Saya harap, teman-teman mau memberi komentar, saran, bahkan kritik untuk lebih memperhalus adegan dalam cerita ini, sehingga membuat tragedi yang dipaparkan di dalamnya bisa diresap hingga relung hati paling dalam. Terima kasih.
Penting: Teman-teman boleh menyalin cerita ini ke media simpan lokal. Penggandaan diizinkan selama dalam bentuk digital, tidak menghilangkan sumber atau penulis asli, dan tidak untuk melanggar norma dan peraturan yang berlaku, dan bukan untuk tujan komersial. Jangan mencetak cerita ini ke atas kertas! Pohon sudah banyak yang ditebang untuk itu.
Satu jam lalu....
“Deg!”
“Deg..., deg...!”
“Deg..., deg...!”
“Deg..., deg...!”
Semua seakan melambat. Jo menahan napas, dan akhirnya menghela setelah nyaris mati tercekik. Kabar dari ponsel yang ia angkat seperti menutup kupingnya untuk mendengar riuh bising di sekitar. Mobil-mobil lalu lalang, orang-orang berbincang. Jo hanya terfokus pada suara di ponsel itu, serta degup jantungnya sendiri.
“Ka..., kau bercanda, kan, Anes?” Jo tergagap. Suara gadis di ponsel menyambut terisak.
“A..., aku serius, Jo. E..., Elena. Dia.... Aku sudah beberapa kali menyentuhnya, tapi sama sekali Elena tidak bergerak! Aku takut.... Aku takut Elena sudah....”
“Jangan bicara macam-macam, Anes!” Jo sedikit memekik. Orang-orang menoleh, tapi tak begitu lama. Di ujung telepon, Anes tersandar di pojok kamar. Air matanya mengalir deras bagai hujan. Tubuhnya dingin dengan bibir merah pudar.
“Maaf....” Jo kembali berucap. Kali ini sedikit lembut. “Aku ingin kau tenangkan dirimu di sana. Jangan bertindak bodoh, jangan pergi ke mana pun. Aku dan Jack akan segera menjemputmu.”
“I..., iya.... Aku menunggu kalian....” Anes masih terisak. Ponsel ditutup dan kepalanya hanya bisa tersandar di tembok. Rambut hitamnya yang sebahu, tergerai tak teratur.
“Elena....”
Setengah jam lalu....
Pria itu berpenampilan rapi. Bajunya putih bersih, dan ia berkacamata. Tak sampai lima menit setelah Elena ia bawa masuk ke sebuah ruangan, ia keluar. Ia menemui tiga mahasiswa yang telah menunggu dengan wajah cemas.
“Bagaimana hasilnya, Pak?” Jo beranjak dari kursi di koridor. Ia meninggalkan Anes yang masih terlihat shock. Wajah gadis itu semakin memutih. Jack yang mengantar mereka dengan mobil pinjaman – karena ia bekerja di bengkel – terlihat memberikan pundaknya untuk bersandar.
Pria itu melepas kacamata, memijit batang hidungnya, lalu mengenakan kacamata kembali. Untuk tiga detik kemudian, ia hanya menatap wajah Jo.
“Ini adalah virus dari varian Papiloma. Saya tidak tahu bagaimana bisa menjangkiti kalian, tetapi cukup untuk membuktikan desas-desus minggu ini. Virus tersebut menyebar dengan sangat cepat. Kami bisa saja menanganinya. Tetapi karena penyebarannya yang begitu cepat, daya tampung kami telah penuh. Sama sekali tidak ada tempat. Kami mohon maaf.”
Jo berputar. Anes telah menutup wajahnya dengan kedua tangan. Jack berusaha meredam getaran pundaknya.
“Kami harus bagaimana? Minggu-minggu ini sepertinya tidak akan mungkin tanpa Elena.” Jo merasai keningnya naik panas.
Pria rapi itu memegang pundak Jo. “Saya tahu bagaimana beratnya ini, terutama bagi mahasiswa seperti kalian.”
Tiba-tiba, ia merogoh saku dan menyodorkan secarik kertas.
“Lebih baik, saya merujuk kalian kemari. Dia kenalan saya. Baru buka praktek. Mungkin, masih sedikit orang yang datang.”
Itu sebuah kartu nama. Segera berpindah ke tangan Jo.
“Saya harap, ia bisa membantu kalian.”
Sekarang....
Tiga kursi tamu di ruang yang masih rapi, dengan ubin masih mengkilap itu, telah terisi. Jo menduduki yang paling kiri, sementara Jack berada di paling kanan. Jemari Anes yang dingin, Jo genggam erat-erat. Jack juga masih setia meminjamkan bahunya untuk bertopang.
Di depan mereka, seorang laki-laki paruh baya mengutak-atik sebuah laptop. Cukup tiga menit, lalu ia berhenti. Ia berputar pada Jo, melirik Anes, dan sekilas pada Jack. Ia tertunduk sebentar, dan segera mengembalikan arah matanya ketika Jo bertanya.
“Bagaimana...?”
Pria tersebut seperti menarik napas panjang. Ia menghela dan disusul berkata, “Saya terpaksa mengatakan ini. Kita terlambat. Virus Papiloma telah menyebar cukup parah. Kalian bisa melihatnya sendiri. Tidak ada respon.”
Anes tiba-tiba menarik jemarinya dan berputar meninggalkan kursi. Tenaganya seakan pulih dan kakinya melangkah meninggalkan ruangan dengan cepat.
“Giliranmu...!” bisik Jack.
Jo pun beranjak. Langkahnya sedikit pelan dibanding Anes yang terlihat terburu. Gadis yang ia susul telah duduk di kursi panjang di koridor.
“Ini salahku...!” Anes tak sanggup menampakkan matanya yang merah, dan pipinya yang basah. Tubuhnya membungkuk di kursi.
“Itu tidak benar....”
“Jika bukan karena aku, virus itu tidak akan menjangkiti Elena! Aku..., aku..., seharusnya aku mendengarkan kata-kata Bang Yusuf!”
Jo mendekati Anes. Ia duduk di sampingnya, merogoh saku dan menyodorkan tisu.
“Aku belum pernah berurusan dengan seorang gadis yang menangis. Jadi, maafkan aku jika tidak semahir Jack.”
Bukannya mengambil tisu yang disodor Jo, Anes malah merangkul Jo. Tak sungkan bagi Anes, karena kedua pemuda yang selalu menemaninya itu, telah dianggap saudara olehnya, bahkan melebihi saudara kandung yang selama ini tidak peduli akan masalah-masalah yang ia hadapi.
“Maafkan aku! Semester ini..., semester ini....”
Di dalam ruangan....
“Jadi, bagaimana, Pak?” Jack sempat berputar sebelum bertanya. Ia takut Jo tidak bisa mengatasi Anes. “Saya yakin, teman saya sempat mengerjakan beberapa tugas sebelum virus itu beraksi. Masih bisa diselamatkan?”
“Alhamdulillah, data masih bisa selamat. Namun, sistem operasinya benar-benar kacau. Kami bisa mengganti sistem operasi notebook kalian yang sekarang. Karena masalah lisensi dan saya lihat kalian hanya mahasiswa biasa, mungkin akan diganti dengan Linux. Mandriva atau Ubuntu.”
dikirim dirgita 32 minggu 1 hari yang laluTag:












