FireHeart - Legenda Paladin - Bab 3.1.2.1. Roda Nasib - Kenangan Masa Lalu

33
points
"

ini mungkin spoiler terakhir (atau kedua terakhir) dari contoh bab. fireheart paladin. spoiler lainnya berbahasa inggris di www.fireheart.tk

"

BAB DUA
RODA NASIB

Kenangan Masa Lalu

Ini hari yang cerah di desa Arkvale, salah satu daerah di Kerajaan Lore yang damai tenteram. Berkat para pemburu, monster-monster berbahaya jarang terlihat di sekitar daerah ini. Kecuali bila ada seseorang yang cukup bodoh atau terlalu berani untuk menjelajahi hutan. Dan Arkvale sendiri adalah tempat tinggal beberapa pemburu ulung, juga para milisi warga, yaitu para penduduk desa yang cukup terlatih untuk mempertahankan diri dari bahaya dari luar, yang terorganisasi rapi di bawah kepemimpinan kepala desa. Tak ada monster di padang rumput dekat desa itu pula, hanya hewan-hewan tak berbahaya dan ternak-ternak yang merumput di sana. Kita juga bisa melihat pohon ek, willow dan elm dalam hutan tak jauh dari sana.
Pemandangan padang rumput yang indah ini dilengkapi oleh dua anak kecil yang bermain di sana dengan riang, seorang anak laki-laki berambut hitam berusia sepuluh tahun dan seorang anak perempuan berambut pirang berusia delapan tahun. Anak laki-laki itu memainkan sebuah irama dari serulingnya, dan anak gadis itu bernyanyi dan menari, mengikuti irama itu.

Oh, benih-benih kedamaian,
Curahi kami dari Pohon Kehidupan
Karena bagimulah nyanyian kami,
Harapan bahagia, bebas hakiki

Oh, akankah bahagia ini abadi,
Dalam indahnya hidup yang kami jalani
Oh, biarlah bahagia takkan mati,
Dipenuhi mata air cinta sejati

Oh, cinta, cinta sejati,
Rawatlah kami dengan buah damai
Oh, cinta, cinta sejati,
Lindungi kami dengan kasih perisai

Lagu Cinta dan Damai
- Karya Keith Arnûviel, Elf Penyair

Ini adalah lagu sederhana yang baru saja mereka pelajari dari penyair pengembara yang baru datang lima hari yang lalu di desa itu. Lagu ini sebenarnya dibuat untuk membuat orang berpikir, bisakah cinta membuahkan damai? Atau haruskah ada kedamaian dulu, baru benih cinta bisa tumbuh? Kedua hal ini jelas berkaitan satu sama lain. Tapi ingat, bahkan dalam masa perang, kesulitan dan kehancuranpun cinta sejati dapat ditemukan. Dan kedamaian adalah situasi, cuaca, dan tanah yang subur di mana cinta bisa bersemi dan tumbuh. Tapi ya, dalam hal tertentu, cinta dapat menyebabkan perdamaian dan perang. Cinta pada negara dan orang-orang yang dikasihi membuat seseorang melakukan segalanya sebaik mungkin untuk mempertahankan dan melindungi mereka. Mereka berusaha hidup berdampingan dengan pihak lain, tapi bila pihak lain menolak hidup berdampingan dan malah berusaha menghancurkan hal-hal yang berharga dalam hati seseorang, orang itu bisa memilih untuk melawan dan mati demi cinta.
Pemikiran anak-anak yang sederhana tentu saja tak bisa memahami makna sejati lagu ini secara lengkap, tetapi karena irama lagu itu membuat mereka senang, mereka tetap saja menari, bernyanyi dan memainkan musik sampai mereka kelelahan dan berbaring di rumput, menatap langit di atas mereka.
‘Eh... Tisha?’ kata anak laki-laki itu.
Anak perempuan yang dipanggil Tisha itu menyahut, ‘Ya?’
‘Nyanyianmu bagus, seperti penyair keliling itu.’
‘Terima kasih, Robert.’
Laetitia memberi Robert ciuman persahabatan sebagai tanda terima kasih atas pujian itu.
Mereka terdiam sesaat, lalu Laetitia (nama lengkap Tisha) berkomentar,
‘Nggg... Robert, apa kau yakin ini tak apa-apa? Maksudku, kita bermain di padang rumput yang jauh dari desa ini?’
‘Tak apa kok, Tisha. Ibuku kan sudah memberi izin.’
‘Hey, dia memberimu izin untuk bermain denganku saja, bukan pergi ke tempat ini.’
‘Tapi ibu tidak bilang kita tak boleh main DI SINI, bukan? Lagipula, kudengar Bu Jameson bilang desa ini dan sekitarnya sudah bebas monster sekarang. Sama sekali tak usah kuatir.’
‘Ngg... aku lebih percaya kata-katamu daripada Bu Jameson. Dia itu hanya biang gosip.’
‘Oke, oke, terserah kaulah. Sekarang kita sudah terlanjur di sini, jadi kita hanya bisa ekstra hati-hati saja.’
‘Andai ada monster datang, apa kau akan lari atau melawan mereka?’
‘Lha, aku ini kan masih bocah. Tentu saja aku akan lari.’
‘Tapi kalau monster itu menangkapmu?’
‘Na-ah... mereka tak akan bisa. Aku bisa berlari secepat kijang.’
Tiba-tiba Laetitia pasang tampang seram.
‘Oh ya? GRRRR!!! Ini dia si monster sekarang! Ayo lihat secepat apa kau lari!’
‘Waah! Monster! Ooh seraaam!!! Lari, selamatkan dirimu!’
Robert bangkit dan langsung lari. Laetitia mengejar Robert dengan main-main, menggeram tapi juga campur tertawa.
‘Ayo, monster jelek! Tangkap aku!’
Robert menjulurkan lidah, mengejek si ‘monster’.
Dan mereka terus bermain sampai... suara derap langkah kaki yang berat terdengar oleh mereka dari hutan.
‘Rob, apa kau dengar itu?’
‘Mendengar apa?’
‘Langkah kaki, Rob! Datangnya dari hutan!’
Robert mencoba mendengar lebih seksama.
‘AH! Kau benar, Tisha! Tapi bagaimana suara langkah kaki bisa terdengar dari jauh begini? Kecuali mereka bergerombol, berlari kencang! Cepat sembunyi!’
Robert dan Laetitia berlari ke sebuah batu besar dan bersembunyi dalam semak-semak yang tumbuh dekat batu itu. Mereka mengintip ke luar dan berusaha tidak membuat suara sedikitpun. Mereka hanya saling berpelukan, gemetar.
Robert berbisik, ‘Ada monster...’
‘Robert, aku takut...’
‘Jangan bersuara, Tisha, sampai kita tahu siapa mereka sebenarnya.’
Kedua anak itu makin tegang saat langkah-langkah kaki itu mendekat dan makin dekat. Akhirnya beberapa sosok makhluk muncul. Robert mencoba melihat lebih jelas, dan dia melihat segerombolan makhluk yang berperawakan seperti manusia, tapi bukan manusia. Kulit mereka kehijauan atau keabu-abuan, dan dua taring bawah yang besar mencuat ke atas dari mulut mereka yang lebar. Wajah mereka seperti campuran wajah manusia dan babi, dan mereka memakai zirah yang aneh, sangat berbeda dari yagn pernah dilihat Robert sebelum ini. Jumlah mereka sekitar limapuluh, dan semua bertampang menyeramkan.
Laetitia bergumam, ‘Orc...’
Robert memperingatkannya lagi. ‘Sssh!’
Makhluk-makhluk yang disebut ‘orc’ oleh Laetitia itu berlarian, dan kini mereka berteriak-teriak dalam bahasa asing dan aneh yang terdengar seperti geraman. Ternyata itu teriakan perang mereka.
‘Ghraak! Ghraaak!! Kraal du ega bharrooom!!!’ (Serbu! Serbu! Kematian bagi semua penentang!)
Mendengar itu, dan melihat aksi mereka, Robert baru menyadari sesuatu: mereka sedang menyerang Desa Arkvale! Dia ingin bangun dan lari ke desa untuk memperingatkan para penduduk desa dan mengungsikan keluarganya, tapi sudah terlambat. Para orc sudah dekat! Dan mereka terlalu kuat bagi Robert. Dilihat dari tampang mereka, mereka jelas adalah tipe ras yang membantai tanpa ampun setiap manusia atau makhluk apapun yang menghalangi jalan mereka. Mereka juga suka menjarah, menghancurkan, dan tak membiarkan seorangpun selamat.
Ibu! Ayah! Kakak! Tolong, jangan bunuh mereka. Biarlah mereka selamat...!
Kata-kata ini terus terngiang-ngiang dalam benak Robert. Sementara itu Laetitia sudah menangis.
Laetitia berteriak, ‘Ibu!!’
Dia bangun untuk pergi ke desanya, tapi Robert menariknya kembali ke dalam semak-semak.
Salah satu orc dalam gerombolan itu berhenti saat mendengar suara-suara berisik dan menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa di sana. Orc itu menggeram, berbalik dan berlari ke arah desa. Robert menutup mulut Laetitia dan mereka tetap saling berpelukan dalam semak-semak itu, menangis perlahan.
Robert merasa tak berdaya.
Kalau saja aku lebih kuat... aku akan lari ke desa tanpa ragu. Tapi, bisa apa aku? Aku hanya anak kecil. Anak kecil tak berdaya. Pikiran Robert ini lebih penuh perhitungan dari anak seusianya, memperhatikan kelebihan serta keterbatasannya sendiri.
Beberapa menit kemudian, mereka mulai berasa kepanasan. Dengan firasat buruk, Robert dan Laetitia keluar dari semak-semak dan melihat ke arah Arkvale. Desa itu terbakar! Mereka juga mendengar teriakan-teriakan samar-samar dari desa. Laetitia tak bisa menahan diri lagi dan langsung lari ke arah desa dengan histeris, namun Robert cepat menarik Laetitia mendekat ke sisinya, memeluk anak gadis itu. Laetitia menyentak-nyentak untuk membebaskan diri dari pelukan Robert, namun akhirnya dia menangis sejadi-jadinya, menyandarkan kepalanya di dada Robert. Robert juga menangis tanpa suara, hatinya hancur melihat semua orang dan benda yang disayanginya dibunuh dan dihancurkan dalam sejam.
Lalu Robert memutuskan untuk bersembunyi di semak-semak lagi supaya dia bisa kembali ke desanya nanti kalau keadaan sudah aman, dan memastikan apakah orangtua dan kakaknya juga keluarga Laetitia baik-baik saja. Ini juga akan meluputkan Laetitia dan dirinya sendiri dari nasib yang mengerikan.
Teriakan-teriakan itu mereda lalu menghilang kira-kira setengah jam kemudian, dan nampaknya orc-orc itu tidak kembali melalui padang rumput. Robert masih melihat api berkobar ganas di desa. Dia menoleh pada Laetitia, tapi Laetitia sudah tertidur, kelelahan karena terlalu banyak kejutan. Lalu, Robert juga juga tertidur.
Mereka bangun pagi-pagi sekali keesokan harinya. Api itu sudah padam sekarang. Laetitia bertanya...
‘Ibu... apa ibu selamat? Aku harus mencari ibu!’
‘Jangan, Tisha! Keadaan masih belum aman! Mungkin monster-monster itu – kaubilang namanya orc, kan? – masih di sana, sedang menjarah.’
‘TIDAK! Aku sudah menunggu terlalu lama! Aku pergi sekarang! Aku takut! Aku ingin ibu!’
‘Baiklah, kurasa orc-orc itu pasti sudah pergi sekarang. Ayo kita ke sana, mungkin orangtua kita berhasil melarikan diri, lalu kembali ke desa untuk mengambil yang tersisa.’
Robert dan Laetitia lalu pergi ke desa. Saat mereka tiba, mereka melihat pemandangan yang menyayat hati: semua rumah di sana hangus jadi abu dan arang, dan mayat-mayat bergelimpangan di jalan-jalan dalam kondisi amat mengenaskan dan bahkan ada yang terpenggal-penggal. Laetitia menjerit ngeri, lalu dengan histeris lari ke arah rumahnya – atau lebih tepatnya reruntuhan rumahnya. Namun dia tak bisa menemukan ibunya di sana dan di sekitar rumahnya.
Laetitia berteriak, ‘Ibu! Ibu!’
Robert menarik tangan Laetitia seraya berkata,
‘Dia tak ada di sini, Tisha. Sebaiknya kita tengok rumahku juga.’
Robert dan Laetitia berjalan menuju rumah Robert, dan di tengah jalan Robert melihat ayahnya terkapar tak bernyawa. Nampaknya ayah Robert tadi telah melakukan perlawanan hebat, dengan membunuh tiga orc yang kini bergelimpangan tak jauh darinya. Tapi musuh terlalu banyak, dan akhirnya ayah Robert menemui ajalnya di ujung pedang falchion orc yang menikamnya dari belakang.
Ayah Robert, Emmerich Chandler adalah seorang pemburu monster dan veteran tentara. Robert menangis di atas jenazah ayahnya beberapa lama, dan membungkus jenazah Emmerich dengan jubah sang ayah yang gagah berani itu.
Lalu Robert memungut pedang ayahnya yang tergeletak tak jauh darinya. Pedang ini disebut kiliji, sejenis pedang berbilah melengkung yang rupanya seperti kombinasi antara pedang scimitar dan katana. Memegang kiliji itu, Robert bersumpah.
‘Ayah, aku akan menggunakan pedang ini untuk membalaskan dendammu. Setiap orc di dunia ini harus membayar hutang darah ini!’
Setelah Robert mengikat pedang kiliji yang amat berat dan terlalu besar bagi anak seusianya itu di punggungnya dengan kain lusuh yang ia temukan tak jauh dari sana, Robert dan Laetitia berjalan terus ke rumah Robert. Robert melihat jenazah kakak perempuannya tergeletak di jalan berumput, dan kesedihan mendalam kembali melandanya. Tampak tanda-tanda penganiayaan pada jenazah kakak perempuan Robert yang berdarah dimana-mana, tapi tak ada tanda bahwa dia diperkosa.
‘Kakakku sayang... beristirahatlah dengan tenang. Orc-orc keparat itu akan merasakan lima kali lipat dari yang mereka lakukan padamu.’
Dengan air mata bercucuran, Robert melihat rumahnya yang ternyata juga hangus jadi arang. Dia berjalan mendekat lalu melihat ke dalam rumah. Betapa terpukulnya dia melihat sepotong tangan yang hangus menyembul keluar dari tumpukan reruntuhan rumahnya. Itu ibunya! Robert jatuh berlutut, tak kuasa menahan air matanya yang makin deras tercurah bagai air bah. Kemalangannya kini lengkap sudah, kehilangan ayah, ibu, kakak, seluruh anggota keluarganya. Dengan gemetar, Robert berjalan dengan lututnya menghampiri jenazah ibunya, dan melihat cincin ibunya di jari manis yang hangus, sebuah cincin emas yang sederhana bentuknya.
Dengan tangan yang masih gemetar, Robert mencabut cincin itu dari jari almarhum ibunya dengan sangat hati-hati, lalu memakaikannya di jari manisnya sendiri. Kelak dia akan memindahkannya ke jari kelingking tangan kirinya saat dia berusia 14 tahun, dan sejak itu cincin itu tak pernah meninggalkan jarinya, seakan sudah menyatu dengan kulitnya. Lalu Robert menjatuhkan diri di tanah dan menangis sehabis-habisnya. Dia telah kehilangan keluarganya, orang-orang yang mengasihi dan dikasihinya, segalanya.
‘Ibu, aku akan memakai cincin ini seumur hidupku.’
Lalu Robert memulai kebiasaan baru, mencium cincin warisan ibunya itu. Sejak itu, setiap kali dia akan memburu orc, tak lupa dia melakukan kebiasaan itu sebagai peringatan akan ibunya yang selalu berpesan padanya: ‘Jangan pernah menyerah.’ Prinsip inilah yang membentuk pemikiran Robert yagn maju, dan sikapnya yang tenang dalam situasi telur di ujung tanduk sekalipun.
Tiba-tiba Robert teringat pada Laetitia. Ia melihat sekeliling dan memanggilnya.
‘Tisha!’
Tapi Tisha tak ada di mana-mana. Firasat buruk tiba-tiba memasuki benak Robert. Dia telah lalai menjaga Laetitia dalam duka kehilangannya sendiri.
Dia berlari kesana-kemari, mencari dan memanggil-manggil Laetitia. Dia pasti masih ada di desa, pikirnya. Dia ingin mencari ibunya, tapi emosinya sedang kacau.
Pada saat Robert hampir putus asa, sayup-sayup ia mendengar isak tangis anak perempuan.
‘Itu pasti Tisha!’
Sambil berpikir begitu, Robert cepat-cepat menghambur ke arah sumber suara, dan akhirnya dia menemukan Laetitia. Anak gadis itu menangis histeris, memeluk jasad yang sudah rusak, yang ternyata adalah jasad ibunya. Robert memanggil dari jauh sambil berlari ke arah Laetitia.
‘Tisha! Tisha!!!’
Tak ada sahutan, tapi Robert terus memanggil.
‘Tisha!’
Lalu Laetitia melihat Robert dari jauh, dan bangun sambil menangis.
‘Robert!’
Laetitia baru akan berlari menghampiri Robert, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Sesosok orc berkulit kehijauan berdiri di belakangnya, tersenyum sadis. Robert terperangah dan berteriak pilu...
‘TISSSHAAAA!!!’
‘Rob... eertt...’
Dengan kata terakhir itu, Laetitia tumbang tertelungkup di tanah, tewas. Sebuah kapak lempar menancap di punggungnya. Itu semua perbuatan orc itu.
Robert sudah terlalu berduka dengan kematian seluruh keluarganya, tapi melihat sahabat terbaiknya tewas, orang yang seharusnya dia lindungi... Ia berhenti, air mata kembali membasahi pipinya, dan matanya terbelalak nyalang, penuh amarah dan dia menghardik penuh ancaman.
‘Tisha... Bayar hutang darahnya, monster keparat!’
Perasaan campur aduk antara kesedihan, kecewa pada diri sendiri dan murka diakumulasikan menjadi kekuatan baru dalam diri Robert, dan dia merangsek. Ia menghunus pedang kilijinya yang tergantung di punggungnya, dan berlari cepat ke arah orc itu, mengacungkan pedang itu seolah-olah itu pedang mainan ringan. Robert sudah gelap mata.
‘SSSHAAAAAA!!!!’
Orc itu melihat Robert, dan mengejek.
‘Kau ingin mati juga? Kukabulkan!’
Dan orc itu melempar kapak lemparnya ke arah Robert.
Lemparan itu meleset dari tubuh Robert, hanya meninggalkan luka gores di lengan kiri Robert. Robert memanfaatkan kesempatan ini dengan menikam perut orc itu sebelum orc itu bisa meraih pedangnya. Keduanya tak bergerak, lalu orc itu menggeram untuk terakhir kalinya dan tewas di tempat, dengan ekspresi tak percaya nyawanya melayang di tangan seorang bocah kecil. Orc tak bernyawa itu tumbang ke tanah, menyeret Robert dan kilijinya bersamanya. Mereka berdua menghantam tanah, dan Robert masih menggenggam pedangnya erat-erat. Lalu pandangan Robert mulai buram, segalanya jadi gelap. Kehilangan, kesedihan dan trauma mental yang terlampau berat ternyata telah mengubah rambut Robert menjadi putih keperakan saat Robert berlari untuk menikam orc itu. Pengerahan tenaga yang melebihi duaratus persen kemampuan fisik Robert membuat anak berambut perak itu dilanda kelelahan yang melebihi daya tahannya pula. Tenaga Robert lenyap, dan dia jatuh pingsan di paha mayat orc itu, masih menggenggam kilijinya erat-erat.

Your rating: None Average: 6.6 (5 votes)
dikirim vadis 38 minggu 9 jam yang lalu
Tag: