Read more (1902 words) “Francesco Toscalli sudah mati” Fillippo Strano berkata dingin sambil melepas kacamata hitamnya dan memperlihatkan mata gelapnya yang tajam.
Sang ayah yang duduk di depannya hanya mengangguk singkat kepada anak laki-laki keempatnya itu. “Kerja bagus, Pippo”
Pippo mengangguk pelan. “Aku permisi dulu, ada kelas” Pippo undur diri sambil memakai kacamatanya lagi. Dua orang bodyguard berbadan besar mengikutinya demgan setia dari belakang.
Sebuah Porsche abu-abu metalik keluar dari gerbang kediaman keluarga Strano di Spurious Squid dan meluncur menjauh dari rumah super besar itu. Setelah satu jam perjalanan, mereka tiba di Rifle Academy at New York. Pippo dan kedua bodyguardnya masuk ke dalam gedung akademi bisnis elite tersebut.
Sebagai anak keempat dari salah satu keluarga mafia judi Italia terbesar di Amerika Serikat, kehidupan Pippo sudah sampai pada tahap sakit kepala. Dua hari yang lalu, pemuda ini baru saja berulang tahun ke-20. Pencapaian terbesarnya sehingga sampai pada usia 20 ini adalah: Diterima di Rifle Academy, menyingkirkan tujuh belas anak buah Damiano Toscalli yang merupakan saingan keluarganya, tidak sekalipun menyentuh obat bius, mempertahankan keperjakaan dan mengelola salah satu casino besar Strano di Las Vegas dengan sukses.
Beberapa jam kemudian, Pippo dan kedua bodyguardnya keluar dari Rifle dan masuk ke dalam mobil. Kendaraan mahal itu pun meluncur dengan tersendat-sendat di sepanjang jalan. Kemacetan di New York City sudah menjadi pemandangan sehari-hari pemuda berambut cokelat emas ini. Diantara kelima anak laki-laki Bartolomeo Strano, hanya Pippo lah yang memiliki skill ganda. Dia adalah seorang Executor dan Manager, ketepatan menembaknya setara dengan ketepatan analisis bisnisnya, dan ketajaman otaknya setara dengan ketajaman pisaunya. Pemuda ini seorang pembunuh cerdas.
Sudah setengah jam Porsche abu-abu metalik itu terjebak di tengah-tengah kemacetan. Pippo menghela napas panjang sambil menutup buku “ How to beat your Rival”nya. Ia tampak bosan dan megharapkan agar mobil segera berjalan, tetapi macet tetap saja macet. Pippo menoleh ke arah jendela sebelah kiri dan melihat sebuah kios kepiting rebus dengan tulisan “KEPITING REBUS NYC” berwarna Pink besar-besar di sebuah papan yang bertengger diatas kios kecil tersebut.
Pippo mendekatkan wajahnya ke jendela dan membuat Roberto, salah satu bodyguardnya yang selalu duduk di dekat jendela sebelah kiri kebingungan melihat tingkah laku tuan mudanya ini. “Tuan mau makan kepiting rebus?”
Pippo tidak menjawab, ia menempelkan hidung mancungnya ke kaca jendela dan memperhatikan kios kepiting rebus itu tersebut lekat-lekat. Yang menarik perhatian pewaris kerajaan bisnis judi Las Vegas ini bukanlah kepiting rebusnya, tetapi seorang gadis yang duduk di belakang panci-panci besar berisi kepiting tersebut. Gadis itu tampak sibuk mengusir lalat yang dari tadi terbang bebas mengitari hidungnya. Mata gadis itu berwarna hijau seperti Emerald, dan rambut panjang ikalnya berwarna merah, bajunya dekil lusuh dan sudah pasti berbau kepiting.
“Sudah berapa lama kios ini berada disana?” tanya Pippo sambil terus menatap kios dan si gadis yang kini telah berhasil menghantam wajahnya sendiri dengan sendok besar pengaduk kepiting.
“Sudah lama sekali” Roberto menjawab bingung. “Ada apa memangnya, Tuan?”
Pippo tidak menjawab, ia membuka jendela dan memandang si gadis dan kios kepiting rebusnya. Si gadis yang sadar ada seorang penumpang mobil yang menatapnya, segera menghampiri Pippo.
Sang gadis tersenyum ke arah Pippo dengan manis sambil mengelap-elap tangan kirinya ke celemeknya yang berwarna cokelat kekuningan karena minyak dan lemak, sementara tangan kanannya memegang sepiring kepiting rebus yang masih mengepul karena panasnya. “Anda mau beli kepiting rebus, Tuan?”
Pippo menatap mata hijau gadis itu dalam-dalam dengan terpana, sementara bibirnya berucap lirih penuh kekaguman. “Saya mau beli anda..”
Dalam hitungan detik, lima kepiting rebus yang ada di tangan kanan gadis itu pindah ke wajah dan rambut Pippo. Si gadis menatap Pippo dengan gusar. “Memangnya anda kira saya ini pelacur Brooklyn?!” ia menatap Pippo manyun “ Sembarangan!” kemudian ia berbalik dengan kesal menuju kios kepiting rebusnya lagi.
88888
Pippo sedang jatuh cinta. Hal ini dapat dibuktikan dengan kedatangannya setiap hari ke kios kepiting rebus si gadis itu setelah ia meminta maaf kepada si gadis atas peristiwa tempo hari.
Gadis penjual kepiting rebus itu bernama Splash, dia tidak memiliki nama belakang. Sejak kecil ia hidup di jalanan, dan orang-orang memanggilnya Splash. “Fillippo?” Splash mengaduk-aduk ember berisi puluhan kepiting dan mengambil sebanyak yang ia bisa kemudian memasukannya ke dalam ember besar berisi air bersih. “Nama yang bagus, tetapi ganjil di lidahku, bagaimana kalau kau kupanggil Phil?”
“Anything for you, baby” sahut Pippo tanpa memalingkan wajahnya dari gerak-gerik Splash. Ia begitu tergila-gila kepada gadis polos ini.
“Kau kerja apa?” Splash memasukkan beberapa kepiting ke dalam panci, sementara Pippo duduk di sebuah bangku kayu di depan kios itu.
Pippo tampak salah tingkah. “Aku. …Eh…mahasiswa…”
“Oh.” Splash melirik Roberto dan Baggio yang sedang berdiri dengan tegapnya di depan Porsche Pippo. “Mereka itu siapa sih?”
“ Itu, eh..” Pippo menggaruk-garuk kepalanya. “Rekan kerja Part time ku..”
Tiba-tiba Roberto menjawab sebuah panggilan telepon dan bergegas menghampiri Pippo. “Tu…..” Roberto berhenti bicara ketika Pippo mendelik galak ke arahnya. “Maksud saya Pippo, kepala Francesco Toscalli sudah sampai di Spurious Squid..” Roberto berdehem pelan. “Tetapi potongan tubuhnya masih tertinggal di Hudson Harbour”
Splash melongo menatap Roberto dan Pippo bergantian, sebuah kepiting di tangannya jatuh ke bawah.” Kepala…?” Splash kebingungan. “ Eh…. potongan tubuh..?”
Pippo buru-buru berdiri dan berusaha menjelaskan. “Eh. Itu.. eh, kami bekerja di penjagalan sapi di Linton, tugas kami adalah mengantar potongan-potongan daging ke pasar-pasar terdekat..” Pippo mengangguk yakin. “Begitu...”
“Wow, hebat sekali!” Splash berdecak kagum. “Mengantar potongan daging sapi dengan mobil sebagus ini dan …” Splash melihat penampilan Pippo dan Roberto yang berjas hitam. “Wow, lihatlah penampilan kalian..”
“Err…” Pippo menggigit bibirnya. “Bagi kami, penampilan memberikan kesan yang baik bagi para pelanggan…, eh.. ya.. begitu”
Splash tersenyum manis. “Baik sekali..” tetapi tiba-tiba Splash terdiam dan menatap Pippo curiga. “Siapa Francesco Toscalli?”
“Eh!” Pippo melotot kaget, kemudian ia menjawab spontan “Nama Sapi Italia tergemuk kami, dari jenis terbaik” Pippo nyengir lebar. “Bibit unggul”
88888
“Splash..” Pippo membelai rambut panjang Splash smentara gadis itu nyengir lebar di bahunya sambil menggigit sepotong sandwich kepiting. “I love you..”
“I love you too” Splash menatap Pippo dengan matanya yang bulat dan hijau. “Sangaaaattt… love you!”
“Besok kan ulang tahunmu, Mia Amore”
“Yep!”
“Mau apa?”
Splash tersenyum, pipinya memerah, kemudian ia menatap Pippo dengan matanya yang indah. “Aku..eh, cuma mau seikat bunga mawar merah”
“Cuma itu?”
Splash tertawa” Itu bukan “Cuma”, itu adalah segalanya, karena itu akan menjadi pemberian darimu…”
Pipi Pippo bersemu merah, ia yang selama hidupnya cuma kenal pembunuhan, judi dan darah, kini mulai mengenal arti sebuah cinta dari kepiting, maksud saya gadis penjual kepiting rebus yang bahkan tidak mempunyai kedudukan apa-apa di masyarakat kecuali sebagai seorang perebus handal. Pippo tidak pernah mau mengakui jati dirinya kepada Splash dan menyembunyikan semuanya, ia tidak mau menakuti gadis itu, biarlah Splash hanya tahu Pippo sang penjagal sapi, hal itu lebih baik apabila dibandingkan ia mengenal Pippo sebagai Pippo, sang pembunuh berdarah dingin.
Suatu hari ayah Pippo, Bartolomeo Strano memanggil Pippo dan memperingati anaknya itu. “Anakku, keluarga Toscalli sudah menyadari hilangnya Francesco, dan mereka tentu saja sangat mencurigai kita” Bartolomeo Strano menghela napas panjang. “Hati-hatilah anakku, dimanapun kau berada..”
“Aku tidak akan apa-apa….”
Keesokan harinya, ketika sedang berjalan menuju Rifle Academy, Porsche Pippo dihujani rentetan peluru dari sebuah Volvo hitam yang diketahui Pippo merupakan milik keluarga Toscalli. Paolo si supir mengemudi dengan cepat dan lihai, sementara peluru-peluru mematikan menghantam jendela dan dinding mobil Pippo. Mobil tersebut sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tahan peluru.
Pippo menyumpah-nyumpah kesal. “Shit!” Pippo bahkan belum sempat memasang sabuk pengamannya. “Bangsat Toscalli!”
Roberto melihat keluar jendela mobil dengan panik. “Tenang Tuan, selama Tuan berada di dalam mobil , Tuan akan selamat”
“Tetap saja mereka mengejar kita!” Pippo berteriak dan mengambil sebuah Pistol di saku jas hitamnya. “Biar kuberi pelajaran orang-orang Toscalli itu!”
“Jangan…!!!” Roberto dan Baggio menghalangi Pippo yang sudah naik pitam.
Pippo menengok ke belakang dan melihat Volvo hitam Toscalli berada tepat di belakang mereka. “Brengsek, mereka mengikuti kita..”
Paolo merupakan pengemudi yang lihai, dalam sekejap saja, ia mampu membuat orang-orang Toscalli kehilangan jejak mereka. “ Mereka sudah tidak kelihatan lagi”
Pippo menoleh ke belakang dan mengagguk cepat kemudian tanpa sengaja matanya tertumbuk pada sebuah kios bunga di seberang jalan, dan tanpa berpikir lagi, pemuda ini berteriak. “STOP..!!!”
Paolo secara reflek menginjak rem, ia menoleh ke kursi penumpang. “Ada apa Tuan?!”
“Aku harus beli Mawar!”
“Jangan!!” teriak Roberto dan Baggio. “Jangan keluar dari mobil!
Pippo tidak menggubris larangan mereka. “ I don’t care, I must…!!!” Pippo melepas sabuk pengamannya.
Roberto buru-buru menahannya. “Biar aku saja yang beli, Tuan!” dan tanpa menunggu jawaban Pippo, Roberto keluar dari mobil, dan melesat menuju kios bunga. Dan setelah beberapa lama, ia kembali lagi dengan seikat bunga mawar PUTIH di tangan.
Pippo terberlalak kaget. “Kenapa mawarnya putih?” ia memasang wajah panik. “Splash mau mawar merah!”
“Tadi anda tidak bilang ingin warna apa..!!” Roberto kebingungan.
Tidak ada waktu lagi untuk berdebat dan mencari mawar lagi, karena tiba-tiba Volvo hitam Toscalli sudah berada di belakang mereka lagi. Tanpa menunggu perintah untuk jalan, Paolo mengemudi dengan cepat. Sementara di dalam pikiran Pippo cuma ada Splash dan mawar yang tidak memenuhi syarat di tangannya.
“Paolo!” teriak Pippo tiba-tiba
“Si Tuan!”
“Nanti belok kiri, aku harus ketempat Splash secepatnya , karena ia akan membuka kiosnya tepat pada pukul sembilan” Pippo menarik napas panjang sambil menoleh ke belakang, dan melihat Volvo Toscali yang mengejarnya. “Aku ingin memberikan mawar ini sebelum ia mulai bekerja”
Paolo mengangguk mantap tanpa menoleh ke arah Pippo. “Akan aku usahakan, Tuan”
Dan Paolo membuktikan kelihaian mengemudinya sekali lagi, ia menyalip kesana kemari dan akhirnya berhasil meloloskan diri dari kejaran Toscalli. Mereka berempat di dalam mobil menarik napas lega.
“Sekarang ke tempat Splash” perintah Pippo.
Tak lama kemudian Pippo sudah sampai di depan kios Splash, dilihatnya gadis itu sedang menyiapkan peralatan bekerjanya. Dengan memantapkan hati, Pippo keluar dari mobil diiringi doa Paolo dan kedua bodyguardnya.
Dengan membawa sebuah buket mawar putih, Pippo berjalan menghampiri Splash dengan senyum lebar yang sangat menawan. Splash yang melihat kedatangan Pippo dan mawarnya tampak sumringah dan terharu, ia hanya berdiri dan menatap keberadaan Pippo yang kini berdiri di depannya sambil mengulurkan buket mawar itu.
“Phil….” desah Splash sambil menarik napas panjang, tidak pernah menyangka kalau pemuda tukang jagal ini bisa begitu manis dan romantis.
“Mia Amore,” ia mengulurkan buket mawar itu kepada Splash. “Buon Compleanno.. Selamat ulang tahun….”
Splash menggigit bibirnya, semburat merah muncul di kedua pipinya. Ia menatap Pippo yang memasang raut wajah sedikit kecewa.
“Oohh, seandainya aku bisa memberimu mawar merah seperi permintaan mu kemarin, aku tentu akan sangat senang…..”
“Ini indah sekali, Phil…” Splash menerima buket bunga itu dengan bahagia, tetapi baru saja kedua tangannya menyentuh buket bunga itu, tiba-tiba terdengar suara rentetan peluru “ Door….dorr..dorrrr..!!”
Dan dalam sekejap, buket bunga mawar putih yang masih di tangan mereka berdua berubah menjadi merah, termasuk celemek Splash dan wajahnya.
Splash masih ingat bagaimana wajah Phil ketika perubahan warna mawar itu terjadi Ia memejamkan mata karena kesakitan dan melepaskan buket mawar itu untuk membiarkan Splash memegangnya seorang diri, sementara itu Phil tersungkur di hadapannya bersimbah darah, darah yang berwarna sama persis seperti mawar di tangannya…….
Phil berhasil memberikan Splash mawar merahnya…
The end…
Be the first person to continue this post
Hehe aku suka endingnya. But whats wrong with white roses? aku suka :) emm detail kotanya mgkn bs diperjelas lg somehow
asyik kok, ada penulis indonesia bisa bikin cerita dgn tokoh2 italiano di amrik gitu.
quiero la tragedia
heyy, thank you buat masukannya, sebenernya cerita ini udah lama banget dibuatnya, ketika saya masih tergila2 sama The Godfather, haahahaha,dan lagi kerajingan film2 Mafia latinnya John Leguizamo, hohoho.. cuman yahh.. inilah hasilnya, namanya juga masih belajar, komentar kalian bagus sekali, saya jadi semakin termotivasi..
Masalah NYC, pernah kesana tapi belum pernah sampe "bermukim" , makanya suasana ga dapet banget, belom mendalami lokasi kali yaaa, hehehehhee
Thank you anyway..=)
Runi
jadi merasa terbawa ke amrik, lebih bagus di bawa nuansa amriknya misalkan suasana jalannya, bangunannya...
ok banget..tapi stuju sama vivaldi, endingnya jangan mudah di tebak dan semoga lebih menggigit..
Hmmm... imajinasinya bagus, tapi -maaf- 'dangkal makna'. Aku juga bukan penulis yang baik, tapi sebagai pembaca, rangkaian komentar atas yang dibaca bukankah merupakan sebuah hak asasi?:D Latar belakang NY citynya cukup rapih, pernah tinggal di sana? atau masih bermukim di sana?
Kalau diolah lebih lanjut, cerita pendeknya bisa jadi novel. Tinggal memperdalam karakter2 di dalam cerpen. Dan memasukkan lebih banyak 'realitas' ketimbang 'dongeng' juga akan memperkaya cerita...
Endingnya sayang tidak 'segar', agak mengganggu keseluruhan cerita yang telah baik dimulai dengan 'kerenyahan' oleh penulis.
Overall, kamu penulis yang cukup bagus! Good luck!