sedang mencoba2 membuat cerita horror nih...^^,
"Reyna terus berlari tanpa henti. Mukanya ketakutan dan panik. Sesekali dia menoleh ke belakang dan mengharapkan sesuatu tak muncul. Napasnya mulai habis, langkahnya mulai melambat. Tapi dia harus terus berlari hingga...
“KYAAAAA!!!” teriak Reyna begitu sesuatu yang diharapkannya tidak muncul malah melompat ke hadapannya.
***
SMA 2 terlihat ramai dengan sebuah gosip menghilangnya seorang siswi. Tak luput juga anak-anak kelas sebelas ipa dua. Di sudut kelas, empat cewek terlihat terus membicarakan soal gosip itu.
“Eh, masa sih beneran diambil setan?” tanya Kikan yang gak percaya hantu.
Diva menoleh ke Kikan, “Beneran kali, Kan...,” sahut Diva sambil mencubit pipi chubby sahabatnya itu.
“Eh, Kan, tu tempat yang didatengi tu cewek asli angker!” ujar Nerra si tukang bigos semangat 45.
“Masalahnya, buat apa gitu tu cewek ke situ?” tanya Kikan yang masih gak ngerti.
“Lo tau kaleee...kalau tu cewek anak klub misteri, yang hobi banget menguak hal-hal misteri...,” celoteh Gwen yang bawel itu, “dan katanya sih, hantu yang ada di sana tuh...,” Gwen menggantungkan kata-katanya.
Nerra, Diva dan Kikan langsung penasaran berat. Tiba-tiba, “KYAAAA!!!” sebuah teriakan mengejutkan keempat cewek itu, Kikan dan Gwen langsung menuju sumber suara itu.
***
Ternyata ditemukan seorang cewek dalam kondisi gila di toilet perempuan. Orang itu terlihat lusuh dengan baju yang basah dan kotor seperti tercebur ke kubangan dan rambut yang berantakan.
“Reyna? Yang hilang itu?” tanya Nerra dan Diva kaget.
Gwen dan Kikan yang baru saja dari toilet cewek langsung mengangguk-angguk. “Sekarang gue percaya deh...,” ucap Kikan dengan ketakutan.
“Kok bisa?” tanya Diva gak percaya.
“Kita juga gak tau...,” jawab Gwen sambil duduk. Mukanya masih shock melihat apa yang tadi dilihatnya. “Gila, tu cewek bener-bener...! Gila tau gak! Tiba-tiba aja teriak-teriak,” jelas Gwen sambil membelalak.
“Pak Anton aja, kena gigit di tangannya, gara-gara mau bangunin tu cewek yang duduk...,” tambah Kikan yang sama ketakutan.
Nerra dan Diva saling bertatapan, “Aneh...”
***
Akhirnya, cewek bernama Reyna itu dilarikan ke rumah sakit. Di sana dia terus meronta-ronta dan matanya terlihat ketakutan. Hingga akhirnya, dokter memutuskan untuk membiusnya.
“Kira-kira cewek itu kenapa ya?” ucap Ruben pada Kikan yang berdiri di sebelahnya. Dua orang itu tengah mengantar Fian yang merupakan saudara si cewek bernama Reyna itu. Ruben langsung terduduk di bangkunya dan menghela napas panjang.
“Lo percaya, dia habis diculik setan?” tanya Kikan sambil ikut duduk.
Ruben mengangkat bahunya, “Enggak tau. Kalau bilang enggak, takutnya takabur. Kalau iya, agak aneh aja...gak masuk akal!” ujar Ruben sambil menoleh ke Kikan, “Lo percaya?”
Kikan ikut mengangkat bahu, “Percaya-percaya aja sih...”
Datang Fian, cowok itu terlihat kelelahan. “Reyna gila! Capek gue...,” ujar Fian menggerutu. Cowok itu pun menghempaskan tubuhnya di kursi.
“Gimana keadaannya?” tanya Kikan penasaran.
“Dokternya kena cakaran dia yang tiba-tiba nyeremin itu..., bener-bener gak terkendali,” jawab Fian sambil menerawang.
“Apa dia gak kesurupan tuh?” tanya Ruben tiba-tiba. Fian hanya mengangkat bahunya.
***
Seminggu kemudian, di upacara sekolah. Suasana yang biasanya ramai malah menjadi hening. Apalagi ketika kepala sekolah terus menundukkan kepalanya di depan para murid.
“Gue masih gak percaya deh...,” bisik Nerra pada ketiga sahabatnya.
“Emang ada apa?” tanya Kikan gak mengerti.
