si pemburu berambut putih berjalan terus, dan gua itu makin melebar dengan stalaktit dan stalagmit di sepanjang jalan. Robert rupanya sedang berjalan ke bawah permukaan tanah. Ia melihat beberapa obor digantung di tiang-tiang gua, dan berkesimpulan bahwa orc itu bisa memimpin gengnya sebaik manusia. Robertpun jadi makin waspada karenanya.
Saat dia berjalan terus, Robert mencium sesuatu yang aneh. Udara di sekitarnya seakan bergerak seperti angin sepoi-sepoi. Ia mengangkat pedang kilijinya. Tiba-tiba dua pasang mata tampak dari kegelapan di kiri-kanannya, dan dua kobold menerkamnya dengan mendadak. Dengan tenang, tanpa menoleh, Robert beringsut ke samping kanan dan menyabetkan kilijinya ke arah kanan atas, dan membelah perut sebelah kanan kobold itu. Darah kobold menyembur deras dan terpercik di rambut dan rompi pelindung Robert. Ia berhasil menghindar dari kobold di kirinya. Tanpa buang-buang waktu, Robert menyerang kobold itu. Kobold itu menangkis serangan-serangan Robert dengan pedang pendeknya, tapi serangan Robert malah makin cepat, datang dari berbagai arah dan makin bervariasi. Kobold itu jadi kewalahan dan akhirnya Robert menusuk dada kobold itu. Sebelum mati, kobold itu meraung keras dan panjang sebagai tanda peringatan bagi rekan-rekannya.
Robert berpikir. Habislah kejutannya. Cepat pikirkan rencana lain!
Robert berpikir keras sementara dia lari maju, berharap bisa mencapai A’bong dan keenam kobold yang tersisa sebelum mereka menyadari apa arti tanda peringatan itu. Tapi perjalanan ke pusat masih jauh dan Robert mendengar suara gonggongan kobold yang marah tak jauh dari sana. Jadi Robert memutuskan untuk membatalkan rencana itu dan berbalik. Saat itu, sebuah ide muncul dalam benaknya.
Mengapa aku tak menggunakan taktik mereka untuk melawan mereka sendiri? Bersembunyi di belakang tempat gelap pasti bisa. Aku akan menggunakan ilmu ‘konsentrasi’ku dan menyerang mereka di kegelapan.
Lalu Robert dengan sengaja memadamkan obor-obor itu, kecuali obor-obor dekat jalan keluar yang sempit, lalu bersembunyi di balik sebuah tiang seperti yang dilakukan kobold-kobold yang menyerangnya tadi. Lalu keenam kobold itu tiba, berlarian dengan membabi-buta. Mereka sudah menyadari bahwa dua teman mereka sudah terbantai, dengan mencium bau darah dan bangkai kobold. Lalu mereka meraung murka, terutama kedua kobold betina yang suaranya paling nyaring. Robert melihat ini sebagai kesempatan baik untuk menyerang, tapi dia cepat-cepat menarik diri begitu mendengar teriakan keras.
‘TUNGGU! Siagalah, anjing-anjing buduk! Ada yang aneh di sini!’
Samar-samar Robert melihat siluet A’bong si kapten orc muncul dari ujung sebelah dalam gua. Cahaya dari gua bagian dalam itu menerangi punggung A’bong. Lalu A’bong menghardik lagi.
‘Ghr’oak!*) Guoblog!! Kalian tak tahu apa? Penyusup itu sedang mencoba menjebak kita! Dia memadamkan obor-obor ini!’

*) Ghr’oak: Daging busuk berlubang! – Makian bangsa orc yang sangat kasar.

Kobold-kobold itu hanya menggonggong pelan sebagai jawabannya, sebagai tanda kepatuhan pada tuan mereka.
‘Yang satu ini sungguh tangguh, lebih baik daripada kutu-kutu busuk lainnya yang mencoba membunuh kita selama tiga bulan ini!
He, kamu! Kembalilah ke dalam dan bawakan kami beberapa obor!
Dan yang lain, menyebar! Maju dengan hati-hati! Lacaklah tiap sudut! Penyusup itu pasti masih di sekitar sini, bersembunyi!’
Pikiran Robert berpacu lagi. Gawat. Dari pembicaraannya, orc ini mungkin pemakan manusia, dan kobold-kobold itu juga mungkin.
Orc biasanya mampu menguasai Bahasa Umum Aurelia di samping bahasa asli mereka yang kasar, yang kebanyakan terdengar seperti geraman dan raungan. Tapi mereka selalu bicara dengan kata-kata kasar, dan percaya bahwa mereka hanya bisa menguasai dan memimpin yang lain lewat kekuatan dan membuat para bawahan merasa takut pada mereka. Orc-orc betina hanya memilih pejantan yang kuat dan menakutkan (karena memang tak ada orc yang tampan, itu kenyataannya). Tak heran orc-orc jantan kadangkala saling bunuh untuk mendapatkan betina yang jarang untuk menunjukkan siapa yang terkuat. Dan A’bong pasti adalah idola di kalangan orc karena kebrutalannya lebih mengerikan daripada kata-kata kasarnya.
Kembali pada ketegangan di depan mata. Robert berpikir keras untuk membebaskan dirinya sendiri. Sekarang dia mulai berpikir bahwa dia seharusnya memilih untuk jadi pembunuh gelap atau mempelajari metode pembunuhan gelap, atau menjadi penyihir dengan kemampuan membunuh banyak musuh dengan satu mantra. Namun keahliannya yang terbaik adalah ilmu pedangnya. Tak ada yang harus disesalkan. Pendekar adalah pendekar.
Lalu seekor kobold mengendus-endus dekat tempat persembunyian Robert. Robert jadi tegang. Lalu dalam hitungan detik akalnya bekerja cepat, dan dengan refleks dia menjalankan rencana baru, menyerang kobold di dekatnya tanpa melihat dengan hanya mengandalkan indera-inderanya yang lain sebelum kobold itu sempat melolong.
Robert berhasil membelah tubuh kobold itu secara diagonal, namun kobold itu sempat melolong sebelum tewas. A’bong dan kobold-kobold lainnya mendengar lolongan itu, dan berlari ke sumber suara. Lalu Robert menghindari kobold di depannya dan berlari ke arah pintu keluar. Kobold besar itu mencakar lengan kiri Robert, meninggalkan tiga jalur bekas luka yang cukup dalam. Robert kesakitan, tapi seperti biasa ia hanya meringis dan ingat jangan pernah berteriak. Dengan memegangi lengan kirinya yang terluka, Robert berlari ke bagian gua yang sempit, dan menunggu di sana.
Lalu Robert mendengar gonggongan keras dan melihat si kobold besar memasuki lorong sempit itu, dan dua kobold lainnya juga masuk menyusulnya. Saat mereka berpacu menyerang Robert, ketiga kobold itu saling bertabrakan di jalur sempit itu yang lebarnya hanya muat untuk si kobold besar saja. Robert menggunakan kesempatan ini dengan menyerang si kobold besar, membelahnya menjadi dua bagian dengan kilijinya yang luar biasa tajam. Lalu ia menyerang kobold kedua dan memenggalnya.
Kobold terakhir, si kobold betina menerkam Robert lebih cepat daripada yang jantan, membenamkan taring-taringnya di dada Robert dan menyadari kalau taring-taringnya hanya terbenam di rompi kulit Robert yang tebal dan hanya sedikit menyerempet dada Robert. Robert melihat kesempatan ini dan menusukkan pedang kilijinya ke perut kobold betina itu, membunuhnya seketika. Lalu dia mendorong kobold mati itu jauh darinya dan menepuk-nepuk rompinya, seakan berterima kasih pada orang yang menjual rompi berkualitas baik ini padanya.
Lalu tak ada lagi yang datang ke dalam jalur sempit itu, jadi Robert berkesimpulan A’bong pasti sudah membaca taktik ini pula. Dan suasana makin terang di dalam karena obor-obor sudah dinyalakan lagi. Waktu main-main selesai, pikir Robert. Sekaranglah saat penentuan antara seorang manusia, satu orc dan dua kobold. Robert mengeluarkan obat penyembuh dan meminum seluruh isi botol obat itu. Pendarahan di luka-lukanya berhenti, dan luka-lukanya itu mulai memasuki proses penyembuhan. Lalu dengan berani dia berjalan menuju bagian gua yang luas lagi sambil memegangi lengan kirinya yang masih terluka.
Seharusnya aku juga membawa salep luka, pikir Robert.
Suara kasar mengejek menyambut Robert saat dia keluar dari jalur sempit itu.
‘Wah, wah, akhirnya si tikus keluar juga. Nekad juga kamu.
Apa kamu merasa di atas angin setelah membunuh keenam anak buahku, hah?’
Robert menatap A’bong yang berdiri di kejauhan, yang menatapnya balik dengan pandangan mengejek. Robert menghampirinya.
‘Gharh, ternyata tak setangguh yang kukira. Kau masih terluka oleh anjing-anjingku itu. Kalian berdua menjauhlah! Ini pertarungan antar dua pendekar. Ayo, coba kalahkan aku! Kerahkan semua jurusmu!’
Kedua kobold itu mundur saat Robert tiba tepat di depan A’bong. Sebenarnya A’bong meremehkan Robert karena lawannya itu sudah terluka di tangan dan di beberapa bagian tubuhnya. Dan A’bong mengira darah yang mengguyur Robert itu adalah darah Robert sendiri, jadi Robert pasti sedang sekarat dan A’bong tinggal menghabisinya dengan mudah.
Robert berkata, ‘Kau tahu apa masalahmu?’
Dan menjawab pertanyaannya sendiri. ‘Kau terlalu banyak bicara!’
Tanpa peringatan, Robert menyerang A’bong dengan kilijinya. A’bong terkejut dengan gerak cepat Robert yang tidak mungkin bisa dilakukan orang yang sekarat. A’bong kewalahan pada awalnya, tapi dia berhasil menangkal serangan-serangan Robert dengan kapak besarnya. Lalu Robert meningkatkan kekuatan dan kecepatan serangannya. Pendekar biasanya mempunyai kecepatan dan kekuatan yang seimbang, dan daya tahan tubuhnya cukup tinggi untuk menahan luka berat sebelum menggunakan obat penyembuh luka.
Robert melancarkan jurusnya, Sabetan Tenaga Inti dan berhasil melukai A’bong cukup dalam, tapi A’bong mempertontonkan ketangguhan orc yang melebihi manusia dengan menyerang balik Robert, menyabetkan kapak besarnya. Andai Robert menurunkan kecepatannya sedikit saja, dia pasti akan terbelah dua dengan jurus bacokan tunggal kapak yang sederhana, Pembelah Darat dan Laut milik A’bong. Robert melangkah menjauh, sedikit terguncang oleh efek bacokan A’bong. Lalu dia mengkonsentrasikan tenaganya lagi dengan cepat dan mengerahkan jurus Serangan Pedang Sepuluh Penjuru, sepuluh kali sabetan pedang ke sepuluh kemungkinan titik lemah lawan dengan kecepatan dewa. Sebuah serangan kombinasi yang sangat mematikan. A’bong tak bisa mengimbangi kecepatan Robert. Dia terluka di tujuh titik dan hanya bisa menangkis dan menghindari tiga sabetan. Darah menyembur keluar dari luka-lukanya, dan A’bong jatuh berlutut di tanah.
Tapi saat Robert akan melancarkan serangan mematikan pada A’bong, kedua kobold menerjang dari depan dan kiri Robert untuk menyelamatkan tuan mereka. Si kobold besar mencekal kaki kiri Robert dan menggerogot bagian kiri tubuh Robert yang dilindungi rompi kulit. Pada saat bersamaan kobold betina mencekal pedang Robert dan menendang tepat di pipi Robert. Tendangan itu membuat Robert terpelanting ke belakang, dan kini dia sama sekali tak berdaya, terkapar di tanah, dan dicekal lagi oleh kedua kobold itu. Ada sedikit penyesalan dalam diri Robert: andai saja dia mengikuti nasihat Hulferd untuk membentuk kelompok. Sikap Robert yang keras kepala itulah yang akan mendatangkan ajal baginya. Dan sekali lagi Robert mengalami perasaan yang paling dibencinya: rasa takut, saat A’bong bangkit kembali dengan seringai penuh nafsu membunuh di wajahnya. Lalu Orc berambut kepang tiga itu mengangkat kapaknya tinggi-tinggi, siap mendaratkan jurus bacokan Pembelah Darat dan Laut untuk membelah Robert menjadi dua bagian.
‘Matilah kau! Biarlah anjing-anjingku menggerogoti perutmu!’
Dalam keadaan amat kritis itu seberkas bayangan wajah wanita cantik muncul di benak Robert. ‘Melihat’ wajah itu, langsung saja tekad Robert kembali membara. Pikirannya kembali jernih...
TIDAAAK! Aku tak boleh mati sekarang!
Dan ia berteriak, ‘YAAAAAAAHHHH!!!!’
Bacokan itu turun. Kilatan penuh semangat seakan terpancar dari mata Robert, dan dalam waktu sepersekian detik, dengan sisa tenaganya dia berguling ke kanan, menarik si kobold besar ke arah gulingannya dengan tangan kirinya yang tidak dicekal. Itu menyebabkan bacokan A’bong malah membelah dua si kobold besar itu. Jadi kini si kobold-lah yang menjadi perisai yang menyelamatkan Robert. Si kobold betina jadi terkejut dan cekalannya pada Robert mengendur. Robert memanfaatkan kesempatan ini. Dengan cepat dia bangun dan menusukkan pedang kiliji yang masih dipegangnya pada tenggorokan orc berkepang tiga itu. Itulah bagian yang tidak dilindungi oleh kulit yang tebal dan merupakan titik lemah yang umum terdapat pada setiap orc. A’bong memuntahkan banyak darah dan dia tewas dengan mata terbelalak seakan tidak percaya bahwa dia dikalahkan oleh lawan yang sudah tak berdaya. Pikiran terakhirnya, Mustahil! bahkan tidak sempat dikatakannya.
Robert mencabut pedangnya dari tenggorokan A’bong, dan mayat orc itu tumbang di tanah. Si kobold betina melolong sekeras-kerasnya, meradang karena ditinggal mati tuan dan teman-temannya. Robert sudah jelas-jelas kehabisan tenaga fisik, tetapi kini ada tenaga baru yang terbangkitkan, tumbuh dan meluap-luap dalam dirinya. Itu adalah api, unsur energi inti tenaga dalam Robert. Tenaga dalam itu terbangkitkan saat Robert mengelak dari bacokan A’bong yang terakhir dan kini menjalar lewat tangannya lalu melingkupi kilijinya. Mulai saat ini, Robert dapat mendayagunakan energi api yang memperkuat ilmu pedangnya.
Si kobold betina menggerenyit ketakutan melihat pameran kekuatan baru Robert. Robert menjadi lebih kuat dan lebih mematikan daripada A’bong mulai sekarang sampai kapanpun. Naluri binatang si kobold menggantikan keberaniannya, dan dia lari. Tapi kini Robert sudah bertekad untuk menuntaskan perburuannya dan menyalurkan kelebihan energi pada dirinya. Si pemburu menyabetkan pedangnya secara mendatar dari jauh. Tiba-tiba seberkas cahaya api berbentuk bulan sabit muncul dari lintasan sabetan itu dan meluncur dengan kecepatan tinggi menuju kobold itu. Kobold betina itu merasakan angin panas berdesir dari belakangnya dan spontan menengok ke belakang. Dan ia melepaskan lolongan kematian saat berkas api berbentuk bulan sabit itu membelah tubuhnya menjadi dua bagian lalu membakar habis kedua bagian itu.
Jurus yang dikerahkan Robert tadi adalah salah satu jurus pedang yang biasanya memanfaatkan lapisan udara untuk membelah sesuatu dari jauh, yaitu Sayap Naga Pembelah Angin. Kini dengan tambahan energi api jurus itu disempurnakan menjadi Peluru Sabit Api Naga. Robert dan Hulferd mampu meluncurkan berkas energi yang luar biasa tajam ini dari jauh berkali-kali dalam satu waktu, tapi untuk menuntaskan misi ini satu kali saja cukup.
Menyadari bahwa misinya sudah tuntas, Robert menghembuskan nafas lega. Air mata mulai jatuh dari matanya, seakan-akan dia sedih dan kecewa. Tapi alasan sebenarnya berbeda, dan ekspresi wajah Robert tetap terkesan acuh. Orang mungkin mengira ini hanyalah rutinitas harian bagi Robert, rutinitas yang sepele.
Satu misi lagi selesai dengan baik.
Namun sebelum Robert bisa bergerak untuk memancung buruannya atau mengumpulkan bukti-bukti dari hasil kerjanya, kondisinya yang kehabisan tenaga, luka di sekujur tubuhnya, dan kehilangan banyak darah membuatnya terhuyung-huyung, goyah, lalu tumbang ke tanah, tak sadarkan diri. Kondisinya kritis. Dan kadangkala, saat seseorang mengalami kondisi seperti itu, bayangan-bayangan masa lalu dari seluruh hidupnya mungkin datang padanya...

Bab Satu Selesai

Your rating: None Average: 7.4 (5 votes)
dikirim vadis 38 minggu 5 hari yang lalu
Tag: