Layang - Layang Yang Malang

46
points
"

Ternyata Camar itu sekarang mendekat lagi

"

Seekor burung layang-layang terbang dan lepas dari kawanannya. Dia telah jauh mengambil jarak dari kawanannya, perlahan Dia menepi dan hinggap di ranting, di sebelahnya Enggang yang kelelahan lalu Layang-layang hati-hati bertanya kepada Enggang yang sedang mencari kesombongan diri.
“Enggang. Benarkah Camar berkepala putih hinggap di pundak Cendrawasih? Lalu membawanya pergi.”
“Sepertinya begitu Layang-layang,” jawabnya tersenyum, lalu Enggang bercerita.
“Saat itu ketika cuaca bersahabat dengan alam, dan ketika Engkau sedang berada di seberang. Pagi yang indah ketika matahari membuat burung-burung mengepak-ngepakkan sayapnya dan ketika burung-burung masih di sarangnya, terdengar kabar tentang kepergian Camar berkepala putih itu,” Enggang menghentikan ceritanya.
“Apakah Engkau menyaksikan dengan mata kepalamu Dia membawanya?” tanya layang-layang.
Enggang menggeleng lalu berkata, “Tak seorang pun dari kaum kami yang mengetahuinya. Yang tahu kamunya Camar dan kaumnya Bangau, sebab katanya kedua kaum itu telah mempunyai hubungan tertentu dulu yang dijalin oleh moyang mereka.”
“Lalu Engkau dari mana dapat berita itu, Enggang?”
“Sang Bangau lah yang telah menceritakannya padaku,” jawab Enggang.
Layang-layang tampak gelisah dan terbang hendak mencari Camar berkepala putih itu, tapi entah kemana? Layang-layang yang malang..
Dia teringat akan cerita Enggang, bahwa kepergian Camar berkepala putih hanya Bangau yang benar-benar mengetahuinya.
“Temuilah dia di pesisir yang sedikit berawa dan banyak pohon bakaunya, tidak jauh dari teluk. Bangau biasanya bermain di situ” cerita Enggang.
Sesegera mungkin Layang-layang pun mencari Sang Bangau. Namun di tengah perjalanannya Layang-layang bertemu Jalak yang sedang tersesat.
“Jalak. Adakah kau melihat Bangau?” Tanya Layang-layang.
Jawab Jalak, “Tidak Layang-layang! Sudah beberapa hari ini Aku tidak menemukan burung-burung, kecuali Aku bertemu dengan Cendrawasih yang hinggap di pundaknya Camar berkepala putih. Ada apakah gerangan dengan Bangau?” Jalak kembali bertanya.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui cerita Enggang yang di ceritakan Bangau.” Jawab Layang-layang singkat.
“Begitu penting kah arti sebuah cerita bagimu Layang-layang?” tanya Jalak lagi.
“Penting.”
Lalu mereka berpisah. Jalak terbang ke arah barat dan Layang-layang menuju arah teluk.
Layang-layang yang malang.
Berhari menunggu dan menunggu Sang Bangau di pesisir yang berawa dan banyak bakaunya tak jua kunjung datang, selalu berharap bahwa berita tentang kepergian Camar berkepala putih tidak benar adanya.
Minggu pun berganti, Layang-layang tetap menunggu hanya untuk sebuah kebenaran berita itu. Hanya untuk sebuah KEBENARAN yang akan menambah pedih di hatinya.
Layang-layang yang malang.
Kini hidup dalam sebuah penantian, berita dari Sang Bangau begitu diharapkannya. Tidaklah indah hidup dalam bayang-bayang yang selalu mengikuti.
Ada luka yang tertoreh jika berita itu benar. Namun ada bahagia tak terhingga apabila berita itu hanya gunjingan biasa.
Haruskah Aku pasrah akan kenyataan itu? Ataukah Aku akan tetap menunggu? Hanya untuk mengetahui kebenarannya saja. Lalu untuk apa? Haruskah Aku melanjutkan perjalanan mencari si Camar? Lalu untuk apa juga? Pikir Layang-layang yang malang itu.
Waktu terus berjalan seiring takdir yang tak bisa dirubah. Apakah masa lalu menentukan kenyataan hidup yang sekarang? Jika iya! Lalu di mana arti sebuah kebersamaan dulu jika ujungnya hanya membuat luka. Inikah takdir itu?
Layang-layang malang.
Saat itu di akhir minggu, minggu keempat ketika matahari dengan cahaya lentiknya malu-malu keluar dari balik gumpalan awan. Tersenyum kepada alam, menghangatkan dan menyapa seisinya, setelah beberapa hari bersembunyi di balik kelam.
Sinarnya membuat Pipit melompat dari satu ranting ke ranting lainnya, membuat Nuri bersenandung kenangan. Dan mutiara-mutiara di dedaunan yang berkilauan pun mulai berjatuhan perlahan-lahan satu per satu ke tanah, yang bunyinya takkan pernah didengar. Tapi ibu, tempat dari segala kehidupan ini berada dapat merasakan betapa indahnya mutiara itu menghiasi dan membasahinya.
Begitu juga dengan Layang-layang, melayang-layang di atas permukaan, bermain dan bercumbu di bibir riak yang kecil, mencoba menikmati pagi dengan sinar mentari, lalu hinggap di batang bakau yang telah bersahabat dengannya.
Tatkala Layang-layang sedang berpikir, bahwa sudah saatnya dia menjalin liur di musim yang mulai berubah, tiba-tiba saat itu melintaslah Sang Bangau di depannya. Layang-layang tertegun lalu mendekatinya.
“Dari mana sajakah engkau Bangau?”
“Aku hidup dari satu rawa ke rawa lainnya, tapi rawa inilah yang paling nyaman bagiku. Layang-layang,” jawab Bangau sambil mematuk binatang-binatang kecil di air.
“Ada apakah gerangan kau kemari. Layang-layang?” Tanya Bangau.
Layang-layang mulai menceritakan maksudnya dan tujuannya menemui Sang Bangau itu.
“Benar Layang-layang! Beberapa minggu yang lalu Camar pamit padaku dan seluruh kaumku, bahwa Elang telah memberi tempat kepada Cendrawasih untuk membawanya. Dia ke selatan, tak jauh dari muara. Cendrawasih di sana sangat dihargai oleh penghuninya, karena menurut kaum-kaum burung, Cendrawasih adalah kaum bangsawan yang berdarah biru,” ujar Bangau
Sang Bangau lalu mematuk seekor ikan kecil tak jauh dari kakinya yang jangkung dan kecil itu, kemudian Dia berkata, “ Camar tidak akan lagi ke pantai yang dulu, tempat dia dibesarkan. Dia telah memutuskan untuk pergi selamanya, memulai hidup baru di tempat baru. Kaumnya juga merestui kepergiannya itu bersama Cendrawasih karena mereka juga menganggap diri mereka adalah kaum yang terhormat.”
Layang-layang yang malang.
Tidak dapat mengucapkan salam perpisahan kepada Camar berkepala putih dari kaum terhormat.
“Adakah pesan untukku dari Camar?” Tanya Layang-layang
Sang Bangau diam sejenak sepertinya berpikir dan mengingat.
“Tidak ada Layang-layang,” jawab Bangau.
Layang-layang setengah mengepakkan paruhnya lalu menengadah ke langit, matanya berlinang dan paruhnya setengah mengepak lagi.
“Kenapa Kau menangis Layang-layang? Apa hubunganmu dengan Camar? sehingga Kau mencari kabar tentang kepergiannya,”
Layang-layang kali ini menggetarkan bulu-bulunya, seperti terbangun dari sebuah mimpi buruk.
“Tidak Bangau. Mataku diusik debu-debu lumpur yang mengering. Hubunganku dengan Camar adalah hubungan kecil yang begitu bermakna. Kami dibesarkan oleh bunyi gelombang yang menampar karang. Dulu kami sama-sama bermain di pinggir karang. Kami selalu bercerita dengan gelak dan tawa, Kami bercerita tentang matahari yang tenggelam setiap sore, Kami bercerita tentang dedaunan dan pucuk-pucuk muda yang segar, dan Kami juga bercerita tentang perjalanan-perjalan Kami. Kami adalah teman kecil yang besar oleh kenangan. Aku ingat, saat kami bersanding di bibir karang, Gagak tertawa lalu mengucapkan selamat atas kedamaian Kami. Tapi sekarang Dia telah pergi, tanpa pamit dan pesan,” ujar Layang-layang.
Bangau menghentikan pencariannya di air, lalu menatap Layang-layang dan berkata.
“Ketahuilah Layang-layang. Kita akan menjadi lebih besar ketika kita kehilangan sesuatu yang kita sayangi. Dia adalah guru yang paling bijaksana. Camar telah mengajarkan padamu supaya kamu tidak berbuat seperti apa yang pernah diperbuatnya kepadamu.”
“Hidup ini adalah pilihan Layang-layang, dan berusahalah selalu untuk bijak ketika Kamu adalah pilihan yang kurang beruntung dalam hidup. Berbahagialah Layang-layang! dengan apa yang telah terjadi padamu karena Dia bukanlah warna yang terbaik bagimu. Bersyukurlah dan bisikkan di hatimu, INI YANG TERBAIK!” Jelas Sang Bangau.
“Tapi Bangau? Mampukah Aku hidup tanpa Dia? Selama ini Dialah yang mewarnai gambar hitam putih di setiap lembaran hariku, kepada siapa lagi Aku akan berbagi tentang keindahan hidup ini, dia tidak saja mewarnai ataupun mengisi, tapi Dia adalah bagian dari sekeping hatiku. Kini kepingan itu dibawanya tanpa pamit dan Aku tak yakin Bangau! Kalau kepingan itu masih disimpannya. Pasti dibuangnya!” ujar Camar.
Bangau terdiam dan ikut larut dalam kesedihan si Layang-layang yang malang.
“CAMAR. DI MANA ENGKAU BUANG KEPINGAN ITU!” teriak Layang-layang yang mengejutkan burung-burung di sekitar rawa itu.
Waktu seperti berhenti berputar sejenak.
Diam.
Burung Pipit yang sedang melompat-lompat hampir saja terjatuh mendengar teriakan itu. Sang Nuri yang tadi bersenandung kenangan tiba-tiba berhenti begitu saja seperti pita kaset yang terputus, ketika lengkingan suara Layang-layang itu terdengar.
Layang-layang yang malang.
Sang Bangau menelan ikan yang berada di tenggorokannya dan memandang lekat-lekat Layang-layang yang gelisah.
“Jangan pernah Kau gantungkan hidupmu padanya Layang-layang. Bukan Dia yang menentukan Engkau mampu hidup atau tidak di dunia ini, tapi dirimu sendiri. Kau adalah individu yang brutal dalam berpikir jika kehidupanmu diukur atas kehadirannya di sisimu. Bersyukurlah! Atas semua yang pernah Engkau jalani karena satu hal telah Engkau lalui dan satu hal telah Engkau rasakan. Kau takkan pernah tau dan takkan pernah merasakan kekecewaan itu jika Dia tidak pergi darimu. Kelasmu telah naik satu tingkat di atasnya dan di atas Kami” nasehat Bangau yang menghibur.
Burung-burung lain yang ikut mendengar nasihat Bangau pun mengangguk-angguk dan berseru serta ikut bersorak seolah mereka pernah merasakan apa yang dirasakan oleh Layang-layang yang malang.
“Iya. Betul! Layang-layang!”
“Jangan takut tanpa dia!”
“Kamu harus kuat!”
“Kamu bisa!”
“Kamu bisa!”
“Kamu bisa!”
Seru mereka memberi kekuatan kepada Layang-layang. Layang-layang pun tersenyum kemudian disambut oleh teriakan burung-burung lainnya.
“HOREE!”
Apalah arti sebuah senyuman bagiku, jika Aku tetap tak mampu melupakannya. Terkadang Aku menjadi makhluk yang munafik. Mencoba menipu diri dengan roman yang baik. Aku terlalu banyak hidup dengan basa-basi, Aku terlalu banyak mementingkan yang lain ketimbang diriku sendiri. Aku selalu berusaha menutupi sebuah keberatan dengan kebaikan, Aku selalu berusaha menutupi sebuah kesinisan dengan senyuman, Aku selalu berusaha menahan air mata dengan sebuah tawa, Aku selalu berusaha meredam amarah dengan sebuah gurauan.
Aku telah berdusta pada diriku sendiri, Aku telah menghina diri yang seolah tak bertuan ini.
Dan engkau Camar! Engkau yang selalu Aku perlakukan dengan bagian dari diriku yang sebenarnya tidak ada untukmu, lalu Engkau mencampakkan Aku bagaikan sisik ikan yang mengotori kulitmu dan Engkau membawa sekeping hatiku tanpa permintaan namun seperti rayuan dan harapan. Kini sudah saatnya dirimu tiada arti lagi bagiku, hiduplah Kau dengan sikap dustamu, bathin Layang-layang yang malang itu.
Camar akan tetap menjadi Camar, dan Layang-layang tak tahu akan menjadi apa, ketika sebuah kepedihan menimpanya.
Jika seandainya Layang-layang mengetahui, bahwa Camar tidak membuang kepingan itu, karena kepingan itu memang tidak pernah ada padanya.
Camar juga tidak pernah ingin merasakan adanya kepingan itu. Tentu Layang-layang akan bertambah sakit. Kasihan Layang-layang yang telah salah menaruh sebuah kepingan hati.
Hmm… Layang-layang yang malang.

Senin, 4 Juni 2007 – 19:45

Your rating: None Average: 5.8 (8 votes)
dikirim ilham 37 minggu 3 hari yang lalu
Tag: