Kebimbangan ini bagai lingkaran yang mengurung diriku begitu rupa, bagaimana aku bisa menjelaskan ini semua kepadamu , Pak? Mataku Cuma bisa basah, rupanya hanya dengan cara ini aku bisa merasakan kerinduanku. Pada jarak kita yang sangat jauh, juga dalam rentang waktu yang panjang, masih juga kurindui engkau. Banyak sesalku yang takkan bisa tersampaikan padamu, disaat kau tak ada, aku baru merasai sepinya kesendirian ini.
bagus, hanya menurut gue sedikit datar dan bertele tele sehingga agak membosankan membacanya.
gue setuju, membaca ini membuat gue mengingat bapak gue yang udah disurga..hmm, g jd kangen dia deh.
[SURAT UNTUK BAPAK]
Sebuah cerpen yang di dalamnya terdapat sisi pertualangan jiwa yang sangat menyentuh. Seutas kata maaf yang terakadang kita lupa dan enggan untuk saling maaf-memaafkan.
Nah, dalam cerpen mbak ini sudah mewakili pergulatan batin seorang anak yang haus akan kata maaf orang tuanya, yaitu; Bapak. Mungkin juga Ibu. Sayang, dalam cerpen ini tidak diceritakan apakah sang Bapak menerima kata maaf dari anaknya. Sehingga ceritanya sedikit mengambang. Ambiguitas. Dan, karakter sang Bapak pun menjadi lemah. Tidak kuat. "Menurut saya. Wafie."
Tak ayal, jika ungkapan kata "maaf" sering kita ucapkan ketika sadar akan hal yang tengah terjadi. Anehnya, ketika kita larut dalam kesanangan, terkadang kita lupa untuk sekedar merangkainya. Menguraikannya. Namun, ketika kita tenggelam dalam lembah nista, maka ribuan kertas pun tak akan cukup untuk menjadi tumpahan kata maafnya. Ya. Begitulah hidup!
Mbak, mungkin itu dinilai dari sudut selera saya mengenai cerpen ini. Terus kalau mengenai tekhnisi kepenulisan, sudah lumayan bagus. Peletakan koma yang sesuai -toh, walau ada sedikit kesalahan di sana-sini-. Tapi itu sudah bisa dikatakan tertutupi oleh kesesuaian yang lainnya.
Lanjut juga pada segi kesalahan tulisan yang lainnya. Contohnya seperti ini:
***
hatimu kesal ?(jemariku terhenti menggerakkan pena). - paragraf 2 (kenapa tanda seru ini dipisah dari kalimat sebelumnya. Bukankah di bawah mbak menulisnya tidak dipisah? Disambung ya, tanda seru "?" itu dengan kalimat sebelumnya. Terus sesudahnya, ya dikasih spasi toh!)
Namaun - paragraf 3 (Namun)
arus - paragraf 4 (harus)
tapu - paragraf 6 (tapi)
katakana - paragraf 7 (katakan)
keyidakberdayaanmu - paragraf 9 (ketidakberdayaanmu)
d kamar - paragraf 13 (di kamar)
menangispun - paragraf 13 (mestinya partikel "pun" itu dipisah, kebanyakan kode etik menyebutkan seperti itu -menangis pun-)
ku kenal - paragraf 16 (harusnya kata "ku" itu disambung tidak dipisah. Kalau "aku" itu baru dipisah. -kukenal-)
ku persembahkan - paragraf 18 (ini juga, mbak.)
Jangan bersedih, bapak. - paragraf 19 (dari atas dan ke bawah kata "bapak" ini ditulis dengan huruf kapital, tapi di sini kok kecil. -Jangan bersedih, Bapak.-)
bisupun - paragraf 20 (ini lagi. Dipisah ya, mbak! -bisu pun-)
***
Mungkin itu sedikit yang dapat saya komentarin dari cerpen ini, selebihnya. Cukup saya bangga dan salut. Luar biasa... "Sekali lagi. Menurut saya. Wafie."
Eiit... Sorry jika saya ngasih nilai 9. Abisnya masih ada kekeliruannya sih! Coba seandainya semuanya mulus, nilai 100 pun saya kasih jika ada. :D :)
(Salam Pyramida)
MASIH TERLALU SEPERTI CURHAT BIASA, COBALAH BERIMAJINASI KETIKA SEORANG LAKI-LAKI MENINDIH KAMU, TERUS TIBA-TIBA PERUTMU MEMBUNCIT DAN TERNYATA RIBUAN BAYI MEMECAH PERUTMU, LANTAS MENCAKAR KAMU, KARENA BAYI-BAYI ITU MENJADI BERTARING DAN BERKUKU SEPERTI DRAKULA! SALAM
Hal yang telah berlalu memang tidak bisa diubah. Sekali kita hidup, tak ada cara untuk mundur kebelakang. Kita hanya bisa maju, terpaksa maupun suka rela.
salam kenal
Sebagai Bapak saya merasa , sebagi penulis terasa puitis .....Hargai masukan penulis yang lebih...
menyentuh sekali, I can feel it
ceritanya mengena...
hmmm nyentuh hati....enak ngebacanya.....kisah nyata ya?
bagus, hanya menurut gue sedikit datar dan bertele tele sehingga agak membosankan membacanya.
gue setuju, membaca ini membuat gue mengingat bapak gue yang udah disurga..hmm, g jd kangen dia deh.
[SURAT UNTUK BAPAK]
Sebuah cerpen yang di dalamnya terdapat sisi pertualangan jiwa yang sangat menyentuh. Seutas kata maaf yang terakadang kita lupa dan enggan untuk saling maaf-memaafkan.
Nah, dalam cerpen mbak ini sudah mewakili pergulatan batin seorang anak yang haus akan kata maaf orang tuanya, yaitu; Bapak. Mungkin juga Ibu. Sayang, dalam cerpen ini tidak diceritakan apakah sang Bapak menerima kata maaf dari anaknya. Sehingga ceritanya sedikit mengambang. Ambiguitas. Dan, karakter sang Bapak pun menjadi lemah. Tidak kuat. "Menurut saya. Wafie."
Tak ayal, jika ungkapan kata "maaf" sering kita ucapkan ketika sadar akan hal yang tengah terjadi. Anehnya, ketika kita larut dalam kesanangan, terkadang kita lupa untuk sekedar merangkainya. Menguraikannya. Namun, ketika kita tenggelam dalam lembah nista, maka ribuan kertas pun tak akan cukup untuk menjadi tumpahan kata maafnya. Ya. Begitulah hidup!
Mbak, mungkin itu dinilai dari sudut selera saya mengenai cerpen ini. Terus kalau mengenai tekhnisi kepenulisan, sudah lumayan bagus. Peletakan koma yang sesuai -toh, walau ada sedikit kesalahan di sana-sini-. Tapi itu sudah bisa dikatakan tertutupi oleh kesesuaian yang lainnya.
Lanjut juga pada segi kesalahan tulisan yang lainnya. Contohnya seperti ini:
***
hatimu kesal ?(jemariku terhenti menggerakkan pena). - paragraf 2 (kenapa tanda seru ini dipisah dari kalimat sebelumnya. Bukankah di bawah mbak menulisnya tidak dipisah? Disambung ya, tanda seru "?" itu dengan kalimat sebelumnya. Terus sesudahnya, ya dikasih spasi toh!)
Namaun - paragraf 3 (Namun)
arus - paragraf 4 (harus)
tapu - paragraf 6 (tapi)
katakana - paragraf 7 (katakan)
keyidakberdayaanmu - paragraf 9 (ketidakberdayaanmu)
d kamar - paragraf 13 (di kamar)
menangispun - paragraf 13 (mestinya partikel "pun" itu dipisah, kebanyakan kode etik menyebutkan seperti itu -menangis pun-)
ku kenal - paragraf 16 (harusnya kata "ku" itu disambung tidak dipisah. Kalau "aku" itu baru dipisah. -kukenal-)
ku persembahkan - paragraf 18 (ini juga, mbak.)
Jangan bersedih, bapak. - paragraf 19 (dari atas dan ke bawah kata "bapak" ini ditulis dengan huruf kapital, tapi di sini kok kecil. -Jangan bersedih, Bapak.-)
bisupun - paragraf 20 (ini lagi. Dipisah ya, mbak! -bisu pun-)
***
Mungkin itu sedikit yang dapat saya komentarin dari cerpen ini, selebihnya. Cukup saya bangga dan salut. Luar biasa... "Sekali lagi. Menurut saya. Wafie."
Eiit... Sorry jika saya ngasih nilai 9. Abisnya masih ada kekeliruannya sih! Coba seandainya semuanya mulus, nilai 100 pun saya kasih jika ada. :D :)
(Salam Pyramida)
Namun.... Kerinduan tinggal kerinduan...? Anakmu sekarang banyak menanggung Hutang...... eeee ....(beban)
Ayahhhhh?????
menyentuh...
jadi kangen BApak..
Betapa aku pernah membuat Bapak sedih.. Padahal bener, aku nggak pernah bermaksud melukainya...
Maafkan aku, Bapak!!!
MASIH TERLALU SEPERTI CURHAT BIASA, COBALAH BERIMAJINASI KETIKA SEORANG LAKI-LAKI MENINDIH KAMU, TERUS TIBA-TIBA PERUTMU MEMBUNCIT DAN TERNYATA RIBUAN BAYI MEMECAH PERUTMU, LANTAS MENCAKAR KAMU, KARENA BAYI-BAYI ITU MENJADI BERTARING DAN BERKUKU SEPERTI DRAKULA! SALAM
Hal yang telah berlalu memang tidak bisa diubah. Sekali kita hidup, tak ada cara untuk mundur kebelakang. Kita hanya bisa maju, terpaksa maupun suka rela.
kedalaman(9), kosakata(9), bentuk(4), alur(4)
*****************************
nuansa:INFERNO, EARTH