Sering kali batas antara cinta dan persahabatan itu sangatlah kecil, hanya tertutup tirai yang samar dan teramat tipis. Membuat kita terkadang salah mengartikan perhatian seseorang. Apakah itu perhatian dari seorang sahabat atau ternyata lebih dari itu.
Cinta bisa dimulai dari persahabatan tapi persahabatan juga bisa berakhir karena cinta.
*****
"Hallo, apa kabar?" Sapa seseorang di seberang sana yang langsung aku kenali sebagai suara Bimo.
"Hai, alhamdullilah baik. Kamu apa kabar?"
"Baik. Lagi sibuk? Aku mau ketemu. Ke kantor boleh? Ada yang mau aku kasih ke kamu."
"Enggak, Na lagi enggak sibuk. Bim mo kasih Na apa?"
"Nanti aja. Lunch time ya."
"Okey. Na tunggu."
Tut-tut-tut pembicaraan telephone itu pun berakhir.
****
Sudah lama kami tidak bertemu. Sejak aku lulus kuliah. Tidak ada yang berubah dari dia. Sosoknya tinggi, kurus, dan kulit yang untuk ukuran cowok bisa dibilang putih, lebih putih dari aku. Memakai topi, kaos dan tas postman favoritnya, seragam kebesaran jika ke kampus.
Aku sedang menerima telephone saat dia masuk. Kuminta dia duduk di sofa yang ada di sudut ruangan. Sambil menunggu dia membaca koran yang ada di meja. Setelah selesai kuhampiri dia.
"Masih betah aja di sini Na."
"Ya begitulah. Bim gimana? Udah lulus belum?"
"Belum, tinggal skripsi tapi aku kerja di Bekasi sekarang. Di perusahaan penerbitan."
"Terus gimana dengan kuliahnya?"
"Ya bolak-balik, Jakarta-Semarang. Lagian tinggal konsultasi buat bab terakhir, revisi lalu ujian."
"Oooo. Eh, tadi katanya mau kasih Na sesuatu. Apa?"
"Oh iya. Ini." Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Kertas berwarna coklat dengan gambar kerang dan bintang laut. Di situ tercetak dua inisial huruf yang saling bertaut dalam tinta emas. Undangan pernikahan.
"Aku mau menikah bulan depan. Datang ya." Katanya sambil menatapku dan menyerahkan undangan itu.
Kabar ini menggembirakan dan sekaligus mengejutkan buatku, seperti juga kedatangannya siang itu. Dia akan menikah. Aku tidak pernah melihat atau mendengarnya mempunyai seorang pacar. Selama persahabatan kami, dia pun jarang sekali bercerita tentang hal ini. Pernah suatu kali dia bilang kalau dia punya seseorang di Jakarta namun hubungan mereka sudah lama berakhir. Jodoh memanglah di tangan Tuhan, karena cewek itu yang akan dinikahinya sekarang.
Rupanya bukan hanya itu saja kejutan dari dia.
"Selamat ya Bim."
"Iya, makasih. Eh, kamu masih sama Radit Na?"
"Enggak. Kita sudah selesai. Jomblo lagi nich ceritanya. Hehehe."
"Na, kamu tau nggak kalau selama ini aku suka kamu." Pernyataannya ini benar-benar membuatku terkejut.
"Suka ma Na? Bim becanda yaa. Nggak lucu."
"Iya, bener, tapi kamu cuek banget ma aku."
Aku mencoba mencari kebenaran atas apa yang barusan dia ucapkan. Dia tersenyum dan terus menatapku, membuatku salah tingkah.
Sepulangnya ingatanku menerawang jauh. Bunga biru, bola Coca-Cola, bioskop, kejutan saat ultahku ke-25 dan perhatiannya. Semua itu untuk menunjukan sesuatu yang lebih dari sekedar sahabat. Aku baru menyadarinya.
"Taukah Bim, Na sebenarnya juga pernah punya rasa itu. Tapi Na takut, takut salah mengartikan semua itu. Na memilih untuk mematikan rasa yang ada dan menganggap Bim sebagai sahabat, tidak lebih dari itu. Maaf."
*****
Rumah yang berada di daerah Semarang atas itu begitu besar. Rumah kuno bercat putih dengan arsitektur jaman Belanda. Cukup susah menemukan rumah ini karena aku tidak begitu mengenal daerah itu. Di halamannya yang luas masih ada beberapa kursi dan orang-orang yang mengobrol, mungkin mereka adalah kerabat dari sang pengantin wanita. Masih terlihat kursi pelaminan di sana.
Aku tidak datang pada saat resepsi melainkan sore harinya. Ditemani Adjie, teman kampus kami yang juga mengenalnya.
Dia menyamput kedatangnku dan Adjie, mempersilahkan kami masuk. Kami mengobrol di balkon rumah sambil menikmati matahari tenggelam yang terlihat indah dari situ.
Seorang cewek cantik bergabung dan diperkenalkan sebagai pendamping hidupnya kini. Niken, itulah namanya. Cewek cantik dengan wajah keibuan. Tinggi dan berkulit putih bersih. Seorang guru playgroup di Jakarta.
Aku lihat masing-masing di jari manis mereka telah melingkar cincin emas putih bermata berlian tanda ikatan seumur hidup. Gembira sekaligus iri melihat kemesraan mereka. Berpikir kapan aku bisa segera seperti mereka.
Persahabatan kami tetap berjalan setelah dia menikah. Komunikasi tetap terjalin lewat telephone atau sms.
"Bim pinter pilih istri. Niken baik dan cantik." Kataku suatu hari saat dia menelepon.
"Iya, makasih. Tapi ada sesuatu yang lebih aku suka dari kamu."
"Apa?"
Dia hanya tertawa dan aku pun tak ingin tau lebih dari itu.
Entah mengapa dia mengungkapkan perasaannya saat sebelum dia menikah. Entah apa yang dia suka dari aku. Yang aku tau pasti dia adalah sahabat buat aku.
*****
Bus Damri sore itu tidaklah penuh, hanya beberapa orang berada di dalamnya. Di sebelahku duduk seorang bapak yang sedari tadi merokok. Asap dan bau rokok benar-benar menggangguku. Aku hanya bisa melihatnya dengan penuh kesal, selebihnya aku memilih untuk memperhatikan jalan.
HP ku berbunyi, ada sms masuk. Aku ambil dari dalam tas dan membacanya. Bimo kena kanker dan dia baru saja keluar dari rumah sakit. Kira-kira begitulah sms yang aku terima dari Sandra. Kabar itu benar-benar mengejutkanku. Kanker, penyakit yang mematikan itu.
Setelah beberapa bulan dia menikah kami memang sempat lost kontak. Aku tidak pernah menghubungi dia, sebaliknya juga dengan dia.
Kucoba untuk sms dia dan berhasil. Sejak saat itu komunikasi kami berjalan lagi. Dia dan Niken kembali ke kota ini karena biaya rumah sakit di sini lebih murah dibanding di Jakarta dan lebih dekat dengan keluarga yang lain tentunya. Mereka tinggal di rumah orang tua Bimo.
Terkadang dia mengeluh tidak kuat dengan penyakitnya. Dorongan semangat aku kirimkan, doa aku panjatkan untuk kesembuhannya. Aku memintanya untuk mengabariku jika dia harus kembali dirawat di rumah sakit.
"Sabar ya. Bim mesti kuat. Jangan lupa kabari Na ya kalau Bim masuk rumah sakit lagi. Na pengen jenguk Bim."
Pagi itu sewaktu aku sedang mempersiapkan anggaran rencana perjalanan Bos ke Singapore, aku terima sms dari dia.
"Na, aku masuk rumah sakit lagi. Doain aku ya."
Aku dan Ratih berencana untuk menjenguk Bimo, tapi pada saat kita punya waktu, dia sudah pulang dari rumah sakit. Aku tidak tau dimana rumah orang tuanya.
Beberapa hari setelah itu, aku terima sms dari Niken.
"Na, Bim sudah enggak ada. Dia sudah dipanggil oleh-Nya dan istirahat dengan tenang sekarang."
Airmataku tak dapat dibendung lagi, mulai jatuh perlahan membasahi pipiku setelah membaca sms itu. Sedih, teramat sedih rasanya. Tak percaya akan apa yang terjadi. Begitu muda dia pergi.
Pada hari ketujuh kematiannya, aku datang ke rumah orang tua Niken bersama Ratih. Rumah itu masih sama seperti pertama kali dulu saat aku datang bersama Adjie, ramai karena ada sesuatu terjadi di sana. Tapi sekarang keramaian yang ada bukan karena suka cita melainkan duka cita.
Niken banyak bercerita tentang Bimo. Tentang kebahagian pernikahan mereka, tentang sakit yang dideritanya. Niken juga mengatakan bahwa Bimo masih menyimpan semua sms ku sewaktu dia sakit. Hal ini membuat dadaku sesak. Ada janji yang belum sempat aku tepati dan dia menungguku untuk datang.