“Dengerin aja, nanti juga lo tau kalau pak kepsek udah bicara...,” celetuk Diva sambil menyuruh teman-temannya diam.
Pak Kepala sekolah akhirnya mendongakkan kepalanya, “Saat ini sekolah kita sedang berduka...Salah satu teman kalian, Andrian Fardiansyah telah meninggal pada hari Minggu kemarin,” ucapan pak kepsek jelas membelalakan mata Kikan.
“Ketua klub misteri itu???” pekik Kikan pelan gak percaya. Gwen dan Diva langsung membungkam mulut Kikan yang nyaris berceloteh lebih keras lagi.
“Saat ini pun sekolah dan berbagai pihak sedang mencari ketiga teman kalian, Hana, Gita dan Sony yang menghilang bersama dengan Andrian...,” lanjut pak kepsek benar-benar membuat semua anak di satu sekolah bertanya-tanya.
***
“Untung gue gak jadi deh masuk klub misteri...,” celetuk Diva sambil bergidik ngeri. Nerra, Gwen dan Kikan langsung menoleh ke Diva. “Waktu kelas satu kemarin, gue punya niat masuk tu klub...”
“Bukannya lo takut banget ama gituan?” ledek Kikan sambil tersenyum nakal.
Diva langsung menelan ludah, “Emang sih...,” ujar Diva.
“Kabarnya, mereka penasaran ya kenapa Reyna bisa gitu...Makanya mereka cari tau...,” ucap Gwen sambil bertopang dagu.
“Gue rasa udah kayak film horror nih...Kenapa Reyna sendirian ke tempat itu, kemana Andrian dan kawan-kawan???” Kikan terlihat bingung.
“Sebenernya udah dijadwalkan kalau mereka mau cabut ke tempat itu sabtu kemarin, tapi...lo tau kali Reyna serba ingin tahu itu..., pengen menang sendiri! Pengen menguak sendirian! Jadi deh...GILA!” ucap Nerra panjang lebar. “Ups, Fian gak ada kan?” Nerra langsung mencari sosok Fian yang merupakan sepupu Reyna.
Muncul Ruben, “Gawat nih! Gawat!” tiba-tiba Ruben terlihat panik.
“Ada apa, Ben?” tanya Diva heran.
Ruben mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan itu, “Gini...,” Ruben mendudukan dirinya dahulu di samping Kikan, “Reyna hilang!”
“Hilang?” tanya Diva gak ngerti.
“Dia kabur dari rumah sakit! Padahal kan kemarin dia koma, tapi tiba-tiba tadi pagi hilang!” jawab Ruben panik berat. Gwen dan Nerra saling bertatapan. “Gue tau dari Fian, sekarang tu cowok lagi nyari si Reyna...”
***
Malam harinya, akhirnya Fian memutuskan untuk berhenti mencari Reyna dan membiarkan orang tuanya saja yang meneruskan pencarian saudaranya itu. Fian pun melangkah pulang dengan lunglai. Sesampai di rumahnya. GEDUBRAK! Tubuhnya langsung diserang sesuatu.
“AAAAAAA!!!” teriak Fian kaget. Tapi sesuatu itu balik menyerangnya. Akhirnya Fian mengeluarkan jurus ampuhnya, yaitu menendang sosok itu. Akhirnya sosok itu tersungkur. Fian buru-buru bangkit dan gilirannya yang menyerang sosok itu.
“FIAN!” teriak sosok itu kesal.
“Lo ngapain disini?!” Fian pun gak kalah kaget, ternyata Ruben yang menyerangnya. “Gue kira cewek mau perkosa gue, ternyata...,” dia menatap Ruben dengan BT.
“Brengsek lo! Sakit banget nih...,” gerutu Ruben sambil memegang pinggangnya yang kena tendang Fian.
“Ya elo, ngapain masuk ke rumah gue...?! Kok bisa sih?!” sewot Fian yang kecapekan, cowok itu langsung merebahkan dirinya di sofa.
Ruben pun duduk di sofa sampingnya, “Tadi gue ke sini pas nyokap lo masih ada. Sekarang sih udah pergi ke rumah sakit...,” ujar Ruben sambil mengambil setoples kue di meja sampingnya.
KRESEK! KRESEK! Tiba-tiba terdengar suara ribut dari halaman belakang. Ruben dan Fian langsung saling berpandangan. KRESEK! KRESEK! Suara itu terdengar lagi.
“Lo punya kucing, Fi?” tanya Ruben sambil terus mengunyah kuenya.
Fian mendudukan dirinya dan merapatkan duduknya dengan Ruben, “Enggak, Ben...itu suara apaan?” Fian terlihat ketakutan.
Tiba-tiba terdengar suara pintu belakang terbuka. Fian memeluk Ruben karena ketakutan. Keduanya memucat. Hingga, “KYAAAAA!!!” terdengar teriakan seorang cewek. Fian dan Ruben langsung berlari menuju sumber suara.
***
Keesokan harinya, ketika Kikan tengah terlelap. TOK! TOK! Terdengar ketukan dari jendela. Tapi Kikan tetap terlelap. TOK! TOK! Terdengar ketukan lagi. Tapi sekali lagi, Kikan tak peduli. DUG! DUG! Sesuatu lebih besar mengetuk jendela kamarnya akhirnya membuat Kikan terbangun.
“Berisik banget sih!” sewotnya sambil membuka jendela dan, “KYAAAA!!!” teriak Kikan melihat sosok dua manusia di jendela.
“Cepetan bangun lo!” ujar Fian yang ternyata muncul di jendela itu bersama Ruben.
“Gue udah bangun kali! Kalian ngapain sih, ganggu aja! Sekolah kan masih tiga jam lagi...,” ucap Kikan sambil melihat jamnya yang masih menunjukkan pukul 4 pagi.
“Lo harus ikut kita berdua ke gedung sekolah kita yang lama...,” suruh Ruben galak.
“Di mana...?” tanya Kikan sambil menguap lebar. “Kenapa mesti sepagi ini...?”
“Cepetan deh!” bentak Ruben pelan.
Kikan mengangguk, “Iya, iya...,” Kikan pun menutup kembali jendelanya dan merebahkan lagi tubuhnya.
“KIKAN CEPEEET!” teriak Ruben pelan. Kikan pun terbangun dan menuju kamar mandi.
***
Ternyata tidak hanya Kikan yang diajak Ruben dan Fian, tapi ada Nerra, Gwen, Diva, Lucky dan Arman. Semuanya sekelas. Akhirnya Ruben dan Fian melajukan mobilnya ke pinggiran kota dan di sebuah gedung tua mereka berhenti.
“Ini tempat apaan?” tanya Kikan sambil mengunyah cemilannya untuk mengurangi rasa lapar.
“Ini tempat yang didatengi anak-anak klub misteri...,” ucap Fian sambil memasukan batere senternya.
Kikan langsung tersedak, “Uhuk! Uhuk! Apa? Tempat ini? Uhuk! Uhuk!” tanya Kikan gak percaya.
“Kalian gila ya...nanti kalau kita mati atau gila atau hilang gimana!” ujar Gwen sambil memberi Kikan minum.
“Gue disuruh Reyna tau!” ucap Fian sambil menepuk-nepuk senternya yang mogok nyala. “Sebelum dia mati...”
“HAH?!” teriak Diva dan Lucky berbarengan.
“Dia sebenernya kerasukan, dan dia mengancam kalau gak dipulangin...,” Ruben menggantungkan kata-katanya. Dia memandangi teman-temannya. “Sekolah kita bakal dikutuk...”
Terdengar suara menelan ludah dari Arman. “Dikutuk, Ben?” tanya Arman gak percaya.
“Tunggu! Tunggu! Sebelumnya, emang Reyna tuh kerasukan roh apaan?” tanya Lucky masih bingung.
“Mungkin salah satu penunggu gedung ini..., ini kan gedung sekolah kita yang lama...,” ujar Fian sambil memandangi gedung itu.
Diva terdiam, “Sekolah kita...,” gumamnya.
“Yang katanya...terjadi pembunuhan massal itu?!” sahut Gwen gak percaya. “Emang beneran terjadi ya...?”
“Beneran, Gwen...,” ucap Nerra sambil memandangi gedung itu ketakutan, “Kita mau masuk ke sini?”
Fian mengangguk, “Gak ada pilihan lain...Demi sekolah kita...”
“Gue sih bersyukur aja tuh sekolah diberhentiin,” celetuk Kikan sambil melihat jam di HP-nya, pukul setengah lima. Semua mata langsung memandangnya. “Kenapa?”
“Lo tuh rese ya...Lo mau dikutuk juga?!” bentak Fian kesal.
“Ya enggak..., ya udah, kita masuk deh! Gue sih gak percaya kayak gituan!” ujar Kikan BT dan langsung keluar. Hawa dingin langsung menusuknya.
Akhirnya semuanya pun keluar dari mobil itu.
***
Perlahan pintu gerbang sekolah itu dibuka. Dengan Fian dan Ruben di depan, semuanya memasuki wilayah sekolah itu. Sesekali Nerra menatap sekeliling, cewek yang cukup peka dengan dunia lain itu terlihat ketakutan. Gwen dan Diva sejak tadi terus saling pegangan. Sedangkan Lucky dan Arman asyik bergaya bak pemain film horror, mereka asyik menyorot senter ke segala arah. Kalau Kikan dia tengah memperhatikan HP-nya dengan heran.
Begitu melangkahkan kaki ke gedung sekolah itu, bulu kuduk langsung berdiri. Kedelapan orang itu merasakan hal yang aneh. Apalagi Nerra yang terus menggenggam erat baju Kikan. Dia terus ketakutan setiap melihat ke segala arah.
“Ra, lo gak apa-apa?” tanya Kikan cemas. Dia tahu bahwa Nerra memang peka. “Kalau lo gak kuat, lo pulang aja...Biar gue anterin...,” ujar Kikan khawatir terhadap sahabatnya itu.
Nerra menggeleng, “Gak apa-apa kok, Kan...Cuma kerasa aja, banyak arwah yang gak tenang dan penuh dendam di sini...,” ucap Nerra yang akhirnya memeluk lengan Kikan.
“Wajarlah, namanya juga sekolah. Walau di depannya bahagia, tapi sebenernya satu sama lain saling benci...,” ujar Kikan sambil menyalakan senter setelah menaruh kameranya di tas.
“KYAAA!!!” tiba-tiba Gwen berteriak. Hal itu jelas membuat yang lain terkejut.
“Kenapa Gwen?” tanya Fian kaget.
“Ada laba-laba...,” ucapan Gwen langsung dicuekin oleh teman-temannya. “Iih, kan nyeremin...”
“Gak penting deh!” celetuk Arman sambil terus menyorot senternya, “Gue lagi serasa main di film JELANGKUNG!” Arman menekan kata Jelangkungnya. “Jangan-jangan nih, bentar lagi bakalan ada...”
Diva mencubit Arman kesal, “Bisa gak sih gak ngomong hal yang bikin bulu kuduk berdiri!” sewot Diva sambil terus berjalan. Arman langsung tertawa.
“Gak lucu tau!” bentak Lucky sambil berjalan. Akhirnya Arman ada di posisi paling belakang.
“Eh, guys, gue bercanda kali...,” ujar Arman sambil menyusul. Tapi entah kenapa tiba-tiba langkahnya terhenti. Hawa dingin semakin menyelimuti, Arman mengeratkan jaketnya. Terasa suatu tiupan angin di lehernya hingga bulu kuduknya berdiri. Arman tak mampu bergerak, dia merasakan sesuatu di belakangnya.
Nerra dan Kikan menyadari keanehan Arman. Apalagi Nerra yang tau ada apa di belakang Arman. “Aaah...,” Nerra bingung mau bicara apa.
Kikan mendekati Arman dan menarik cowok itu, “Kalau keadaannya gak enak, jangan diem aja!” ucap Kikan panik.
***
Akhirnya Fian dan kawan-kawan beristirahat di tengah lapangan. Fian langsung meneguk minumannya.
Gwen terlihat gak bisa diam. “Lo kenapa, Gwen?” tanya Diva sambil menatap aneh Gwen.
“Gue pengen pipis nih...,” ujar Gwen sambil berjinjit-jinjit.
“Ya udah, ke kamar mandi sana!” suruh Diva sambil mengambil cemilan Arman.
“Temenin...Gue takut nih...,” pelas Gwen sambil menggigit bibirnya.
“Sama gue aja yuk!” ajak Kikan sambil melepaskan diri dari pegangan Nerra. Akhirnya Nerra langsung mendekati Arman.
***
Di kamar mandi, Gwen sedang menghuni salah satu toilet. “Kikan...jangan tinggalin gue ya...,” teriak Gwen dari dalam kamar mandi.
“Iya...makanya cepetan!” teriak Kikan sambil menatap takut sekitar kamar mandi.
Gwen akhirnya kembali memakai celananya dan menghela napas lega. Tapi ketika hendak membuka pintu, kenopnya macet. “Kikan...bukain...,” ucap Gwen panik sambil menggedor-gedor pintu dari dalam.
“Bentar, gue bukain!” Kikan langsung mendekati kamar mandi Gwen dan membuka pintu itu. Tapi didapatinya toilet yang kosong, Gwen hilang.
***
To Be Continued,,,
dikirim vthree 38 minggu 3 hari yang laluTag:








