Mata Iman berkaca-kaca menatap foto berbingkai di tangannya. Perempuan dalam foto itu telah 35 tahun mendampingi hidupnya. Wajahnya yang Ayu dalam foto itu membawa ingatannya kembali ke masa 35 tahun silam.
Hanya ada beberapa orang dalam acara sakral itu. Sri, perempuan dalam foto itu duduk manis dalam balutan kebaya Jogja yang sederhana. Tampak ketenangan dan kepasrahan menghias wajah Jawanya.
Zainal hadir sebagai saksi pihak laki-laki. Ya, hanya ada Zainal, teman kuliah Iman yang ada saat itu. Sedangkan orang tua Iman dan keluarganya tak satupun hadir dalam upacara sederhana yang akan segera merubah cerita bahagia kisah cinta Iman dan Sri. Kisah cinta yang tergores makna ras dan kepatuhan seorang anak pada orang tuanya.
Iman seakan merasakan tetesan air mata Sri ketika mencium tangannya tanda bakti seorang istri pada suaminya di awal menempuh kehidupan barunya. Dipeluknya perempuan itu. Sekelebat targambar bagaimana masa depan mereka setelah hari itu. Seakan telah tergambar derita apa yang akan menimpa perempuan yang dikasihi itu atas kenekatan mereka mengikrarkan cinta hari itu. Sakit sekali dadanya meskipun sebentar lagi Iman tau dia kan mereguk manisnya cinta antara mareka.
Tidak ada fotagrafer, tidak ada makanan mewah, acara itu terbilang sangat sederhana. Iman sangat menyesal tak ada satupun dokumentasi yang bisa ditunjukkan pada ketiga anaknya ketika menceritakan ending cinta bapak ibunya di pelaminan.
Seminggu berlalu...
Iman kembali ke kampus. Sedikit lagi kuliahnya akan segera selesai bila dihitung dari sisi akademik, tapi...? Darimana uangnya dia harus menyelesaikan kuliahnya. Orangtunya memutuskan menghentikan dana seketika mendengar berita Iman akan menikahi Sri meskipun tanta restu mereka. Dan kini, itu benar-benar terjadi...
Mata Iman mulai panas. Pandangannya dialihkan dari foto itu dan memandang jalanan sepi di seberang halaman rumah itu....
(Tobe continued...)
dikirim NoeLoe 37 minggu 5 hari yang laluTag:








