Hari Minggu ini Intan, adikku, duduk manis di depan televisi. Tangan kanan memegang cemilan. Tangan kiri memegang remote control . Baru saja Intan hendak memencet tombol power , ibu lebih dahulu merebut remote control .
“Hah, nyaris saja.” Ibu menghela napas.
Intan melotot. “Ibu! Apanya yang ‘nyaris saja’? Aku kan mau nonton Euromaxx !”
“Nggak sekarang.” Ibu menggeleng. “Hari ini jangan menyalakan ti-vi. Sekarang kan tanggal 22 Juli, hari tanpa televisi!”
Read more (971 words)
“Bu,” ujar Intan sembari menghampiri aku dan bapak yang sedang membaca koran, “hari tanpa televisi ini benar-benar ada atau hanya karangan ibu saja?”
“Ya benar-benar ada, dong!” tukas ibu. “Pengumumannya ada di mana-mana, kok. Ibu kemarin lihat banyak di jalan. Mungkin kamu saja yang kurang perhatian.”
“Kalau begitu kenapa aku, Mas, dan Bapak nggak tahu, Bu?” Intan minta dukunganku dan bapak. “Apa tetangga-tetangga kita juga melakukan hal yang sama?”
“Pokoknya ini official ,” ujar ibu kalem. “Lagipula Bapak dan Mas juga lihat pengumumannya, kan?”
“Eh, iya, Bu! Iya, Bu!” Aku dan bapak kontan mengiyakan. White lies , bohong putih, demi kedamaian bersama.
Intan tidak percaya. Ia memberondong kami dengan serentetan pertanyaan. “Posternya seperti apa?” tanyanya. “Besar? Kecil? Ditempel di jalan ....”
“Intan, Bapak, dan Mas,” potong Ibu dengan suara pelan, “intinya ibu mau hari ini kita sejenak nggak nonton televisi. Sebagai ganti nonton, kita meluangkan waktu untuk acara keluarga. Ibu sedih kita jarang melakukan kegiatan bersama sebagai keluarga.”
“Aduh Ibu!” keluh Intan. “Masalahnya ide ini terlalu sosialis! Waktu kan sudah membuktikan bahwa kaum kapitalislah yang akhirnya bertahan!”
“Ah nggak juga,” bantah ibu, “di Skandinavia?”
Intan, aku, dan bapak saling berpandangan. Tak seorang pun di antara kami yang tahu apa sosialisme benar-benar berhasil di Skandinavia.
“Pokoknya nggak usah khawatir,” ujar ibu menenangkan, “ibu sudah menyiapkan acara keluarga untuk kalian. Jadi hari ini kalian mesti jalan-jalan ke toko buku, kalian semua suka baca, kan?”
“Kalian, Bu?” tanya Intan heran.
“Iya kalian,” jawab Ibu. “Hari ini ibu sudah janjian sama Tante Mia ke Gede Bage.”
Intan, aku dan bapak melongo.
“Sekarang Bapak, Mas, dan Intan mandi,” perintah Ibu, “habis mandi kalian langsung ke toko buku. Ibu janjian jam sepuluh dan nggak akan pergi sebelum kalian pergi.”
Intan tidak terima. “Maksud Ibu hari ini Ibu menuntut ti-vi dimatikan, kita membuat acara keluarga, dan Ibu menentukan acara keluarganya adalah ke toko buku?”
“Iya begitu,” ujar ibu, “apa masih belum jelas?”
“Tapi Ibu sendiri nggak bisa ikut karena sudah janjian sama Tante Mia?”
“Iya, Tan. Ibu titip buku Kupinang Engkau dengan Hamdalah , ya?” Ibu pun berlalu meninggalkan kami yang masih belum sanggup berkata-kata.
***
Setelah masing-masing dari kami bertiga selesai mandi, kami berangkat ke toko buku diskon Togamas. Namun betapa herannya aku dan Intan karena ketika kami sampai bapak tidak memarkirkan mobil, tetapi hanya menepikannya di pingir jalan.
“Bapak kok nggak parkir?” tanya Intan. “Jangan-jangan ....”
Bapak terlihat serba salah. “Maaf Intan, mas. Kebetulan hari ini bapak ada janji main golf sama Pak Sanusi, bos bapak, jadi kalian didrop di sini. Pulangnya naik angkot nggak apa-apa, kan?”
“Apa-apa, Pak!” seru Intan kaget. “Kenapa nggak bilang sama ibu?”
“Aduh Intan, kamu kan tahu ibu sering menuduh bapak terlalu fokus di pekerjaan. Sekarang kalau bapak menolak acara keluarga ini pasti ibu menuduh bapak nggak sayang sama kalian!”
“Ah, Bapak payah!” keluhku. “Nggak gentle ! Matinya seorang laki-laki!”
“Yah, kalian boleh marah sekarang tapi kalian bakal mengerti kalau sudah berkeluarga,” ujar bapak murung.
“Ih Bapak! Bilangin ibu lho,” ancam Intan.
“O ya.” Bapak memaksakan senyum. “Kalian pasti butuh uang buat beli buku, kan? Berapa butuhnya? Tiga ratus? Empat ratus?”
Aku dan Intan terdiam, tidak percaya dengan pendengaran kami.
“Pasti lima ratus cukup, ya? Kalian kan butuh makan juga.” Bapak mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu dan menyerahkannya padaku. “Jangan bilang ibu, ya?”
Aku dan Intan masih diam. “’Makasih Pak,” ujar kami berdua. Sedikit senyum penyesalan tampak di wajah bapak sebelum mobil kami hilang dari pandangan. Aku pun membagi uang dengan Intan.
“Gila ya, Mas,” ujar Intan, “uang memang bukan segalanya, tapi nggak diragukan kalau uang bisa menyelesaikan banyak masalah.”
“Oke.” Aku menganggukan kepala. “Ayo kita berbelanja.”
***
Setelah kurang lebih dua jam berkeliling-keliling. Aku dan Intan bersama mengantri di kasir. Muka Intan bersemu merah.
“Senang, Tan?” tanyaku.
“Sekali! Senang sekali! Aku dapat Stardust , Philip Pullman, dan Narnia ,” ujar Intan sumringah. “Uang memang nggak dapat membeli kebahagiaan, tapi dengan uang kita dapat banyak pilihan yang bisa bikin kita senang.”
Kami berdua tertawa. “Tapi kok cerita fantasi semua, Tan?”
“Untuk lari dari kenyataan,” jawab Intan. “Kalau Mas?”
“Buku pesanan ibu, majalah golf buat bapak, Chicken Soup for the Writer’s Soul , Transformasi Dalam Hubungan Internasional , dan Don’t Sweat Small Stuff .”
Intan tersenyum. “Kenapa ya nggak ada Chicken Soup for the Homosexual Soul ?”
“Iya, ya. Atau Drug Addict’s Soul , Poor People’s Soul .”
“Dan Mas beli buku self-helping lagi. Hati-hati lho Mas,” tegur Intan.
“Kenapa?”
“Biasanya setelah baca buku self-helping suka terbawa euforia. Dikiranya hidup ini gampang padahal kan nggak segampang itu,” jelas Intan.
“Masuk di akal,” ujarku menyetujui. Saat ini telah tiba giliran kami membayar buku.
“Mau disampul, mas?” tanya petugas kasir.
***
Aku dan Intan pulang ke rumah dengan menggunakan angkot. Agak repot juga naik angkot dengan barang bawaan yang lumayan bertumpuk. Sesampainya di rumah kami dikejutkan oleh ibu yang ternyata sedang menonton DVD ESQ.
“Ibu!” seru Intan. “Katanya hari ini tanpa televisi?”
“Tanpa siaran televisi,” ralat ibu cuek, “yang ibu tonton kan DVD.”
Dalam hati aku benar-benar marah dengan kelakuan ibu saat ini. Ini keterlaluan bahkan untuk ukuran ibu. Namun apa daya, aku dan Intan akhirnya menyingkir ke kamar masing-masing dalam keheningan.
“Kamu nggak apa-apa, Tan?” tanyaku memecah keheningan.
Intan tersenyum tipis. “Tahu nggak, mas? Yang bikin heran sekarang aku nggak merasakan kemarahan,” ujar Intan sambil masuk ke kamarnya, “justru aku jadi kasihan pada ibu yang banyak menghabiskan waktu untuk memusingkan diri dan dramanya sendiri.”
Klek , Intan menutup pintu kamar.
oke nih!
gue suka dengan bobotnya
dan setuju dengan frenzy: cerdas!
tapi untuk bagian terakhirnya: si ibu dan dramanya.. gue ngerasa drama untuk si ibunya kurang banyak untuk dia bisa menjadi closure dari cerita ini...
gitulah.. :p
cerpen ini penuh dengan karakter dan dialog yang cerdas, dan bikin saya kagum. tapi beberapa di antaranya terlihat out of place tanpa deskripsi yang tepat - misalnya usia anak, dan lain-lain. mungkin karena itulah karakter Intan yang pintar membuat pembaca sedikit bingung akan kecerdasannya, padahal kelihatannya mereka masih ABG atau bahkan anak-anak :)
dengan cerita yg enteng mengalir tapi pesannya gak sepele..
bagus...
;)
Agak sedikit monoton,,,tapi sebenarnya idenya bagus banget...ngebuat aku mikir ndiri, bisa nggak ya menjalani hari tanpa televisi...?
Jarang banget aq menemukan cerita drama keluarga. Dan cerita ini, termasuk salah satu yang masuk kategori menarik dan bagus.
Sama seperti comment sebelumnya, pas di awal cerita aq pikir Intan itu anak kecil. Tapi semakin ke bawah kok sepertinya bukan ya.
Bahasa yang sederhana, tapi bukan cerpen sederhana.
say no to sinetron!
qeqeqeqeqe..........
kalo jariku jempol semua berarti 10 thumbs up hehehehe very good....nggak tau kenapa digambaran saya intan itu anak kecil tapi dalam dialognya seakan2 sudah tinggi sekali tata bahasanya dan pola pikirnya..nice job