ketika sebuah profesi dianggap enteng, maka saat itulah inspirasi cerita ini muncul...
"Tenang, jangan takut ketika membaca tulisan di atas yang bertuliskan ‘Si Manusia Seribu Wajah’. Juga jangan berpikiran yang macam macam tentang sepenggal kalimat di atas. Tak perlu mengira ngira apa yang dimaksud di balik kata kata itu.
Sama seperti manusia yang lainnya. Ia bernafas, menghirup oksigen. Ia juga makan nasi, demi kelangsungan hidupnya. Tak ada yang berbeda pula dengan wajah yang dikaruniakan Tuhan padanya. Semuanya sama. Punya dua mata, dua telinga, satu hidung, dan satu mulut. Wajahnya juga hanya satu, bukan seribu wajah seperti terpampang pada bagian teratas bacaan ini.
Ada satu hal yang berbeda dengan manusia yang lain. Ia tak seperti orang yang bekerja pada umumnya. Ia bekerja disaat semua orang nyenyak dalam tidurnya sambil berjalan jalan pada dunia mimpi. Ia bekerja sambil berlari, mengejar apa yang menjadi sumber penghidupannya selama ini. Sebuah berita. Ia mencintai apa yang ia kerjakan, namun terkadang sang rasa capek menghantui hingga ke tidurnya yang hanya dua sampai tiga jam sehari. Ia tetap tak mengeluh karena ia memang sudah terlanjur ‘falling in love’ sama yang satu ini.
“ Halo, Jaka?” Terdengar suara gemuruh di balik suara si pembicara.
“ Iya, napa?” Jawab Jaka dengan begitu entengnya.
“ Ada liputan tuh di Café Kemang.”
“Liputan? Bukannya kemaren aku baru ngeliput?”
“ Yang kemaren ya udah lewat Bos!! Ganti berita baru nih!” Suara dung-dung khas diskotik masih ikut menghiasi sebagai back sound pembicaraan mereka.
“Berita apaan sih?” Entengnya jawaban itupun masih terdengar.
Jaka, seorang wartawan junior menengah, alias wartawan yang sudah hampir senior. Jam terbangnya dalam dunia tulis menulis sudah tak usah diragukan lagi. Hanya satu hal yang masih diragukan, yaitu niatnya menjadi seorang wartawan.
Lelaki jangkung dengan kacamata itu masih terus saja menyedot rokoknya sambil menikmati pembicaraan di ponselnya. Sebuah buku yang belum selesai ia baca, masih terbuka sambil ia balik dan ia taruh di atas meja. Tak ada rasa jenuh. Sekedar capek atau mungkin lebih ke arah menyepelekan.
“Berita narkoba”
“Narkoba melulu ni….”
“Ya mau gimana lagi, Indonesia masih belum bisa lepas dari dunia yang satu ini”
“Kapan kapan ganti berita donk!! Masa soal narkoba melulu yang aku liput, kan berita tentang ‘praktek terselubung’ di kalangan mahasiswa belum pernah dibahas?”
“Yeh, justru yang kayak gituan udah dibahas di mana mana, cuman untungnya emang peminatnya gak pernah abis bok!”
“Oh yah?” Bul…asap rokok itu masih mengebul memenuhi ruangan yang semakin sumpek dengan tumpukan kertas kertas gak jelas di sekitarnya. Jaka masih sibuk dengan puntung rokoknya, ia masih mencari kesempatan untuk enggak ngeliput acara itu. Mencari cari cara supaya ia bisa lepas dari tugas rutinnya yang satu itu.
“Ayo dong, masa kamu maunya gak ngeliput terus?”
“Nanti dulu deh, kalo ada berita yang tadi aku pengen, ya aku ngeliput”
“Soal ‘praktek terselubung’ itu maksudnya?”
“Huh uh” Jaka mengiyakan sambil menganggukkan kepalanya.
“Walah…ya keburu jadi rusak Negara ini!”
Jaka tak menghiraukan obrolan yang makin lama makin tak karuan itu. Ia menutup ponselnya. Sungguh boros, batinnya. Boros pulsa bagi si penelpon, sekaligus boros baterai bagi si penerima. Ia kembali membaca buku yang tadi belum sempat ia selesaikan. Ia membalikkan buku itu.
Wartawan. Sebuah profesi yang bagi sebagian orang masih sebagai profesi yang tidak menjanjikan. Atau lebih tepatnya belum menjanjikan. Di jaman sekarang ini yang banyak sekali kebohongan, wartawan, si manusia seribu wajah tetap berjuang mencari suatu kebenaran di balik sebuah fakta yang ada. Tak ada kebohongan di sana. Hanya kebenaran serta keberanian menghadapinya. Mungkin inilah satu satunya profesi yang masih murni dengan kebenaran di balik dunia kebohongan yang sedang kita tinggali ini. Ciptaan Tuhan yang satu ini disebut sebagai seribu wajah karena ia tak pernah malu atau malas menghadapi siapapun orang yang menjadi sumber beritanya. Tak peduli siapapun mereka. Apakah itu seorang pejabat korupsi, seorang pelaku pemerkosaan, atau hanya seorang tukang becak.
Ia punya banyak simpanan wajah di balik wajah aslinya. Ketika satu wajah terkena sedikit malu, ia masih bisa menggantinya hingga seribu kali. Hingga tak ada lagi pengganti bagi wajahnya yang sudah lebih dari ribuan kali terkena noda.
Wajahnya dapat berubah. Sesuai dengan siapa ia berbicara, tergantung siapa pula yang menjadi sumber penghidupannya alias sumber beritanya. Ia akan berlagak seperti seorang tukang becak untuk mendapatkan apa yang ia mau dari sang tukang becak. Tak ada kata malu atau menyerah. Hanya ada satu kata dalam kamusnya, berani malu. Karena hanya itu modalnya!
Namun, sayang sekali jika banyak wartawan di Negara ini yang masih merasa bahwa jasa mereka tak dihargai. Bukan dengan gaji yang mereka dapat setiap bulannya. Melainkan dengan, apakah masyarakat sudah mengenal mereka? Apakah mereka sudah sadar bahwa Koran yang setiap pagi mereka baca adalah hasil sebuah perjuangan dari seorang wartawan? Apakah mereka sudah sadar bahwa berita yang muncul dalam setiap tayangan televisi adalah hasil tidak tidurnya para wartawan?
Yang penting kalian mencintai profesi itu, maka bekerjalah! Jangan peduli dengan ketidakpedulian para pembaca! Selamat berkarya! Indonesia tak kan maju tanpa kehadiran dirimu…
Jaka menutup kembali buku berjudul “Wartawan, Si Manusia Seribu Wajah” itu. Mengambil ponselnya dan menggulirkan tombolnya mencari nama Radit pada kontaknya.
“Halo, Dit”
“Yah?” Jawab dari seberang sana yang masih sumpek dengan musik ajojing-nya.
“Aku ambil deh berita itu, aku berangkat sekarang” Tut…ponsel ditutup.
Ada banyak hal yang mengitari otak Jaka hingga saat ini, hingga saat ia mengiyakan untuk menerima liputan mengenai narkoba itu.
“Setidaknya, dengan liputan itu saya masih bisa makan dengan enaknya. Masih bisa bayar uang kuliah tepat waktu dan tidak terkena denda. Walaupun jam tidur ikut terkorbankan. Bukan soal narkoba yang bikin saya jadi males buat ngeliput, melainkan…Apakah Indonesia sudah menghargai jasa seorang wartawan? Lalu dihargai dengan apa? Dengan ulah para polisi yang main pukul saat banyak wartawan yang mendesak ingin masuk ke dalam ruang DPR? Dengan sikap tak acuh Pemerintah pada banyaknya kasus meninggalnya wartawan hanya demi menggali berita dari para sumber berita yang tak punya rasa belas kasihan? Belum lagi rasa malu yang menimpa jika ditolak para sumber berita. Mereka bilang, topik yang kita bahas tak menarik. Kalau memang tak dihargai dengan apapun lalu buat apa saya bekerja?” Omelnya dalam hati.
Hapenya berbunyi kembali. Kali ini ada SMS masuk. Jaka membukanya.
-Radit- 0851003060x
Kalo kamu cinta sama pekerjaan ini, ya jalani saja. Yang penting kita adalah salah satu Pahlawan Indonesia, karna kita Indonesia bakal lebih maju. Tak usah malu, karna wartawan memang sudah tercipta sebagai manusia seribu wajah.***
Tag:








