Aku menangis. Diriku kini tak beraga. Diriku serasa hampa. Menangis tanpa air mata. Aku tak merasakan kehangatan tubuhku. Melihat diriku yang semakin memudar. Menyakitkan rasanya. Kini aku tak bisa berkomunikasi lagi dengan orang-orang yang ku sayang. Aku tak bisa bermain piano lagi. Tak bisa mendengar suara ricuh antara piano dan drum Lucas. Tak bisa mendengar kejayusan kakekku yang bercerita tentang masa mudanya. Sekarang aku melihat semua orang menangis karena diriku. Sedih. Tapi apa dayaku, ini sudah kehendak Tuhan. Mungkin ini semua memang sudah menjadi jalan takdirku untuk meninggal secepat ini. Hidupku tak sempurna. Mati sebelum merasakan hidup sampai tua. Aku belum merasakan kuliah, kerja, nikah, punya anak, cucu, dll. Menyedihkan. Aku ingin hidup lagi. Sepertinya aku mati dan hidup tak jauh beda. Sendirian juga.
Tak lama aku melihat kakak, mama dan papa pulang. Aku ingin bersama mereka. Mama menangis hingga pingsan. Papa menangis. Kakak hanya diam dengan wajah pucatnya dan tertunduk menangis. Itulah pertama kalinya aku melihat mereka seperti itu. Mereka menyayangiku. Mungkin ini adalah pertama dan terakhir kalinya aku melihat mereka seperti itu. Aku ingin memeluk mereka. Akhir-akhir ini adalah hari yang menyenangkan bagiku karena bisa memeluk papa-mama dengan erat dan mengobrol dengan kakakku. Aku senang bisa memberikan kenangan terakhir kepada mereka dan bisa membuat mereka senang juga. Andaikan mereka tau apa yang aku rasakan sekarang. Betapa aku menyayangi mereka. Mungkin ini msudah takdir bagiku. Tuhan sudah berkehendak dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Tubuhku di angkat dan di bawa ke rumah duka. Aku melihat semua teman-temanku. Ada juga musuhku. Semuanya menangis.
Aku di masukkan ke dalam peti mati berwarna coklat. Di dalam peti itu aku menggenakan sebuah gaun putih. Semua orang yang pernah kukenal menghampiri ragaku. Dan memberikan doa untukku. Dari doa-doa yang mereka berikan membuat jiwaku terasa lebih tenang. Lalu aku melihat ragaku yang tak berjiwa lagi, benar-benar menusuk hatiku.
Aku berjalan tanpa arah dan tujuan sambil menangis dan menangis. Lagi pula tidak akan ada yang melihatku bukan. Tiba-tiba ada sesuatu yang menarikku dari atas begitu kencang. Aku menahannya dengan kakiku. Aku memberontak. Entah apapun itu yang menarikku aku ingin melepaskan diriku tarikannya. Karena hampir terangkat aku memeluk tiang yang ada di depanku. Aku tahan sekuat tenagaku. Aku melihat ke arah benda yang menarikku. Tak terlihat. Aku tak bisa melihat apapun itu. Benda itu bersinar sangat terang hingga membuatku menutup mata. Benda itu begitu kuat tarikannya hingga kakiku terangkat. Sekuat apapun aku menahan tarikannya beda itu akan terus menarikku. Aku tak bisa berpikir. Tanganku tak sanggup lagi menahan tarikan itu dan terlepas. Aku tertarik ke atas dan aku berteriak. Aku menutup mataku rapat-rapat. Membiarkan jiwaku ditarik oleh benda yang tak ku kenal itu. Tarikan yang sangat keras dan kencang. Apapun benda itu aku berharap sampai pada tempat yang tidak mengerikan. Apakah aku akan pergi ke surga? Atau ke neraka? Aku takut.
Aku merasa berhenti dari tarikan itu. Dan aku membuka mataku. Tempat yang indah. Seperti yang banyak orang katakan. Sepertinya ini yang namakan surga. Sangat sepi. Dan di depanku ada sebah jalan beralaskan tikar berwarna merah. Akupun berjalan mengikuti jalur merah tersebut. Sangat jauh, tetapi aku tidak merasa kelahan. Mungkin ini karena aku sudah meninggal. Di depanku aku melahat banyak orang. Sepertinya mereka juga baru meninggal sepertiku. Aku berlari menyusul mereka tapi aku bisa menggapai mereka. Mengapa? Dan d belakangku juga ada orang. Akupun berhenti untuk bisa berjalan bersamanya. Namun orang itu tidak pernah bisa sampai ke tempatku. Aneh.
Aku melanjutkan perjalananku. Dan sampai pada ujung tikar. Orang-orang yang ada d depanku tadi tidak ada. Lalu di hadapanku ada sosok yang sangat besar dan bercahaya. Menusuk mataku.
Lalu ada suara. Suaranya menggema dan bertanya kepadaku, “Apakah kau cukup senang dengan hidupmu?” Lalu aku menjawab ya.
Aku bertanya kepadanya. “Apakah Anda yang dinamakan Tuhan?”
Suara itu menajab, “Ya. Akulah Tuhanmu. Sahabat yang selalu setia menemanimu. Aku selalu mendengar doa-doamu setiap hari. Akupun tau apa yang selalu kau rasakan. Apa saja yang membuatmu bahagia di dalam kehidupanmu?”
Akupun menjawab,”Bisa melihat orang yang aku sayangi bahagia. Dan bermain piano. Aku ingin bertanya padamu Tuhan. Mengapa orang-orang yang ada di depan dan di belakangku tadi tak bisa aku dekati?
“Karena kalian tak di izinkan untuk berbicara satu sama lainnya. Kembali ke persoalanmu, apakah kamu ingin terus bisa bermain piano?”
“Hmm.. Aku ingin ya Bapa. Jika Bapa jga berkehendak.”
Ia memberikan pertanyaan terkhir,”Apa yang kau inginkan di kehidupanmu yang selanjutnya?”
Lalu aku menjawab,”Aku tak mau sendirian.”
Tag:








